
Setelah selesai mencari informasi di hari pertama ini, mereka semua kembali ke tempat tuan Arganaya untuk melaporkan hasilnya. Seperti halnya hari kemarin, ketiganya disambut oleh Amelia dan dipersilahkan masuk.
Tanpa basa basi mereka langsung berunding dengan tuan Arganaya. Di Lantai pertama kediaman ini sembari minum teh seperti kemarin namun agaknya agak berbeda. Tidak ada basa basi dan obrolan tak penting, mereka semua langsung serius.
Hendrey dan Audrey menceritakan segala yang mereka tau, dari awal sampai Akhir, tanpa melewatkan detail-detail kecil informasi yang didapat. Waktu cepat berlalu dan matahari semakin condong, suatu pertanda alam yang mengingatkan bahwa pembicaraan ini sudah berlangsung lama, hingga suatu kali tuan Arganaya sedikit menyadari sesuatu dan ia berkata…
“Sepertinya aku sudah tau siapa orang yang akan dia bunuh…”
“Apa maksud tuan ?” Tanya ketiganya
“Seseorang yang akan dia bunuh… adalah diriku sendiri.”
Ketiganya terkejut bukan main, tapi kalau dipikir-pikir kembali juga masuk akal. Mereka bertiga bersikeras tidak percaya dan menanyakannya kembali
“Apa maksud tuan, bagaimana bisa anda menyimpulkan seperti itu ?”
“Hal itu sederhana… Akulah seorang bangswan yang memimpin wilayah ini sekarang. Di Kerajaan ini sendiri terdapat banyak sekali rakyat jelata dan bangsawan, diantara keduanya terdapat jarak yang tidak bisa satukan. Memang banyak dari kami yang mencoba mendekatkan kedua jarak itu, namun tak sedikit pula yang melakukan sebaliknya.”
“Tidak sedikit rakyat jelata yang tidak patuh terhadap bangsawan, dan tidak sedikit pula bangsawan yang tidak bisa memimpin rakyat dengan benar. Walau hal itu bukan berarti keseluruhannya, tetap saja ada segelintir orang yang menganggap pihak lain sepenuhnya salah dan pihak sendiri sepenuhnya benar.”
“Padahal hal tersebut hanya keburukan dari beberapa orang didalamnya, entah itu rakyat jelata ataupun bangsawan, yang lebih tepatnya mereka disebut ‘oknum’. Jadi wajar saja kalaupun orang itu menaruh dendam kepada semua bangsawan yang ditemuinya karena gambaran buruk telah terlukis dalam benaknya.”
“Namun yang pasti kita patut bersyukur bahwa pelaku utama dalam kejadian ini kemungkinan besar hanyalah satu orang.” Ucap tuan Arganaya yang sedikit mencerahkan suasana sambil sesekali menyeruput teh nya.
“Baikk…” ketiganya mengangguk mengerti walau sedikit merenung dengan wajahnya yang menunduk sedikit sedih.
“O iya tuan… Sepertinya sebilah pedang yang diceritakan paman Ranu juga ada hubungannya dengan rencana membakar beberapa sawah…” Ucap Audrey yang baru saja menyadari keterkaitan di antara dua hal tersebut. Tuan Arganaya pun sepertinya berpikir hal yang sama.
“Benarkah… Aku juga sempat berpikir demikian.”
“Apa maksudmu Audrey ?” Tanya Hendry.
“Bukankah menurutmu mogok panen saja sudah cukup ?, tak perlu juga membakar sawah yang sudah susah payah mereka tanam ?, kalau sebelumnya dia desa lain bukankah dia seharusnya tau mengenai hal itu ?”
“Hemmm… Benar juga sih.”
“Kemungkinan nanti, saat beberapa sawah itu terbakar semua warga disini menjadi panik. Kebanyakan penjaga dan pelayan di kediaman ini akan turun kedesa dan membantu memadamkan apinya, dan kemungkinan tuan Arganya sendiri tak bisa tinggal diam.”
“Saat itulah dia akan melancarkan aksinya. Maaf… ia akan mencoba membunuh tuan Arganaya saat keamanannya melemah akibat semua warga yang panik dan para penjaga membantu memadamkan api.”
