
Bekerja dengan tekun tanpa peduli apapun, itulah yang dilakukan lelaki itu. Ia mencabuti satu persatu rumput yang ada di ladangnya. Keringat mengucur dari tubuhnya, lelah sudah ia rasakan sejak tadi tapi itu tak cukup mematahkan semangat.
2 Orang tak dikenal berdiri di dekatnya, memandang rendah dan sesekali mencemoohnya. Walau ironi sepertinya mereka bertetangga, bukan orang lain karena disini hanyalah sebuah desa di sebuah kaki gunung.
Mereka berdua mengatakan hal ini sia-sia, dan tak berguna, karena sepertinya mereka berdua juga terpengaruh rumor buruk yang saat ini beredar.
Ia tak menghiraukan, dan memilih melanjutkan pekerjaannya, mencabuti satu persatu rumput dan memanen sesuatu dari ladangnya. Beberapa kubik sawah di sekitar rumahnya terlihat sudah selesai dipanen untuk keperluan pribadi.
Mereka berdua bosan mencemooh karena tidak ada hasilnya sama sekali, salah satu dari mereka meludah lalu keduanya pergi dari sini dengan wajah yang teramat kesal.
Hendy, Audrey dan Eliana terus mengintainya dari semak-semak. Terkadang istrinya datang membawa minuman dan terkadang pula anaknya terlihat bermain di sekitarnya. Setelah berdiskusi beberapa saat ketiganya sepakat untuk mendekati dan mencoba bertanya.
Mereka bertiga mendekat dan membantu mencabuti rumput yang ada, berusaha sedekat mungkin dan Eliana mencoba menanyakan sesuatu.
“Maaf paman… ada sesuatu yang mau kami tanyakan…”
“Hentikan… itu tidak ada urusannya dengan orang luar seperti kalian.” Ucap orang itu seolah sedang menyuruh ketiganya untuk berhenti membantunya dan segera pergi.
“Tapi paman… kami mohon… satu hal saja mengenai desa ini…”
“Sudahlah… itu tidak ada hubungannya dengan kalian. Sebaiknya kalian segera meninggalkan desa ini, aku rasa tak lama lagi desa ini akan hancur…”
“Akan hancur, apa maksud paman ?”
“Bukankah sudah kubilang kan… itu tidak ada hubungannya dengan kalian…”
“Tapi paman… Kami mohon… kami akan melakukan apapun, jadi tolong ceritakan apa yang terjadi…” Ucap eliana dan ketiganya memohon dengan sangat tulus sehingga paman itu tak bisa menolaknya.
“Hahhh… baiklah terserah kalian, tapi sebelum itu kalian harus membantuku disini sampai selesai dulu…”
“Baik…” Ucap ketiganya dengan semangat.
Ketiganya mulai membantu sedikit demi sedikit, terkadang mereka menggunakan sihir, jadi pekerjaan ini terasa lebih cepat. Beberapa waktu berlalu mereka semakin akrab dan mulai berbicara sedikit demi sedikit, mengobrol santai seperti perkenalan dan lain-lain sebelum membahas sesuatu yang lebih berat.
Hendry, Audery dan Eliana menceritakan sekilas tentang diri mereka begitu pula dengan paman itu. Namanya adalah Ranu, ia merupakan warga asli di desa ini. saat ini ia tinggal di rumah paling pojokan dan paling jauh dari beberapa rumah di desa bersama istri dan anaknya yang masih kecil. Sehari-hari, seperti warga desa lain ia bekerja sebagai petani, bertahun-tahun sudah ia jalani namun rasanya saat ini ada suatu hal yang sangat berbeda.
Hari semakin siang, matahari sudah panas terik namun untunglah pekerjaan mereka hampir selesai. Rumput liar sudah dicabuti hingga 90%, Kentang dan umbi-umbian di ladang sudah di panen.
Beberapa saat kemudian semuanya sudah selesai, Paman Ranu mengajak mereka ke rumah untuk sesuatu yang sudah mereka tunggu-tunggu yaitu suatu informasi yang kelihatannya sangat berharga.
