
Perjalanan telah dimulai beberapa saat yang lalu, gunung dan bukit semakin tertinggal jauh dibelakang. Suasana terasa lebih hangat begitu pula dengan hari yang terus berjalan. Di Atas pepohonan dan padang rumput mereka terus melaju, walau sebenarnya tak terburu buru, kali ini mereka enggan untuk mendarat.
Sama seperti keberangkatan yang lalu, tepat tengah hari mereka sudah setengah perjalanan, sama seperti waktu itu pula ketiga nya berhenti sejenak singgah di kota ini. Suatu kota yang sudah cukup sering mereka datangi, sebuah kota indah di padang rumput hijau, dengan kata lain sebuah kota bernama Anggresia.
Mereka mendarat dan masuk lebih dalam, berniat istirahat dan makan siang seperti biasa. Kali ini ketiganya masuk lebih dalam hingga ke pusat kota, Makan disebuah restoran yang pernah mereka singgahi dan berjalan-jalan sejenak di kota ini. Suasana di kota ini masih seperti biasanya, masih saja ramai oleh banyak sekali pendatang dan petualang.
“Hei Audrey, ada yang mau kami bicarakan padamu ?” Ucap Eliana.
“Apa ?”
“Sebenarnya kami sudah memutuskan untuk beristirahat sejenak, kami ingin kembali sementara waktu ke kampung halaman kami, ke rumah orang tua kami karena sudah terlalu lama disini, iya kan Hen ?”
“Iya… Apa kau tidak keberatan ?, Kau juga boleh ikut kalau kau mau ?, kami akan senang menerimamu…” Ucap Hendry sembari mengharapkan Audrey ikut bersama mereka.
“Emmm… Tidak usah repot-repot, lagipula aku juga tidak mau ikut…”
“Hah…. Begitu ya…” Hendry merosot kecewa, namun apa boleh buat kata kata itu meluncur dari mulut nya tanpa penyesalan dan bahkan seperti beban yang dipikul sedikit menghilang.
“Jadi… kapan kalian berdua akan pulang ?”
“Kemungkinan sehari setelah misi ini benar-benar selesai, setelah kita bertiga melapor ke guild.” Ucap Eliana.
“Oh.. Oke…”
Menanggapi reaksi Audrey yang biasa saja, membuat reaksi Eliana sedikit berubah. Ia sedikit kesal dan perasaan bercampur aduk, gaya bicaranya yang tadi lemah lembut juga sedikit mengeras sembari berteriak.
“Kenapa Reaksimu datar sekali !!!”
“Terus aku harus gimana ?”
“Ah itu…. Sudah lupakan saja…”
Mereka berjalan santai di dekat taman, ada yang tidak sadar lalu menabrak mereka. Seorang anak laki laki yang membawa keranjang, Ia sedikit terjungkal lalu seorang yang lain berteriak sedikit panik kepadanya.
Bruk…
“Kakak… kau tidak apa-apa ?”
“I iya…” Ia segera bangkit dan segera ingin meminta maaf terhadap mereka yang tak sengaja ditabraknya. Wajah mereka saling bertemu dan ia belum sempat meminta maaf, Mereka semua ternyata sudah saling mengenal, seseorang yang sudah lama sekali belum bertemu.
“Kalian ?” Ucap Hendry.
“Kakak ?” Ucap kakak beradik tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Rio dan Anna, kakak beradik yang pernah mereka bantu pada saat pertengahan misi pengawalan pertama mereka ke kota ini.
Setelah pertemuan singkat itu mereka semua menyingkir dari jalan lalu duduk sebentar di bangku taman di dekat sini. Mereka duduk dibawah pohon, suasananya tidak terlalu terik, namun masih terasa sedikit hawa panas yang bisa ada di kota-kota pada umumnya. Semuanya beristirahat juga saling mengobrol karena sudah lama sekali tidak bertemu, bahkan sejak hari dimana Anna selamat dari penculikan.
