
"Pokoknya harus ini."
"Tidak Hendry, sebaiknya yang ini."
"Apa maksudmu kak, jela jelas ini misi yang bagus…"
"Tidak Hendry, kita sudah pernah mengambil misi semacam ini…"
"Memangnya kenapa masalah ?"
"Kau mau melawan kakakmu ?"
"Cih, lagipula sekarang kan kita satu party"
"Jadi kalau soal misi kau tidak bisa seenaknya menentukan."
"Apa… Bukannya kau juga sama…"
"Tapi...(#!($)!+$+$))@/@(@-#+#(#(#+$((#()#/#+_"
"+_)#+#)+&&@-+#++$///###(#)@@°€{¢}¶~"
Hari masih pagi tapi keributan kakak beradik ini sudah saja terjadi. Petualang lain yang melihatnya memilih menghindar daripada menghabiskan waktu adu mulut dengan mereka, mereka mengambil misi masing-masing dan langsung pergi memulai hari.
Sementara itu seorang rekan kedua kakak beradik itu memasuki aula guild dan mencoba menenangkan mereka.
Walaupun saat ini Audrey sedikit sebal dan malu namun perasaannya sudah lega. Kedua temannya kini sudah tak mengingat apapun yang terjadi kemarin dan bersikap seperti biasanya.
Audrey mendekat dan menyapa seperti biasa namun tak dihiraukan, tanpa pikir panjang Audrey langsung menunjuk sebuah kertas di depannya telat di tengah pertengkaran mereka berdua.
Hendry dan Eiliana pun kini terdiam seketika, melihat kertas yang ditunjuk Audrey lalu membaca nya.
Yang ditunjuk Audrey adalah kertas permintaan untuk misi membantu selama 5 hari di toko pandai besi karena saking banyaknya pesanan (anggap aja magang). Bayarannya standar dan ada beberapa syarat khusus yang harus dipenuhi minimal salah satunya di antara lain…
Seorang petualang kuat yang sudah berpengalaman dengan pedang atau senjata tajam lain.
Penyihir yang menguasai minimal sihir api tingkat menengah.
Dan seorang wanita cantik untuk menarik pelanggan dengan catatan party tidak seluruhnya perempuan.
"Gimana menurut kalian ?"
"Hemm.. ok, lagipula tidak jauh beda dengan pilihanku" Jawab Eliana.
"Hemm… Masih pikir-pikir, tapi apa alasanmu memilih misi ini ?" Tanya Hendry.
"Kalian gak ingin coba suatu hal yang baru ?, Selama ini bukannya misi yang kita jalani, selalu ada kaitannya dengan bertarung."
"Bener sih…" Lanjut Eiliana.
"Maka dari itu kita sebagai petualang harus mencari pengalaman, dan kalau bisa punya keahlian lain selain bertarung. Gimana Hen ?"
"Hmm… boleh lah... Lagipula kita sudah memenuhi syarat no 1 dan 2."
"Bukannya 3 juga ?"
"Apa… Memangnya kakak cantik ?"
Suasana semakin memanas, Eliana semakin sebal, mengerutkan dahinya, dan mencengkram tangannya. Selang beberapa detik kemudian bogem mentah mendarat di kepala Hendry dengan keras.
"Aduhhh… Apa yang kakak lakukan…" Hendry tersungkur kesakitan dan kini hanya bisa jongkok di hadapan kedua temannya.
"BUKANNYA KAU YANG BILANG SENDIRI WAKTU ITU?"
"Apa maksudmu ?"
"Hemm iya juga ya…" Hendry tidak bisa mengelak lagi dan akhirnya pertengkaran saudara ini berakhir dengan baik walau menyisakan bekas memar di kepala Hendry. Audrey mengambil kertas permintaan itu dari dinding dan ketiganya menemui petugas guild untuk mengkonfirmasi misi, lalu beranjak dari guild dan menuju tempat yang disebutkan.
Hari masih sedikit pagi, ketiganya berjalan di kota menuju tempat pandai besi yang di maksud. Sekitar pukul 9 pagi mereka sampai di tempat yang dimaksud. Tempat ini benar benar berbeda dengan apa yang mereka bayangkan sebelumnya. Mereka kira akan mendatangi sebuah tempat seperti pandai besi pada umumnya, mereka kira bentuk bangunannya terbuka, terbuat dari bata, suasananya panas dan terlihat seseorang yang memukul mukul besi dari luar, Namun yang ketiganya lihat sangat berbeda.
Dari luar tempat ini seperti toko pada umumnya, dengan jendela etalase yang lumayan lebar, yang membuatnya berbeda hanyalah apa yang dipajangnya. Sebuah baju zirah besi yang cukup besar terlihat terpanjang di salah satu bagiannya. Disisi lain ada satu set Jubah, topi, tongkat sihir yang terlihat mahal juga dipajang. Dari luar terlihat rak rak toko yang cukup bersih dan rapi, dimana semua senjata dan peralatan tersusun rapi di dalamnya, dan yang paling menonjol adalah plang besar yang terpajang di atas toko bertuliskan….
