The Story Of Jammetaria

The Story Of Jammetaria
BAB 22 - Pembalasan Dendam 3



Ditengah kegelapan rumah kosong, Audrey terus berjalan mendekati pak tua pedagang sialan itu. Tatapan matanya tajam dan bersinar dalam kegelapan. Suasana ruangan juga menjadi dingin, para penculik lain berusaha menyalakan api namun seringkali padam, karena disini semakin lembab dan tetesan air keluar dari celah-celah atap.


Audrey terus berjalan mendekat, dan terus mendekat hingga tersisa kurang 1 meter dari pedagang itu.


Walaupun Audrey belum berbicara apapun pedagang tadi sudah ketakutan, melihat mata ungu Audrey yang sayu bersinar dalam kegelapan, wajahnya yang terus menatap datar tanpa ekspresi tentu sedikit mengerikan, belum lagi tongkat sihir yang dipegang siap membunuh kapan saja Audrey mau.


Tak mau berlama-lama, pedagang itu langsung angkat kaki dari sini, lari menuju ke luar dan berharap bisa selamat, tanpa memperdulikan yang lain didalam sini. Pedagang itu lari sekuat tenaga ke luar namun upayanya gagal.


Secara tak sengaja ia menabrak sesuatu yang sangat tebal, keras, dan dingin. Yang ditabrak tak lain dan tak bukan adalah sebuah dinding es yang barusan dibuat Audrey. Pedagang itu berusaha mengetuk-ngetuk agar pecah namun itu sia-sia, bahkan dengan sihir api sekalipun dinding es itu sulit mencair.


Tak mau Ambil pusing Audrey sudah tak memperdulikan pak tua pedagang itu. Sekarang dia hanya fokus ke musuh dan menyelamatkan kedua temannya.


Audrey mendekati Hendry dan Eliana, lalu menanyakan keadaan mereka, walau nada suaranya sedikit datar dan tidak seperti biasanya.


"Kalian tidak apa apa ?"


"Ah iya... terima kasih. Audrey… kan ?" Jawab Hendry dengan gemetaran, ia sedikit bingung dan takut, karena yang terlihat di hadapannya sangat berbeda dari Audrey yang selama ini dia tau. Sementara Eliana hanya diam dan berusaha menggantikan tangisannya sembari menenangkan diri.


Setelah memastikan kondisi kedua temannya Audrey langsung berbalik ke arah musuh tanpa berkata apapun terhadap mereka berdua. Ia juga belum sempat melepaskan tali yang mengikat mereka karena saat ini belum waktu yang pas, sementara Hendry dan Eliana juga menyadari hal itu.


"Dengar… aku bisa membunuh kalian semua sekarang juga, tapi aku tak mau mengotori tanganku."


"Jadi pilihlah… mau menyerah atau melawan ?" Ucap Audrey dengan datar sembari mengancam mereka.


"HAH APA MAKSUDMU SIALAN, bukankah hal itu berlaku untuk kalian?" Jawab pemimpin dengan kesal, sementara seorang rekannya juga menambah...


"Hahaha… bisa apa kau lagipula kan masih ada Sandera di sin…"


Krak Krak Krak… Woosrhhh...


Beberapa lempeng es muncul dari tanah dibelakang Audrey, lalu membentuk dinding yang melindungi Hendry dan Eliana dari para penjahat bersamaan api unggun kecil untuk menghangatkan mereka berdua.


Para penjahat itu sedikit terkejut karena kini mereka tidak bisa menggunakan sandera untuk melancarkan aksinya, beberapa sempat ada yang keluar untuk memeriksa namun ternyata tempat ini sudah terkurung sepenuhnya. Pemimpin penculik juga sedikit panik hingga setetes keringat dinginnya keluar, namun ia tetap berusaha meredakan keresahan rekan-rekannya.


“JA… JANGAN PANIK !!!, Dia hanya peringkat C, sedangkan kita semua peringkat B.”


“Tidak mungkin kita yang berpengalaman kalah dengan anak kecil seperti dia…”


“Be... benar...” Salah satu rekannya menjawab.


“SEMUANYA… SERANG…” teriak pemimpin penculik lalu semuanya mulai menyerang, mereka semua menyerang bersamaan hingga membuat Audrey terkepung.


Tidak seperti tadi, kali ini Audrey berhasil menghindari semua serangan mereka, ia menjadi lebih cepat dan gesit daripada sebelumnya walaupun beberapa kali ia terkena goresan kecil pada tubuh nya. namun entah mengapa setiap luka gores yang ada pada tubuhnya langsung mengeluarkan asap lalu tertutup dengan sendirinya sehingga hanya pakaiannya saja yang sobek.


