The Story Of Jammetaria

The Story Of Jammetaria
BAB 19 - Pedagang Licik



Seminggu kemudian, mereka bertiga selesai dari misi berburu babi hutan, dan sekarang tengah menuju ke guild.


Sesampainya di guild mereka langsung masuk seperti biasa dan bersiap melaporkan hasilnya, namun kata petugas guild, mereka disuruh untuk menemui pedagang yang memesan secara langsung. Katanya juga pembayaran misi ini akan diurus langsung oleh pedagang tersebut, dan tidak diurus melalui guild.


Ketiganya keluar lalu segera menuju ke tempat pedagang itu, seperti dijelaskan sebelumnya.


Tak lama kemudian mereka sampai, dan kebetulan pedagang yang dimaksud sedang diluar toko dan restoran miliknya, dia adalah seorang pria tua yang kelihatannya sedikit galak. Mereka bertiga menyapanya seperti biasa dan berniat langsung ke intinya, tapi jawabnya malah sedikit sewot.


"Halah mana… katanya sudah selesai, tapi kok nggak ada babi hutan yang kalian bawa ?"


Hendry sedikit kesal terhadap perkataan pedagang itu, namun Eliana berhasil menenangkannya. Audrey bergegas mengambil seekor babi hutan dari sihir penyimpanan. Babi hutan setinggi 1 setengah meter yang tergeletak di tanah telah muncul dari dalam lingkaran sihir, hal itu membuat pedagang terkejut, mulutnya menganga dan cara bicaranya berubah drastis hingga bisa dibilang ramah.


"Wah... cukup besar rupanya… "


"Jadi gimana, bisa kita selesaikan sekarang ?" Audrey bertanya.


"Sebentar ya... akan aku periksa dulu…" Pedagang itu mondar-mandir mengelilingi babi hutan, melihat setiap bagian dengan detail. Babi hutan itu diburu dengan cukup baik, kepalanya pun tidak terpisah dan hanya meninggalkan luka kecil di bagian leher belakang, tanpa meninggalkan luka lain di sekujur tubuhnya, dan lagi babi hutan ini baru diburu pagi tadi sehingga kondisinya masih sangat segar. Walau kulit luarnya sedikit kotor ini wajar, karena babi hutan hidup di dalam hutan.


"Maaf tapi aku tidak bisa menerimanya, restoran ku hanya menggunakan bahan dalam kondisi terbaiknya, maaf aku tidak bisa membeli babi hutan ini."


"APAAA???" Teriak ketiganya.


Pedagang tersebut berusaha mencari-cari kesalahan mereka dalam memburu babi hutan, dan bersikeras tidak dapat menerimanya. Padahal sebenarnya dalam kondisi cukup bagus, juga termasuk murah untuk sebuah misi perburuan yang diajukannya.


"Maaf sebenarnya aku tidak bisa menerima barang cacat seperti ini, bagaimana kalau kubeli setengah harga saja, dan dengan begitu kalian tidak perlu membayar kegagalan misi di guild ?" Ucap pedagang licik tersebut dengan berlagak baik.


Hendry, Audrey, dan Eliana sedikit bingung mengenai keputusan ini, Ketiganya saling menoleh dan akhirnya memantapkan pilihan.


"Ah maaf, seperti ini memang kesalahan kami, jadi kami menerima untuk menggagalkan misi tersebut sebagai pertanggungjawaban. Kami tidak ingin klien harus membayar barang cacat yang tak berharga seperti ini." Jawab Eliana dengan senyum dan tampaknya mulai masuk ke permainan pedagang licik tersebut.


"Apa kalian yakin…? kalian harus membayar biaya kegagalan lo ?"


"Iya…" jawab Eliana dan Audrey serentak, sementara Hendry masih sedikit bingung tentang hal ini.


Setelah itu Hendry menyerahkan kertas permintaan kepada pedagang licik itu, dia menandatangani nya dan menyatakan kegagalan misi dengan beberapa keterangan seperti tadi, dia sempat bergunam dengan wajah yang sedikit kecewa.


"Cih… dasar anak bodoh… kalian akan lebih rugi jika melakukan hal semacam ini." Gunam pedagang tadi sambil mengisi kertas permintaan lalu menyerahkannya kepada Hendry.


Eliana tidak sengaja mendengar gunam pedagang itu lalu menjawabnya dengan senyum.


"Ah sebenarnya kami tak terlalu rugi, malahan masih ada sedikit untung… Audrey, coba kau keluarkan semuanya…"


"Ok.." Audrey mengeluarkan semua yang diburu. 4 ekor babi hutan keluar dari sihir penyimpanan sehingga total 5 babi hutan tergeletak di sini.


Pedagang licik tadi sangat terkejut, dia mengira kapasitas sihir penyimpanan itu hanya sebanyak 1 babi hutan saja, namun ternyata ada 5 babi hutan seluruhnya.


