
Di kegelapan malam, perasaan Audrey bercampur aduk, ia marah, kesal, khawatir, takut, cemas, semuanya menjadi satu. Audrey terbang melesat di atas gedung dan perumahan di jalan-jalan kota menuju gerbang barat. Sebuah pintu keluar yang lebih kecil dari pada gerbang utama di sisi selatan. Ia melaju dengan kecepatan tinggi tanpa menghiraukan peringatan apapun dari penjaga gerbang.
Di luar gerbang itu hanya ada hutan dengan banyaknya rumah rumah kayu di sekitarnya yang kelihatannya sudah tak dihuni, sebagian digunakan sebagai gudang dan kandang dan sebagian lagi ditinggalkan begitu saja. Suasana disini sangat sepi, angin dingin semakin menusuk, walau semua hutan di sekitar sini masih wilayah ibu kota namun disini sudah jauh dari kehangatan kota.
Audrey terus melesat tanpa menghiraukan apapun, sekarang yang dipikirkan hanyalah nasib kedua teman baiknya. Ia terus merenung dan melamun hingga akhirnya sampai di rumah kosong yang dimaksud. Sebuah rumah yang paling ujung dan hanya berbatas beberapa meter dari belantara hutan, sebuah tempat yang bisa dibilang paling luar dari wilayah ibukota.
Dari luar rumah kayu itu terlihat sangat besar, tua dan sedikit reot. Tak lupa juga di sekeliling halaman ditumbuhi rumput ilalang yang cukup tinggi dan sarang laba-laba bertebaran di plafon-plafon rumah, sehingga menambah suasana angker. Dari luar tak terlihat cahaya sama sekali karena rapatnya dinding kayu namun diperkirakan Hendry, Eliana dan para penculik itu masih ada di dalam dikarenakan masih terdengar beberapa suara manusia dari luar sini.
Tanpa basa-basi Audrey langsung masuk ke rumah itu dengan cara mendobrak pintu depan hingga mengeluarkan suara keras, karena ia saat ini tidak bisa berpikir jernih. Suasana gelap tiba tiba menjadi terang dengan adanya beberapa lilin yang tidak terlalu terang menyala di dalam, beberapa orang laki-laki yang tak terlihat wajahnya menengok ke arah Audrey yang sedang marah.
Audrey semakin mendekat tanpa peduli situasi, hingga mendapati sesuatu yang mengejutkan. Hendry dan Eliana yang pingsan diikat ke dinding dengan kedua tangan dan kaki terikat secara terpisah sehingga membuka celah di seluruh tubuh mereka. Tampak dari baju yang mereka kenakan robek-robek, kulitnya memar, penuh luka hingga masih tersisa air mata menetes di pipi Eliana.
Dan yang paling membuat Audrey marah adalah wajah cantiknya dipegang oleh tangan kotor seorang penculik, dengan jari-jari besar yang mengusap bibirnya. Setelah penculik itu menyadari kedatangan Audrey dia menoleh dengan santai ke arahnya, tanpa rasa bersalah dan penyesalan sedikitpun.
“Cih sudah datang, padahal kami belum sempat bersenang-senang dengan gadis ini.“ Ucap penculik itu dan diikuti beberapa temannya yang kini sudah bersiap dengan senjata masing-masing.
Audrey dikepung oleh 7 orang di rumah kosong ini termasuk orang pertama tadi yang kelihatannya pemimpin mereka, di tengah kegelapan dengan sedikit cahaya mereka mendekat, wajahnya semakin jelas terlihat, mereka semua membawa senjata tajam dan ada juga yang membawa alat sihir.
Sebagian dari mereka Audrey tak mengenalnya, namun satu orang diantaranya ia pernah bertemu. Rupanya orang itu adalah pedagang yang di blacklist beberapa hari yang lalu dan bisa dipastikan mereka semua bukan bandit. Semuanya laki-laki, tubuh mereka terlihat gagah dan terlihat sudah ahli dalam pertempuran, sepertinya mereka semua petualang peringkat B, kecuali pedagang itu.
“JADI APA MAKSUD KALIAN MELAKUKAN SEMUA INI !!??” Teriak Audrey.
Dengan santainya penculik yang menyentuh Eliana tadi menyalakan rokok, menghisapnya lalu menyemburnya ke arah Audrey.
Huh…hah…
“Tidak… Sebenarnya APA MAKSUDMU MENGHALANGI RENCANA KAMI !!?” Jawabnya dengan lantang dan semakin keras, dia juga terlihat semakin kuat karena otot-otonya mengmbang, juga sepertinya dia pemimpinnya disini. Sontak teriakannya yang kejam dan lantang juga diikuti pedagang di dekatnya, dia berbicara dengan angkuhnya.
