The Story Of Jammetaria

The Story Of Jammetaria
BAB 26 - Pandai Besi Pak Yanto 4



Hari ketiga sudah dimulai, pekerjaan dilakukan seperti sebelumnya, dentuman keras dari besi yang dipukul terdengar, asap mengepul dari bagian belakang juga bau keringat yang memenuhi ruangan. Ketiganya melakukan pekerjaan masing-masing dengan keras juga dengan caranya sendiri. Mereka tidak terlalu memperdulikan sesama, lagipula apa yang harus dilakukan sudah dijelaskan di hari-hari sebelumnya.


Waktu terasa lambat di sini, di antara kobaran api dan bijih besi yang dibakar, meski begitu mereka tetap melakukannya dengan semangat dengan motivasi yaitu…


Agar semua ini cepat selesai


Menempa menempa menempa dan terus menempa, itulah yang dilakukan Hendry Audrey dan pak Yanto hari ini. Akhirnya 20an batang besi yang selesai ditempa dan sudah siap di sore hari.


*****


Memasuki hari ke empat


Ding… Ding… Ding… Ding...


Suara logam dan palu masih terdengar, namun tak separah kemarin. Satu persatu material yang ada dibengkokkan, di isi bahan lain lalu ditempa untuk yang terakhir kali.


Berbentuk tipis panjang menular yang masih kasar, lalu mengulanginya kepada semua batang besi yang ada di sini.


Tak terasa tengah hari telah terjadi, dan semua ini selesai. Tungku dan bara api sudah dimatikan sementara Hendry dan beristirahat sekejap. Rasa lelah sedikit terobati karena semua tugas di misi ini sudah hampir selesai dan tinggal satu langkah terakhir.


Keduanya beristirahat di teras halaman belakang, memandang langit dan membayangkan bahwa menjadi pandai besi merupakan hal yang tidak mudah.


Istirahat telah usai sehingga mereka berdua kembali kedalam untuk tugas terakhir. Mereka semua mengamplas dan menghaluskan masing-masing bilah kasar pada batu asahan tepat didepan mereka.


Mengasah dengan semangat dan berusaha untuk membuat bilah yang kuat, tipis, dan mengkilap walau seringkali tangan memar dan lecet. Setelash itui tinggal diberi gagang dan sarung pedang, Saat di sore hari ke 4, semua ini sudah selesai, 60 pedang sihir yang disebut Keris berhasil dibuat. Karena hari sudah terlalu sore, persiapan pengemasan dan pengiriman akan dilakukan esok.


Keesokan harinya atau hari terakhir, semuanya termasuk Eliana dan Yanti mulai mempersiapkan dan mengemas 50 pedang untuk dikirim beberapa hari ke depan, sementara sisanya diletakkan di rak-rak toko.


"Wah… Terima Kasih semuanya, Akhirnya pesanan ini bisa selesai…" Ucap pak Yanto terhadap Hendry, Audrey, dan Eliana.


"Ah… Bukan seberapa…" lanjut Eliana dan dibalas oleh adiknya…


"Kau Tak berhak mengatakan itu !!!"


"HAH… Apa maksudmu..?"


"Tentu saja lAh ^&%&&^*(****^ $8JHG YFUK 65%67 (@@@^&:> ”*&900)&()..."


"&%*&79*(%&%*...798-^&*^*&42@@6>”>>;:”>..."


Keributan kecil kembali terjadi namun hal itu tak ditangapi Audrey sama sekali, Yanti dan pak Yanto juga tak peduli terhadap kedua kakak beradik ini. Semetara ketika mereka berdua ribut kecil Audrey lanjut berbincang dengan pak Yanto.


"Sama-sama paman… Tapi… Adakah hal lain yang bisa kami bantu ?"


"Tidak, Sebenarnya pekerjaan kali ini sudah selesai… Kalian sudah bisa ke kembali kalau mau, atau kalian mau ikut denganku ?"


"Ikut ?" Jawab Audrey, Hendry dan Eliana yang kini langsung berhenti ketika mendengar kata itu.


"Ikut gimana maksud paman ? Tanya Hendry


"Ikutlah denganku untuk melakukan pengujian… Wahahahaaa…"


"Kita akan menguji beberapa senjata dan baju Zirah yang sudah kubuat Wahahaaa…" Jawab pak Yanto dengan semangat seolah memikirkan suatu rencana.


"KAMI IKUT…" Teriak hendry dengan mengangkat tangannya, lalu dengan wajah semangat menoleh ke arah rekannya.