“Sudah lama tidak ketemu ya…, Kalian sehat-sehat ?”
“Ya… Begitulah kak, Semenjak penjahat itu kalian tangkap kondisinya disini sedikit membaik…”
“Syukurlah kalau begitu…”
“Oh iya kak, kenapa kalian berada di kota ini, apa kalian bertiga sedang menjalankan misi ?”
“Ah tidak, sebenarnya kami sudah selesai jadi kami mampir kesini sejenak untuk beristirahat, lagipula kota ini terletak setengah perjalanan dari tempat yang kami tuju tadi…”
“Ohh, Jadi begitu…” Kilatan cahaya dan sesuatu yang tidak asing terlihat dari pinggang Rio, sebuah benda yang sangat biasa dilihat oleh para petualang. Benda panjang dan tajam yang bisa melukai ataupun melindungi sesuatu, hal itulah yang membuat Hendry bertanya-tanya.
“Tu Tunggu… Jadi kau benar-benar membeli Itu ?”
“Ini ? Maksud kak Hendry pedang ini ?” Ucap Rio sembari menunjukkan pedang miliknya.
“Iya…”
“Aku membelinya, sebab aku tak mau kejadian seperti dulu terjadi lagi. Aku ingin menjadi lebih kuat agar bisa melindungi diriku juga Anna, dan kelak suatu saat nanti ingin menjadi seorang petualang seperti kalian bertiga kak…”
Hendry sangat terkesan terhadap apa yang dikatakan Rio, Matanya berbinar, nada bicaranya semangat serta tangannya menepuk punggung Rio walau dirinya dipandang nyengir oleh Audrey dan kakaknya.
“Kamu benar benar anak yang hebat, aku bangga padamu nak.” Ucapnya dengan nada yang sedikit lebay, memberi jempol dengan tangan kanan, dengan senyum berkilau yang tampak di giginya, yang intinya Hendry terlihat sedikit aneh.
Singkat cerita akhirnya mereka bertiga mampir ke tempat Rio dan Anna, karna tadi mereka ditawari menginap. Dan lagi sepertinya mereka bertiga juga tertarik dengan perkembangan Rio dan Anna sampai sejauh ini, apalagi bukan hanya Rio yang membeli pedang tapi Anna sekarang juga sudah memiliki tongkat sihir kecil seperti milik Eliana, walau mereka sekarang masih ragu dengan kemampuan yang kakak beradik itu miliki.
Karena pekerjaan Rio dan Anna siang ini sudah selesai, maka Hendry, Audrey, dan Eliana berniat ingin sedikit mengajarkan sesuatu yang setidaknya berguna dari apa yang mereka ketahui selama ini, karena kebetulan mampir. Mereka akan melakukan latihan kilat di sore nanti.
Saat ini mereka berlima terus berjalan, menjauhi jalan utama dan masuk menuju tempat dimana hiruk-pikup kota mulai terdengar samar, Toko dan bangunan di sekitar sudah lama ditutup juga ditinggalkan. Jalanan disini cukup lebar dan kering, tidak becek dan lembab seperti di gang-gang sempit kebanyakan. Tempat ini cukup sepi, hampir tidak ada orang berlalu lalang karena jarang diketahui oleh para pendatang dari luar.
Tidak jelas apakah ini masih didalam atau diluar benteng utama kota ini, karena disini cukup luas dengan langit biru sebagai kubahnya. Rumah rumah kayu yang semrawut tidak beraturan ada di sini, tambalan tambalan dari luar cukup jelas terlihat, beberapa warganya tampak memperbaiki atap dan beberapa wanita dewasa tampak mengobrol dengan ria kesana kemari.
Ada juga yang menyapu halaman dan ada juga seorang pria yang menarik gerobak sampah dan mengumpulkannya di suatu tempat. Sekelompok anak laki laki yang lebih muda dari Anna berlarian kesana kemari, bermain bersama sesekali memanjat pohon dengan tidak memakai baju.
