
Eliana terus memeluk Audrey yang ketakutan, berusaha membuatnya tenang sementara Hendry membereskan sisanya. Ia mengikat semua bandit yang masih hidup ke sebatang pohon di pinggir jalan agar mereka tidak kabur dan menyebabkan masalah di lain hari.
Waktu sudah menunjukan tengah hari, mereka semua beristirahat di pinggir jalan di dekat sebuah pohon besar yang menghalangi sinar matahari. Tepat di seberang jalan beberapa bandit yang tersisa sudah selesai di ikat, mereka semua pingsan sehingga tidak ada yang mencoba melawan.
Setelah semuanya beres, mereka semua beristirahat sekalian makan siang. Saat ini Hendry dan Eliana masih mencoba menghibur Audrey, walaupun ketakutannya tidak separah tadi namun ia masih tetap saja murung. Audrey hanya makan dengan diam, tatapan matanya kosong setelah melihat hal mengerikan yang tak sengaja dilakukannya.
“Sudahlah Audrey ini bukan kesalahanmu…”
“Lagipula bandit itu yang salah, mereka mencoba melakukan sesuatu yang jahat.”
…
…
Audrey terus saja diam dan tak memperhatikan sama sekali, sementara kedua orang lainnya juga turut sedikit sedih melihat kondisi Audrey yang seperti ini.
“Pokoknya kami semua mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada kalian bertiga.”
“Kalau tidak ada kalian mungkin barang barang yang berada di kereta akan lenyap dan yang lebih parah mungkin kami juga ikut terbunuh.” Ucap pak Budi.
“Ah tidak seberapa, ini sudah kewajiban kami yang saat ini menjadi pengawal.” Jawab Hendry dengan malu-malu namun sedikit bangga.
“Tuh kan Audrey denger, ini bukan kesalahanmu…”
“Ta... tapi karena kesalahan ku beberapa dari mereka terbunuh, apalagi salah satunya dengan kejam.”
Hendry dan Eliana saling menengok, sedikit bingung harus berkata apa terhadap Audrey
“Benar kata temanmu, Hal itu tidak bisa dihindari nak…”
“Membunuh bandit tidaklah sepenuhnya salah, karena niat sebenarnya hanyalah melindungi seseorang.”
“Bahkan mungkin… para bandit tersebut sudah membunuh lebih banyak orang.”
“Jadi aku rasa dia pantas mendapatkan nya.” Pak Budi berusaha menghibur dan menasehati Audrey.
“Ta tapi kan…”
“Benar Audrey, ini tidak seperti cerita fiksi yang ada dalam buku, yang mana melawan penjahat untuk melindungi diri terkadang malah membuat diri sendiri dihukum.”
“Kau tidak akan dihukum hanya karena hal sepele seperti itu.” Eliana menambah.
“Baik aku mengerti…” Audrey mengangguk namun ia masih saja terlihat murung. Sebetulnya wajar saja ia trauma, beberapa saat yang lalu ia sudah melihat daging dan organ dalam manusia berceceran tepat di hadapannya. Walaupun secara kemampuan dia lebih hebat dibanding Hendry dan Eliana, namun secara pengalaman dia masih kurang dari mereka berdua.
“Maaf aku terlalu naif…” ini pertama kalinya aku membunuh seseorang.
Sekali lagi Eliana memeluk Audrey.
“Tidak Audrey, itu bukan naif, itu rasa kemanusiaan...”
“Bahkan aku rasa Hendry pun juga melakukan hal yang sama kali ini.”
Setelah beberapa saat kondisi Audrey menjadi lebih baik, sekarang ia masih menenangkan diri dan merenung atas kejadian tadi, ia mungkin tak akan pernah lagi menggunakan sihir es nya untuk membekukan makhluk hidup.
Hendry dan Eliana menuju ke seberang jalan, tempat para bandit tadi di ikat, meninggalkan Audrey bersama pak Budi dan beberapa orang lainnya.