"Kalian setuju kan ?"


"Ba..baiklah lagipula pekerjaan kita sudah selesai, dan lagi kita juga bisa menambah pengalaman kan…" Balas Eliana dengan masih malu malu dan memendam kekesalan terhadap adiknya


"Aku tidak bicara padamu…"


"Heeeh.. ek…" Wajah Eliana semakin gelap, suasana hatinya memburuk lalu tangannya tidak bisa tenang tapi ia masih mencoba menahan amarahnya hingga sampai saat yang tepat. Sementara itu Audrey menjawab dengan ragu-ragu karena saat ini Eliana tepat berada di sampingnya.


"Emm… Aku sih setuju-setuju aja…"


"Yosh… Sekarang kita mulai… Ucap hendry dengan semangat."


Sesaat kemudian Keempat orang itu mulai menuju halaman belakang di luar untuk melakukan pengujian, meninggalkan Yanti di depan untuk menjaga toko. Yanti tentunya tidak merasa kesepian atau ditinggalkan lagipula sebenarnya ia enggan dengan hal ini. Ia sudah sering melihatnya, jadi ia tak peduli. Beberapa saat yang lalu Yanti sempat membisikkan sepatah kata kepada Hendry agar berhati-hati namun tak dipedulikannya.


Mereka membantu persiapan dan mengeluarkan senjata dan zirah yang mau di uji, Sekitar beberapa menit kemudian semuanya sudah berada di halaman belakang. Saat ini belum terlalu siang tapi tak bisa juga disebut pagi, karena ternyata pengemasan 50 pedang tadi hanya berlangsung sebentar,


Suasananya juga tidak terlalu panas karena sedikit mendung, tapi belum ada tanda tanda akan terjadi hujan dalam waktu dekat. Angin di sini sepoi sepoi, dengan dedaunan pohon di luar pagar yang berikibas terkena angin, namun disitulah suatu hal yang tak pernah dipikirkan Hendry terjadi….


Ditengah halaman luas, Sebuah batang pohon besar tertancap ke tanah. Seorang berbaju besi tebal di ikat ke batang itu dengan tidak adanya celah untuk meloloskan diri, dan orang yang dimaskud dalam zirah tersebut adalah Hendry.


"Tu tunggu… Kenapa bisa jadi seperti ini ?"


"Paman Kau bercanda kan ?, kau pasti bercanda kan ?, Tolong lepaskan aku dari sini…"


"kau tentu saja bercanda…"


"Ok… Mulai." Ucap pak Yanto di pojokan dengan langsung memotong dan tak memperdulikan perkataan Hendry.


"kan ?"


Serangan angin bertubi-tubi keluar dari tongkat sihir Eliana, Serangannya terus menghantam dan menghempas baju besi tebal yang dipakai Hendry, namun ia tak bergerak sama sekali karena sudah di ikat. Tidak ada serangan yang berhasil menembus baju zirah itu, namun tetap saja itu membuat Hendry ketakutan dan memohon ampun, sementara kakaknya semakin gembira untuk menyerang lagi, lagi, dan lagi.


"Apa kau Yakin dengan hal ini paman ?" Tanya Audrey


"Tentu wahahaha… Aku tau kualitas baju zirah yang kubuat jadi tenang saja…"


"Lagipula yang itu sudah di uji sebelumnya, jadi tenang saja."


"Ah… baik…"


Sekitar setengah jam kemudian serangan Eliana berhenti karena ia kelelahan dan kehabisan energi sihir, ia beristirahat namun ia sangat puas dan bahagia, karena belum pernah yang mencoba seperti ini sebelumnya. Hendry yang masih terikat dalam baju zirah hampir pingsan karena tekanan batin yang diterimanya, namun sekarang ia bisa sedikit lega karena kakaknya sudah kelelahan dan tak mampu menyerang lagi.


"Gimana nak kau mau mencoba ?"


"Tidak Audrey… kumohon jangan… Kau akan kehilangan rasa kemanusiaan jika mencobanya !!!" Triak Hendry dengan panik dan berusaha membujuk Audrey.


"Ah… Tidak usah paman…"


"Begitu ya… kalau begitu tolong lepaskan dia."


"Baik…"


Beberapa saat kemudian Hendry dilepaskan, Kakinya masih saja gemetaran, namun ia tetap berusaha berjalan. Kali ini Hendry memilih untuk memaafkan kakaknya saja, lagipula dia takut kalau sewaktu waktu kemarahannya tambah parah.


