The Story Of Jammetaria

The Story Of Jammetaria
BAB 34 - Sebuah desa yang cukup aneh 1



Satu malam telah berlalu dan mereka bertiga sudah selesai sarapan. Pagi ini di luar kediaman tuan Arganaya, Audrey dan kedua rekannya siap berangkat menjalankan misi seperti yang sudah dibahas kemarin sore. Mereka semua berada di peralatan masing-masing dan bersiap terbang menuju desa segera.


Mereka berpamitan kepada Amelia yang mengantar sampai pekarangan rumah dan segera terbang ke atas, terbang sedikit vertikal keatas awan dan pergi lebih jauh menuju hutan sebelum pintu masuk desa.


Suasana pagi ini seperti biasa, sekilas tidak ada keanehan apapun, tapi mereka masih belum sepenuhnya tau apa yang menunggu mereka di desa ini nanti.


Ketiganya mendarat di hutan yang sedikit jauh dari pintu masuk utama desa Bengawansari. Disini sepi, tak ada seorangpun kecuali mereka bertiga. Suasananya rimbun penuh dengan pepohonan, tak sedikit juga jamur dan buah liar yang tergantung di antara pohon sehingga memang benar desa ini bisa dijuluki desa pertanian.


Mereka bertiga berhenti sejenak untuk melakukan penyamaran, membuat diri mereka tidak terlalu mencolok sebagai petualang pemula. Selama ini mereka bertiga memang terlihat sedikit mencolok, bukan karena peringkat mereka sebagai petualang tapi karena kemampuan bertarung dan peralatan yang mereka pakai.


Hampir semua dari peralatan dan senjata yang dipakai ketiganya terlihat bagus dan mahal, tidak seperti petualang kebanyakan, sehingga saat ini mereka memutuskan untuk menyimpannya.


Audrey membuka sihir penyimpannya, mengambil 3 buah mantel dan beberapa senjata murahan yang kelihatannya hasil rampasan dari bandit yang pernah mereka kalahkan. Audrey mengganti tongkat sihir yang biasa dipakainya dengan cincin yang waktu itu, Eliana menyimpan beberapa perhiasan dan senjatanya secara pribadi, Hendry menitipkan 2 buah pedang juga perisai kuda miliknya lalu mengambil sebuah pedang yang tadi sudah disiapkan Audrey.


Setelah itu ketiganya memakai mantel untuk menutupi pakaian mereka, lalu berjalan menuju ke desa itu dengan normal seolah baru saja sampai ke tempat ini.


Mereka bertiga berjalan melalui jalan setapak ditengah hutan menuju desa itu, sekitar 15 menit kemudian mereka sampai di pintu masuk desa Bengawansari. Disini terlihatlah kondisi desa yang sebenarnya.


Sekilas memang seperti tak terjadi sesuatu, rumah-rumah di desa ini terlihat seperti biasa, tak terlalu mewah tapi tak juga terlihat kumuh. Jalanannya terbuat dari batu tapi hal itu sangat wajar untuk sebuah desa, Masyarakatnya tenang, berlalu lalang serta acuh tak acuh walaupun mereka bertiga sebagai pendatang dari luar berjalan masuk ke desa ini.


Mereka berjalan dan memperhatikan detail-detail kecil, Rumput kiri kanan jalan terlihat meninggi tapi tak ada yang peduli, sejauh ini tidak ada satupun warga yang terlihat bekerja di ladang atau sawah, masyarakat di sini terlihat malas bekerja dan sesekali cekcok dengan orang lain disekitarnya.


Mereka bertiga berjalan tanpa berpencar agar tak terlihat mencurigakan, karena normalnya sebuah party petualang tidak akan berjalan sendiri-sendiri. Ketiganya terus melihat sisi kiri kanan berusaha mendapatkan informasi sampai seseorang memanggil mereka dari belakang.


“Kalian petualang kan ? Apa yang kalian lakukan di sini ?” Tanya seorang pria paruh baya yang sedikit pendek dari mereka.


“Ah itu… Kami sedang ada misi di hutan sekitar desa ini, karena dekat kami memutuskan untuk mampir melihat-lihat.” Ucap Eliana dengan sangat rapi hingga hampir tak terasa ada sesuatu yang disembunyikan, sebuah kebohongan mutlak yang keluar dari mulutnya dengan halus.


“Begitu ya, kalau begitu kalian harus mengikuti saranku…”


Ketiganya sedikit bingung dengan saran yang dimaksud, tapi tak masalah karena siapa tau ada informasi penting yang terkandung didalamnya.


“Sebisa mungkin kalian jangan mendekat ke rumah besar yang disana itu.” Ucap pria tua itu sambil menunjuk rumah kediaman tuan Arganaya dipuncak bukit yang terlihat dari sini.