##TOKO SENJATA DAN PANDAI BESI PAK YANTO. *Juga menerima servis dan tukar tambah ##
Dengan ornamen Pedang, Perisai, Tongkat sihir, Tombak dan berbagai senjata lain di sekeliling tulisan itu yang membuatnya tampak mencolok. Tak mau berlama lama ketiganya masuk ke tempat itu, mumpung sekarang lagi sepi dengan belum ada satupun pelanggan yang datang. Mereka membuka pintu lalu lonceng kecil berbunyi sebagai tanda kedatangan seseorang.
Kring Kring…
"Ah.. Selamat datang ada yang bisa kami bantu." Seorang gadis yang sepertinya seumuran datang menemui mereka bertiga. Tubuhnya cukup ramping dan tampak menggunakan celemek. Rambutnya yang pirang pendek lurus terkucir, raut wajahnya tersenyum, benar-benar suatu hal yang tidak mereka duga sebelumnya.
Lantas Audrey pun menyampaikan maksud kedatangan mereka kesini. Mereka berkenalan seperti biasa, dan menyampaikan maksud yang sebenarnya. Sama halnya seperti gadis itu, namanya adalah Yanti, putri satu satunya pak Yanto, pemilik toko senjata dan pandai besi ini, dan dia lah yang bertugas menjaga toko dan sekaligus melayani pelanggan. Di toko ini tidak memiliki karyawan lain, meski begitu toko ini tetap saja ramai karena sebagian besar senjata dan peralatan yang dijual disini merupakan buatan tangan pak Yanto, dan sebagian lagi dibeli dari pedagang dari kota lain.
Setelah sedikit berbasa-basi, Hendry, Audrey, dan Eliana diajak menemui pak Yanto dibelakang. Di ruangan ini suasananya cukup bersih dan luas seperti yang dilihat dari luar tadi, beragam senjata tersusun rapi di rak kayu juga sepanjang dinding di ruangan ini.
Mereka berjalan di antara rak-rak itu hingga sampai ke suatu pintu yang cukup tinggi. Yanti membuka pintu itu dan mereka semua masuk. Suasana dibelakang sini cukup berbeda dengan di depan, disini cukup luas dan sedikit kotor, suasananya panas, terlihat beberapa macam tungku menyala dan palu pemukul yang digantung. Di Atas meja kayu juga terdapat beberapa bilah pedang dan belati yang belum diberi gagang.
Terdapat juga sebuah pintu garasi yang cukup lebar terbuka mengarah langsung ke halaman belakang, dan yang paling jelas adalah suara besi panas yang dipukul keras dengan palu di atas paron besi hitam oleh seorang pria paruh baya yang sangat berotot.
Dia adalah Pak Yanto, pemilik sekaligus ayah dari Yanti. Yanti memanggilnya dengan keras, ia berhenti sejenak dari pekerjaanya dan menuju kemari. Tubuhnya yang besar berkeringat deras, kaos putih yang dipakainya basah kuyup juga sedikit robek karena percikan api selama menempa tadi, walau begitu tampaknya ia sudah terbiasa.
Pak Yanto mendekat, mengambil segelas air untuk minum lalu menanyakan hal ini dengan suara yang cukup jantan.
“Jadi Yanti, siapa ketiga orang yang kau bawa ini ?”
“Ah itu… mereka bertiga lah yang menerima permintaan kita di guild.”
“Ok Bagus… Kau…” Dengan penuh semangat pak Yanto menunjuk hendry dengan memegang palu yang dibawanya.
“Emm… Aku ?” Jawab Hendry.
“Bersiaplah anak muda, Kau akan bekerja keras seperti layaknya lelaki sejati.” Pak Yanto sedikit mengangguk dan memamerkan otot besarnya kepada Hendry. Hendry merasa sangat kagum, matanya berbinar, dia semakin semangat menjalani pekerjaan ini karena dihadapannya saat ini berdiri seorang pria sejati yang seketika ia kagumi. Bukan orangnya melainkan otot dan penampilan machonya, karena suatu saat Hendry ingin menjadi pria sepertinya. Lalu dengan semangat dan berdiri tegak Hendry menjawab…
“BAIKK !!!...”
“Sementara kedua nona muda ini ikutlah dengan Yanti kedepan untuk menarik pelanggan sebanyak mungkin wahahahha…”
…
…
Audrey menahan dirinya dan mencoba sabar dan berkata sopan.
“Maaf paman, tapi aku ini…” ia menghentakkan tongkatnya perlahan, kristalnya berubah menjadi merah dan terbakar api besar namun cenderung tak berbahaya.
“Laki-Laki…”
…
…
Yanti dan pak Yanto terdiam sejenak mencoba mencerna kata-kata yang barusan di ucap. Sekitar 5 detik kemudian mereka baru menyadari.
“APAAAAAA!!!” Mereka berdua menjerit sekaligus, suara melengking Yanti bersatu dengan suara menggelegar pak Yanto, sungguh kombinasi ayah dan anak yang membuat jebol telinga.
Eliana menjelaskan lebih lanjut kepada Yanti, dan Pak Yanto mulai menerima hal ini, walau ia masih sedikit bingung karena tampak masih menggaruk garuk kepalanya.
“Yaa… Kalau gitu kau ikutlah denganku wahahahha…”
Setelah kesalahpahaman ini terselesaikan, mereka akhirnya memulai pekerjaan masing-masing, Eliana ikut bersama Yanti kedepan, sementara Hendry dan Audrey membantu pak Yanto dibelakang sini.