The Story Of Jammetaria

The Story Of Jammetaria
BAB 32 - Permintaan Pribadi 2



Suasana ramai seperti biasa, namun ketiganya sudah berada di gerbang kota bersiap untuk keberangkatan misi kali ini. Tak mau membuang waktu mereka langsung melesat, Terbang dengan cepat di atas pepohonan hutan, di jalan-jalan biasa menuju ke arah selatan.


Terbang dengan kecepatan tinggi dengan sedikit cepat dari burung tanpa beban dan tanpa sekalipun menginjakkan kaki ke tanah sebelum keluar dari hutan. Angin berhembus kencang sehingga sinar matahari tidak terasa terlalu panas, dan mereka tak perlu banyak beristirahat dalam perjalanan jauh ini.


Setelah keluar dari hutan dan memasuki padang rumput, semuanya menurunkan kecepatan dan ketinggian hingga hanya beberapa meter dari tanah. Angin berhembus dari sapu terbang, menghempas rumput dan mengejutkan slime juga makhluk kecil yang ada.


Ketiganya tetap melanjukan perjalanan sampai tengah hari, memasuki kota dan beristirahat sejenak di kota Anggresia sembari mencari makan. Karena kali ini bukan misi pengawalan dan sebagian besar perjalanan ini dilakukan dengan cara terbang, mereka bisa sampai kesini 2x lebih cepat. Meski begitu ini baru setengah perjalanan, untuk mencapai desa Bengawansari mereka harus maju lebih jauh dengan jarak yang hampir sama dengan perjalanan kembali dari sini.


Mereka masuk kota Angresia namun tak masuk terlalu jauh, Karena sifatnya sedikit terburu-buru mereka hanya singgah di sekitaran gerbang utama sehingga tidak ada waktu untuk mampir lebih jauh dan mengunjungi Rio dan Anna.


Setelah selesai makan ketiganya keluar dari kota ini dan melanjutkan perjalanan. Dibawah terik matahari mereka maju lebih jauh. Melewati padang rumput yang terhampar luas dan terus melaju ke depan.


Sejauh ini perjalanan terasa biasa saja, tak ada sesuatu yang bisa menarik perhatian. Hanya hembusan angin di padang rumput luas dengan sinar matahari yang perlahan tertutup awan.


Hutan kecil dan pepohonan mulai terlihat. Kaki gunung hijau sudah didepan mata, bersamaan dengan senja yang semakin menguning, pertanda tujuan mereka sudah dekat. Muara sungai terlihat dari kejauhan dengan hulu di atas bukit dan pegunungan.


Maju lebih jauh dan mendaki ke atas, dengan tetap terbang di peralatannya masing-masing. Setelah melewati lebatnya hutan di sekeliling bukit, area terbuka mulai terlihat. Berhektar hektar sawah terlihat dari atas sini, dibentuk seperti terasering dari atas ke bawah dengan banyaknya rumah penduduk yang terkumpul di area yang sedikit datar.


Sungai-sungai kecil mengalir dari atas hulu dan membasahi semua sawah disini. Tanaman padi menguning keemasan, terlihat tua namun belum dipanen walau lumbung padi terlihat masih kosong, Itulah sebagian masalah yang terjadi di sini.


Sesuai dari isi surat tersebut ketiganya tidak menginjakan kaki di desa ini terlebih dahulu. Mereka semua langsung menuju tempat klien mereka berada, Seorang bangsawan yang menjadi pemimpin di desa ini. Tinggal di sebuah rumah besar seperti mansion yang berada di atas bukit yang lebih tinggi, Rumah mewah berwarna putih yang sepertinya memiliki 2-3 lantai terlihat dari sini.


Tak mau membuang waktu ketiganya terbang ke balik awan dan langsung mendarat ke depan rumah besar itu. Mereka disambut ramah oleh seorang pelayan dan beberapa orang prajurit disekitarnya.


“Selamat datang, Tuan Audrey, Tuan Hendry, dan Nona Eliana… Tuan Besar sudah menunggu anda…”


“Perkenalkan nama saya Amelia, Saya merupakan salah seorang pelayan yang bekerja di kediaman ini, ijinkan saya mengantar kalian bertiga menemui Tuan Arganaya serkarang…” Ucap seorang pelayan cantik berambut coklat yang kelihatan umurnya tidak jauh berbeda dengan mereka bertiga. Ia terlihat mengguanakan seragam standar seorang pelayan, dengan dress pendek perpaduan warna hitam dan putih (Mirip kostum maid).


“Baik…” Ketiganya apapun lebih lanjut dan mengikuti pelayan itu hingga sampai ke ruang tamu di lantai pertama. Ruang tamu disini sangat luas dan bersih, Jendela kaca yang lumayan tinggi terbuka di sudut-sudut ruangan, dengan tirai terikat di dekatnya. Meja dan kursi tepat di tengah ruangan, juga perabotan yang terlihat mahal di sekitarnya.