Meski begitu ini juga belum kekuatan penuh Audrey, dia masih menahan diri dan mengendalikan kekuatan ini sebaik-baiknya juga berupaya agar tidak kelepasan. Tak sia-sia Audrey menyendiri di hutan selama 3 tahun terakhir, sekarang ia bisa mengendalikan kekuatan ini, selama tidak langsung membekukan musuh atau menggunakan sihir pemotong air, dampaknya tidak terlalu buruk.


“Hahahaha… Dasar pengecut, katanya peringkat B, tapi kok bisa kewalahan gini…” ucap Audrey dengan senyum yang dipaksakan hingga tapak sedikit seram sembari bergerak lincah menghindari serangan dari para penculik.


"Ah sial…" ucap pemimpin penculik itu.


"Baiklah berhenti bermain-main…" tanah yang diinjak para penjahat membeku, mereka semua terpeleset. Saat mereka jatuh Audrey membuat sihir air dan membasahi seluruh tubuh mereka.


“Hah jadi cuma ini yang bisa kau lakukan ?” Ucap salah seorang dari mereka, sebelum dia menyadari sesuatu dengan panik.


Audrey mengangkat tongkat sihir ke udara, kristal ungunya bersinar terang dan percikan listrik di sekitarnya juga semakin banyak, mungkin kali ini Audrey akan menggunakan sihir petir yang sangat jarang digunakannya. Ia menghentakkan tongkatnya ke tanah dan…


Tok… Crezzzzzzz….


Waaaa….


Aliran listrik dari tongkat nya mengalir melalui tanah yang membeku,lalu menyetrum semua penjahat yang ada dalam jangkauan Audrey, tapi sama sekali tidak mengenai kedua temannya yang jauh dibelakang. Mereka semua tersungkur kesakitan, tubuh mereka gemetaran hebat, rambutnya yang berdiri gosong, serta luka bakar yang mulai muncul dari kulit mereka.


Belum ada 30 detik mereka tersetrum, semuanya sudah lemas dan mata mereka sudah tertutup. Tidak jelas di antara mereka mana yang pingsan dan mana yang tewas saat ini (kalau ada), kecuali salah seorang diantaranya yang masih sadar walau hampir pingsan.


Orang itu adalah pemimpin tadi, sekarang dia hanya bisa bertekuk lutut dan tidak sanggup berdiri sama sekali. Audrey menghentikan sihirnya lalu perlahan mendekati dan menatapnya kebawah dengan kejam, seperti menatap serangga di antara kakinya.


Eliana dan Hendry hampir tak percaya, perasaan mereka bercampur aduk, antara senang dan sedih, karena belum pernah sekalipun mereka melihat sosok Audrey yang seperti ini. Mereka berdua yang masih terikat hanya bisa diam tak bisa berkata apapun, mulutnya sedikit menganga dan matanya melotot tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Pedagang itu tak punya pilihan lain, ia segera mendekat ke arah Audrey dan bergabung dengan pemimpin penculik yang tersungkur itu, mereka berdua hanya bisa bertekuk lutut dihadapan Audrey. Pedagang licik itu ketakutan tapi hal yang sama tidak terjadi pada pemimpin itu.


Dia kesal dan marah, namun tak bisa berbuat apapun lagi, diantara semua anggota party, hanya dia yang berhasil bertahan dengan sadar meskipun kondisinya sekarang tidak bisa disebut baik-baik saja.


Keduanya hanya terdiam di tengah dingin dan kegelapan, akibat pertempuran tadi sebagian besar cahaya telah mati. Kecuali api unggun kecil di dekat Hendry dan kakaknya dan tentu saja mata dan tongkat Audrey.


Disaat yang sama Audrey memberikan ancaman terakhir terhadap mereka berdua yang saat ini sadar, mata sayu audrey melirik tajam terhadap mereka berdua, nada bicaranya dan ekspresinya tampak datar tidak ada penyesalan sama sekali karena bagaimanapun apa yang dilakukan Audrey adalah sesuatu yang benar.


“Seperti yang kubilang tadi… Aku bisa membunuh kalian sekarang juga. Tapi aku tak mau mengotori tanganku seperti ini…”


“Huh… Omong kosong…” Ucap pemimpin itu dengan nada bicara yang terengah-engah. Pedagang licik itu hanya bisa diam dan tak berani bicara apapun sementara Audrey semakin terpancing untuk tertawa hingga raut wajahnya berubah meskipun matanya masih sayu.


“Apa yang kau bicarakan Hehehehe… Lihatlah sekitarmu. Teman-Temanmu mereka semua tergeletak, dan bahkan aku tidak tau mana dari mereka yang tewas ataupun pingsan.”


“Ah Siall… Liat saja ADEK KECIL !!!”, aku akan melaporkanmu ke guild atas apa yang telah kau lakukan Pemimpin tadi berusaha menggertak walaupun tubuhnya masih menahan rasa sakit.


“Guild ?… Hehehehe… Apa kau bercanda ?” Audrey tertawa lalu mendekati semua penculik tadi satu persatu, membuka matanya dengan paksa, menatapnya lalu mengucap sebuah mantra pendek.


