The Story Of Jammetaria

The Story Of Jammetaria
BAB 33 - Permintaan Pribadi 3



Sudah sejak beberapa generasi berlalu, desa ini masih saja diberi anugerah oleh alam. Sebuah desa atas bukit hijau datar di kaki gunung. Wilayahnya sangat subur, sumber daya alam hingga energi sihir sangat melimpah disini. Penuh kehidupan entah dari Flora, Fauna juga sedikit manusia.


Wilayahnya dilindungi oleh Hutan besar di sekitarnya, dihidupi oleh sumber air yang mengalir dari atas gunung dan tak pernah mengering. Mengalir dari hulu ke hilir hingga membentuk muara besar.


Tanaman padi mudah tumbuh disini, sehingga menjadi mata pencaharian masyarakatnya. Berhektar-hektar ladang dan sawah dibuat di desa ini, tanpa mempengaruhi keseimbangan alam dan kerusakan sekitar. Ditanam sepanjang tahun hingga semua merasakan panen raya 4 kali dalam setahun.


Semuanya bergembira, Masyarakatnya pekerja keras dan pemimpinnya tidak tamak, benar-benar suatu tempat yang ideal sekaligus layak disebut sebagai salah satu pilar pondasi kerajaan ini.


Itulah yang terjadi di desa Bengawansari beberapa dekade ke belakang, namun akhir-akhir ini situasinya berubah. Bukan karena alam yang mengamuk tapi dari sifat buruk manusia yang perlahan muncul dan mulai mengacaukan sekitar.


Entah karena pengaruh penyusup dari luar, atau masalah dalam desa ini sendiri, sifat masyarakatnya perlahan berubah dan membawa lebih dekat desa ini ke dalam kehancuran. lambat laun pun kalau dibiarkan kerajaan juga terkena dampaknya.


Masyarakat yang tadinya semangat bekerja menjadi pemalas, Yang tadinya penyabar menjadi pemarah, Yang tadinya penurut menjadi penuntut walau sebenarnya bangsawan penguasa di wilayah ini sudah bersikap sangat baik.


Apa-apa didemo, entah itu kesengsaraan, rasa penindasan, hingga kelaparan mereka demo tanpa sadar itu ulah mereka sendiri. Pajak sudah diukur secara adil dan sesuai dengan kemampuan mereka, tapi itu belum cukup. Mereka mengumpulkan massa yang tak seberapa, berdiri didepan rumah bangsawan penguasa setempat untuk mengutarakan ketidakpuasan mereka yang cukup memaksa juga sedikit ngawur.


Tidak ada yang bisa dilakukan oleh sang pemimpin, karena bagaimanapun ini kesalahan masyarakatnya sendiri. Karena mereka menjadi pemalas, suka menyalahkan pihak lain, dan tidak mau mengintrospeksi diri sendiri.


Inilah masalah yang melanda desa Bengawansari saat ini, menurut apa yang diceritakan tuan Arganaya sekarang.


“Sekian untuk kali ini, detailnya kita bahas nanti setelah makan malam. Amelia… Tolong antar mereka ke kamar tamu…” Tuan Argananya bangkit dari kursi dan pergi lebih dulu.


“Baik… Segera tuan… Ucap Amelia sembari menunduk hormat kepada tuannya. Ketiganya segera bangkit dari kursi dan mengikuti Amelia hingga ke kamar tamu di lantai dua, sementara seorang pelayan lain membersihkan meja yang digunakan untuk minum teh tadi.


Ketiganya diajak masuk ke suatu kamar, ruangannya sangat luas dan bersih. Beberapa perabotan dan lemari ada di sudut ruangan dengan satu ruangan kecil kamar mandi. 3 buah ranjang tertata disini, sangat rapi dan juga hangat.


“Selamat beristirahat… Kalau butuh sesuatu anda bisa memanggil saya kembali… Permisi…”


Setelah selesai mengatar, Amelia segera pergi untuk melanjutkan pekerjaannya. Meninggalkan Hendry, Audrey, dan Eliana beristirahat sebelum waktu makan malam tiba.


Peralatan yang mereka bawa sudah ditaruh rapi di atas meja, keringat sedikit membasahi tubuh mereka. Ketiganya mandi secara bergantian dan berganti pakaian santai yang cukup kasual namun relatif rapi dan bagus, cukup berbeda dengan apa yang mereka pakai ketika sendiri (Terlebih untuk Hendry dan Audrey).


