
Disuatu hari yang tenang seperti biasa, tak terlalu pagi dan juga siang, ketiganya berjalan bersama. Mereka tampak sudah keluar dari guild dan langsung menuju gerbang utama kota.
Ketiga nya bukan berjalan tanpa alasan, mereka melakukan hal yang sudah biasa mereka lakukan. Mengambil misi tertentu seperti biasa namun kali ini ada sedikit perbedaan.
Beberapa hari yang lalu mereka bertiga mengambil suatu misi yang cukup menarik, hadiahnya pantas namun lokasinya cukup jauh.
Misi untuk berburu dan mengambil kulit Salamander batu. Lokasinya sendiri di bukit berbatu yang berada di barat daya ibukota Felisia, lebih tepatnya belok di pertigaan Padang rumput yang mengarah kota Anggresia.
Karena lokasinya jauh maka misi ini tidak cukup hanya sehari, mereka harus berkemah selama perjalanan. Namun itu bukanlah hal tersulit. Hal tersulit selain berhasil membunuh Salamander batu dan mengambil kulitnya adalah bagaimana cara membawanya kembali.
Pasalnya 1 kulit Salamander batu saja beratnya hampir mencapai 50-150 kg, karena kulitnya yang tebal dan berbatu seperti namanya. Walaupun disebut batu tapi tentu saja bukan batu biasa, batu tersebut lebih mirip logam hitam yang cukup keras juga mudah dialiri energi sihir, sehingga menjadi bahan utama yang ideal untuk membuat baju zirah dan senjata.
Namun untungnya kita mempunyai Audrey disini...
Misi kali ini juga bisa dilakukan beberapa party sekaligus. Karena kebetulan waktu mereka mengambil sudah ada 1 party lain juga yang berpartisipasi jadi misi kali ini adalah misi bersama.
Mereka bertiga akan bekerja sama dengan party tersebut. Sebuah party yang bernama “Kucing Hitam”, ketiganya sudah mengenali nama dan wajah nya masing-masing, namun hanya itu yang mereka tau. Jadi sekarang Hendry, Audrey dan Eliana akan menemui mereka di gerbang kota lalu segera berangkat untuk melakukan misi yang dimaksud.
Di gerbang kota, sebuah party sudah menunggu mereka. Terdiri dari 4 orang dengan 2 laki-laki dan 2 perempuan. Mereka berempat lebih tua dari Audrey dan rekannya, namun hal itu wajar lagipula mereka semua berperingkat B.
Setelah mereka melihat ketiga nya, mereka semua langsung berdiri dan menenteng tas masing-masing bersiap untuk memulai perjalanan.
"Hadehh… lama sekali…" ucap Elisa, seorang pemanah dari party mereka, secara penampilan ia terlihat seperti kakak perempuan yang cukup galak, menggunakan setelan hijau tipis dan mengikat rambut pirangnya kuncir kuda dibelakang. Ia membawa busur dan sekantong anak panah. Tak lupa juga menggendong tas tanpa ada kesulitan sedikitpun. Walau ia sendiri tampak sudah memiliki 2 beban bawaan yang kelihatannya cukup berat dan besar karena pakaiannya sedikit terbuka.
"Lalu gimana dengan perbekalan kalian, dengan barang bawaan seperti itu, mustahil untuk melakukan perjalanan berkemah…"
"Maaf kak… Tapi…" Audrey hampir saja berbicara tapi kata nya langsung dipotong oleh kak Dani. Seorang pengguna pedang besar, sama seperti Hendry.
"Sudah… sudah lagi pula mereka masih peringkat C, mungkin ini pengalaman pertama mereka, jadi biarkan mereka belajar dari kita…"
"Lagipula kami juga membawa banyak bekal, kami tak keberatan berbagi dengan kalian..."
"Cih… kalau Dani sampai bilang begitu, apa boleh buat…" Desah Elisa dengan kesal.
Semuanya mulai berjalan meninggalkan kota, tanpa memberi satupun kesempatan bagi Audrey, Hendry atau Eliana untuk berbicara, terlebih tentang kesalahpahaman perbekalan yang ketiganya bawa.