Teman teman sebaya Rio juga senang sekali berlatih pedang menggunakan ranting pohon dan kayu, karena mereka belum perlu dan belum mampu untuk membeli pedang sungguhan seperti Rio. Yang dilihat ketiganya saat ini hanyalah sebuah tempat dimana semua orang di dalamnya bisa hidup bersama, tanpa ada iri dengki, walau mereka semua dilanda masalah yang disebut dengan kemiskinan.
“Maaf ya kak, kalau tidak nyaman di tempat kumuh ini…”
“Emm… tidak kok santai saja, malahan tempat ini lebih bersih dari apa yang diperkirakan sebelumnya…”
“Ahahaa… syukurlah kalau kalian betah…”
Mereka berlima terus berjalan dan segera menuju ke rumah Rio. Ditengah perjalanan beberapa teman laki laki seumuran Rio menghampirinya.
“Oiii… Rio… Ayo berlatih bersama kami, kali ini pasti aku akan mengalahkanmu…” Ucap seorang anak dengan semangat sambil berlari kemari, mengayunkan pedang kayu yang dibawanya. Mereka berlari mendekat dan seorang lainnya bertanya dengan penasaran.
“Oi Rio ? Siapa tiga orang yang bersamamu ini ?”
“Hehemm… Merekalah yang kuceritakan waktu itu.” Ucap Rio dengan bangganya hingga semua temannya terkejut. Beberapa warga lain yang melihat sekilas juga menengok, mereka terkejut namun mereka tak mendekat seperti anak-anak ini.
Hal ini tentu saja menarik perhatian karena bagaimanapun juga, diantara semua yang berpakaian lusuh disini, apa yang mereka pakai lumayan mencolok sehingga seperti terlihat jelas perbedaan status diantara mereka.
Para petualang juga jarang ada yang berlalu-lalang, meskipun ada juga petualang yang lahir dan berasal dari sini, kebanyakan yang lewat hanyalah petualang pemula dengan peralatan yang masih seadanya.
“Wahhh keren, Tak kusangka mereka akan datang kemari…”
“Lihat pedang besar itu… Kerenn…”
“Lihat tongkat sihir kakak itu… Bersinar…”
“Ah lihat kedua kakak itu sangat cantik… Tapi aneh ya bukanya kata Rio waktu itu yang beraksi keren katanya 2 kakak laki-laki ?”
“Cih…” Aura kemarahan keluar dari dalam Diri Audrey, walaupun ia berusaha menahannya, aura itu masih saja keluar dan membuat bulu kuduk merinding.
“Maaf saja ya adek-adek… tapi aku ini… LAKI LAKI…” Ucap Audrey dan sebisa mungkin tersenyum ramah namun malah terlihat sebaliknya.
“Ahha… begitu ya maaf salah mengira, kalau begitu sampai jumpa…” Ucap seorang anak dengan malu-malu takut, setelah itu ia bersama semua temannya langsung pergi dari tempat mereka berdiri saat ini.
“Aaa… mereka semua pergi…” Ucap Eliana dengan ramah seraya melambaikan tangan terhadap beberapa anak teman sebaya Rio yang saat ini kabur.
“Seharusnya kau terima apa adanya saja Audrey…” Ucap Hendry yang tidak peduli sembari menghibur Audrey di dalam keterpurukan.
“DIAM KAU…”
Beberapa saat kemudian mereka semua tiba di rumah Rio dan Anna, sebuah rumah kayu kecil yang hampir sama seperti rumah-rumah lainnya. Mereka semua masuk ke dalam, didalamnya cukup bersih dan cukup kosong dengan perabotan tidak seperti di rumah Audrey. Hanya ada sedikit meja kursi, dan satu buah lemari dengan foto Almarhum kedua orang tua Rio dan Anna terpampang jelas di dindingnya.