Di sebuah pohon, semua bandit di ikat sekaligus dengan ikatan yang kencang sehingga mustahil bagi mereka untuk melepasnya, kondisi bandit saat ini sama, karena sebelumnya Eliana sudah menyembuhkan bandit yang terluka parah, tidak sepenuhnya namun cukup untuk membuatnya tetap hidup.
Jadi apa yang akan kita lakukan kepada 9 bandit ini? Hendry bertanya.
“Ah… dalam kondisi ini harusnya ada 3 pilihan.”
"Kita bawa ke kota dan ditukar dengan cuan."
"Kita tinggalkan saja di sini."
"Kita bunuh semua sekalian."
Wajah cantik Eliana kini terlihat kejam. Para bandit gemetar ketakutan mendengar percakapan kakak beradik tersebut, mereka terus memohon ampun meskipun maksud Eliana yang sebenarnya cuma mengancam dan bercanda. Walaupun 3 pilihan tersebut adalah hal yang nyata dan biasa dilakukan dalam kondisi seperti ini
"Pilihan pertama tidak mungkin, karena kita tidak bisa begitu saja menambah beban di perjalanan."
"Ah benar jadi pasti yang itu ya…" Hendry mulai bersekongkol dengan candaan kakak ya, ia sengaja membuat wajah kejam dan menarik pedang di punggungnya.
Para bandit semakin ketakutan, terus mencoba memohon ampun, beberapa dari mereka menangis ketakutan seolah sudah lupa kalau mereka pernah membunuh dan menyakiti orang sebelumnya.
Woossshhh...
Sihir angin Eliana menghantam masing-masing dari kepala mereka, dan membuatnya pingsan seketika
"Baiklah… sepertinya tugas kita sudah selesai kali ini."
Mereka memutuskan untuk meninggalkannya di sini. Semua bandit sudah pingsan sekarang, mata mereka ditutup kain dan mulutnya disumpal. Salah seorang yang berada di tengah dikalungkan sebuah papan dengan tulisan…
##BANDIT GRATIS UNTUK DIBAWA PULANG DAN DITUKAR DENGAN CUAN##
Agar ada seseorang yang mengambilnya, membawanya ke kota, menyerahkan kepada prajurit penjaga dan mendapatkan hadiah kompensasi untuk dirinya. Para bandit yang tertangkap dan berhasil dibawa ke kota biasanya akan diadili. Hukumannya mulai dari kerja paksa sementara, kerja paksa seumur hidup hingga eksekusi mati, tergantung tingkat kejahatan yang pernah dilakukannya.
"Oi kalian berdua… kita segera berangkat..." Audrey memanggil dari seberang jalan seraya melambaikan tangan, sepertinya dia sudah baik-baik saja dan kembali dalam kondisi normalnya.
Karavan tersebut sudah selesai bersiap siap, tikar yang tadi berada di bawah pohon untuk makan sudah dilipat dan dimasukkan ke dalam kereta. persiapan sudah selesai 100% kini mereka tinggal berangkat.
Mereka mulai bergerak, saat ini kereta bergerak lebih cepat dari sebelumnya jadi mereka terbang masing-masing di sekitaran kereta dengan formasi yang sama seperti tadi. sebelumnya mereka juga ditawari untuk untuk naik kedalam namun ditolak dengan itikad baik. Mereka terbang beberapa meter diatas kereta kuda, menikmati segarnya udara di bawah pepohonan hutan, diiringi suara kicauan burung yang ikut terbang bersama mereka.
Tak lama kemudian mereka keluar dari hutan, menuju sebuah padang rumput hijau yang luas dengan pegunungan menjulang tinggi yang terbentang jauh di depannya. Angin di sini ini berhembus kencang, rerumputan tinggi di kanan kiri jalan ikut bergoyang seolah-olah seperti ombak, dengan sekumpulan Slime yang berlompatan di atasnya. Sebuah pemandangan yang sangat jarang dilihat Audrey.