Mereka mulai berjalan melintasi hutan dan jalan utama yang menghubungkan antar kota, saat ini masih belum terlalu siang, namun hal itu tak menjadi masalah karena jalan ini sudah sangat sering mereka lalui, dan juga sinar matahari di sini tidak terlalu menyengat karena banyaknya pepohonan di kanan kirinya.
"Cih menambah beban saja…" Ucap Elisa
"Biarlah, lagipula kita bisa menggunakan mereka sebagai umpan. Mereka harusnya tau resiko bekerja sebagai petualang. Dilihat dari perlengkapan yang mereka pakai, sepertinya cuma anak orang kaya yang sok-sokan menjadi petualang, tanpa mengetahui apa resiko sebenarnya." Ucap Wisnu, salah seorang dari anggota party mereka, seorang laki-laki pengguna tombak yang tampak lebih menyeramkan dari semua orang, dengan rambut hitam panjang yang menutup sebelah matanya juga dengan tombak hitam tajam yang dibawa di balik tas di belakang punggungnya.
"Huss.. jangan berkata seperti itu, lagipula kita sebagai senior harus memberi contoh yang baik terhadap adik-adik kita…" Tegur kak Dani di depan yang tak sengaja mendengarnya.
Kedua party itu berjalan terpisah. Party “Kucing Hitam” di depan sementara Party “Bintang Kelabu dibelakang”. Diantara ketiga orang tadi dari party “Kucing Hitam” masih ada seorang anggota lagi.
Seorang perempuan bernama Lia. Ia sangat pendiam dan tak pernah terlihat berbicara dari tadi, namun dilihat dari jubah dan penampilan tertutupnya ia mungkin seorang penyihir, walau tak menggunakan topi seperti Audrey. Ia memiliki rambut panjang dan tubuh yang lebih kecil dari semua rekannya, tapi sepertinya umur tidak termasuk.
Saat ini ia berjalan di belakang ketiga orang rekannya. Tepat berada di belakang Elisa dan Wisnu di tengah juga Dani di posisi paling depan.
Seentara itu, mereka bertiga dari paty “Bintang Kelabu” berjalan dengan canggung dan menjaga jarak di belakang party perangkat B tersebut. Audrey mencoba menenangkan Eliana yang sedikit kesal, sementara Hendey cukup bersemangat karena pertama kali menjalankan misi bersama dengan kakak senior satu tingkat diatas mereka tanpa perlu memperdulikan hal yang tidak penting.
Waktu semakin berlalu dan hari menjadi semakin siang, semuanya belum berhenti dari tadi dan melewatkan waktu makan siang, namun hal itu sudah biasa bagi para petualang. Kebanyakan dari mereka yang menjalankan misi di siang hari akan melewatkannya, karena tak mungkin menyuruh bandit atau Monster yang diburunya berhenti sejenak dari pertempuran, itu merupakan hal yang mustahil. Meski begitu para petualang tak pernah sekalipun melewatkan sarapan, karena menjadi petualang juga pekerjaan berbahaya dan dalam hal itu mereka harus dalam kondisi optimal.
Mereka semua terus berjalan dan semakin berkeringat, terlebih pada Party "Kucing hitam" didepannya. Mereka bertiga bisa saja terbang dengan kemampuan yang mereka miliki, namun hal itu tidak sopan, apalagi semua anggota party di depannya belum tentu memiliki kemampuan ini.
Semua anggota party "Kucing Hitam" mulai sedikit kelelahan. Mereka sudah cukup berkeringat, karena perjalanan tanpa istirahat ini walaupun sebenarnya dari tadi mereka sudah sedikit memaksakan diri, agar terlihat lebih kuat dihadapan junior nya, sembari menunggu mereka bertiga untuk meminta istirahat, namun hal itu tidak terjadi sampai sekarang.
Dengan inisiatif Dani menoleh kebelakang dan menawarkan beristirahat kepada party di belakangnya. Ketiga orang lainnya juga tak keberatan karena juga merasakan hal yang sama.