Mereka masuk kedalam rumah, rumah kayu berukuran sedang yang pilar dan temboknya masih sangat kokoh. Tempatnya juga bersih walau hanya beralaskan tanah dan batu. Mereka berempat duduk di ruang tamu, dan mulai membicarakan sesuatu.
“Jadi paman, seperti sesuatu yang kami tanyakan tadi… apa yang sebenarnya yang terjadi di desa ini ?” Tanya Audrey.
“Mah… tidak usah terburu buru seperti itu…”
“Sayang… tolong siapkan makanan… Kita kedatangan tamu…”
“Iyaaa…” Ucap istrinya yang saat ini berada di dapur.
“Ehhh… tidak perlu repot-repot paman…” Ucap Eliana.
“Whahaha… sudahlah tidak usah sungkan, lagipula ini caraku berterima kasih. Berkat kalian pekerjaanku hari ini bisa selesai cuma dalam waktu setengah hari…”
“Baiklah terimakasih banyak, tapi ijinkan aku membantu…” Eliana bangkit dari kursi dan segera menuju ke arah dapur, dalam sekejap ia membawa daging ayam besar yang cukup segar dan dibawa dengan kedua tangan. Paman Ranu begitu heran bagaimana mungkin secara tiba-tiba daging ayam muncul di tangannya, dan lagi kondisinya baru seperti baru disembelih.
“Ah itu kakak memiliki alat sihir bernama tas ajaib, setahuku itu bisa digunakan menyimpan barang walau kapasitasnya lebih besar…” Ucap Hendry dengan berbohong seperti biasa jika ditanya sesuatu tentang kakaknya.
“Begitu ya… kalian petualang dari kota besar selalu saja memiliki hal yang tidak kami tau sebelumnya.”
“O iya Hen… Kenapa kakakmu setiap saat membawa daging ayam mentah, bukannya itu merepotkan ?” Tanya Audrey.
“Entahlah… kurasa sebagai makanan darurat ?” Ucap Hendry yang tak sepenuhnya tau.
Sementara itu di dapur Eliana sedang membantu istri paman Ranu, mereka berdua mengolah dan memasak bahan bahan yang ada. Mulai memasak nasi dan lauk pauk disini, mulai dari semua sayur mayur yang ada hingga daging yang dibawa Eliana.
Bau harum masakan tercium hingga ruang tamu, tapi itu masih tak mengganggu mereka berdua untuk mencari informasi lebih jauh. Selagi menunggu masakan matang, mereka berdua segera menanyakan apa yang menjadi tujuan sebenarnya mereka kesini.
“Jadi paman… kalau boleh tau apa yang sebenarnya terjadi di sini ?”
“Baiklah seperti yang kubilang tadi akan kuceritakan semua yang aku tau.” Paman Ranu bangkit dari kursi, menutup rapat semua pintu dan jendela di rumah ini. Kembali ke kursi dan segera menceritakan segala yang dia tau.
Paman duduk kembali di kursi dan pembicaraan ini mulai serius. Dia mulai menceritakan, mulanya beberapa waktu belakangan, berdatangan beberapa warga baru yang pindah ke desa ini. Mereka semua pindah kesini dengan alasan yang bermacam-macam, entah karena hancurnya desa mereka sebelumnya, atau karena alasan lain.
Menurut penjelasan dari paman Ranu sepertinya tuan Arganaya sendiri juga belum mengetahui hal ini, karena wajar saja jumlah pendatang baru yang mulai tinggal di desa ini bisa dihitung dengan jari. Dan lagi sebelum ini dia cukup sibuk dengan urusan lain seperti mengekspor sebagian beras yang ada keluar dari desa, membeli berton-ton pupuk juga mengganti alat pertanian yang digunakan warga, sehingga cukup jarang baginya untuk berinteraksi langsung dengan warga desa.
Sebelumnnya semuanya baik-baik saja, Karena adanya pendatang baru di desa ini, suasana menjadi lebih meriah hingga beberapa hari kedepan. Mereka semua terlihat normal dan biasa saja hingga suatu malam.
