
Salamander raksasa sudah kalah dan mereka semua melanjutkan misi ini kembali, Lebih tepatnya untuk memilah mana mayat salamander batu yang akan bawa pulang, karena dihadapan mereka kali ini terdapat puluhan mayat salamander batu yang mati dengan cara yang berbeda-beda, jauh melebihi perkiraan mereka bahkan oleh party “Kucing Hitam sendiri”.
Saat ini kak Dani belum terlalu memusingkan hal itu, ia bersiap menenangkan diri, mendekati Hendry dan memberikan memberikan sedikit pujian. Jujur selama ini hanya kak Dani lah yang paling berusaha akrab dengan ketiganya bahkan sebelum mereka berkemah bersama kemarin sore. Bukan karena mereka semua tidak akrab, namun mereka lebih memilih diam dan tak mencampuri urusan masing-masing, hal ini berlaku juga untuk Audrey dan Eliana.
"Yo… Itu benar benar hebat… Apa kalian beneran berperingkat C." Ucap kak Dani dengan sedikit senyum dan tawa, berusaha seramah mungkin untuk memecah suasana, namun yang didapat malah tak terduga.
…
rrrrr…
Hendry masih diam seperti biasa dan tak merespon apapun, dia memang menoleh tapi tatapan matanya kosong. Tangannya mencengkram kuat kuda besi yang ditunggangi dan tak memperdulikan apapun.
Beberapa detik kemudian sikapnya berubah, ia berlari ke dan hampir menyeruduk kak Dani tanpa berkata apapun, namun untunglah…
Wooshhh…. Dung…
Bola angin dan Segumpal es melesat ke depan, melewati sisi kiri dan kanan kepalanya, Menghantam kepala Hendry dan membuatnya jatuh tersungkur hingga pingsan. Kak Dani berbalik kebelakang lalu melihat kedua teman Hendry yang masih memegang tongkat sihir.
"Apa yang kalian berdua lakukan !!??"
"Ah itu sudah biasa, tidak usah dipedulikan" Ucap Eliana.
“Apa maksud kalian ?”
“Semakin sedikit yang kakak tau, semakin baik…”
"Eehhhhhhhh…"
Beberapa saat kemudian ketika Hendry sudah sadar, mereka mulai memilah dan memilih mana saja mayat salamander yang akan dibawa pulang. Sebenarnya mereka ingin membawa semuanya tapi rasanya tak mungkin. Semua salamander disini terbunuh dengan cara yang berbeda-beda, sehingga tak semuanya layak dipakai.
Kedua party mulai memisahkan bagian mereka, masing-masing dari mereka mengambil mayat salamander yang dirasa telah mereka bunuh sendiri. Walaupun misi ini bersamaan bukan berarti hanya satu misi yang bayarannya dibagi dua. Seperti misi perburuan pada umumnya, kedua party hanya menjalankan misi bersama dengan hasil buruan yang mereka dapatkan masing-masing.
Biasanya dalam kondisi seperti ini akan terjadi cekcok yang tidak perlu, namun hal itu tidak terjadi kali ini karena saking banyaknya Salamander yang mereka semua bunuh, dan juga tidak mungkin membawa semuanya, apalagi tanpa sihir penyimpanan.
Party “Bintang kelabu” mengumpulkan mayat salamander di sisi kanan, sementara party “Kucing Hitam” di sisi kiri, mengingat Kedua party saling membelakangi selama bertarung dalam perburuan tadi.
Sekitar setengah jam kemudian, dua tumpukan besar mayat salamander berhasil dikumpulkan. Matahari yang tadinya terik berangsur-angsur meredup tertutup awan dengan tidak adanya tanda-tanda mendung.
Walau sudah terkumpul, bukan berarti mereka sudah selesai. Mereka mulai menguliti punggung berbatu salamander itu untuk dibawa pulang, Hal ini tentunya dilakukan oleh para laki-laki atau pengguna pedang, Audrey juga ikut, karena bagaimanapun dialah diantara kedua rekannya yang paling terbiasa berurusan dengan membedah monster.
