
Ayam hutan telah berkokok, burung-burung mulai berterbangan. Suara air masih terdengar mengalir di belakang rumah, bersamaan dengan kincir air besar yang berputar. Udara masih sangat dingin tapi perlahan sinar matahari menembus kabut dan dedaunan hutan.
Suasana sunyi nan tenang begitu terasa di sini, membuat siapa saja ingin tertidur sampai siang hari, tak terkecuali Audrey sendiri. Tapi sayangnya hal itu tak bisa terjadi kali ini, dia sudah sangat puas merasakan liburnya beberapa hari kemarin. Sebuah imbalan yang pantas setelah ia lelah berdagang dan berpetualang.
Kali ini dia bangun dari ranjangnya dan bersiap seperti biasa untuk terbang kekota, menemui kedua teman akrabnya.
Setelah selesai bersiap-siap ia masuk sendiri ke sebuah ruangan di sisi lain dapur, walau saat ini isi dan suasana di dalamnya sudah sangat berbeda dari apa yang Hendry dan Eliana lihat waktu itu.
Semuanya sudah rapi dan bersih, sinar matahari sudah bisa masuk kedalam karena jendela yang Audrey buat beberapa hari ini. Tidak ada lagi meja kayu besar dan pisau bergantungan di dinding nya, digantikan oleh karpet merah juga beberapa rak penuh buku. Bercak darah sudah hilang sepenuhnya dan ruangan ini sudah bersih sedia kala seperti ruangan lainnya.
Karena pekerjaannya sebagai petualang sejak beberapa waktu lalu, kini Audrey memiliki Hobby baru. Dengan tanpa alas kaki dan berdiri di karpet merah, Audrey menatap dinding di depannya dengan bangga. Melihat koleksi barunya yang perlahan bertambah seiring pekerjaanya sebagai petualang.
Kepala dari berbagai jenis monster telah diawetkan dan digantung rapi di dinding seperti seorang pemburu professional. Bulu dan rambutnya masih seperti alami walau kulit nya sudah menjadi keras dan awet.
Terlihat indah namun bisa juga dibilang menyeramkan, apalagi untuk orang yang pertama melihatnya, Seperti pendapat Eliana beberapa waktu yang lalu. Awalnya yang terpajang di sini hanyalah kepala minotaur dan sapi saja, namun seiring bertambahnya jumlah misi perburuan yang mereka ambil, jenisnya makin bertambah banyak.
Mulai dari goblin, babi hutan, orc dan lain sebagainya hingga yang terbaru adalah kepala salamander batu ukuran normal (bukan raksasa), yang tubuhnya segaja Audrey sisihkan dan dibawa pulang waktu itu.
Setelah puas melihat koleksi barunya, Audrey segera berangkat. Memakai jubah dan topinya seperti biasa lalu keluar rumah dan terbang menuju ibu kota meninggalkan rumahnya sendirian di tengah hutan, namun sepertinya bisa dibilang tidak kali ini.
Salamander raksasa yang berhasil mereka bunuh waktu itu masih berada di luar rumah Audrey. Bukan lagi sebagai bangkai namun telah diubah sedemikian rupa dan diawetkan menjadi patung dengan mempertahankan bentuk aslinya.
Patung itu berdiri tegak dan tampak berpose melindungi rumah Audrey tampak seperti masih hidup (Hanya saja tak bergerak). Dengan posenya yang keren, kulit luarnya yang tak terlalu rusak kena serangan, juga batuan hitam keras dan mengkilap yang menculat di punggung, membuatnya tampak Gagah, Hitam, Sangar dan Menakutkan…
*****
Beberapa saat kemudian Audrey sudah sampai di kota, ia berniat menemui kedua rekannya sekaligus sarapan. Setelah berjalan kaki sebentar ia sampai di restoran milik pamannya, dengan Eliana dan Hendry makan di tempat biasa, di dekat jendela kaca yang terlihat dari luar. Audrey masuk, dan disambut oleh seorang pelayan dengan seperti biasa.
“Selamat datang… Eh Audrey, sudah lama kamu tidak kesini… tidak seperti mereka berdua.” Ucap pelayan wanita itu sambil mengarahkan tangan kepada Hendry dan kakaknya, Karena tempat ini sudah menjadi langganan.
