
2 Bulan telah berlalu, Mereka semua sudah terbiasa menjalani pekerjaan sebagai petualang. Mereka terkadang juga membagi waktu untuk membantu pekerjaan Audrey sebagai pedagang, meskipun selama ini mereka hanya baru mengambil misi pemusnahan dan perburuan.
Seperti biasa pagi ini ketiga orang tersebut sudah berdiri di Aula guild, lebih tepatnya di depan papan permintaan. Untuk memutuskan pekerjaan apa yang akan mereka ambil kali ini.
“Jadi apa yang akan kita ambil ?” Eliana bertanya.
“aku sih terserah kalian berdua.” Audrey menjawab.
“Hemm, apa kalian berdua tidak bosan dengan misi yang itu-itu saja ?”
“Selama ini kita hanya mengambil misi yang berhubungan dengan monster dan perburuan.”
“Gimana kalau kali ini kita coba yang lain.” Hendry menjelaskan.
“Seperti apa misalnya ?” Eliana bertanya.
“kalau ini gimana ?”
“Misi untuk mengawal Karavan kecil pedagang ke kota sebelah, Imbalan 10 Koin Emas.”
“Kalau aku sih setuju-setuju aja, gimana denganmu Audrey ?”
“Hemm, kurasa itu ide yang bagus aku setuju, lagi pula kemungkinan besar paman juga menyetujuinya.”
“Ok berarti sudah diputuskan.”
Hendry segera mengambil kertas permintaan itu dan mereka bertiga pergi menuju bagian resepsionis. Setelah itu mereka pergi menemui Klien untuk mendiskusikan nya lebih lanjut.
Mereka keluar dari guild dan segera menuju ke tempat klien seperti yang dijelaskan petugas guild tadi. Setelah berjalan kaki sebentar, mereka sampai di toko milik klien mereka saat ini, sebuah toko di jalan utama kota, berbentuk gedung kecil 3 lantai. Lantai 1 dan 2 mungkin digunakan untuk berdagang sementara lantai 3 sebagai tempat tinggal.
Saat mereka masuk kedalam toko mereka bertemu dengan klien yang dimaksud, Seorang lelaki paruh baya yang sedikit gendut yang sekarang tampak mengurus sesuatu pada buku nya.
“Permisi apa benar ini dengan pak Budi ?” Eliana bertannya.
“Iya benar, ada urusan apa ya ?” Jawab pak Budi dengan sopan.
“Kami bertiga dari party Bintang kelabu, kami datang untuk menerima misi pengawalan yang bapak ajukan di guild beberapa waktu yang lalu.”
“Ah begitu ya… Beruntungnya party yang mengawal perjalanan kami berisi 2 gadis cantik.”
Audrey hampir membuka mulutnya, namun Hendrey menguncinya dari belakang dan menutup mulutnya rapat-rapat dengan tangannya.
“Maaf sebelumnya tapi dia itu laki-laki.” Eliana mencoba menjelaskan.
“Ah… Begitu ya…” Pak Budi merosot kecewa beberapa-saat, namun sejak awal ia tak pernah terlihat meragukan kemampuan mereka bertiga, lagipula perjalanan ini dirasa aman. Meski begitu pak Budi tetap menyewa pengawal walau hanya dirasa sebagai formalitas pedagang.
Pak Budi mengajak mereka ke suatu ruangan untuk mendiskusikan misi kali ini. Sebuah ruangan yang terlihat biasa saja yang hanya berisi meja dan sofa yang kelihatannya sering digunakan untuk bernegosiasi sesama pedagang. Mereka semua duduk dan mulai membicarakan detailnya.
Perjalanan akan dilakukan esok hari dengan tugas mereka mengawal sebuah karavan kecil berisi 3 kereta kuda yang mengangkut barang-barang ke kota Anggresia selama 3 Hari, 2 Hari untuk perjalanan pulang pergi dan 1 hari disana. Tentu saja selama 1 hari di sana mereka bebas melakukan apapun yang mereka suka karena hanya menunggu pak Budi menyelesaikan bisnisnya.