Satu-persatu salamander yang masih layak dikuliti seperti buaya, Dijemur atau terkadang sedikit dipanggang dengan sihir api agar kering. Mereka melakukannya satu-persatu dengan sedikit cepat, karena khawatir akan serangan salamander lain yang tengah bersembunyi.
Sekitar 2 jam kemudian mereka selesai berurusan dengan semua ini, tidak ada gangguan karena mungkin monster lain masih takut dan menjauh karna mayat salamander raksasa tergeletak disini. Berlembar-lembar kulit berbatu sudah diikat dan siap dibawa, Area ini sudah sedikit dibereskan, juga barang dan perlengkapan mereka sudah dikemas kedalam tas.
Kedua laki-laki di Party “Kucing hitam” mengangkut Beberapa Kulit salamander yang mereka buru, sementara kedua perempuan lainnya membantu membawa sesuatu yang lebih ringan seperti senjata mereka misalnya.
Sebenarnya sebelum itu Audrey menawarkan untuk menitipkan beberapa kepadanya dengan sihir penyimpanan, namun kak Dani menolak dengan alasan tidak bisa merepotkannya lebih banyak lagi. Wisnu dan Elisa sedikit kecewa, tapi apa boleh buat lagipula ini perkataan Dani, yang kelihatannya menjadi panutan semua anggota partynya.
Sementara itu di party “Bintang Kelabu” masih seperti biasa, Sebagian besar urusan logistik dan pengangkutan di urus Audrey, Hendry membantu membawa manual seperti biasa, karena katanya sebagai “Latihan”, sementara Eliana kali tak banyak membantu karena satu lembar kulit salamander batu saja sudah diluar kapasitas sihir penyimpanan miliknya.
Mereka semua bersiap berangkat tapi ada satu hal yang mereka lupakan, Eliana menoleh ke belakang dan masih melihat masih adanya Salamander raksasa yang tergeletak hingga menutupi cahaya matahari yang sebentar lagi terbenam.
“Jadi apa yang akan kita lakukan pada salamander besar di sana itu ?”
“Tinggalkan saja…” Ucap kak wisnu acuh tak acuh.
“Tapi apa benar tak masalah ?”
“Sepertinya tidak, lagipula sepertinya mustahil untuk membawanya, bahkan dengan sihir temanmu itu, monster itu beratnya sudah bukan kilo, tapi berton-ton.” Lanjut kak Dani sebelum ia menyadari bahwa Audrey menghilang di hadapannya dan tiba-tiba sudah berada di depan monster tersebut.
“Oii.. Audery Apa yang kau lakukan…” Teriak Hendry sembari memanggil Audery dalam kejauhan, tapi dia tak berkata apapun..
Audrey mengacungkan tongkatnya dan Lingkaran sihir tiba-tiba muncul. Berwarna putih terang, membentang mengelilingi salamander raksasa yang tergeletak. Tanah sedikit bergemuruh lalu mayat salamander raksasa itu terhisap kedalam secara perlahan, Lenyap seketika lalu cahaya matahari yang tadinya terhalang mulai terlihat jelas nan silau. Lingkaran sihir menghilang lalu Audrey perlahan mendekat.
“Ap… Apa yang kau lakukan ?” Tanya kak Dani dengan sangat heran, hal yang sama juga terjadi pada rekan satu partynya, namun hal itu tidak lagi terjadi pada Hendry dan Eliana. Mereka berdua hanya mengerutkan dahi dan sudah terbiasa pada hal aneh diluar nalar yang biasa dilakukan Audrey. Ia mendekat lalu menjawab pertanyaan kak Dani.
"Tidak tidak tidak… Siapa juga orang di kota yang mau membeli bagkai itu, Lagipula di kota sendiri aku tidak yakin ada orang yang punya cukup lahan untuk menaruh monster besar seperti ini…"
"Ah begitu… yasudah…"
"Tapi apa tak masalah ?" Tanya Elisa kepada Eliana di sampinya karena ia sendiri masih cukup heran.
"Kupikir tidak, lagipula Audrey sendirian tinggal di hutan, jadi aku rasa tak masalah…"
"Benar-benar tak masuk akal…" Sahut kak Wisnu.