Rio mempersilahkan mereka bertiga duduk di kursi tersebut, sementara ia dan adiknya masuk ke ruangan lain untuk menaruh bawaan yang sebelumnya ia bawa. Beberapa menit kemudian ia keluar bersama adiknya, membawa beberapa gelas air putih juga roti kering sadanya lalu menaruhnya di atas meja.
“Ini kak, Silahkan… maaf seadanya…”
“Tak perlu repot repot, kami hanya sekedar mampir…”
“Ah tidak kok… Lagipula berkat kalian bertigalah kehidupan disini menjadi lebih baik, kami sekarang tidak mengalami kelaparan seperti dulu lagi, dan semua orang di sini bisa makan dengan cukup setiap harinya, jadi tidak perlu sungkan.”
“Be..begitu ya… yasudah kalau begitu kami makan…”
Mereka berlima duduk dan mengobrol santai, namun karena meja dan kursi di sini tidak cukup maka diputuskanlah untuk memindahkan semua ke lantai. Mereka duduk bersama, berbincang semuanya, dan makan minum apa-adanya. Walau tak semewah apa yang disajikan di kediaman Tuan Arganaya, kali ini terasa lebih menyenangkan karena bisa mengobrol lebih santai dan bercanda apapun yang mereka suka.
Setelah matahari tak terlalu terik mereka keluar ke halaman belakang rumah ini untuk memulai latihan seperti yang tadi mereka rencanakan. Disini lumayan luas karena tidak ada satupun pagar yang menghalangi. Sudah tidak ada rumah lain di sekitar sini, hanya ada pepohonan juga bebatuan.
Mereka semua mulai berlatih, Hendry secara khusus melatih Rio menggunakan pedang. Seperti dugaan Hendry sebelumnya, Rio sudah menguasai dasar dasarnya jadi ia melanjutkan latihannya ke tingkat menengah. Beberapa kali mereka melakukan latih tanding, tentu saja keduanya memilih menggunakan ranting pohon daripada pedang sungguhan yang mereka punya, karena dikhawatirkan akan cukup berbahaya.
Disisi lain Audrey dan Eliana mendampingi Anna berlatih sihir. Saat mereka memintanya mengeluarkan sihir, dia baru bisa membuat air berapa gelas. Hal ini wajar untuk anak kecil seperti dia, bahkan bisa dibilang ia cukup berbakat, jadi mereka berdua belum bisa mengajarinya terlalu keras seperti Hendry mengajari kakaknya. Keduanya hanya menunjukan beberapa sihir yang mereka miliki dan menjelaskan sesuatu, berusaha membuat Anna lebih tertarik dengan sihir karena mereka rasa itu akan berguna.
Latihan sudah berlangsung lama, Anna tertidur dalam pangkuan Eliana sementara kakaknya masih saja berlatih dengan Hendry walau hari semakin gelap. Keringat mulai bercucuran di antara mereka berdua namun semangatnya belum padam. Siapa sangka dalam waktu sesingkat ini Rio hampir bisa mengimbangi Hendry.
Disisi lain Audrey menyalakan obor yang ada disini sehingga latihan masih bisa berlanjut walau matahari sudah tenggelam. Ketiganya melihat Rio dan Hendry dari jarak jauh, Anna sudah terbangun dan menyaksikan mereka berdua tergeletak seketika karena saking lelahnya.
Saat ini sudah waktunya makan malam sehingga mereka memutuskan untuk selesai, Semuanya masuk kembali ke rumah. Walau hari ini adalah hari terlelah yang pernah ia rasakan, Rio bersyukur bisa diberi kesempatan langka semacam ini.
Karena Rio terlalu lelah, yang memasak makan malam kali ini adalah Eliana dan Anna, yang beberapa bahannya diambil dari persediaan pribadi Eliana. Mereka semua makan dengan lahap, terutama Rio dan Hendry yang tadi kelelahan. Setelah makan mereka mencuci piring dan lanjut untuk tidur.
Lalu besok pagi, mereka bertiga akan kembali ke ibu kota dan melaporkan kembali sebuah pekerjaan yang telah berhasil mereka selesaikan…