Sihir ingatan terbukalah...


Wahai waktu yang terus berputar di dalam pikiran, biarkanlah dirimu berhenti sejenak dan berputar balik, ijinkan aku menulis ulang segala ingatan dan reka kejadian ini sesuai kehendakku.


Selagi merapalkan mantra, mata Audrey menjadi lebih terang lalu meredup sama seperti sebelumnya. Ia melakukan hal yang sama terhadap kelima orang lainnya dan tentu hal itu membuat pemimpin tadi bertanya tanya.


“Ap… Apa yang kau lakukan ?”


Audrey telah selesai melakukan semua hal itu, lalu perlahan mendekat menuju arah pemimpin tadi, dan dengan bangganya ia mengatakan.


“Ah.. sederhana, Aku hanya memanipulasi ingatan mereka semua, jadi kalaupun kau melapor tidak ada satupun yang percaya, dan kau akan dianggap gila.”


“Mereka yang disini hanya akan menganggap hal ini sebagai serangan Monster, dan tak mungkin ada yang percaya semua ini disebabkan seorang pemula berperingkat C”


“Benar kan ?... Hehehehe…”


Audrey tertawa lepas, kedua temannya tidak menyangka dan kini kedua orang yang bertekuk lutut di hadapannya tak bisa berbuat apa-apa, dan hanya bisa memikirkan diri sendiri.


“Kalau kau atau temanmu melakukan nya lagi akan kubuat kau lebih menderita, akan kubuat party yang telah lama kau bentuk hancur.”


“Tidak, aku akan membuatmu merasakan kesepian yang sesungguhnya, teman, keluarga dan semua orang yang mengenalmu akan melupakanmu.”


“Semua orang yang ada hanya akan menganggapmu sebagai orang asing, maka sebelum aku berubah pikiran…”


“CEPAT PERGI DARI SINI SEKARANG JUGA !!!…” Dalam sekali hentakan tongkat sihir, semua dinding es yang mengurung rumah kosong ini pecah. Pemimpin dan pedagang licik itu lari terbirit-birit tanpa memikirkan satu rekan mereka yang masih tergeletak, sementara saat ini Audrey segera mendekati Hendrey dan Eliana.


Seperti yang diduga sebelumnya Hendry dan Eliana kini sedikit takut melihat Audrey namun Audrey tak memperdulikannya dan tetap mendekat. Sebelum melepaskan ikatan yang melilit kedua kakak beradik itu, Audrey terlebih dulu mendekati Eliana.


Ia menatapnya dengan tajam dan beberapa detik kemudian Eliana tertidur, Hendry sangat terkejut dengan apa yang Audrey lakukan, lantas ia panik dan bertanya dengan keras ?


“OII… AUDREY… Apa yang kau lakukan pada kakakku !!??”


Audrey tetap saja tidak memperdulikan teriakan Hendry, setelah Eliana tertidur ia melakukan hal yang sama terhadapnya hingga mereka berdua tertidur.


Maaf tapi belum saatnya kalian berdua melihat kekuatan semacam ini.


Gunam Audrey dalam hati, secara perlahan cahaya di matanya menghilang dan raut muka nya mulai berekspresi seperti biasa.


Sekarang semuanya sudah selesai, Audrey segera melepaskan tali yang mengikat kedua kakak beradik itu, membaringkannya ke sebuah papan kayu cukup lebar di sebelah nya lalu menggunakan sihir penyembuhan untuk menyembuhkan luka dan lecet di sekujur tubuh mereka. Sebuah sihir yang belum pernah diperlihatkan kepada mereka berdua karena selama ini Eliana lah yang menangani bagian ini, walau ada kemungkinan sihir penyembuhan milik Audrey lebih mujarab.


Audrey mengambil topi nya yang tergeletak lalu memakainya seperti biasa, menyiapkan sapu terbangnya lalu membawa mereka berdua yang tertidur ke penginapan. Terbang pelan di tengah malam dari hutan menuju ibu kota ke tempat mereka berdua.


Sesampainya mereka di penginapan, Bibi menyambut mereka dengan hangat, dia lega karena ketiganya berhasil pulang dengan selamat. Setelah itu Bibi dan Audrey mengantarkan keduanya yang tertidur ke kamar masing-masing, bersamaan dengan tumpukan barang yang sudah ditaruh di kamar masing masing.


Setelah semuanya beres Audrey berpamitan, dan meminta tolong kepada Bibi agar tidak menceritakan sepatah katapun tentang penculikan ini kepada mereka. Audrey pulang seperti biasa di menuju rumahnya, tidur dan bersiap untuk hari esok yang baru dengan bersikap seperti tidak terjadi apa-apa, namun tetap saja…


Ditengah perjalanan Audrey sedikit merenung, memikirkan mereka yang tergeletak di rumah kosong itu, masih selamat atau tidak…