"Yah begitulah…" kata Eliana dengan sedikit senyum yang dipaksakan. Hendry sempat berpikir sejenak lalu ia mengatakannya…
"Ngomong ngomong soal tidak masuk akal… Bukannya setiap kali berburu, Audrey selalu memasukan semuanya tanpa pandang-bulu ?. Entah itu sekumpulan Sapi atau Babi hutan sekaligus."
"Ah.. Benar juga…"
…
Mereka berjalan dan kembali ke tempat mereka berkemah malam kemarin, Tidak langsung kembali ke kota karena sudah sore hari. Mereka semua bersiap berkemah satu malam seperti lalu kembali ke kota esok hari.
Beberapa saat kemudian persiapan dirasa selesai, dan kini tinggal menyiapkan makan malam. Menu kali ini sebenarnya hampir sama dengan kemarin yang membedakan dari dagingnya saja.
Daging yang dipakai adalah daging yang mereka buru tadi, dengan kata lain adalah daging salamander batu yang mereka bawa beberapa. Walau kedengarannya sangat keras, namun sepertinya tidak begitu. Dibalik kulit berbatu yang keras terdapat daging yang sangat lembut. Lebih halus dari daging sapi namun tak juga seperti daging kepiting.
Potongan daging berwarna merah dipanggang diatas api. Walau dengan bumbu sederhana, bau harumnya tersebar kemana-mana. Di Tengah dingin dan gelapnya malam, hal ini benar benar sempurna. Misi selesai, makan bersama, mengakrabkan diri, berkumpul satu sama lain di suatu tempat yang jarang disinggahi benar-benar sesuatu yang istimewa.
*****
Tak terasa satu malam telah berlalu, mereka membereskan tenda lalu kembali ke ibu kota. Menuruni bukit, berjalan sebentar di padang rumput, lalu memasuki hutan dengan tak terasa begitu cepat.
Tak sampai matahari terbenam mereka sudah memasuki kota. Berjalan menuju guild lalu menyelesaikan pekerjaan mereka. Setelah saat itu matahari benar-benar tenggelam, Kedua party berada di depan guild.
Semuanya saling berpamitan, meminta maaf dan berterima kasih, juga berharap suatu saat bisa bekerja bersama kembali. Keempat anggota dari party “kucing hitam” berpisah duluan, berjalan semakin menjauh dibawah sinar kekuningan matahari sore, perlahan menghilang di tengah keramaian, dan diiringi lambaian tangan ketiga orang dari party yang sudah menemani mereka.
Kini tiba saatnya bagi Hendry, Audery, dan Eliana untuk kembali. Berjalan bersama hingga sampai ke dekat gerbang kota di tengah hiruk pikuk yang mulai sirna sembari melakukan pembicaraan ringan diantara ketiganya.
"O iya… Ngomong ngomong kalian sudah tinggal di kota ini cukup lama kan ?"
"Iya… Jawab Hendery dengan kedua kakak beradik itu mengangguk."
"Apa kalian berdua..., tidak ada keinginan pulang gitu ?"
Kedua kakak beradik tersebut saling menatap, awalnya ragu namun akhirnya memantapkan pikiran hingga Eliana menjawab pertanyaan yang diajukan Audrey.
"Emm… Sebenarnya itu… Hal yang kami ingin bicarakan padamu."
"Apa maksud kalian ?"
"Sebenarnya dalam beberapa waktu kedepan kami berencana untuk pulang sementara waktu, tapi kami belum tau kapan… Apa kau… Keberatan ?"
"Mengapa ?, bukannya itu terserah kalian, mana mungkin aku keberatan. Lagipula orang tua kalian pasti khawatir, jadi lebih baik bagi kalian untuk pulang… dalam beberapa waktu sekali…"
Keduanya mengangguk lega tanpa mengetahui apa yang Audrey pikirkan sebenarnya.
"Jadi… bagaimana kalau kau ikut bersama kami, aku yakin mereka akan senang Ucap Hendry dengan semangat, dan juga sepertinya itu membuat Audrey juga demikian."
"Ups… maaf tapi itu sudah urusan lain…"
"Eeeeeehhh…"
Setelah pembicaraan tadi mereka berpisah seperti biasa, kembali lalu beristirahat penuh dari misi yang cukup melelahkan ini…