“BENAR BENAR BENAR… KALIANLAH YANG MENGHANCURKAN BISNISKU, BAHKAN NYAWAMU SAJA TAK CUKUP UNTUK MEMBAYAR KERUGIAN KU WAHAHAHAHAAAA…” Jawabnya dengan puas sambil mengacungkan jarinya ke arah Audrey.
“Rencana ? Rencana apa yang kalian maksud ?”
“Cih tidak usah pura-pura bodoh… Kalian kan yang membunuh semua goblin ditambang itu ?, Kami ingin balas dendam terhadap apa yang kalian lakukan…"
Audrey hanya terdiam menyadari siapa mereka, rupanya mereka semua lah para oknum petualang itu. Merekalah yang sengaja menyisakan goblin di gua itu agar bisa dipanen terus menerus tanpa peduli banyak pemula yang terbunuh. Perasaan bercampur aduk dan bingung apa yang harus dilakukan. Audrey terdiam beberapa saat hingga Pemimpin Penculik tadi melemparkan sebilah pedang berlumuran darah tepat ke hadapannya.
Tang… klontang...
“Ambil ini, lalu cepat bunuh dirimu sekarang juga… atau kau mau melawan kami, lalu mati dengan semua temanmu…” Ucap pemimpin penculik tadi.
Audrey mengambil pedang itu dan memegangnya dengan erat ditangganya, tubuhnya tak bisa berhenti bergetar dan matanya sayu, ia akhirnya menanyakan sebuah pertanyaan terakhir kepada penculik itu.
“Se..setelah aku mati, apakah kau bersedia melepaskan mereka berdua ?...”
“Tentu… Setelah… Kami bermain main dengan gadis ini tentunya… wahahahahaha….” Pemimpin tadi menjawab dan semua orang disini tertawa lepas di tengah penderitaan Audrey dan kedua orang temannya yang pingsan.
Mata Audrey semakin sayu, dia semakin tak bisa berfikir jernih namun dengan santainya salah satu penculik tadi berkata…
“Kenapa…. bahkan kami berbaik hati, membiarkanmu mati tanpa dilihat teman payahmu… BENAR KAN ? …WAHAHAHAHAHA….” Mereka semua tertawa keras dan semakin keras hingga mengganggu ketentraman penduduk hutan.
Audrey semakin marah, pikirannya bercampur aduk dan tak bisa memutuskan sesuatu. Angin masuk dari pintu yang terbuka, berhembus, dan memadamkan beberapa lilin disini. Suasana menjadi lebih gelap dari sebelumnya, tapi tiba-tiba ada sedikit pantulan cahaya melesat.
Swing…. Ah…
Sebilah pedang berdarah dengan cepat meluncur dari tangan Audrey, menuju ke depan dan menusuk perut pemimpin penculik tadi. Air mata Audrey mengalir dan matanya bersinar dalam kegelapan. Cahaya ungu yang tajam keluar dari kedua kornea mata membuat semua orang yang disekitarnya terkejut.
Para penculik itu mulai menyalakan satu persatu lilin yang padam, mendekati pemimpin dan siap melawan balik.
“Ba… baiklah kalau itu maumu, kami akan membunuh kalian semua wahahahaha…” ucap salah seorang penculik mengacungkan pedangnya walau kakinya sedikit gemetar. Tak mau membuang waktu Audrey mengambil tongkat sihir lalu mempersiapkan diri ke posisi menyerang.
Seperti kebanyakan sifat penjahat lainnya, mereka semua menyerang dengan mengepung dan membabi buta menggunakan pedang atau senjata tajam. Semuanya kecuali pemimpin dan pedagang berlari menyerang ke arah Audrey.
Audrey sedikit terdesak karena saat ini dia dikepung dalam pertempuran jarak dekat, tidak seperti saat duel satu lawan satu dengan Penyihir penjahat di kota Anggresia waktu itu, saat ini dia sedikit kesulitan untuk menghadapi musuh yang menyerang dari sekelilingnya.
Semua musuh tepat beberapa meter di sekeliling Audrey. Mereka semua mengangkat pedang dan senjata tajam bersiap menebas nya dengan segera.
Audrey mengeluarkan sihir api dan menyelimuti dirinya untuk menghalau serangan musuh, namun tetap saja ia masih terluka, namun hal ini masih mending daripada tidak melakukan perlawanan sama sekali.
Beberapa musuh terpental ke belakang dengan luka bakar sedang, dan beberapa lagi hanya mengalami luka ringan.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN !!!, MASA MENYERANG 1 ANAK KECIL AJA KEWALAHAN !!!" Teriak pedagang tadi yang melihat seolah tak percaya, namun pemimpin penculik itu segera bangkit dan berdiri dengan perban yang mengikat bagian perutnya. Walaupun tadi dia terluka karena pedang yang dilemparkan, namun tampaknya tak terlalu parah dan tak mengenali organ vitalnya.