Setelah pak Budi menanyakan kembali untuk terakhir kali, mereka bertiga bersedia untuk melakukan pekerjaan ini sebagai pengawal. Setelah semua dirasa cukup mereka berpamitan lalu mempersiapkan perbekalan untuk perjalanan besok.
*****
Keesokan Harinya…
Sekitar pukul 7 pagi mereka bertemu klien di gerbang utama kota dan secara sukarela membantu persiapannya.
Terlihat tiga buah kereta kuda beroda kayu penuh dengan barang-barang yang dibawa dan 7 orang akan berangkat menuju kota Anggresia.
3 orang pengawal dari party mereka, 3 karyawan pak Budi yang sekaligus sebagai sopir, dan tentunya pak Budi sendiri.
Sekitar pukul 7.30 pagi semua kereta siap berangkat.
Kereta berangkat meninggalkan ibukota dengan kecepatan pelan seperti jalan kaki agar kuda tidak mudah lelah. Tentu saja sebagai pengawal mereka bertiga juga berjalan kaki, bukan tanpa alasan melainkan untuk meminimalisir serangan bandit di jalan, karena biasanya bandit lebih suka menyerang kereta kuda yang yang tak terlihat memiliki penjaga.
Mereka pun juga berjalan terpisah dengan Formasi Hendry di bagian paling depan, Eliana di tengah sementara Audrey paling belakang, karena pada dasarnya Hendry tipe penyerang jarak dekat, Audrey penyerang jarak jauh sedangkan Eliana sebagai pendukung yang sekaligus melindungi pak Budi yang berada di kereta tengah. Itulah formasi yang dirasa paling tepat untuk saat ini.
Diperkirakan mereka akan sampai di kota Anggresia sekitar 8-9 jam kedepan yang artinya sore hari.
Walau di kerajaan ini sendiri hitungannya hanya secuil kekaisaran, wilayahnya masih sangat luas, setiap wilayah seperti kota besar akan dibatasi bentang alam, entah itu hutan, danau ,ataupun Padang rumput. Ibarat banyak titik-titik kecil dalam sebuah lingkaran besar.
Karavan itu berjalan santai menyusuri hutan, melewati hutan pinggiran kota dan masuk lagi lebih jauh melalui jalan utama yang menghubungkan kota ke kota.
Semakin mereka ke dalam kondisi hutan semakin lebat, hanya terlihat jalanan tanah yang cukup lebar serta penangkal monster dan hewan buas di sisi kiri kanan jalan setiap beberapa ratus meter. Selain itu di pinggir jalan hanya berisi pepohonan semua.
Karavan tersebut sudah berjalan cukup jauh, mereka berjalan santai dan mereka saling mengobrol dengan semua yang ikut disini sehingga terasa cukup menyenangkan.
Tak terasa waktu sudah tengah hari, hingga tiba-tiba kereta paling depan mengerem mendadak menyebabkan hal yang sama pada kedua kereta dibelakangnya.
"Ada apa?!!" Tanya pak Budi dengan cukup panik.
"Itu tuan, ada 2 orang tergeletak ditengah jalan" jawab sopir paling depan.
"TUNGGU… Biar aku saja yang memeriksa." jawab Hendry yang berada di depan, Eliana dengan cepat menarik tangan Pak Budi agar tidak berlari mendekati kedua orang yang tergeletak itu. Hendry memeriksanya dan bergegas menolongnya.
"Hei kau tidak apa-apa?" Tanya Hendry sambil memegang pundak salah seorang yang tergeletak disitu.
Namun orang tersebut tiba-tiba berbalik dengan cepat ke arah Hendry dan berniat menebas Hendry menggunakan sebilah belati yang disembunyikan di bagian bawah tubuhnya.
Beruntunglah kali ini reflek Hendry tajam sehingga ia berhasil melompat ke belakang tepat sebelum belati itu mengenai tubuhnya.