Setelah selesai mandi mereka bertiga hanya berbaring di kasur atau sesekali keluar sejenak menuju balkon untuk menikmati saat-saat terbenamnya matahari. Melihat hamparan padi luas yang menguning keemasan, terlihat menua dari ujung ke ujung, Memikirkan masalah yang terjadi di desa ini, juga sembari merenung memikirkan ide dan rencana yang mereka siapkan untuk kedepannya.


*****


Waktu makan malam telah tiba. Amelia mengetuk kamar lalu menjemput ketiganya. Hendry, Audrey, dan Eliana segera turun menuju ruang makan. Disana Tuan Arganaya dan istrinya telah menunggu, disebuah meja makan yang cukup panjang dengan hidangan yang sudah didepan mata. Suasana yang bisa dibilang cukup sepi apalagi untuk seorang bangsawan, Hanya ada kedua tuan rumah dan beberapa pelayan yang keluar masuk silih berganti.


Ketiganya segera mengambil kursi, duduk bersebrangan dengan tuan Arganaya dan istrinya. Makan malam dengan tenang dan sedikit berbincang santai pada saat makanan penutup.


Seperti yang dijelaskan tuan Argaraya sendiri, anak-satu satunya sedang belajar di kota lain sementara anggota keluarga lain tengah melakukan urusan bisnis di luar kota, itulah alasan mengapa kediaman ini sedikit terasa sepi walaupun sedikit banyak penjaga dan pelayan yang melayani keluarga ini.


Sesekali mereka menceritakan alasan mengapa dipilihnya mereka untuk menjalankan misi khusus ini, Selain karena petualang yang mencoba sebelumnya telah gagal juga karena beberapa waktu sebelum masalah ini terjadi, tuan Arganaya sempat melihat mereka berhasil melumpuhkan penjahat di kota Anggresia. Sehingga ia terpikir untuk mengudang mereka dan mencoba mengatasi masalah ini, siapa tau berhasil diselesaikan.


Sesendok terakhir dari makanan penutup yang mereka makan telah habis, Piring yang menumpuk di meja mulai dibereskan. Berbincang santai telah usai, sekarang tiba waktunya membahas masalah utamanya.


Istri tuan Arganaya bangkit dari kursi dan segera meninggalkan ruang makan. Setelah membereskan bekas hidangan, para pelayan juga segera keluar dan menutup pintunya rapat-rapat. Sekarang hanya Hendry, Audrey, Eliana serta tuan Arganaya sendiri yang tersisa di ruangan itu.


Mereka semua mulai membahas masalah yang terjadi sampai mendetail, Berusaha mencari petunjuk dari akar masalah yang melanda. Semuanya berpikir dengan keras dan memutar otak, berusaha mencari rencana yang cocok untuk mengatasi masalah ini.


Perlahan hari semakin malam, cahaya bulan masuk melalui celah-celah jendela. Mereka semua belum memiliki jawaban pasti untuk mengatasi masalah ini, namun disisi lain misi harus tetap terlaksana esok hari, maka dipastikan lah mulai besok mereka akan mencari informasi.


Dengan cara menyusup tanpa diketahui. Sebagai pendatang dari luar yang tak terlibat apapun dengan bangsawan penguasa di wilayah ini. Sebagai petualang pemula berperingkat C yang tak sengaja mampir, diam-diam mengumpulkan informasi, diam-diam mencari akar masalahnya dan bila perlu… diam-diam menangkap orang yang menjadi penyebab segalanya.


Entah itu cuma 1 hari ataupun beberapa minggu, Hendry, Audrey dan Eliana berjanji akan mencoba mengatasi masalah ini sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan mereka.


Tak terasa berjam-jam lamanya mereka lalui dalam diskusi ini, Hari menjadi semakin gelap, Semua penerangan di desa dan rumah ini perlahan padam. Pembicaraan panjang segera diakhiri dan mereka semua yang terlibat disini segera pergi menuju kamar, terlebih untuk Audrey dan kedua rekannya.


Mereka pergi ke kamar tamu di lantai 2 untuk beristirahat dan bangun pagi-pagi, untuk memulai misi seperti yang disebutkan tadi di keesokan hari…