“Silahkan tunggu sebentar… Kalau perlu apa-apa anda bisa memanggil saya atau pelayan lain di kediaman ini. Permisi…”


Mereka bertiga dipersilahkan duduk oleh Amelia, lalu pelayan itu meninggalkan mereka dan pergi menuju ruangan lain yang sepertinya untuk memberitahu tuan Arganaya kalau tamu yang diundangnya sudah datang.


Ketiganya menunggu dengan sabar di tengah ruang tamu mewah nan sepi ini. Penjaga dan Pelayan lain tak terlihat di ruangan ini, namun beberapa dari mereka tampak sekilas di ruangan lain maupun diluar rumah.


Beberapa saat kemudian dari lantai atas, berjalan lewat tangga utama dan mendekati ke arah mereka. Seorang pria 40an yang belum terlihat tua, sedikit gendut namun berwibawa, menggunakan pakaian rapi yang cukup halus dan berkualitas tinggi, Datang dengan karismatik tanpa wajah sombong juga bergegas mendekati mereka segera.


Setelah pria itu mendekat ke arah meja tamu dan bersiap duduk, Audrey Hendry dan Eliana segera bangkit dari kursi mereka. Berdiri sejenak, memberikan penghormatan seperlunya lalu semuanya kembali duduk.


“Pertama tama aku ucapkan terimakasih banyak terhadap kalian bertiga yang sudah jauh jauh datang kemari untuk menyanggupi permintaan ku. Seperti di suratku sebelumnya akan ku ulangi sekali lagi. Perkenalkan namaku adalah Arganaya Bengawansari, seorang kepala keluarga dan salah seorang bangsawan penguasa daerah yang saat ini menguasai tanah ini.”


Mereka melanjutkan perkenalan dengan wajar dan sopan, bahkan lebih sopan dan halus dari beberapa klien bahkan teman yang mereka temui sebelumnya. Mereka melakukan hal ini tak lain dan tak bukan hanya karena suatu alasan yaitu, orang yang berbicara di depan mereka adalah bangsawan (Walau sebenarnya hanya tingkat 2 dari bawah).


Karena biasanya seorang anak sudah diajarkan sejak dini untuk bersikap baik dan sopan terhadap siapapun, apalagi yang statusnya lebih tinggi daripada mereka.


Bangsawan sendiri adalah sebuah keluarga yang menguasai dan memimpin suatu wilayah secara turun-temurun atau perintah dari kerajaan, Entah itu sebatas Tuan tanah sampai Keluarga kerajaan. Di kekaisaran ini sendiri setidaknya ada 6 tingkatan bangsawan yang diketahui secara umum, hal itu berdasarkan besaran wilayah yang dikelolanya.


Mulai dari : Tuan Tanah, Penguasa Daerah, Bupati, Adipati, Keluarga Kerajaan (Raja), Keluarga Kekaisaran (Kaisar).


Tuan Tanah berada di tingkatan paling bawah, wilayah kekuasaanya hanya sebatas suatu desa kecil. Penguasa Daerah setingkat diatasnya, wilayah kekuasaanya bisa meliputi sebuah desa besar hingga suatu kota kecil yang tidak memiliki cabang guild, seperti desa Bengawansari ini contohnya.


Sementara Bupati sendiri menguasai suatu kota besar, Seperti kota Anggresia dan juga kota-kota lainnya. Adipati menguasai wilayah Ibu kota, dengan kata lain satu tingkat dibawah raja.


Raja menguasai 1 kerajaan termasuk semua di dalamnya, sementara Kaisar menguasai Kekaisaran termasuk beberapa kerajaan di bawahnya.


Memang, tidak ada julukan khusus mengenai peringkat tersebut, namun biasanya nama marga mereka sama atau hampir mirip dengan wilayah yang dikuasainya (Tapi ada juga yang tidak), Contohnya seperti “Tuan Arganaya Bengawansari” sendiri, ataupun “Raja Mahendra Jayanaria”.


Setelah perkenalan singkat tadi, Amelia kembali dengan membawa teh juga beberapa makanan kecil berupa kue dan roti isi. Ia menuangkan teh dengan Anggun, lalu memberikannya ke setiap orang yang duduk disini, Membungkuk dengan hormat lalu segera pergi kembali.


Beberapa cangkir, cawan dan piring bertumpuk tersusun rapi diatas meja. Terlihat mewah dan berkelas namun sepertinya tak sebanding apa yang biasa digunakan keluarga kerajaan. Mereka semua mengambil sendok, dan masukkan gula batu kedalam tehnya masing masing, mengaduknya secara perlahan sampai gulanya tercampur lalu bersiap meminumnya.


Tanpa meniup sedikitpun, mereka semua Mengangkat cangkir dengan tangan kanan juga sedikit ditahan oleh cawan ditangan kiri. Meminum beberapa teguk lalu meletakkannya kembali di cawan.


Sebagian dari mereka mengambil kue, memakannya dengan santai menggunakan sendok atau garpu kecil, sehingga krimnya tidak mengotori tangan dan sebagian mulut.