Setelah puas memperlihatkannya, Audrey segera menarik kelima babi hutan itu ke dalam sihir penyimpanan sembari berkata...


"Kami tidak akan rugi hanya karena menyerahkan salah satunya ke guild, lagipula kami masih untung menjual keempatnya kepada pedagang lain dengan harga yang cukup tinggi, lagian menurutku kondisi nya masih bagus."


"Ayo teman-teman kita segera pergi…" Ucap Eliana, lalu ketiganya mulai bergerak menjauh.


"Tu tunggu... Aku akan membayarnya dengan harga penuh… Tidak, satu setengah kalinya pun tidak apa-apa…"


"Maaf tidak bisa… kau sudah menolaknya tadi, lagipula kau sudah mengkonfirmasi nya pada kertas ini." Eliana mengambil kertas permintaan yang tadi dipegang Hendry lalu menunjukkan ke udara, tanpa menoleh sedikitpun kepada pedagang itu.


Mereka bertiga segera kembali ke guild, untuk melaporkan kegagalan pertama mereka pada misi kali ini, ketiganya terbang dengan peralatannya masing-masing dan melesat cepat menuju guild. Pedagang tadi tetap berusaha mengejar walau panas terik dan tubuhnya mandi keringat. Ia berharap mereka berubah pikiran saat sampai di guild nanti.


Ia sangat menyesal karena keserakahannya sendiri, ibarat seorang yang hampir menyembelih angsa bertelur emas hanya karena dirinya lapar. Sementara itu di perjalanan menuju guild, Hendry yang bingung segera menanyakan sesuatu.


"Apa kalian berdua yakin ingin melakukan hal ini ?"


"Bukannya pedagang tadi bersedia membayar dengan harga tinggi, lebih tinggi dari harga awal ?"


"Iya.." Jawab Audrey dan Eliana dengan serentak.


"Tapi kenapa ?" Ucap Hendry


"Sejak dia menolak, aku sudah tidak berniat menyerahkan padanya untuk harga berapapun, pokoknya liat aja nanti, kemungkinan di guild akan terjadi sesuatu yang menarik." Jawab Eliana.


"Apa maksud kakak ?" Hendry bertanya.


"Udah liat aja nanti, gak usah banyak tanya…"


Sekitar 5 menit kemudian ketiganya sudah sampai di guild, mereka tidak langsung menuju resepsionis untuk melaporkan kegagalan misi melainkan beristirahat sejenak, memesan minuman dan makanan ringan.


Tak lama kemudian pedagang tadi sampai di guild ini, ia tampak kelelahan, nafasnya terengah-engah dan tubuhnya penuh keringat karena sepertinya dia berlari mengejar.


"Ah Hendry... tolong segera bawa kertas itu ke resepsionis." Ucap Eliana dengan santai setelah meminum jus segar yang dipesannya.


Pedagang tadi tentu saja panik. Ia bergegas menghentikan mereka dan memohon agar mereka tidak jadi membatalkan misi, namun sialnya Hendry sudah sampai resepsionis dan petugas guild bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.


Audrey dan Eliana bangkit dari kursinya, Eliana langsung menuju resepsionis, sementara Audrey menarik tangan pedagang tersebut dan membawanya ke dekat petugas guild. Lalu mereka bertiga menjelaskan situasinya tadi dan berisap membayar kegagalan misi kali ini.


"APAAA?... Setengah harga untuk seekor babi hutan, apa dia bercanda ?" Tatapan mata petugas guild yang sedikit kesal tertuju ke arah pedagang.


"Sepertinya tidak, ia mengatakan kualitasnya sebagai 'barang cacat', dan bahkan sudah menandatangani kertas ini." Hendry menunjukkan kertas permintaan yang sudah ditangani pedagang tersebut.


"Jadi menurut kalian, apa babi hutan yang kailan buru tidak dalam kondisi baik?"


"Tidak, menurut kami masih dalam kondisi bagus dan segar, lagipula ini baru diburu tadi pagi. Iya kan?"


Ketiganya mengangguk membenarkan perkataan Audrey.


"Baiklah kalau begitu biar kami yang menilainya."


"Kalian semua… ikut denganku sekarang..."


Semua orang termasuk pedagang tadi berjalan ke belakang menuju bagian penukaran bersama petugas guild tadi. Tampak sebuah ruang terbuka yang lantainya hanya tanah dan ditutupi rerumputan. Di samping nya terdapat gudang tertutup yang kelihatannya cukup besar, dan disini ada petugas guild bagian penukaran.


Tidak seperti petugas sebelumnya yang merupakan perempuan, dia merupakan laki-laki paruh baya yang cukup berotot, dia bekerja di bagian penukaran untuk menilai dan menyimpan barang buruan para petualang.


Audrey segera mengeluarkan kelima babi hutan tadi dari sihir penyimpan, lalu menyerahkan ke petugas guild untuk menilainya.