Hendry dan Eliana cukup terkejut mengenai hal itu, tapi sepertinya apa yang Audrey katakan cukup masuk akal mengingat dari beberapa informasi yang mereka ketahui selama ini. Apa yang tuan Arganaya pikirkan juga sama sehingga dia sendiri memiliki sedikit ide untuk mencoba mengatasi masalah ini.
“Jadi benar apa yang aku pikirkan ternyata sama. Aku memiliki sedikit rencana, apa kalian bertiga mau membantuku ?”
“Baik… Tentu saja… Itu sudah kewajiban kami.” Ucap mereka bertiga.
“Sebenarnya rencana ini masih belum matang dan inti dari rencana ini aku sendiri lah yang akan menjadi umpan…”
Brakk...
Belum selesai berbicara tapi Eliana berdiri segera dan berteriak marah kepada tuan Arganaya.
“APA YANG TUAN KATAKAN !!!, Bukankah anda sendiri yang seharusnya dilindungi, Bukankah tuan sendiri orang yang memimpin di desa ini, kalau bukan anda lalu siapa lagi…” Setelah mengatakan itu Eliana duduk kembali ke kursinya, ia hanya bisa merunduk dan meminta maaf.
“Sudahlah, aku mengerti perasaanmu. Tapi sebagai seorang pemimpin aku tak bisa membiarkan rakyatku dimanfaatkan seperti itu, lagi pula menurutku rencana ini jauh lebih aman daripada saat rencana mereka berhasil. Jadi karena itulah… Aku mohon pinjamkan kekuatan kalian agar rencana ini berhasil dengan lancar.” Ucap tuan Arganaya dan sesuatu yang tak diduga pun terjadi, ia menunduk dan memohon terhadap mereka bertiga dengan tulus, sehingga menggetarkan hati mereka.
“Baik… Serahkan saja pada kami… Walau kami hanya pemula berperingkat C, Kami berjanji akan melakukan semaksimal mungkin agar tuan Arganaya aman dan rencana ini berhasil.” Ucap ketiganya secara bergantian.
“Terimakasih banyak, aku mengandalkan kalian semua. Ngomong-ngomong rencana ini akan dilakukan tengah malam nanti, jadi persiapkan diri kalian.” Ucap tuan Arganaya yang lega dan raut wajahnya tersenyum.
“Baikk…” Ucap ketiganya.
Hari semakin sore, matahari kian condong dan cahayanya semakin menguning, mereka semua beristirahat sejenak untuk mandi dan kembali lagi kesini, untuk membahas lebih detail mengenai rencana yang akan dilakukan malam nanti.
*****
Angin dingin menusuk kulit, semua kegiatan di hari ini telah selesai. Penerangan desa mulai dimatikan dan semuanya telah tertidur. Tengah malam sudah dimulai beberapa saat yang lalu, rencana sudah dibahas dengan matang dan saatnya bagi yang terlibat untuk memulai.
Sebagian besar penjaga telah dikumpulkan dan pelayanan siap siaga di kediaman ini. Di Bawah komando langsung tuan Arganaya semua rencana yang tadi dibahas mulai dijelaskan.
Di halaman belakang rumah besar ini, disisi lain yang tak terlihat mencolok dari desa, banyak penjaga berkumpul. Terdiri dari 15 an orang yang semuanya laki laki, memakai baju zirah dan membawa pedang dengan beberapa ada yang membawa tongkat sihir.
Disaat yang sama, Hendry Audrey dan Eliana terbang mengitari desa. Mengenakan perlengkapan penuh mereka, memastikan semua cahaya telah padam dan semua yang tinggal disini telah tidur. Ketiganya kembali beberapa waktu kemudian, melapor kepada tuan Arganaya bahwa rencana ini aman untuk dijalankan.
Semua penjaga yang ada mulai berpencar menuju desa termasuk mereka bertiga. menuju titik-titik seperti yang dijelaskan sebelumnya. Mereka semua berpencar dan bekerja seorang diri mengingat luasnya area ini.
