The Story Of Jammetaria

The Story Of Jammetaria
BAB 14 - Penjahat Kelas Teri 1



Matahari telah terbit di kota ini. Hari baru sudah dimulai, kebanyakan warganya sudah bangun dari tadi dan bersiap melakukan pekerjaan yang biasa mereka lakukan.


Begitulah pula dengan Audrey dan kedua temannya, mereka sudah bangun di kamar masing-masing, bersiap-siap lalu pergi sarapan.


Mereka bertiga sarapan ditempat yang sama seperti makan malam kemarin, masih di penginapan ini. Ketiganya sarapan dengan tenang di pojok dekat jendela lantai 1 penginapan. Tidak seperti makan malam kemarin, saat sarapan seperti ini suasananya tidak terlalu ramai, karena kebanyakan dari para pengunjung sudah pergi untuk melakukan kegiatannya sendiri-sendiri.


Setelah selesai sarapan mereka keluar dari penginapan, untuk melakukan hal yang jarang mereka lakukan setiap hari terkhusus untuk Audrey sendiri.


Mereka berjalan jalan di sekitaran kota dan menuju cabang guild terdekat. Tidak seperti kemarin sore, Suasana di kota Anggresia saat ini cukup berbeda. Memang seperti biasa banyak orang berlalu-lalang dan terbang di sini walau tak sebanyak di ibu kota, namun disini suasananya cukup asri. Apalagi banyak taman bunga di sepanjang jalan dan tanaman anggrek yang tersebar di setiap dinding-dinding bangunan, seperti nama kotanya sendiri.


Sesampainya mereka di guild, mereka melihat bentuk bangunan nya sendiri hampir sama dengan yang berada di ibukota, tempat mereka mendaftar menjadi petualang, hanya saja di dinding luarnya ditumbuhi tanaman anggrek juga terdapat taman yang penuh bunga.


Mereka bertiga mampir ke guild bukan untuk mengambil misi karena mereka hanya akan berada di kota ini selama sehari, namun hanya untuk melapor dan menyapa beberapa orang yang mereka temui di penginapan kemarin (itupun kalau ada). Setelah sedikit urusan di guild sudah selesai mereka lanjut untuk berjalan-jalan, menikmati 1 hari bebas di kota ini.


Mereka terus berjalan hingga sampai ke suatu taman, seperti biasa taman tersebut dihiasi bunga dan air mancur seperti di kota-kota kebanyakan.


Disini cukup nyaman karena cuacanya tidak terlalu terik, banyak orang bersantai, berlalu-lalang dan para pedagang yang berjualan di sekitarnya.


Bruk…


Saat mereka bertiga berjalan tanpa sengaja Audrey ditabrak seorang anak lalu mereka berdua terjatuh. Segera Eliana mengulurkan tangan terhadap seorang anak yang terjatuh di depannya.


"Kau tidak apa-apa ?"


"Ah iya… maaf tadi aku sedikit terburu-buru." Jawab anak laki-laki tersebut, ia terlihat sedikit kelelahan, tak beberapa lama kemudian perutnya berbunyi karena tampaknya ia belum makan dari kemarin.


Apalagi pakaiannya terlihat lusuh dan sedikit robek, rambutnya gondrong dan tubuhnya sedikit kusam. Ia juga membawa keranjang yang tampaknya masih kosong kali ini.


"Ini makanlah… kelihatannya kau lapar." Eliana dengan cepat mengambil makanan yang masih hangat dari sihir penyimpanannya, makanan yang diambil berupa nasi dan ayam sebagai lauknya.


"Maaf… tapi dalam hal ini aku lebih membutuhkan sesuatu yang mentah." jawab sang anak dengan muka sedih.


"Oh iya… kalau ini gimana ?" Eliana memegang 2 ekor daging ayam segar yang sudah dikuliti, kelihatannya barusan diambil dari sihir penyimpanannya. Pikirnya mungkin dia butuh yang mentah untuk dimasak sendiri.


Anak tersebut terkejut, mulutnya terbuka dan tidak bisa berkata apa apa lain namun…


"Bukan… maksudku yang lebih mentah lagi…"


Petok…


"Ini kan yang kamu maksud ?" Audrey memegang seekor ayam betina yang masih hidup, tidak ada yang tau ayam tersebut diambil dari mana namun diperkirakan diambil dari sihir penyimpanannya. Karena sihir penyimpanan Audrey bertipe dinamis dan dengan adanya aliran waktu di dalamnya mungkin saja bisa diisi makhluk hidup.