“Ah jadi benar dugaanku… ini buruk… benar-benar buruk…”
“TEMAN-TEMAN BERSIAP MENYERANG !!!”
“SEMENTARA YANG LAIN CEPAT BERKUMPUL DI KERETA TENGAH SEKARANG !!!”
Semuanya panik lalu lari dan masuk ke dalam kereta yang ditengah. Pak Budi juga tak menyangka akan terjadi hal seperti ini karena biasanya jananan antara kedua kota ini relatif aman dan tidak pernah ada bandit dan pembegalan seperti ini.
Kedua orang yang tergeletak itu bangkit kembali dan masing-masing membawa senjata tajam ditambah 5 orang yang keluar dari sisi kiri dan kanan jalan, sehingga totalnya 12 orang.
Mereka dikepung oleh 12 orang bandit yang masing-masing nya membawa senjata entah dari pedang, belati ataupun panah. Namun untunglah tidak ada penyihir di antara mereka jadi masih ada kemungkinan untuk dihadapi mereka bertiga.
Saat ini Hendry melindungi sisi kiri dan Audrey melindungi sisi kanan, sementara Eliana melindungi semua penumpang di dekat kereta tengah.
Para bandit tentunya meremehkan mereka. Bagaimanapun mereka bertiga terlihat seperti anak-anak sementara mereka semua pria dewasa bertubuh kekar yang sudah lama menjadi bandit.
Para bandit mulai menyerang, 2 dari mereka yang berada di atas pohon di sisi kanan dan kiri menembakkan anak panah, tepat menuju mereka berdua. Bukan 1 atau 2 anak panah saja melainkan masing masing dari mereka menembakkan 3-5 anak panah sekaligus dan berniat menghujani mereka.
Beruntung semua anak panah tersebut berhasil ditangkis Hendry dan Audrey, Hendry dengan perisai kuda anehnya sementara Audrey membalasnya dengan menembakkan es tepat menuju anak panah tersebut.
“Cih Dasar anak nakal.” kedua bandit itu mulai sedikit emosi lalu sekarang mengambil lebih banyak anak panah, yang tadinya hanya 3-5 kini menjadi 7-10 anak panah sekaligus. Target nya pun berubah, yang tadinya Hendry dan Audrey kini menjadi gerbong kereta kuda yang ditengah, berniat membunuh semua orang yang berlindung di dalamnya. Walau kereta tersebut dilengkapi dinding dan atap namun tetap saja hanya terbuat dari kain, sehingga dengan kecepatan anak panah saja mampu merobeknya.
“NGACA GOBLOK….”
Woossshhh...
Eliana yang berada di dekat kereta tersebut dengan cepat mengeluarkan sihir angin skala besar, berbentuk spiral dan dengan cepat meledak di udara mengepaskan semua anak panah itu menjauh.
Sebagian dari hempasan angin juga menyerbar ke arah hutan mengenai dahan pohon tempat kedua bandit pemanah itu bertengger. Keduanya terjatuh, kepalanya mengenai batu dan batang pohon di bawahnya, mereka berdua pingsan sehingga kini hanya tersisa 10 bandit untuk mereka hadapi.
Woah… Kakak kalau ngamuk ngeri…
yang dipikirkan Hendry saat ini, Audrey juga berpikir demikian namun mereka berdua tak berani mengatakannya. Setelah bandit pemanah dikalahkan kini mereka bisa fokus menyerang tanpa perlu mengkhawatirkan akan adanya serangan jarak jauh.
Hendry terus menyerang maju dan berusaha menghabisi bandit-bandit itu, begitu pula dengan Audrey. Keduanya terus menyerang dengan kemampuannya masing masing. semakin lama menyerang mereka semakin terluka begitu pula dengan bandit yang mereka hadapi.
Satu persatu bandit mulai tumbang dan mereka berdua semakin kehabisan energi sihir, Hendry juga termasuk karena saat ini dia tidak menunggangi kuda anehnya untuk menyerap energi sihir dari alam. Ia lebih memilih bertarung dengan kemampuannya sendiri.
