
Matahari sudah terbit beberapa saat yang lalu dan mereka bertiga sudah selesai bersiap siap. Kantung tidur yang mereka gunakan tadi malam sudah dirapikan dan masuk kedalam sihir penyimpanan, dan kini tiba saatnya bagi mereka berangkat. Sama seperti halnya Rio dan Anna yang akan berangkat ke kota pagi ini, mereka berdua berniat akan sekalian mengantar hingga kegerbang utama.
Pintu sudah dibuka dan mereka bertiga bersiap keluar rumah namun sesuatu yang tak mereka duga terjadi. Sebagian besar warga berkumpul di depan rumah Rio. Mereka menunggu dengan sabar dan ketika pintu dibuka mereka langsung mundur dan membungkuk. Salah seorang perwakilan diantara mereka mengungkapkan rasa terimakasih yang sudah dipendam terhadap Audrey dan kedua-rekannya, bahkan sebelum ia mengenalkan diri atau menyebutkan nama.
“Te… Terima Kasih banyak Nona… Kalian bertiga yang masih sangat muda telah menyelamatkan kami semua…” Ucap mereka secara serentak lalu dilanjutkan salah seorang perwakilan.
hahaepp… eppp eppp….
“Ah iya… sama sama, tak perlu seperti itu haha, lagipula kami bertiga masih petualang pemula. Kami hanya melakukan hal yang menjadi tugas kami haha…” Ucap Eliana dengan senyum yang sangat ramah walaupun saat ini kedua tangannya sibuk menutup mulut Audrey. Hal yang sama juga terjadi pada Hendry, walaupun mukanya tak terlihat peduli tangannya tetap mengunci Audrey hingga ia sedikit menjadi lebih tenang.
“Ta tapi… berkat kalian lah masalah utama sejak bertahun tahun disini terselesaikan… Kami sangat bersyukur bisa bertemu orang seperti kalian… Pokoknya terima kasih banyak…”
“Iya sama-sama… haha…” Ucap Eliana dengan ramah dan sedikit tertawa kecil karena saat ini ia masih mencoba menenangkan Audrey.
Setelah Audrey tenang dan basa basi singkat dengan warga disini selesai, mereka semua mulai berangkat, memang sedikit lebih terlambat dari apa yang diharapkan namun itu tak menjadi masalah, karena mereka masih bisa sampai di ibukota sebelum sore hari. Semua warga sudah kembali, sementara mereka berlima meneruskan perjalanan hingga ke kota.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di dekat gerbang utama kota, dan kini tiba saatnya untuk Hendry, Audrey dan Eliana untuk berpisah dengan Rio dan Anna.
“Terimakasih kak sudah mampir… sudah mengajari kami sesuatu yang berharga. Kapanpun kakak berada di kota ini, jangan sungkan untuk mampir…”
“Baik… terima kasih banyak, Jaga diri kalian baik baik… Semoga suatu saat kita bisa bertemu kembali. Selamat tinggal…”
Ketiganya mulai terbang dan meninggalkan mereka berdua di gerbang utama kota ini. Rio dan Anna melambaikan tangan sebagai salam perpisahan mereka. Suasana semakin terasa hangat di padang rumput yang terbentang di sekitaran kota Angresia, angin berhembus pelan sementara rerumputan terus berkibas.
Perjalanan pulang ini tidak terburu-buru namun terasa lebih singkat, dalam sekejap padang rumput mulai tertinggal digantikan oleh lebatnya pohon yang tumbuh di dalam hutan. Lautan daun terhampar luas yang menandakan tujuan mereka sudah dekat. Sebuah ibukota tersembunyi di dalam hutan, sebuah tempat yang menjadi tempat tinggal ketiganya saat ini, terlihat di depan mata.
Tak mau membuang waktu ketiganya segera masuk dan berniat langsung melaporkannya ke guild. Saat ini sudah tengah hari dimana hari ini ramai seperti biasanya. Ketiganya berjalan menuju guild dan langsung masuk, menyapa beberapa orang yang mereka kenal dan langsung menuju resepsionis dan berniat langsung melaporkan hasilnya.
“Anu… Maaf, kepala guild sedang ada urusan, jadi mohon tunggu sebentar…” Ucap petugas guild dengan perasaan tidak enak.
“Apa… Kalau tau begini hasilnya mungkin kami tidak akan berangkat sepagi itu.” Ucap Hendry dengan Kecewa dan Audrey juga merasa hal yang sama.
