
Matahari telah terbit, semua warga telah bangun. Suasana dingin masih terasa di sini tapi tidak dengan masyarakatnya. Mereka semua terbangun, keluar dari rumah masing-masing dan saling ribut satu sama lain. Hewan dan makhluk sekitarnya terganggu bahkan terdengar dari bebukitan yang lebih tinggi.
“Sial kenapa bisa jadi begini !!!”
“Mana saya tau !!!”
“AH SIALL !!!… padahal tinggal nanti malam.”
“Rencana kita gagal dasar sialan.”
“Kenapa juga sawah seluas ini menghilang dalam semalam, apa tak ada seorangpun yang bangun tadi malam ??”
Semua pria dewasa di desa ini ribut satu sama lain, tak terkendali dan tak mempedulikan apapun. Suara tangisan bayi terdengar juga karena sebab itu, sementara pelaku utama yang kini belum diketahui juga sangat marah.
Ia kecewa karena rencana membakar lahan yang rencananya akan dilakukan malam nanti malah gagal sia-sia. Kemarahan para warga juga sudah menjadi jadi, diluar sesuatu yang bisa dikendalikannya seorang diri.
Ditengah kekecewaan seorang warga lain naik ketempat yang lebih tinggi di desa dan berteriak dengan cukup lantang.
“SAUDARA-SAUDARA !!!... IKUTLAH DENGANKU !!!... Mari kita menuntut keadilan pada pemimpin tak bermoral itu… Aku yakin dialah yang tadi malam melakukannya, Kalau kalian masih peduli dengan desa ini… Ikut lah sekarang !!!”
Hampir seluruh warga yang mendengarnya bersorak, sementara sebagian kecil lagi memilih diam dan tidak mencolok. Pagi tak lagi buta, Sinar matahari sudah terasa panas dan seluruh desa sudah disinari sepenuhnya.
Diantara berhektar hektar sawah yang dipanen secara mendadak, semua warga berkumpul di tengah desa. Membawa papan dan kulit yang bertuliskan rasa ketidakpuasan, beberapa aksi nyata membawa cangkul, garpu taman dan juga obor mereka semua siap melakukan aksi utama.
Bersiap untuk demo terbesar dan paling panas yang pernah mereka lakukan, semua yang terlibat mulai berjalan ke atas bukit termasuk si pelaku utama yang hanya dia sendiri memiliki maksud tersembunyi. Walau merasa ini hanya jebakan. dia tetap melakukannya karena sudah dibutakan amarah dan rasa dendam, selain itu dia tak keberatan tertangkap selama targetnya benar-benar mati.
*****
Saat ini di dekat kediaman tuan Arganaya segala persiapan selesai dilakukan, Mimbar kecil dari papan sudah ditaruh diluar. Sebagian penjaga berseragam lengkap bersiap siaga. Sebagian mengintai dari atas pohon dan sebagian lagi bersembunyi di semak-semak memakai pakaian biasa untuk nanti menyamar dan menyusup ke dalam kerumunan, Termasuk Hendry dan Audrey sendiri.
Beberapa saat berikutnya, rombongan Aksi sudah mulai datang. Suara ribut bergema tidak jelas tapi suaranya keras. Kemarahan mereka terlihat jelas, mengangkat papan juga semua atribut yang mereka bawa, lalu mereka meneriakkan sepatah kata secara berulang-ulang.
“KEMBALIKAN PADI KAMI !!!, KEMBALIKAN PADI KAMI !!!, KEMBALIKAN PADI KAMI, KEMBALIKAN PADI KAMI !!!...”
Kerumunan yang tadinya belum anarkis, kini mulai menyerang para penjaga. Terjadi sedikit pertikaian namun untuknya itu bisa diatasi penjaga dengan mudah tanpa melukai kedua belah pihak.
“BIARKAN KAMI BERTEMU BANGSAWAN TIKUS ITU, SIALAN !!!” Teriak seorang warga sembari menyerang salah seorang penjaga.
“DIAM… Setidaknya tenangkan dirimu.” Ucap penjaga itu.