Dalam hal ini terlihat bahwa energi sihir milik Audrey jauh lebih banyak dari mereka berdua karena dari tadi ia menggunakan banyak sekali sihir es namun tidak terlalu terlihat kelelahan.
Semakin lama pemimpin bandit semakin emosi melihat rekan sesama banditnya satu persatu tumbang, hingga akhirnya ia memikirkan suatu rencana licik.
Saat mereka sibuk bertarung satu sama lain pemimpin bendit itu mundur, mengambil sebuah obor lalu membakarnya. Saat semuanya lengah ia melemparkannya ke gerbong kereta kuda yang berada di tengah, ia sudah tidak peduli pada barang-barang berharga pada kereta tersebut apalagi nyawa didalamnya, baginya 2 kereta saja sudah cukup.
Obor melayang dengan cepat, hingga Eliana yang berada di dekat kereta tengah pun tak menyadari, beruntung Audrey sekilas melihatnya lalu dengan cepat membuat dinding es di sekeliling kereta tersebut, berharap obor yang terbakar itu tak mengenai gerbong yang atap dan dindingnya hanya terbuat dari kain.
Beruntungnya hal buruk itu tak terjadi, Audrey menghela nafas dan mencairkan segera dinding es yang mengelilingi ketiga kereta tersebut. Dirinya saat ini berhadapan dengan pemimpin bandit berwajah marah itu.
Audrey menatapnya dengan tajam, ketika dia mulai maju menyerang, Audrey mengacungkan tongkat sihirnya dan membekukan seluruh tubuhnya hingga dia terkurung di dalam es yang tebal. Hal ia lakukan karena dialah yang dirasa paling mengganggu.
Seorang pemimpin Bandit yang kelihatannya penuh pengalaman dan dari tadi terus memberikan instruksi serta mengatur bawahannya sehingga seranganya tidak asal-asalan, Sekarang membeku di dalam es batu.
Sekarang saatnya menghabisi semua bandit yang tersisa, karena semua yang dirasa mengganggu sudah dikalahkan. Tak berapa lama kemudian pertempuran sengit ini berakhir.
2 bandit terbunuh, 1 luka berat, 5 luka sedang, 3 luka ringan dan pingsan sementara pemimpinnya membeku. Semuanya sudah tak bisa melawan.
Audrey sedikit terlihat murung, melihat para bandit yang tak berdaya dan penuh darah di hadapannya. Walaupun ia berdarah dingin terhadap monster yang biasa diburunya, hal yang sama tidak terjadi pada manusia.
Setelah memalingkan diri dari sekumpulan bandit itu ia mencoba mengeluarkan pemimpin bandit tadi yang terkurung dalam es. Ia menabrak kan es lain dengan sihirnya dan berniat memecahkan es tersebut, namun sesuatu yang tak terduga terjadi…
Crack!!!...
Sebongkah es tersebut mulai pecah beserta tubuh pemimpin bandit yang bersemayam di dalamnya. Hancur tak berbentuk, darahnya membeku, tulangnya juga ikut hancur karena semakin keropos, semua bagian tubuh dan organ dalam membeku berceceran, seperti es yang pecah di sekitarnya. Perlahan mulai mencair, gumpalan daging, darah dan air membasahi tanah dan rerumputan di sekitar.
Audrey terkejut, ia sangat ketakutan, air matanya mengalir, melihat tubuh besar pemimpin bandit hancur di hadapannya, terlebih ia sendiri yang melakukannya.
Tubuhnya tak bisa berhenti gemetaran, dia sadar kekuatannya masih begitu berbahaya, ia mulai bimbang apa yang harus ia lakukan kedepannya, cengkramannya melemah menyebabkan tongkat sihir yang dipegangnya jatuh ke tanah. Hingga…
Bruk…
Eliana berlari mendekat dan memeluk Audrey dengan erat, angin tiba-tiba berhembus hingga rambut panjang keduanya berkibas seketika.
"Ini semua… bukan kesalahanmu… Audrey…"