Makan dan minum dengan sangat elegan dan penuh etika, sungguh berbeda dengan apa yang biasa mereka mereka lakukan sehari-hari. Hendry juga melakukan hal yang sama, walau tak sehebat kakaknya dan Audrey. Melihat hal itu tuan Arganaya terkesan…


“Bukan hanya cara berbicara kalian sangat sopan, aku tak menyangka petualang seperti kalian memahami etika minum teh seperti ini…”


“Ah tidak… Sebenarnya sudah sejak lama kami tak menikmati acara minum teh seperti ini…” Jawab Eliana dengan tersenyum sopan.


“Apa maksud kalian ?”


“Sama seperti tuan Argananya sendiri… Kami berdua juga berasal dari keluarga bangsawan.”


Gluk…


Audrey sedikit tersedak mengetahui apa yang Eliana katalkan. Ia penasaran dan kaget namun untungnya cangkir dan cawan yang dipegangnya tidak terjatuh.


Kenapa kalian berdua gak pernah cerita ???, Setelah hampir setengah tahun kita jadi petualang kenapa aku baru tau ???


Itulah yang ingin dikatakan Audrey kali ini, berhubung sekarang mereka sedang menjaga sikap, Audrey juga menjaga kata katanya.


“Jadi apa maksudmu El ?,sepertinya selama ini kau belum pernah menceritakannya…” Tanya Audrey dengan menahan ke penasarannya. Hal yang sama juga terjadi pada tuan Argananya yang duduk di seberang, tapi ke penasarannya tak sebesar Audrey.


“Kalau tidak keberatan, bisa tolong diceritakan…?”


“Ah begini… Seperti yang kami ceritakan terhadap Audrey, kami berdua bukan petualang asli ibu kota. Sebelum kami bertemu Audrey kami sudah berkelana dari kota kekota untuk mencari anggota yang mau bergabung dengan kamu. Tapi sebelum itu kami berdua tinggal disebuah desa kecil yang jauh. Ayah kami adalah seorang tuan tanah di desa itu, dan keluarga kami sudah memimpin secara turun-temurun… Jadi sebabnya kami diajari hal-hal semacam ini sedari kecil…”


“Tapi apa tak masalah, bagi kalian untuk menjadi petualang ?, bukannya dalam hal itu keluarga kalian membutuhkan penerus, Setidaknya satu diantara kalian untuk memimpin desa itu ?” Tanya Audrey.


“Ah tidak… mana mungkin ada orang yang menjadi petualang selama sisa hidupnya. Lagipula kami hanya ingin merasakan kebebasan selama masih muda, dan lagi orang tua kami juga mendukung karena ini juga sebagai pengalaman.”


“Menurutku sendiri desa itu terlalu sempit, jadi menurutku sendiri kita men…”


hap…


Eliana menutup mulut adiknya dengan tangan sesegera mungkin, matanya mengancam melirik tajam dan seolah ingin berkata…


Hendry… Bisa diem nggak. Tolong jaga ucapanmu…


Mendengar penjelasan Eliana, Audrey dan tuan Arganaya sedikit paham dengan apa yang terjadi mengenai mereka berdua, dan sekarang mengambil inisiatif untuk melanjutkan percakapan ringan mereka sebelum membahas kearah yang berat.


“Jadi begitu rupanya… aku mengerti. Baiklah tak perlu berbicara formal lagi sekarang, mari berbicara santai apa adanya, lagipula aku hanyalah seorang penguasa daerah, bukan seorang bangsawan berperingkat tinggi seperti anggota keluarga kerajaan. Sejujurnya berbicara formal itu melelahkan…”


“Baik…” Ucap ketiganya dengan cukup lega, sehingga sekarang Hendry berani mengutarakan niat untuk mengajukan suatu pertanyaan yang dari tadi dipendamnya.


“Oiya Audrey… kenapa kau bisa begitu ahli dalam hal-hal semacam ini, bahkan sepertinya aku dan kakakku saja kalah…”


“Ah itu hehehe…” Audrey tak bisa mengatakan yang sebenarnya. Ia hanya tersenyum dan menjawab sebisa mungkin, walau dalam hati ia berkata…


Kalau aku mengatakan yang sebenarnya dan mereka semua percaya aku takut mereka malah akan berlutut di hadapanku sekarang…


“Kau lupa Hen ?, Pamannya Audrey kan seorang mantan ksatria kerajaan. Jadi wajar saja kalau terkadang etika dan pengetahuannya lebih baik dari kita. Kau sendiri bahkan lebih sering berkunjung daripada Audrey, masa kau tidak tau ?”


“Hemm… Benar juga kak…”


“Baiklah karena sudah semakin sore mari kita membicarakan masalah utamanya…” Ucap tuan Arganaya yang sekarang wajahnya mulai serius.


Ketigannya mengangguk, suara senyum dan tawa yang selama ini terdengar menghilang, berubah drastis menjadi tenang. Wajah ketiganya serius dan semuanya kompak diam, mendengarkan apa yang tuan Arganaya katakan. Mengenai masalah sebenarnya yang terjadi di desa ini…