Setelah semua menempati posisi masing-masing, mereka memulainya. Menggunakan Pedang, tombak dan sihir yang ada untuk membabat semua tanaman padi yang ada. Melakukan panen raya secara rahasia tanpa diketahui warga desa yang tertidur.
Berhektar-hektar sawah, berusaha mereka panen sebelum fajar dengan orang seadanya. Berusaha setenang mungkin tanpa membuat keributan. Memanen, mengikat dan beberapa penjaga yang bisa terbang atau bergerak cepat membawanya ke rumah tuan Arganaya diatas bukit.
Sementara itu di halaman rumah tuan Arganaya sendiri, para pelayan berusaha membantu. Mengumpulkan padi yang sudah sampai, dengan diberi instruksi oleh istri tuan Arganaya sendiri, mereka mengikatnya kembali dan merapikannya di suatu gudang.
Hendry, Audrey dan Eliana bekerja bersama, karena bagaimanapun mereka satu party, dan yang pasti mereka mengetahui cara terbaik untuk menyelesaikan hal ini lebih cepat.
Di Suatu area yang agak jauh dari rumah dan penjaga lain, Hendry membabat tanaman padi dengan cepat menggunakan pedang besarnya. Sekali tebasan, beberapa meter persegi tanaman padi sudah putus dan jatuh ketanah dan kurang dari beberapa menit, 1 kubik sawah selesai di panen.
Terpotong dengan rapi hingga ke bagian akar, walau berceceran dan jatuh ke tanah, disaat itulah Eliana membantunya. Menggunakan sihir angin ia mengumpulkan padi yang berceceran ke satu tempat hingga membentuk gundukan padi yang selesai dipanen.
Audrey mendekatinya dan langsung memasukkannya kedalam sihir penyimpanan tanpa mengikatnya sama sekali, karena saat ini mereka terburu-buru dan lagi sepertinya masih akan dirapikan kembali setibanya di rumah tuan Arganaya.
Dalam sekali terbang Audrey mampu mengangkut padi dari beberapa kubik sawah sekaligus sehingga dalam hal ini mereka semua bisa selesai sebelum fajar. Sekitar pukul 3 pagi, berhektar-hektar sawah selesai dipanen, tanpa membangunkan satupun warga desa.
Semua penjaga dan mereka bertiga kembali ke rumah tuan Arganaya, disana semua padi yang sampai sudah selesai disusun dan dirapikan oleh pelayan. Karena gudang di rumah ini tidak muat, beberapa tumpuk ikatan padi ditaruh diluar.
Setelah panen raya di tengah malam yang melelahkan ini, semua yang terlibat mulai beristirahat, karena masalah utamanya baru akan terjadi pagi nanti. Semua orang berusaha tertidur sejenak karena saking lelahnya, namun hal yang sama tidak terjadi pada Audrey.
Karena sebentar lagi pagi jadi ia tak bisa tidur dan lebih memilih menikmati saat-saat terbitnya matahari di luar rumah. Mengangguk secangkir kopi dan memandangi desa yang perlahan disinari cahaya matahari. Warga desa mulai bangun sementara yang disini juga bersiap-siap dengan wajah kantuk.
Kegemparan mulai terjadi di desa, semua warga keluar rumah dan mendapati keterkejutan yang luar biasa. Tanaman padi yang mereka tanam di semua sawah yang sangat luas menghilang dalam semalam. Suara-suara di desa terdengar sangat berisik dari sini. Suasana pagi masih dingin namun warga desa dilanda kemarahan dengan suasana hati mereka yang memanas seperti terbakar.
Rencana utama membakar beberapa sawah yang mengering telah gagal, dan warga desa dibakar amarah yang tak bisa dikendalikan lagi oleh si pelaku utama. Beberapa jam atau menit dari sekarang kemungkinan terjadi demo besar secara mendadak yang memaksa pelaku utama melakukan aksinya secara terang-terangan.
Disaat itulah Hendry dan Audrey menyusup ke dalam kerumunan untuk menangkapnya sementara Eliana dan para penjaga berusaha melindungi tuan Arganaya yang berdiri di depan. Ia mencoba menenangkan para warga dan meluruskan apa yang sebenarnya terjadi.
Itulah rencana yang sudah mereka lakukan setengahnya sampai saat ini…