Ketika sebagian besar warga berkumpul dan melepaskan penat, salah seorang pendatang mulai menceritakan apa yang ia alami sebelumnya. Mengenai desanya yang sudah hancur akibat ulah pemimpinnya sendiri, seorang bansawan yang rakus dan gila harta yang memeras rakyatnya hingga menderita.
Suasana menjadi gelap saat itu, apalagi rumor tentang naiknya pajak mulai tersebar, Orang itu terus saja mengoceh tentang keburukan desanya yang sudah hancur dan memancing warga sekitar, hingga akhirnya semua warga disini melakukan hal yang sama.
Kepercayaan mereka terhadap pemimpin disini menurun walau sebenarnya masih dipertanyakan apa yang diceritakan benar atau tidak. Mereka semua sepakat untuk melakukan mogok kerja dan tidak segera memanen padi yang mereka tanam, berulang kali demo untuk suatu alasan yang tidak jelas, hanya ikut-ikutan dan tidak memahami maksud sebenarnya dari apa yang mereka demo.
Lebih parah lagi mereka mengancam akan melakukan aksi gila dengan membakar beberapa sawah yang sudah mengering apabila tuntutan tidak jelas mereka tidak dipenuhi.
Sebagian besar orang di desa ini terhasut oleh rumor buruk tersebut, namun ada juga yang tidak sebagai contoh paman Ranu sendiri. Mereka yang tidak percaya mengenai rumor ini lebih memilih diam daripada bertindak karena mau bagaimana lagi, mayoritas orang disini sudah terpengaruh.
Dan satu hal lain yang membuat paman Ranu semakin tak percaya. Walau saat ini paman Ranu sudah melupakan wajahnya, ia mengingat dengan jelas bahwa orang yang memulai semua ini memiliki motif tersembunyi.
Paman Ranu berani mengatakan hal tersebut karena pada malam itu, dimana banyak warga sedang berkumpul dan rumor buruk itu mulai menyebar, ia tak sengaja melihat benda berkilau di balik bajunya dan sepertinya hanya ia sendiri yang menyadari hal tersebut.
Sebilah pedang atau bisa jadi pisau belati yang tidak mungkin dimiliki petani maupun warga biasa, yang kelihatannya tajam, mudah disembunyikan, mudah dilempar dan kelihatannya dibuat khusus untuk membunuh seseorang.
Menurut Hendry dan Audrey, tak diragukan lagi… pria itulah pelaku utama yang menjadi dalang dari semua ini. Di hari pertama ini mereka mendapatkan informasi yang sangat berharga, walau tak mengetahui wajah dan namanya, sepertinya hal itu sudah cukup untuk hari ini.
Beberapa saat kemudian makanan dan minuman sudah datang dari dapur, Pintu dan jendela kembali dibuka oleh paman Ranu dan mereka semua makan bersama. Eliana ketinggalan informasi berharga yang mereka dapat tapi hal itu tak masalah, lagipula nanti mereka berdua bisa menceritakannya nanti.
Setelah selesai makan mereka bertiga berpamitan, dan segera pergi meninggalkan rumah paman Ranu. ketiganya berjalan menuju keluar desa yang tampak berlawanan dari rumah tuan Arganaya. Setelah berjalan beberapa saat mereka bertemu dengan orang yang tadi mereka temui di desa ini.
“Kalian sudah mau kembali ?”
“Ah tidak, sebenarnya misi kami belum selesai jadi kami mau kehutan untuk melanjutkannya…”
“Kalau begitu berhati-hatilah…”
“Baik…” Jawab ketiganya dengan tersenyum. Walau warga disini terpengaruh rumor buruk terhadap bangsawan yang memimpin, namun hal itu tidak berlaku bagi para pendatang dan pelancong, mereka masih bersikap baik terhadap siapapun yang datang dari luar, karena sudah sejak lama desa ini menjadi tempat singgah para petualang, walau sebenarnya juga jarang terjadi.
Ketiganya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki hingga keluar desa dan memasuki hutan. Sesampainya di hutan ketiganya melepas mantel dan bersiap terbang menuju kediaman tuan Arganaya, untuk membahas lebih lanjut mengenai apa yang selanjutnya mereka lakukan berdasarkan informasi yang hari ini mereka dapatkan…