"Jadi bagaimana menurutmu?" Tanya petugas guild ke petugas laki-laki di bagian penukaran.


"Dilihat bagaimanapun semua ini dalam kondisi terbaiknya, bahkan aku belum pernah melihat ada petualang lain yang mampu berburu babi hutan serapi ini, dengan hanya meninggalkan luka kecil di leher belakangnya…" Petugas penukaran itu menjawab dengan santai, melanjutkan pekerjaannya dan tidak memperdulikan mereka semua.


Hendry, Audrey, dan Eliana mereka lega namun pedagang itu mulai berkeringat dingin. Sementara petugas guild tadi mulai mengeluarkan aura yang mengerikan.


"DASAR TIDAK TAU MALU !!!"


"JADI APA MAKSUDMU ?... Apa kau mencoba memanfaatkan petualang pemula seperti mereka."


"APA KAU TIDAK TAU… Kalau berburu di hutan itu sangat berbahaya ?"


"Ti… tidak aku hanya…"


"MASIH MENCOBA MENGELAK ?... Setelah semua yang kau lakukan hari ini…"


"MULAI SEKARANG KAU DI BLACKLIST DARI SEMUA CABANG GUILD DI KERAJAAN INI… kau tidak bisa mengajukan segalanya bentuk permintaan apapun…"


"Te-tenanglah nona muda, kau mau berapa, aku bisa membayarmu berapapun." Ucap pedagang tersebut dengan panik dan hendak mengeluarkan dompetnya.


"Huh… jadi kau mencoba menyuap ku ya… DASAR PEDAGANG RENDAHAN !!!"


"KAU PIKIR TEMPAT MACAM APA INI ?... Asal kau tau, Guild sendiri merupakan lembaga independen yang bahkan tidak terikat dengan kekaisaran…"


"DAN ORANG SEPERTIMU MENCOBA MELAKUKAN HAL KOTOR SEMACAM INI !!??"


"Ketahuilah tempatmu… DASAR PEDAGANG SAMPAH !!!!"


Melihat kemarahan petugas guild, pedagang tadi sangat kesal. Ia merasa telah dijebak oleh ketiga bocah tersebut, walau dari awal ia berniat menipu mereka. Sekarang dengan omelan petugas guild ia hanya bisa bergunam…


"Cih… lagi pula kau tidak punya kewenangan semacam itu.”


Petugas guild kehilangan kata-kata, ia tambah kesal namun bingung mau menjawab apa. Hendry, Audrey dan Eliana hanya bisa menonton, dan tak bisa melerai mereka. Padahal niat awal mereka hanya memberi sedikit pelajaran kepada pedagang licik tersebut, ketiganya tidak menyangka pedagang tersebut akan dimarahi habis-habisan bahkan terancam di blacklist dari guild.


"Tidak tapi aku punya…" Seorang pria tua beruban, yang tak sengaja lewat di dekat bagian penukaran dengan santainya mengatakan hal tersebut. Suasana menjadi diam seketika, tak ada berisik dan suara marah-marah lagi. Wajah pedagang tadi menjadi pucat sedangkan petugas guild merasa puas, namun ketiganya masih belum mengerti.


Setelah diberi penjelasan, rupanya pria tua yang lewat tadi adalah pemimpin cabang guild ini (kepala guild). Jadi pedagang licik itu sudah pasti akan di blacklist dari guild dalam beberapa hari kedepan, agar keserakahannya tidak merugikan petualang lain untuk berikutnya.


Setelah masalah ini sudah selesai, Hendry, Audrey, dan Eliana menyelesaikan urusan mereka. Mereka menyerahkan seekor babi hutan kepada pihak guild sebagai pembayaran atas kegagalan misi ini, sementara menjual sisanya kepada pedagang lain yang kebetulan ada di sini.


Pedagang licik tadi kena mental, sekarang ia hanya bisa duduk diam dan termenung, memikirkan nasib bisnisnya untuk kedepan, juga memendam kemarahan kepada ketiga orang tadi. Ibarat seseorang yang menyembelih angsa bertelur emas hanya karena lapar, semntara telur emas yang tersisa telah dicuri, ditambah lagi utang karena rumahnya yang digadai untuk membeli angsa belum dibayar sepeser pun.


Mereka bertiga menjual babi hutan yang tersisa dengan setengah harga, karena tak mau membebani sihir penyimpanan Audrey lebih lama lagi. Sontak pedagang tadi semakin marah, ia merasa dipermainkan walau sebenarnya dia sendiri yang salah. Dia semakin kesal, berdiri dari kursinya dengan tegas, lalu meninggalkan guild ini segera, hingga tidak ada yang tau nasibnya kedepan.


Mereka bertiga tak sadar bahwa hal baik yang mereka lakukan hari ini akan menimbulkan masalah buruk di kemudian hari.