
Hari baru telah dimulai, dengan suasana yang cukup berbeda. Hembusan angin dingin diantara bukit berbatu berhembus ke arah tenda, pepohonan yang ada berkibas berisik dan menggugurkan daunnya, membuat semua ingat untuk terbangun dan memulai hari ini.
Di pagi hari semuanya bersiap sarapan, hanya dengan perbekalan yang mereka bawa dan air hangat yang direbus dari sisa-sisa api unggun semalam. Makan bersama di luar tenda juga melihat semakin cerahnya sinar matahari pagi.
Setelah selesai, mereka membereskan tenda, lalu berangkat menuju habitat Salamander batu yang ada di dekat sini. Mereka sedikit berjalan ke sisi lain bukit dengan tetap membawa tas dan barang-barang mereka.
Tak beberapa lama kemudian mereka sampai, disini suasananya lumayan berbeda, hampir semuanya dipenuhi bebatuan dan hanya sedikit menyisakan rerumputan kering. Monster buruan yang dimaksud juga sudah mulai terlihat, mereka tidak berkelompok tetapi ada banyak.
Salamander yang hampir mirip dengan kadal sepanjang 1-2 meter dengan punggung yang menyerupai batuan disekitarnya. Bergerak cepat dengan tubuh fleksibel dan mengkilap serta punggung dan ekornya tampak berbahaya. Meronta-ronta dengan cepat sambil mengayunkan ekor dan badannya yang tertanam batuan tajam, terlebih lagi kelihatannya sangat berat dan kokoh.
Tak mau membuang waktu mereka meletakan barang, mengambil senjata masing-masing dan langsung berlari menuju sekumulan salamander itu, seolah senang berburu harta yang dikemas dalam tubuh monster berbentuk kadal.
Mereka semua lari mendekat tanpa perencanaan dan mulai menggiring satu-satu salamander yang hidup untuk diburu masing-masing, Meninggalkan Eliana dan kak Lia di sini yang masih belum terpancing. Seolah persetan dengan kerjasama tim mereka semua mengamuk sendiri-sendiri berupaya mendapatkan setidaknya satu untuk diri mereka. Bahkan kak Elisa seorang pemanah yang menyerang jarak jauh pun juga ikut maju, karena antusias mereka semua.
Seperti yang diperkirakan Eliana dan kak Lia dari kejauhan, hal itu terjadi. Bukannya mendapat satu persatu bagian mereka semua yang turut serta malah terkepung. Terkumpul di tengah menjadi satu dengan dikelilingi puluhan Salamander batu yang siap mengibaskan ekor tajam berbatunya.
Beruntungnya dengan cepat Audrey mengeluarkan sihir, Sebuah dinding es berbentuk kubah menutup mereka seperti bola dan melindungi dari serangan para monster tersebut. Karena berada didalam mereka tak bisa mengeluarkan serangan balik, hanya bisa bertahan dan berharap pada kedua orang yang masih berada di luar.
Wahai angin sepoi-sepoi yang berada di sekitarku, berkumpullah kalian semua di depan mataku, berputarlah secara spiral semakin besar dan membesar, buatlah sebuah badai tornado yang menghantam dan menerjang semua yang ada disana, tanpa peduli apa dan siapapun itu… berputarlah… BADAI!!!
Angin tornado mulai muncul dan berputar di sekitar kubah es milik Audrey, berputar cepat dan semakin cepat hingga membuat salamander yang ada mengurungkan niatnya, mereka hampir saja terhempas tapi kaki kakinya mencengkram tanah dan berusaha bertahan tapi disaat itu juga…
Brkakk… Wosshrrr,,,,,
Tanah di sekitar kubah es tersebut mulai menculat dan melemparkan semua salamander itu hingga terbawa angin tornado sejauh beberapa ratus meter kesekitarnya. Rupanya tanah yang mencuat ke atas itu merupakan milik kak Lia. Beberapa saat yang lalu ia juga merapalkan mantra bersama walau suaranya tak sekeras Eliana.
Tak mau membuang waktu, Audrey mematahkan sihir es nya lalu semua orang didalamnya mundur kembali sembari memikirkan rencana untuk berikutnya. Mereka semua kembali berkumpul di lokasi yang sama sebelum mereka memulai, lokasi yang saat ini masih digunakan Eliana dan kak Lia untuk berdiri.