Tentu saja anak itu terkejut karena mulanya ia hanya melihat nasi ayam, setelah itu daging ayam, dan sekarang ayam hidup ?


"Bukan… tapi yang aku maksud adalah uang…"


"Dia satu satunya yang kumiliki." Wajah anak tersebut menjadi gelap, dirinya sedih dan air mata mengalir membasahi pipinya.


Mereka bertiga saling menengok sedikit bingung. Kemudian mereka mengajaknya ke pinggir taman. Mereka semua duduk di sebuah meja taman yang teduh dibawah pohon, berusaha menenangkan anak tersebut.


"Setidaknya makanlah ini, kami akan membantu sebisa kami, jadi tolong ceritakan masalahmu kepada kami…" Eliana membujuk.


Setelah beberapa saat anak tersebut sedikit berhenti menangis, memakan makanan yang telah diberikan Eliana lalu menceritakan kisahnya yang sebenarnya.


Nama anak tersebut adalah Rio dan dia memiliki seorang adik perempuan bernama Anna, mereka berdua sebatang kara dan tinggal di sebuah rumah kecil di pemukiman kumuh peninggalan orang tua mereka.


Sehari-hari mereka bekerja serabutan atau memulung agar bisa bertahan hidup, beruntungnya mereka tidak memiliki masalah apapun terhadap warga miskin lain di permukiman kumuh tersebut, malahan mereka semua bersikap baik karena semua yang berada disana pada dasarnya bernasib sama. Mereka semua memang miskin, namun mereka bukanlah budak yang diperjual-belikan.


Di kerajaan ini perbudakan adalah hal yang ilegal, mereka yang tertangkap basah akan dihukum namun hal itu tak juga membuat jera penjual dan pembeli budak yang bertransaksi secara ilegal.


Meski begitu diantara keterpurukan mereka ada yang menghambat mereka untuk berkembang ke arah yang lebih baik, dan itu berasal dari sekelompok kecil penjahat yang bersarang di kota ini. Walaupun jumlahnya sedikit dan diperkirakan mereka tak terlalu kuat, mereka sangat sulit untuk ditangkap, bahkan para prajurit penjaga tidak bisa menangkap satupun anggotanya sejak beberapa tahun yang lalu, dan itulah masalah yang dihadapi Rio kali ini.


Adiknya diculik oleh sekelompok penjahat itu beberapa hari yang lalu, dan dia harus mengumpulkan 100 koin emas untuk menebus adiknya dan jika tidak segera dilunasi dalam beberapa hari kedepan, adiknya akan dijual sebagai budak.


100 koin emas merupakan jumlah yang besar bahkan bagi petualang berperingkat B sendiri dan Jika dia ketahuan melapor kepada prajurit penjaga, para penjahat tersebut mengancam akan langsung membunuh adiknya.


Setelah menceritakan hal itu Rio kembali bersedih, memikirkan keadaan adiknya sekarang, sementara dia sendiri sedang merasakan enaknya makan.


"Hemm… 100 koin emas ya… bahkan sepertinya kami tidak memiliki uang sebanyak itu." ucap Eliana dengan sedikit sedih.


Rio tentu saja sedih, namun itu hal yang wajar, bisa didengarkan ceritanya saja sudah cukup bagus. Tidak mungkin ada orang asing yang tiba-tiba memberikan uang sebanyak itu terhadap seseorang yang baru pertama mereka temui.


"Rio… apa kau tau Informasi keberadaan dari mereka ?"


"Salah satu saja tidak apa-apa." Audrey bertanya.


"Iya aku tau, lagipula jika mereka meminta tebusan maka ada seseorang yang ditugaskan mengambil uang nya."


"Hehehehe… sepertinya dengan rencana itu bisa berhasil… Kan Audrey ?" Ucap Hendry.


"Iya… hehe."


"Re… Rencana ???"


Hendry dan Audrey menengok bersamaan ke arah Eliana, dan dia cukup bingung dengan apa yang akan terjadi pada dirinya setelah ini.


Perlahan cahaya harapan mulai muncul dari mata Rio, melihat ketiga orang yang baru ditemuinya bersedia melakukan hal berbahaya seperti ini. Mereka berempat mendiskusikan rencana tersebut dengan seksama lalu bersiap mengeksekusi rencana yang cukup brilian ini.