"Ba.. bagaimana kalau kita istirahat sebentar, kalian sepertinya terlihat sedikit kelelah…" Ucap kak Dani yang wajahnya berkeringat, menatap ketiga orang dibelakangnya berjalan santai seolah tak terjadi sesuatu yang berat. Karena memang pada dasarnya mereka sudah sangat terbiasa dengan hal semacam ini.
Dulu Hendry dan Eiliana sudah sangat sering melakukan perjalanan antar kota untuk mencari anggota party, sementara Audrey sendiri sebagai seorang penyihir suka membuang energi sihir melimpah yang dimilikinya untuk hal yang tak terlalu penting, seperti membakar sampah atau menyiram tanaman misalnya...
"an…"
Tak berapa lama kemudian mereka semua beristirahat di tepi sungai dan mengisi dahaga dengan aliran air sungai yang jernih. Mereka hampir tiga perempat perjalanan, saat ini mereka beristirahat di bawah pohon di pinggir hutan, dimana Padang rumput dan dataran berbatu mulai terlihat.
Karena saking lelahnya kakak-kakak senior dari party "kucing hitam", mereka tak dapat berbicara banyak, namun yang pasti mereka sudah mengenal nama dan wajah Hendry, Audrey dan Eliana.
Cuacanya masih cerah namun matahari mulai sedikit condong ke arah terbenamnya, sore masih jauh namun suasananya tak sepanas tadi. Mereka semua bergegas meninggalkan sungai dan melanjutkan perjalanan ke bukit berbatu sebelum sore mulai menghampiri.
Berjalan seperti tadi dengan masih adanya sedikit ketegangan di kedua belah pihak dengan tidak adanya pembicaraan dan kata-kata keluar dari mulut mereka yang ditujukan kepada party "Bintang kelabu" ataupun sebaliknya.
Hari sudah hampir sore namun mereka sebentar lagi sampai. Beberapa saat lalu mereka sudah mulai mendaki bukit berbatu ini, walau disebut berbatu ini tidak sepenuhnya terbuat dari batu. Masih banyak tanah dan rumputan di antara bebatuan besar yang tertanam di bukit ini, bahkan beberapa pohon masih tumbuh menjulang dengan sedikit sumber air di celah-celah akarnya.
Akhirnya mereka sampai, mereka segera mencari tempat yang sesuai untuk berkemah dan beristirahat malam ini. Setelah berkeliling beberapa saat dipilhlah suatu tempat untuk memulai berkemah.
Suatu tempat di area datar dibukit yang sedikit jauh dari habitat Salamander batu, juga diperkirakan tempat yang cukup aman dari serangan Monster walau tanpa sihir penghalang yang terpasang di sekitarnya.
Setelah memutuskan disini tempatnya, mereka langsung berpencar sendiri-sendiri karena sudah cukup sore, mencari beberapa kayu bakar dan beberapa bahan makanan tambahan meninggalkan setumpuk tas juga Hendry, Audrey dan Eliana disini.
"O oi…" Hendry sedikit terkejut dengan apa yang kakak-kakak senior lakukan, namun tentu saja itu menunjukkan seberapa berpengalaman nya mereka.
"Sudahlah Hen lebih baik kita juga bersiap-siap…" ucap Audrey sambil menepuk pundak Hendry yang kebingungan.
Mereka mulai menyiapkan apa yang bisa mereka siapkan, mulai dari membongkar setumpuk perbekalan yang disimpan di sihir penyimpanan Audrey, mendirikan tenda juga menyiapkan perlengkapan tambahan yang sejujurnya tak terlalu penting untuk dibawa berkemah.
Tak berapa lama kemudian kakak-kakak senior sudah kembali mereka terkejut bukan main, kayu bakar, ikan, daging dan sayuran liar yang mereka bawa terjatuh ke tanah.
2 buah tenda besar yang masing-masing bisa menampung 5 orang berdiri di hadapan mereka, lengkap dengan meja dan kursi kecil disekitarnya. Beberapa bahan makanan juga sudah siap di sana sini. Hanya ada satu hal yang kurang yaitu Api unggun yang akan segera mereka buat.
Suatu persiapan yang bisa dibilang berlebihan oleh sekelompok party pemula yang jarang berkemah, apalagi jika salah seorang atau dua orang diantara mereka mempunyai sesuatu hal praktis yang disebut "sihir penyimpanan".