“Memangnya kenapa ?, Selain karena kelihatannya rumah itu milik bangsawan disini, apa ada hal lain ?” Tanya Audrey.


“Memangnya dari mana paman mendapat kabar seperti itu ?” Tanya Hendry.


“Entahlah tapi semua orang disini membicarakannya…”


Ketiganya menahan tawa didalam hati karena tak menyangka akan diberi jawaban seperti itu. Berusaha agar ekspresi mereka tetap normal dan berusaha mengorek informasi lebih jauh lagi.


“Tapi paman, aku rasa desa ini cukup unik ya… Padi yang ditanam sudah keliahatn menua, tapi tidak segera dipanen, apa itu merupakan ciri khas di desa ini ataukah ada alasan khusus ?”


“Tidak… Itu adalah bentuk protes dari kami ?” Jawabnya dengan sedikit bimbang dan bingung.


“Protes ?”


“Iya, kami tak sudi menyerahkan hasil panen kepada bangsawan rakus itu…” Katanya dengan santai dan tidak sadar bahwa apa yang dilakukan warga di desa ini sangat fatal. Semakin mereka menunda panen semakin besar pula lah kerugian yang akan mereka dapat. Melihat kemalasan warga di desa ini sekarang bukan tidak mungkin padi akan dijarah oleh tikus dan hama yang berakibat gagal panen.


Akibat terburuk mungkin terjadi setelah beras di persediaan desa menipis, walaupun mereka kembali menanam padi tapi mereka perlu menunggu hingga waktunya panen dan kemungkinan akan terjadi bencana kelaparan yang melanda desa ini, karena beras sendiri merupakan makanan pokok di sini.


Orang itu terus saja membicarakan kejelekan tuan Arganaya sebagai bangsawan penguasa di wilayah ini. Mereka bertiga berpikir sejenak dan merenungkan apa yang terjadi, kemungkinan besar bahwa warga disini telah dipengaruhi oleh seseorang sehingga ketidakpercayaan pada pemimpin nya menurun, namun masalahnya siapa sebenarnya seseorang yang dimaksud ?


Mencari seseorang yang menyebarkan rumor buruk ibarat mencari jarum ditumpukan jerami, semakin rumor itu beredar semakin tersamarkan pula tersangka utama yang memulai semuanya.


Tapi meski begitu… Hendry, Audrey, dan Eliana belum menyerah, mereka pamit pada orang itu dan melanjutkan perjalanan. Melintasi jalan-jalan desa dan masuk lebih jauh, ruma-rumah disini cukup berjarak tidak seperti di ibukota, dengan sungai kecil di belakangnya dan sawah yang membentang luas di belakang-belakang rumah. terkadang Jalanannya sedikit menanjak, dan sawah yang ada dibuat sebagai terasering dengan air yang mengalir dari atas bukit.


Mereka melanjutkan perjalanan dan sekarang tujuan mereka adalah gudang desa. Seperti yang dijelaskan tuan Arganaya kemarin, gudang desa terletak sedikit jauh dari perumahan, di suatu tempat yang strategis dan mudah diakses dari sawah-sawah yang terbentang.


Ketiganya sampai disana, Sebuah gudang besar yang bisa juga disebut lumbung padi ada disini, pintunya tertutup rapat tapi ada sedikit celah bagi mereka untuk mengintip.


Hendry mengintip kedalam dan melihat sesuatu. Berbagai macam pupuk, bibit, dan alat pertanian ada didalamnya, cukup baru dan sepertinya sering diganti. Hal ini menjadi bukti kuat kalau yang dianggap warga sejauh ini salah, mengenai tuan Arganaya yang dibilang rakus dan tamak, tapi meski begitu entah mengapa kebanyakan warga masih saja terpengaruh rumor buruk ini.


Selain melihat peralatan tadi, Hendry juga melihat sesuatu yang cukup memprihatinkan,  Lumbung padi disini hampir kosong, dan persediaan beras menipis. Seperti yang mereka pikirkan tadi kalau semua padi disini tidak segera dipanen maka akan berakibat sangat buruk, dan lagi kalau sampai hal itu terjadi, Tuan Arganaya sendirilah yang harus menanggungnya, karena ia tetap harus memberikan subsidi terhadap rakyat yang sudah menghianatinya.


Ketiganya merenung dan kecewa, memikirkan apa yang harus mereka lakukan karena informasi yang mereka dapatkan sejauh ini masih belum cukup. Namun sesaat setelah mereka beranjak pergi mereka melihat masih adanya seorang warga yang bekerja tekun di ladang dan sawahnya sendiri tanpa memperdulikan apa yang dilakukan orang kebanyakan…