Sementara Audrey sedang menuntun Hendry yang gemetaran ke pinggir, pak Yanto meletakkan beberapa baju Zirah lain yang kelihatannya masih berjejer di depan batang kayu itu. Setelah Audrey mengistirahatkan Hendry, pak Yanto memanggilnya.


"Oi nak Audrey coba kau serang baju zirah ini dengan sihir milikmu…"


*Eh… Aku…? Tapi paman gimana kalau zirah ini rusak, aku terkadang tak terlalu bisa mengendalikan sihir soalnya…"


"Lagi pula ini juga kelihatannya juga baju Zirah mahal."


"Wahahahaaa… lakukanlah, tak perlu menahan diri. Tujuan dibuatnya baju Zirah adalah untuk melindungi pemakainya, bukan cuma sekedar gaya-gayaan…"


"Kalaupun hancur ini bukan salahmu, Ini adalah kesalahanku yang berarti aku yang sudah tua ini masih harus banyak belajar…"


"Baik paman… akan kulakukan."


Audrey bersiap menyerang, ia menggunakan tongkat sihirnya seperti biasa lalu menyerang satu persatu baju zirah yang ada menggunakan sihir es dan api. Sihir yang digunakan Audrey cukup kuat namun ia masih menahan kekuatannya hingga batas normal.


Beberapa baju zirah yang ada tapak mulus, hanya sedikit yang penyok, lecet, dan sedikit berlubang namun tak ada satupun yang hancur sepenuhnya. Hal ini membuktikan bahwa kualitas baju zirah yang dibuat pak Yanto cukup bagus.


Ketiga Audrey sedang asik menyerang Hendry dan Eliana mulai kembali normal, Eliana sudah bugar dari lelahnya dan Hendry sudah bangkit dari ketakutan, namun suasana hati keduanya sangat bertolak belakang. Sang kakak berbahagia dan penuh senyum sementara adiknya kini kusam dan sedikit murung, walau keduanya saat ini berdiri berdekatan di tempat yang sama.


Setelah saat itu, Eliana melakukan pengujian lain seperti yang disebutkan pak Yanto sementara Hendry disuruhnya membantu menguji pedang dan senjata lainnya.


Hendry dan pak Yanto bertarung satu lawan satu menggunakan pedang yang dibuat, untuk menguji seberapa lama atau kuat dapat bertahan dalam pertempuran. Awalnya Hendry sedikit lesu namun lama kelamaan ia menjadi bersemangat.


Mereka berdua terus saja bertarung sampai beberapa kali berganti senjata, entah itu pedang kecil atau besar, tombak, belati dll. Keduanya tetap bertarung dengan serius tapi tidak dengan niat melukai musuh melainkan hanya saling membenturkan senjata yang ada sehingga diketahui jelas, apa kelebihan dan kekurangan senjata yang dibuat.


Tugas Audrey dan Eliana sudah selesai, tapi pertarungan keduanya masih belum berakhir. Mereka berdua semakin menggila dan bersemangat walau waktu sudah berjalan sekian lama. Awan mendung sudah mulai memudar dan sinar matahari kembali datang, walau cahaya kekuning-kuningan.


Waktu semakin menunjukkan sore hari dan pertarungan keduanya mulai mereda dan berhenti sepenuhnya. Kini tiba bagi mereka bertiga untuk berisap berpamitan di hari terakhir mereka di sini.


Mereka semua sudah berada di depan toko, pak Yanto sangat berterimakasih kepada ketiganya dan juga memberikan kembali kertas permintaan yang sudah diberi cap dan tanda tangan itu sebagai tanda bahwa misi berhasil diselesaikan.


Ketiganya juga mengucapkan salam perpisahan, terimakasih, juga permintaan maaf apabila terjadi kesalahan selama 5 hari mereka di sini.


Sebelum mereka berpisah, pak Yanto memberi Hendry salah satu pedang sihir yang mereka kemarin. Awalnya ia merasa kurang enak tapi karena desakan Yanti dan pak Yanto ia menerimanya. Walaupun harganya tak mahal namun juga tak bisa disebut murah, pedang itu menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi Hendry mulai sekarang. Karena pedang ini berasal dari jerih payah dan keringatnya sendiri.


Mereka bertiga mulai berjalan menjauh, meninggalkan pak Yanto dan putrinya di depan pintu toko miliknya sendiri. Berjalan ditengah sinar terang matahari sore menuju guild dan segera menyelesaikan urusan mereka.


Lalu disaat-saat berikutnya, mereka akan kembali lagi ke toko pandai besi ini, hanya sebatas sebagai pelanggan...