“Ehehe…” Audrey berjalan dan mengambil kursi di meja yang sama seperti mereka berdua. Setelah Audrey datang ketiganya memesan makanan dan makan seperti biasa, walau sebelum ini kedua kakak beradik itu sedikit bermasalah. Namun masalah apapun itu, semua bisa mereda ketika perut mulai terisi. Mereka bertiga makan dengan santai sebelum ketenangan Audrey sedikit terusik.
Dokkk…
Pintu yang membatasi dapur dan area makan restoran terbuka dan terbanting dengan keras. Semua pengunjung menoleh dan bertanya tanya apa yang terjadi, tapi setelah melihat siapa yang keluar dari balik pintu itu, mereka tak mempedulikannya lagi terkecuali Audrey dan kedua rekannya.
Yang keluar dari pintu dan membuat kegaduhan sesaat itu adalah pemilik restoran ini dengan kata lain Pamannya Audrey…
“Audrey… Akhirnya kau datangg… setelah sekian lama berpetualang…” Paman memberikan sambutan seperti biasa, dan memperlakukannya seperti anak kecil padahal dia sendiri yang menyuruh Audrey menjadi petualang. Dan lagi sebenarnya Audrey beberapa kali kesini bersama mereka berdua, namun waktu itu Paman sedang sibuk atau tak mengetahui kedatangannya, jadi sebenarnya belum selama itu.
Setelah sambutan paman yang agak gimana itu, ia membiarkan mereka bertiga makan dengan tenang, walau paman sendiri masih duduk bersama mereka sampai saat ini, sehingga terjadi sedikit obrolan.
“Jadi gimana dengan keadaanmu Audrey, Setelah menjadi petualang ?”
“Yah… Banyak hal yang berubah paman…”
“Apa menyenangkan ?”
“Yah bisa dibilang… Apa yang paman ucapkan memang benar…”
“Syukurlah…” Paman menepuk punggung Audrey, bangkit dari kursi lalu pergi melanjutkan pekerjaan nya, meninggalkan Audrey dan kedua-temannya melanjutkan sarapan mereka.
Mereka semua hampir selesai, Audrey dan Eliana hanya tinggal menghabiskan minuman mereka, sementara Hendry hanya tinggal memakan satu gigitan terakhir dari daging yang tertancap di garpunya, namun tiba-tiba…
Pintu utama restoran terbuka dan seorang perempuan masuk tergesa-gesa. Ia memakai pakaian yang sudah tidak asing bagi Audrey dan kedua temannya. Tampak ia berlari terburu-buru sehingga tubuhnya penuh keringat dan kacamatanya beruap.
Setelah itu dia masuk dan segera menghampiri ketiganya walau dengan nafas terengah engah, setelah ia mendekat Audery dan rekannya sudah yakin siapa sebenarnya orang itu. Dia adalah petugas guild, Karena suatu alasan ia buru-buru mencari ketiganya.
“Kalian bertiga…”
“Iya…” Jawab Eliana dan Audrey dengan serentak sementara Hendry masih meratapi sepotong daging terakhirnya yang terjatuh ke lantai.
“Ikut denganku sekarang juga…” ucap petugas guild itu dan dengan cepat meraih tangan Hendry, Menarik dan menyeretnya keluar. Ia tak bisa berkata apa-apa karena masih kecewa dengan gigitan terakhir daging yang belum sempat dimakannya.
“Kepala guild ingin segera bertemu kalian...”
“Tapi kan tidak perlu seburu-ini.” ucap Hendry yang tangganya masih ditarik sampai sekarang.
“Sudah ikut saja.”
Ketiganya mengikuti apa yang petugas guild katakan, mereka berempat berjalan dengan tergesa gesa di pinggir jalan utama dan menjadi sasaran perhatian dari orang-orang yang lewat.
Tak berapa lama kemudian mereka sampai di guild. Dengan wajah penasaran ketiganya langsung disuruh masuk ke lantai dua tempat kepala guild berada, sementara petugas guild tadi langsung kembali ke resepsionis dengan nafas lega dan menggantikan temannya yang tadi menggantikan ketika ia mencari keberadaan party ini.
Dengan raut muka yang sedikit khawatir dan penasaran mereka mulai mengetik pintu di lantai dua ini.