Jika Ibu kota Felisia memiliki julukan “Ibu kota tersembunyi dalam hutan”, mungkin kota Anggresia yang akan mereka datangi memiliki julukan “Kota indah di padang rumput hijau”.
Tak terasa waktu sudah sore hari, dan karavan semakin dekat sampai ke tujuan, terlihat tembok besar juga gerbang seperti di kota-kota kebanyakan, setelah mereka sampai dilakukan pemeriksaan oleh penjaga seperti biasa.
Setelah berhasil memasuki kota mereka bertiga dan semua yang ada di karavan tersebut berpisah lalu akan bertemu lagi 2 hari dari sekarang, karena biaya hidup diluar perjalanan akan ditanggung pribadi. Mereka bertiga bergegas mencari penginapan, sebelum hari semakin gelap.
Suasana di kota Angresia tidak jauh berbeda dengan di ibu kota, hanya saja orang yang berlalu lalang lebih sedikit dan jarak antar bangunan lebih longgar. karena kebetulan sore hari atau apa, suasana di sini tidak jauh berbeda.
Mereka sampai di suatu penginapan pinggir jalan, yang kelihatannya cukup sering digunakan para petualang yang mampir. Penginapan 3 lantai yang tak terlalu mewah, ramah di kantong dan kelihatannya cukup bersih.
Mereka masuk ke dalam penginapan tersebut dan segera bergegas menuju resepsionis lalu memesan 3 kamar berukuran kecil untuk 2 hari kedepan, dengan total membayar 3 emas 2 perak mereka sudah mendapat kamar, sarapan serta makan malam. Tidak termasuk makan siang karena kebanyakan pengunjung akan melakukan aktifitas di luar penginapan, hal ini juga banyak terjadi di sebagian besar penginapan yang ada.
Setelah mereka mendapat kunci, mereka menuju kamar masing masing dan beristirahat sejenak. Beberapa saat setelah selesai beristirahat mereka bertiga mandi, mandi di sebuah pemandian umum di penginapan ini.
Mereka keluar dari kamar, menuruni tangga dan masuk pemandian umum di belakang penginapan. Tentu saja Hendry dan Audrey berbelok ke bagian laki-laki sementara Eliana berbelok ke bagian perempuan, karena tak mungkin mereka bertiga mandi di satu tempat.
Saat ini di ruang ganti laki laki…
"Hoah… ternyata emang beneran laki-laki ya ?" Tanya Hendry yang sekarang sudah percaya 100% bahwa Audrey itu laki-laki dengan melihat dari dadanya yang bidang dan tak tertutup apapun, Namun sekarang ia tak juga melihat pedang suci miliknya. Pedang suci yang tergantung di kedua kakinya itu sekarang tertutup handuk.
"Lalu selama ini kau anggap aku apa ?" Jawab Audrey dengan sedikit kesal.
…
Hendry bingung mau menjawab apa dan Audrey tak mau pusing, ia segera tak memperdulikannya. Mereka berdua membersihkan badan di tempat terpisah lalu menuju pemandian terbuka di luar ruangan.
Untunglah suasana kali ini sepi sehingga hanya mereka berdua saja yang mandi di pemandian laki-laki ini. Pemandangan di sini lumayan bagus, sebuah pemandian yang tampak seperti kolam besar, dengan batu di sekeliling kolam dan pagar bambu yang menjulang tinggi ke atas menutupi seluruh area pemandian dan tentunya tidak memakai atap.
Mereka berdua masuk dan berendam di pemandian itu, ternyata airnya hangat mengandung belerang sehingga cocok untuk untuk meredakan kelelahan selama perjalanan seharian ini. Karena Hari sudah lumayan gelap sekarang, bintang-bintang yang indah terlihat dengan jelas diatas langit, tepat di atas kepala mereka. Semuanya begitu indah, hanya ada satu hal yang mengganggu Hendry kali ini.