“BAGAIMANA MUNGKIN KAMI BISA DIAM… Kalau kelakuan tuan kalian seperti it…”
“Sudah cukup… Kalian semua… Berhenti…” Tuan Arganaya mendekat ke mimbar kayu yang sudah disiapkan. Para warga yang berdemo mulai diam dan tenang namun itu bukan berarti kemarahan mereka ikut padam.
Beberapa warga sempat melihat gudang terisi penuh, beberapa tupuk padi berada diluar yang menandakan gudang sebesar itu masih belum cukup, mereka semua saling mengoceh marah, dan tak lama setelah itu perdebatan sengit terjadi.
Dimulai dari salah seorang perwakilan warga yang berteriak lantang meneriakkan ketidakpuasannya langsung ke hadapan tuan Arganaya yang saat ini berada didepan mereka.
“KENAPA PADI KAMI ADA PADAMU…Apa maksudmu ?, Kenapa kau jadi seperti ini, kenapa tak seperti dulu lagi, tak seperti pendahu pendahulumu dasar tuan basawan…”
“Tidak sebenarnya, Kenapa kalian tidak memanennya lebih dulu ?”
“Ah itu… JANGAN BANYAK ALASAN !!!”
“Karena kalian tidak mau… ya sudah kuambil sendiri, bahkan sekarang pun bisa dibilang panen ini terlambat… whahahaha…”
“KEPARAT KAU !!!”
“DASAR SIALAN !!!”
“KEMBALIKAN… DASAR BANSAWAN RAKUS !!!”
Kemarahan semakin menjadi jadi, perdebatan sengit masih terus berlanjut. Kerumunan semakin kacau, walau tidak seanarkis tadi suara amarah masih terus bergema.
Diantara suara-suara itu, Hendry, Audrey dan beberapa penjaga sudah berhasil menyusup ke dalam kerumunan, mengamati seksama dan mencari seseorang yang paling mencurigakan mereka.
Semua warga berdesakan, mengangkat kepalan tangan keatas juga dengan atribut yang mereka bawa, berteriak lantang masih saja berdebat-sengit hingga seperti menjebol telinga.
Audrey dan hendry terus mengintai tapi hasilnya nihil. Eliana juga semua penjaga di luar bersiap-siaga, berusaha menangkis serangan apapun yang akan datang. Entah itu pedang, panah atau bisa saja sebuah pisau khusus yang dilempar agar tidak mengenai siapapun, terlebih tuan Arganaya sendiri.
Sekilas mereka juga mengamati tapi hasilnya sama saja, sejauh ini tidak ada yang terlihat mencurigakan di mata mereka. Kerumunan masih saja berisik, mereka semua masih belum puas walau faktanya sudah jelas, kemarahan mereka sudah menjadi jadi saat pertama kali menginjakkan kaki di dekat kediaman ini, bahkan lebih parah dari rumor buruk itu sendiri.
Diantara kerumunan warga, di suatu tempat yang belum disadari oleh beberapa orang yang menyusup, seorang pria sekaligus pelaku utama berdiri dengan tenang. Tatapan matanya membunuh juga sesekali memegang erat sebilah pisau belati di balik bajunya.
Pria itu tidak mau mengabaikan kesempatan ini, walau merasa ini jebakan dia tidak ambil pusing, dia berencana melarikan diri segera setelah aksinya berhasil, lagipula tidak ada penjaga di barisan belakang sehingga ia bisa melarikan diri dengan mudah pikirnya.
Diantara kerumunan dia semakin menyelinap maju sedikit kedepan. Melihat tuan Arganaya yang saat ini sibuk ia tak mau membuang kesempatan. Ia diam-diam melumuri bilah pisau belati yang dipegangnya dengan sebuah cairan hitam misterius yang diambilnya dari botol kaca kecil yang ia bawa. Tidak jelas sebenarnya cairan apa itu, namun dari yang terlihat sudah jelas bahwa itu adalah racun, sehingga bila tergores sedikit saja sudah sangat mengkhawatirkan.
Saat ini pria itu bersembunyi di bagian belakang orang yang berada di barisan paling depan, beberapa meter dari tuan Arganaya langsung. Menunggu dengan sabar hingga semua orang lengah dan berniat melancarkan aksinya. Menurut perkiraan nya walau di samping tuan Arganaya berdiri beberapa orang penjaga, masih sangat sulit untuk menghentikan pisau belati yang melesat cepat.