Kelima orang yang melakukan aksi nekat itu hanya bisa duduk terdiam, menerima ocehan dari Eliana yang sudah menyelamatkan mereka. Sementara kak Lia sendiri hanya diam dan tersenyum.
Bagi penyerang jarak jauh sekaligus pendukung seperti Eliana, Lia dan Elisa akan ditempatkan di tengah, sementara yang lain akan ditempatkan di pinggir berhadapan langsung dengan salamander batu termasuk Audrey sendiri, karena serangannya lah yang paling fleksibel, bisa menyerang jarak jauh ataupun dekat walau efeknya tak sekuat Hendry dan yang lainnya.
Mereka mulai menyerang dan menghabisi satu persatu slamanader yang ada. Mereka mulai tumbang, ada yang penuh luka, ada yang terbakar, ada yang tercabik-cabik dan ada juga yang terbunuh secara rapi dengan sedikit bekas luka di leher, namun yang pasti ini lebih mudah daripada rencana barbar seperti tadi.
Mayat salamander berjatuhan dimana mana namun jumlah mereka tak terlihat berkurang sedikitpun, mereka terus saja muncul dari celah bebatuan sehingga tak ada waktu bagi sekarang untuk memilah mana saja kulit salamander yang akan mereka bawa pulang walau ini sudah lebih dari cukup dari apa yang dibutuhkan untuk menyelesaikan misi. Mereka terus bertarung sembari menunggu amukan salamander ini mereda.
Pertarungan terjadi beberapa lama, kedua party masih saling membelakangi dan menyerang setiap Salamander yang berada di hadapan mereka. Disaat itu pula ketika pertarunagan sengit-sengitnya dimana sudah sangat banyak salamander terbunuh dan kabur sementara mereka juga mulai terluka.
Wisnu dan Elisa sengaja melepaskan seekor salamander ke arah Hendry, Audery dan Eliana. Salamander itu berlari dan melompat mendekati ketiganya, mereka berdua berniat menyelamatkannya sesaat setelah mereka menyadari, agar mereka merasa berhutang budi seperti yang dibicarakan di hari sebelumnya.
Namun timing mereka gagal dan monster maju tak terkendali, tapi untunglah Audrey menyadari hal itu. Ia mengayunkan tongkat berapi seperti biasa hingga menusuk Salamander tersebut. Monster itu terlempar ke belakang, dengan bagian perut dan leher terbakar gosong.
Wisnu dan Elisa terdiam seketika karena keterkejutannya melihat Audrey seperti ini. Dengan tatapan tajam matanya yang bersinar ungu di balik bayang-bayang, ia mampu membunuh monster itu sepersekian detik.
Keduanya tidak menyadari bahwa 2 salamander melompat di belakang mereka, Hendy dan Eliana yang sekilas melihat langsung berbalik dan menyerang dengan tepat. Eliana menghempaskan sihir anginnya dan Hendry melemparkan pedang besarnya hingga tepat mengenai tubuh bagian bawah monster itu.
Situasi berbalik, rencana yang diam-diam mereka berdua siapkan gagal dan malah berbalik mengarah ke diri mereka sendiri.
Mereka sedikit kesal namun tak bisa berkata apa-apa karena merasa ini karma dari apa yang mereka perbuat, dan sekarang malah keduanya yang merasa berhutang budi terhadap ketiga pemula berperingkat C tersebut.
Pertarungan terus berlanjut sementara mereka berdua melupakan sejenak apa yang terjadi. Pertarungan semakin mereda, jumlah salamander yang keluar semakin sedikit tapi belum ada tanda-tanda berakhir, mereka semua semakin kelelahan, namun tiba-tiba tanah dan batuan di sekitar bergemuruh.
Semua salamander lari menghindar dan sebidang tanah berbatu mulai retak, suara percikan listrik mulai terdengar dan tanah itu meledak. Di tengah panas terik matahari, debu pasir meledak dan membumbung tinggi menutupi lubang raksasa itu. Kilatan cahaya biru listrik statis yang cukup kuat menyambar diantara partikel debu.
Debu mulai menghilang lalu terlihat sosok di dalamnya. Seekor salamander yang sangat besar berukuran tinggi 5 dan 8 meter panjangnya, dengan sisik dan ekor seperti batu dan listrik statis yang keluar diantara kulitnya membuatnya tampak seperti naga tanpa sayap.
Kemungkinan besar dia adalah bos terakhir yang harus mereka lawan dalam perburuan kali ini…