"Lah itu topimu masih dipakai ?"
"Iya… kenapa emang ?"
"Nggak kok... cuma... aneh aja…" Hendry dengan cepat mencoba melepas topi tersebut dari Audrey namun ditahan dengan kedua tangannya. Audrey sedikit terganggu dan merasa kesakitan Berusaha bertahan agar topi yang dipakainya tidak lepas di hadapan Hendry.
"Baiklah baiklah baiklah… akan ku jelaskan."
"Tapi tolong lepasin dulu topi ini."
Hendry melepaskan tangannya dan sedikit bingung apa yang dikatakan Audrey karena raut wajahnya semakin gelap.
"Hei Hendry apa kau masih ingat kejadian tadi siang ?"
"Iya ?"
"Apa kau mau jadi korban ?"
"KOR.. KORBAN!?, Apa maksudmu !?"
"Dibalik topi ini ada rahasia besar yang tidak boleh diketahui siapapun." (dia tidak berbohong)
"Ap... apa maksudmu !?"
"Aku tidak ingin melihat ada orang lain terbunuh hanya karena ingin melihat nya" (dia mulai berbohong tapi ada benarnya)
"TER… TERBUNUH !!??" Hendry mulai berfikir macam-macam awalnya ia hanya berfikir bahwa Audrey botak atau apalah, namun mulai kesini dia mulai berpikir aneh-aneh mulai dari kristal sihir yang menancap di kepalanya, ada makhluk bermata satu yang tubuhnya diantara rambutnya, hingga senjata mematikan yang bisa meledak kapan saja.
"Aku akan memberitahumu suatu saat nanti, ketika semuanya benar-benar siap, jadi tunggulah sampai saat itu tiba…" (Audrey masih berbohong, sebenarnya ia tak sekalipun ada niat membeberkan rahasia dari rambutnya yang aneh ini).
Hendry terdiam seketika dan tak mau bermacam-macam lagi. Tubuhnya bercucuran keringat karena tak menduga hal yang akan disampaikan Audrey barusan.
"Kalau gitu aku duluan…" Audrey beranjak dari pemandian itu, meninggalkan Hendry seorang diri. Audrey berganti baju lalu berjalan menuju kamarnya di lantai atas.
Tak beberapa lama kemudian Hendry sudah selesai mandi dan berpapasan dengan kakaknya di perjalanan. Hendry terus mengoceh dan menceritakan kejadian tadi kepada kakaknya dan kakaknya hanya bisa diam.
Adikku ini bodohnya kebangetan, jelas-jelas itu bohong, Ah tapi biarlah itu juga bukan urusanku.
Yang dipikirkan Eliana dalam hati, dia tidak akan menceritakan sebenarnya kepada Hendry dan memilih untuk tutup mulut. Karena hal itu sudah masuk ranah privasi milik Audrey.
Setelah itu mereka makan malam di restoran kecil di lantai 1 yang jadi satu dengan penginapan ini, namun hanya buka pada waktu sarapan atau makan malam saja. Mereka mendapatkan menu gratis seperti kamar yang mereka pesan kali ini, namun jika dirasa kurang mereka bisa memesan lagi. Mereka makan malam dengan santai dan untungnya Hendry sudah tidak membahas topi yang Audrey kenakan.
Setelah makan mereka berbincang dan bertukar pengalaman dengan semua petualang dan pengunjung yang ada di penginapan ini. Suasana disini sangat ramai, mereka semua ramah. Banyak dari mereka yang petualang peringkat B ataupun pemula tingkat D. Kelihatannya mereka berasal dari kota yang berada dan datang kesini untuk alasan yang bermacam-macam.
Setelah dirasa cukup mereka bertiga kembali ke kamar masing-masing, untuk tidur dan bersiap untuk 1 hari bebas di kota ini besok, karena hanya menunggu pak Budi menyelesaikan bisnisnya.