Setelah beberapa saat, ia rasa situasinya tepat. Tanpa ragu ia melemparkan pisau berlumur racun tersebut diantara kerumunan orang lalu segera pergi dari tempat kejadian, namun sesuatu yang tak diduganya terjadi.
Swingg… Woosshr… Brag… Petokkk…
“T… Tuan tidak apa apa ?” Ucap salah seorang penjaga disamping tuan Arganaya karena terkejut tiba tiba melihatnya terjatuh dari mimbar…
Pria tadi segera lari masuk ke tengah kerumunan, berencana kabur sekarang juga. Wajahnya puas karena mengira apa yang dilakukannya telah berhasil. Setelah berlari beberapa saat ia tiba-tiba terjungkal. Tersandung oleh kaki dua orang yang tak dikenalnya.
Kedua kaki tersebut adalah milik Hendry dan Audrey, ia bangkit dengan panik dan tanpa sengaja melihat ke atas pepohonan. tanpa diduga dari atas para penjaga yang mengintai sudah siap dengan panahnya masing-masing.
Mata panah yang tajam dan mengancam membidik langsung ke arah pelaku yang terjungkal tadi. Tidak ada seorangpun yang menyadari kecuali dirinya karena sampai saat ini suasana masih panas dan lumayan ribut.
Tidak ada tempat lagi bagi pria tersebut untuk bisa kabur, Hendry dan Audrey langsung mengikatnya dan menyeretnya ke dalam semak semak keluar dari kerumunan.
*****
Beberapa saat yang lalu. Tuan Arganaya juga terjatuh ke tanah, pisau belati beracun yang terlempar tadi tak berhasil mengenainya, terus melesat dan tidak sengaja membunuh ayam yang kebetulan lewat di belakang tuan Arganaya.
“Ma-Maaf Tuan cuma ini yang bisa kulakukan.” Ucap eliana dengan panik setelah keluar dari persembunyiannya, di balik pohon yang tak terlalu mencolok dan sepertinya tak disadari siapapun kecuali yang berjaga.
Alasan sebenarnya kenapa tuan Arganaya terjatuh tentu saja karena Eliana, setelah ia menyadari ada yang tidak beres, ia langsung mengeluarkan sihir anginnya dan mendorong jatuh tuan Arganaya, alhasil pisau tadi tak mengenainya.
Setelah berbalik kebelakang, penjaga itu menyadari adanya pisau yang sudah dilempar. Ia menyadari keadaan dan tidak dapat mengeluh mengenai apa yang terjadi.
“Haduhhh… apa boleh buat… yang penting tuan selamat…”
Tuan Arganaya segera bagkit dengan dibantu salah seorang penjaga, ia sudah menyadari apa yang terjadi sehingga ia langsung mengucapkan terima kasih singkat kepada Eliana yang saat ini mendekat.
Sesaat kemudian Hendry dan Audrey muncul dari balik semak-semak, membawa seorang pria yang terikat tali. Penjaga lain masih terus berjaga semenatara mereka berdua mendekat dan pria itu terkejut, melihat tuan Arganaya masih hidup walau dirinya sudah tertangkap.
Sebagian besar pendemo diam bingung mengenai apa yang terjadi, karena pria yang terikat tadi dibawa sampai ke dekat tuan Argaraya sendiri, ia hampir saja marah-marah dan mengoceh tidak jelas namun untung nya berhasil dibungkam oleh Hendry juga Audrey. Suasana menjadi lebih tenang, tidak terlalu parah seperti tadi, mereka semua takut, melihat orang yang mereka kenal juga orang pertama yang merencanakan semua ini tertangkap di hadapan mereka.
“Apa kalian kenal orang ini ?”
“Tentu… dia tetangga baru kita…”
“Iya benar…”
“Apa menurut kalian dia orang baik ?”
“Tentu saja, dia sangat peduli pada kami, setelah desanya hancur pun dia memberikan secercah harapan agar desa kami tidak hancur karena kerakusanmu !!!”
“Dia benar…”
“Benar… Benar…”
“Hooo, Kalau dia baik kenapa dia merencanakan pembunuhan ini tanpa diskusi terlebih dahulu dengan kalian ?” Ucap tuan Arganaya sembari memegang pisau berlumur racun yang dibungkus sapu tangan, diambil salah seorang penjaga beberapa saat lalu sambil membuang bangkai ayam yang sudah terkontaminasi.