Tok tok tok...
“Masuk…”
Seorang pria tua paruh baya beruban yang sedikit pendek duduk di meja kerjanya. Ia masih berurusan dengan setumpuk surat dan dokumen di sekitarnya, namun ketika menyadari Audrey dan yang lain datang, ia segera beranjak.
“Permisi…” Ucap Audrey yang membuka pintu lalu masuk paling depan bertemu dengan kepala guild. Mereka bertiga dipersilahkan duduk dan kepala guild mulai membicarakan apa yang ingin dia katakan.
“Maaf memanggil kalian seperti ini, tapi ada suatu hal yang harus aku sampaikan.” ucap kepala guild sambil menyodorkan sepucuk surat di meja ke hadapan mereka bertiga.
Sebuah surat dengan emblem merah yang belum pernah diterima ketiganya selama ini. Sebuah surat yang kelihatannya dikirim dari kediaman bangsawan di suatu tempat dan ditujukan langsung kepada mereka bertiga dengan nama penerima sebagai party Bintang Kelabu.
Audrey membuka lalu membacanya sekilas…
Ketiganya terkejut, tak menyangka hal seperti ini akan datang. Surat tersebut berisi tentang suatu permintaan pribadi. Berbeda dengan misi atau permintaan umum lainnya yang dipasang di papan permintaan guild, Permintaan pribadi sendiri ditujukan langsung kepada sebuah party tertentu, yang mana akan meminta mereka sendiri lah yang menjalankan misi tersebut secara pribadi.
Secara sederhana isi surat tersebut merupakan permintaan yang ditujukan langsung kepada Hendry, Audrey, dan Eliana untuk menjalankan misi seperti yang dijelaskan didalamnya.
Sepertinya pengirim surat ini adalah seorang Bangsawan penguasa setempat dari desa Bengawansari dengan misi untuk menyusup, mencari tau, dan menyelesaikan masalah yang ada di wilayahnya mengenai tingkah laku masyarakat yang berubah drastis akhir-akhir ini.
“Jadi apa kalian menerimanya ?”
Ketiganya berfikir sejenak, menoleh satu sama lain dan berencana membuat keputusan segera. Karena dalam hal ini sedikit terburu buru mereka bertiga masih bimbang.
“Emmm… kami masih bimbang.”
“Ehemm… Maksudku kalian harus menerimanya.”
“Apa…? Apa tidak bisa semisal kami menolaknya… lagipula ada kemungkinan kami tidak mampu menjalankan misi ini… Kenapa tidak cari party lain saja yang peringkatnya lebih tinggi ?”
“Ya… karena ini permintaan pribadi, kalian harus menerimanya. Kalau mau menolak bisa saja namun kalian harus menjelaskan alasannya dengan mengirim balasan untuk surat ini. Dan lagi biaya untuk pembatalan misi permintaan pribadi lebih mahal dari kegagalan misi biasa.”
…
“Baik… Kami menerimanya.” Ucap ketiganya dengan pasrah karena tidak ingin membuat kurus dompet mereka yang sudah kenyang. Disisi lain Hendry sudah menerima kenyataan dan berusaha menyemangati Audrey dan kakaknya…
“Benar… Lagipula sebagian misi kita sebagai petulang adalah menyelesaikan masalah yang ada, jadi jangan biarkan ego menguasai diri kalian…”
“Emm… Kurasa kau benar… maaf sudah seperti ini.” Ucap Audrey dan Eliana dengan perasaan menyesal sementara kepala guild tadi melanjutkan pembicaraan dengan sedikit menghibur…
“Wahahaha… Jangan terlalu khawatir lagipula kalaupun misi ini gagal kalian masih tetap mendapat hadiah, walau jauh lebih kecil dari pada misi ini berhasil… Yang terpenting adalah kalian mau mencoba…”
“Baik… Ucap ketiganya.”
Mereka semua setuju dan berencana berangkat hari ini, karena masih pagi dan belum terlalu siang dan juga karena sedikit terburu buru. Mereka keluar dari guild dan berpisah sebentar, mempersiapkan perbekalan secukupnya juga berpamitan dengan paman Audrey.
Setelah itu ketiganya bertemu di gerbang kota dan bersiap berangkat dengan kecepatan penuh…