“Sudahlah apa boleh buat, sebaiknya kita tunggu saja…” Ucap Eliana
Ketiganya menunggu dengan sabar di guild ini, seraya memesan makanan, mereka makan siang. Setelah selesai makan, mereka bertiga terus menunggu di sebuah meja di dekat jendela. Bergelas-gelas minuman dan makanan ringan sudah mereka habiskan namun tak kunjung ada kabar bahwa kepala guild sudah selesai dengan urusannya. Mereka hanya menghabiskan waktu dengan mengobrol sesuatu yang tidak penting dan tekadang membicarakan tentang kepulangan Hendry dan Eliana ke kampung halamannya esok hari.
Menunggu dengan bosan hingga tak terasa sinar matahari mulai masuk melalui kaca jendela kaca, hari semakin beranjak sore begitu pula dengan cahaya di sekitar yang kian menguning. Suasana yang sebelumnya sepi pun mulai berubah, beberapa petualang mulai masuk ke dalam guild setelah kembali dari menyelesaikan pekerjaan mereka.
Akhirnya sesuatu yang telah mereka tunggu tiba, petugas guild datang menghampiri mereka lalu menyuruh ketiganya naik ke lantai 2 untuk menemui kepala guild. Mereka melakukan apa yang diperintahkan lalu melaporkan misi ini seperti biasa hingga tak terasa 1 hari telah berlalu.
*****
Hari ini Audrey berniat untuk berdagang, untuk itulah kenapa sapu terbang berisi gerobak miliknya sudah terparkir disini. Namun dibalik itu semua sebenarnya masih ada satu alasan lain kenapa sepagi ini Audrey sudah berdiri dan menunggu di gerbang kota sepagi ini. Beberapa saat kemudian Hendry dan Eliana mulai terlihat dan mendekat ke arah Audrey.
“Kalian jadi pergi hari ini ?”
“Iya, sudah terlalu lama kami tidak pulang kerumah, jadi aku rasa ini waktu yang tepat… Selama ini kami juga sudah mengirim uang juga surat, namun kurasa itu belum cukup…” Ucap Eliana.
“Begitu ya… Kalau begitu… Berhati-hatilah…”
“Baik…” Ucap keduanya.
“O iya… Ini ambillah sebagai oleh-oleh, sampaikan salamku kepada orang tua kalian…” Ucap Audrey sembari menyerahkan bingkisan terhadap Eliana, tidak diketahui dengan jelas apa isinya namun diperkirakan ini merupakan bakso khas buatan tangannya.
“Pasti akan kusampaikan… terima kasih banyak…”
“Iya, Sama sama… Kalian berdua akan kembali lagi kan ?”
“Pasti, Petualangan kita masih belum berakhir… Karena sejauh ini kita masih berada di peringkat C ingat… dan itu hanya langkah kecil bagiku untuk menjadi seorang ksatria kerajaan.” Ucap Hendry dengan tersenyum sambil berusaha menghibur Audrey yang sebentar lagi akan mereka tinggalkan.
“Entah itu cuma beberapa minggu atau sampai beberapa bulan kami berjanji akan kembali… Baiklah kalau begitu Selamat tinggal Audrey…”
“Iya selamat tinggal, Semoga kita bisa bertemu lagi…”
“Pasti... suatu saat nanti…”
Hendry dan Eliana pergi menjauh meninggalkan ibu kota, masuk ke jalan utama di kedalaman hutan dan bersiap untuk perjalanan panjang menuju kampung halaman mereka. Audrey juga sama, ia segera berangkat menuju alun-alun tenggara ibu kota, tepatnya biasa berjualan, lalu ia bersiap memulai hari-hari biasa seperti sebelumnya.
Diiringi gemerlapnya sinar mentari pagi mereka terus berjalan menuju masa depan. Diantara guguran daun yang tertiup angin, mereka terus melangkah. Tak peduli berapa kali pertemuan dan perpisahan yang mereka lalui, mereka selalu bersama. Entah seperti apa lagi rintangan yang menghadang, akan mereka hadapi.
Perpisahan ini hanyalah sementara waktu, karena petualangan yang sesungguhnya, baru akan dimulai beberapa saat dari sekarang…
*****
[ PENGUMUMAN ]
Untuk siapapun yang membaca tulisan ini, terimakasih sudah membaca cerita buatan saya. Maaf apabila ceritanya masih dianggap jelek, membosankan, bertele-tele, juga masih ada penulisan yang salah, tapi yang pasti penulis sudah berusaha semaksimal mungkin… hehe…
Maaf kalau terkadang updatenya lama, karena penulis masih pemula dan masih banyak kesibukan lain di dunia nyata. Untuk berikutnya maaf, penulis akan Hiatus sampai waktu yang tidak ditenukan, karena awalnya sekedar "iseng nulis" dan akhirnya sekarang sibuk dan binggung mau lanjutin...