“Ah itu… karena…”
Para warga bingung, mereka tak bisa mengelak dan hanya bisa berbisik bisik dengan kanan kirinya. Suasana sudah menjadi jauh lebih tenang di dalam kebingungan lalu tiba saatnya bagi tuan Arganaya untuk menuntaskan masalah ini.
“Huhh… Sudahlah tidak usah mengelak lagi, lagipula aku tidak berniat mengambil semua padi itu sendirian.” Ia menghela nafas, gaya bicaranya berubah drastis, yang dari tadi sedikit terdengar tegas dan kejam kini menjadi melembut hingga membuat warga bertanya-tanya.
“Eh Benarkah ?”
“Tentu saja lah, memangnya apa yang selama ini kulakukan hingga kalian dibutakan amarah…” Lalu mumpung kalian sudah disini bawalah semua padi di sana kembali ke desa, lagipula aku juga sudah mengambil jatah pajak dari yang disepakati.
“Ja.. Jadi pajak tidak jadi naik ?”
“Tentu, lagipula kabar burung dari mana itu. Kalaupun pajak akan naik, aku tak kan melakukannya secara sepihak, pasti aku akan memanggil beberapa perwakilan dari kalian lalu mendiskusikannya lebih lanjut, mengenai alasan sebenarnya kenapa aku harus menaikkan pajak.”
“Ja.. jadi semua itu bohong…”
“Pajak tidak akan naik…”
“Tuan Arganaya tidak menghianati kita…”
Mereka semua bergembira dan bersorak-sorai, Semua papan protes dan atribut yang mereka bawa sudah dilepas, terlempar, juga terinjak-injak. Raut muka yang tadinya marah menjadi tersenyum lepas, seperti hangatnya sinar matahari yang belum terlalu siang di hari ini. Namun diantara kegembiraan itu terdapat juga salah seorang warga yang diam menyesal mengenai apa yang dilakukannya…
Memang benar, kenapa aku baru sadar, justru selama ini tuan Arganaya sudah bersikap sangat baik pada kami, dan sekarang… kenapa kami yang malah mengkhianatinya…
Ucap seseorang tersebut dalam hatinya, tak lama kemudian suasana yang sama juga terjadi pada orang lain disekitarnya. Mereka semua diam lalu seketika mereka semua membungkuk dan berlutut di hadapan tuan Arganaya hingga membuat mereka semua terkejut.
“Maafkan kami semua tuan… Kami sadar dengan dosa kami… kami sadar dengan pengkhianatan kami… tapi… mohin beri kami kesempatan tuan. Kami akan menghargai kebaikan yang tuan berikan, Kami berjanji akan bekerja lebih keras lagi jadi sekali ini saja…”
“Tolong berikan kami semua kesempatan tuan…”
“Tentu… dengan senang hati…” Ucap tuan Argaraya dengan tersenyum
Setelah saat itu semuanya berakhir. Semua warga perlahan kembali ke desa dengan sebagian laki-laki dewasa memanggul padi untuk dibawa. Suasana menjadi sepi seperti sedia kala, angin berhembus dari balik pepohonan dan semua yang terlibat disini mulai lelah dan beristirahat.
Pelaku utama sudah diambil alih oleh penjaga hingga Hendry dan Audrey bisa tenang dan leluasa. Raut wajah kantuk dan kantung mata terlihat jelas bagi sebagian besar orang yang terlibat disini. Tuan Arganaya juga Istrinya mengucapkan terimakasih terhadap semuanya lalu mereka semua mulai berpisah, kembali ke tempat nya masing-masing.
Semuanya mulai tertidur, para penjaga dan pelayan juga sama dengan beberapa orang yang berjaga secara bergantian. Suasana siang semakin panas terik, hampir semuanya tertidur lelap kecuali kedua penjaga yang diperintah tuan Arganaya untuk membawa penjahat tadi ke kota terdekat.
Walau lelah dan panas terik mereka tak dapat menuntut, karena keduanya sudah dijanjikan libur dalam beberapa hari kedepan…