Pemimpin penculik tadi bangkit dengan santainya, perlahan menuju arah Audrey dengan membawa pedang besar yang sangat tajam, pedang sepanjang 1 setengah meter dengan ketebalan 5 centimeter yang bisa digunakan dengan 2 tangan berhasil ia bawa dan diayun-ayunkan dengan satu tangan, hal itu membuktikan kalau pemimpin tadi orang yang sangat kuat.
Sama seperti yang lain, walaupun party mereka tidak memiliki penyihir tapi mereka tetaplah petualang berperingkat B, atau setidaknya "Oknum Petualang".
Musuh di sekeliling Audrey mulai bangkit secara perlahan, bersamaan dengan pemimpin mereka yang makin mendekat. Audrey yang panik terus menerus mengeluarkan sihir es, peluru es kecil yang tajam melesat ke depan, dan menghujani pemimpin penculik itu namun hal itu bisa ditangani dengan mudah.
Ia menangkis sihir es milik Audrey menggunakan pedang besarnya, tanpa ada satupun yang mengenai tubuhnya. Dia semakin mendekat dan pedang besarnya semakin menyala merah terbakar oleh api.
Audrey panik, karena tidak salah lagi, sepertinya yang dipegang pemimpin adalah pedang sihir, dan dia sedikit menggunakan sihir. Terlebih lagi ia orang yang sangat hebat dan ahli pertempuran jarak dekat, tidak seperti Audrey, dan lagi rekan-rekan nya sudah hampir siap berdiri dan menyerang Audrey kapan saja.
Dalam hal ini Audrey mencoba menenangkan diri dan berpikir jernih, ia mencoba mengalihkan pandangannya ke arah teman temannya agar membuatnya sedikit tenang. Hendry dan Eliana saat ini sudah sadar namun dari yang dilihat itu tidak membuat Audrey tenang sama sekali.
"HO… HOE !!! Apa yang kau lakukan pak tua sialaan !!!" Teriak Hendry ke arah pedagang licik itu, namun dia tak memperdulikannya.
Pak tua pedagang licik itu berusaha mencari-cari kesempatan. Ia mendekati Eliana dan berusaha melepaskan bajunya. Hingga saat ini Eiliana hanya bisa menangis dan mendesah tidak nyaman.
"He...hentikan... aku mohon… jangan lakukan itu…"
"APA YANG KAU LAKUKAN DASAR TUA BANGKA... Cepat lepaskan kakakku !!!" Hendry semakin murka namun tak bisa berbuat banyak karena kedua tangan dan kakinya diikat, bahkan saat ini dia tidak menyadari adanya Audrey disini.
Namun untung lah Audrey menyadari apa yang akan dilakukan pedagang licik itu saat dia hampir membuka kancing pertama. Sama seperti Hendry yang murka, Audrey juga semakin marah bahkan kemungkinan dia lebih parah.
Audrey hanya bisa menunduk kecewa, wajahnya tertutup rambut dan topi penyihir yang sangat lebar, berdiri tegak memegang tongkat sihir tak memperdulikan apapun walau semua musuh bersiap menyerang, dan sekarang Ia hanya bergumam pelan…
"Selama ini… aku sudah menahan diri…"
"Aku sudah bersikap baik pada semua musuh-musuhku…"
"Aku sudah berusaha sebisa mungkin... untuk tidak membunuh seseorang"
"Tapi sekarang… AKU TIDAK PEDULI LAGI !!!" Audrey mengangkat kepalanya, menatap tajam kearah pedagang licik itu. Kekuatan besar meledak dari tubuhnya seperti sihir angin berskala besar, menerbangkan topi yang dipakai juga memadamkan semua lilin di rumah kosong ini.
Suasana menjadi gelap gulita dan tak ada sumber cahaya sedikitpun kecuali kedua mata Audrey yang bersinar ungu dalam kegelapan, juga Kristal yang terdapat pada tongkat sihirnya yang biasanya berwarna biru atau merah kini berubah warna menjadi ungu senada dengan warna matanya.
Semua penjahat yang disana sedikit bingung dan panik. Audrey terus berjalan perlahan menuju kearah pedagang licik itu, arah yang sama seperti posisi kedua temannya yang diikat. Berjalan semakin mendekat dengan tatapan tajam, rambut lurusnya yang tegak melayang ke atas, tongkat sihir berkristal ungu yang memancarkan percikan listrik sehingga suaranya jelas terdengar, juga tanah diantara jejak kakinya yang perlahan membeku menjadi batuan es yang dingin.
"Siapa sangka akan ku gunakan kekuatan seperti ini lagi..."