“Ooiii… Bukannya dari tadi kalian tak terlihat membawa tas besar ? jangan jangan itu…”
“Ah, itu… Maaf kami belum sempat bilang… itu tadi sihir penyimpanan… kan Audrey ?”
Audrey mengangguk.
“Jadi dugaanku benar, aku sudah menyangka sebelumnya tapi tak mengira akan jadi seperti ini hasilnya.”
Dani dan teman-temannya masih sedikit terheran. Waktu itu sepertinya mereka pernah melihat Audrey menggunakan sihir ini, Sewaktu membongkar kepala goblin beberapa bulan yang lalu ketika ketiganya selesai menjalankan misi pertama.
Saat ini sihir penyimpanan milik Audrey sudah menjadi rahasia umum atau paling tidak desas-desus diantara petualang di guild. Audrey tak berniat merahasiakannya, ia melakukan ini juga untuk lebih menutupi sihir penyimpanan milik Eliana yang jauh lebih langka dari miliknya.
Karena kedua tenda sudah dibuat dan persiapan mencapai 90% Eliana menawarkan kakak-kakak senior mereka untuk bergabung sekalian, tentu sebagai senior awalnya mereka menolak tapi setelah pembicaraan lebih lanjut akhirnya mereka menerimanya, dengan pembagian bersama, 1 tenda laki-laki dan 1 tenda perempuan. Suasana juga sedikit mencair, tidak kaku lagi seperti tadi, sekarang semuanya sudah mulai berbicara dan mengakrabkan diri satu sama lain. Secara teknis mereka juga bukan orang jahat, karena hal itu wajar apabila merasa memiliki beban yang harus ditanggung, walau sebenarnya itu bukan tanggung jawab mereka.
Hari semakin gelap, bintang-bintang di langit semakin jelas terlihat dan tentu saja api unggun sudah dinyalakan. Mereka semua bahu-membahu dan bekerjasama menyiapkan makanan hangat untuk dimakan malam ini. Sayur dan buah liar tersusun rapi diatas meja, Aroma ikan dan daging panggang tersebar dimana-mana, asap mengepul dari api unggun yang dimodif sedemikian rupa menjadi tungku, dengan air panas di panci yang tergantung di atasnya.
Mereka semua makan dengan gembira, mengobrol bersama untuk mencerahkan suasana, sempat juga saling menyendiri untuk waktu pribadi mereka. Hendry dengan semangat menghampiri kak Dani hingga keduanya berisik sekali, Eliana mendekati kak Lia yang penyendiri di tenda perempuan, Elisa dan Wisnu pergi bersama melihat bintang-bintang semenara Audrey pergi sendiri enah kemana menikmati kesendiriannya.
Di Pinggiran tebing tak jauh dari tenda mereka berdiri, Elisa dan Wisnu menikmati langit berbintang dengan Elisa yang memulai sedikit percakapan ringan.
"Menurutmu… bagaimana para pemula tadi ?"
"Ah… Tidak terlalu buruk."
"Emmm dasar… Tapi memang, mereka anak-anak yang baik walau kita sedikit bersikap buruk…"
"Benar…"
"Akan lebih bagus jika mereka bergabung dengan kita, atau setidaknya menjadi partner. Dengan begitu pekerjaan kita sebagai petualang akan lebih mudah…"
"Apa perlu kita beri sedikit paksaan…"
"Dasar bodoh…, itu mustahil. Untuk mendapatkan hati mereka kita harus membuat mereka merasa berhutang budi, dengan begitu mereka akan sering bekerja bersama kita, dan kita akan terus mendapat kenyamanan seperti ini. Terutama bocah yang memiliki sihir penyimpanan itu…"
Hari semakin malam, api unggun perlahan padam meninggalkan cahaya gemerlap bintang-bintang. Ditengah dinginnya malam mereka semua berjalan masuk menuju tenda, dengan wajah kantuk dan bersiap tidur. Semua pencahayaan dimatikan dan mereka tidur terlelap, bersiap menyambut hari esok untuk melakukan pekerjaan utama mereka...