
Salamander raksasa muncul di hadapan mereka, bersiap mengamuk juga menyerang. Semuanya panik, tak menyangka hal seperti ini akan terjadi.
Mereka semua menyerang seperlunya dan berupa untuk kabur, namun hal itu sia-sia. Setiap kali mencoba kabur, entah itu barbar atau sembunyi-sembunyi, Salamander besar itu akan langsung mengetahui dan mencegah, seolah-olah tingkat kecerdasan yang dimiliki lebih tinggi daripada puluhan Salamander kecil yang mereka bunuh.
Kalau sudah seperti ini artinya tidak ada cara lain, mereka harus menyerang sekuat tenaga agar bisa kabur, tak perlu sampai raksasa salamander batu itu terbunuh, yang terpenting bagi mereka adalah mencari celah agar bisa kabur dan mengambil beberapa mayat yang ada sebagai syarat menyelesaikan misi.
Keduanya party sudah pada posisi masing-masing, dan bersiap menyerang dengan formasi nya masing-masing. Salamander besar terkepung dari segala sisi, meski begitu dia bisa lolos dengan mudah mengingat seberapa besar ukuran badannya.
Kak Wisnu dan Dani mencoba menyerang, tapi tombak dan pedang yang mereka gunakan tak membuat goresan sedikitpun. Lalu yang lebih parah malah mereka berdua yang terkena efek serangan kejut sesaat, karena listrik statis super kuat yang mengalir di badan ber batunya.
Elisa dan Lia juga mencoba menyerang tapi hasilnya sama saja, anak panah dan sihir yang ditembakkan terpantul begitu saja dari kulit Salamander itu. Tak kehabisan akal Lia menggunakan sihir tanah yang dimiliki untuk mencengkram keempat kaki Salamander itu.
Sihir itu sedikit berhasil walau tak menahan sepenuhnya, listrik statis yang ada pada tubuhnya perlahan mengalir ke tanah, tapi hal itu juga menyebabkan sesuatu yang jauh lebih buruk. Salamander yang tadinya cukup tenang kembali memberontak, ekor besar nya diarahkan secara langsung ke arah Lia dan hampir menghantamnya.
"Kak Lia !!!"
Woorzhhhh...
Mengetahui hal itu Eliana langsung berlari ke hadapannya dengan cepat seperti angin, meraih tubuhnya dan menariknya ke tempat lain. Telat satu detik saja mungkin nyawanya tak terselamatkan.
Eliana tadi memakai peralatan yang sudah sangat lama tak digunakannya, sepasang sepatu sihir bersayap yang bisa membuat penggunanya bergerak dengan sangat cepat, walau biasanya cuma dipakai untuk terbang.
Boom!!!...
Suara ledakan api terdengar dahsyat, menghantam sisi lain Salamander batu raksasa, berlawanan dengan arah Eliana dan semua anggota party "kucing hitam" disini.
Rupanya hal itu merupakan serangan sihir api milik Audrey yang hanya digunakannya dalam kondisi tertentu, sebagai contoh seperti saat ini. Alasan utamanya karena sihir air dan es tidak akan mempan, terlebih lagi tubuh salamander itu masih dialiri listrik statis. Alasan lainnya karena area ini berbatu, tidak banyak pohon, dan tidak ada yang tinggal disini, jadi ketika terjadi kebakaran ia tak terlalu repot untuk memadamkannya.
"Hendry tak usah menahan diri lagi… kau boleh menggunakan itu…" Teriak Eliana setelah menyelamatkan kak Lia. Mata Audrey dan Eliana menatap kearah Hendry sementara semua anggota party kucing hitam tampak bingung.
"Ok… Siap kakak!!!" Hendry mengambil perisai kuda besi di punggungnya. Menaikinya seperti biasa lalu kekuatan sihir meluap-luap dari tubuhnya.
Baiklah sepertinya aku harus menggunakan ini, lagipula serangan normal seperti tadi juga tak berguna sama sekali…
Ucap Eliana dalam hati dan kini tengah menatap 2 buah belati panjang, mengkilap dan super tajam, juga sudah lama sekali tak digunakan bahkan dari sebelum ia menjadi petualang.
Kedua kakak beradik itu mulai menyerang, Hendry menantang nya langsung dari depan seperti orang gila, berusaha untuk menyerang dan menghindari serangan dengan keadaannya yang semakin menipis.
Eliana menyerang jarak dekat dengan super cepat, membabi buta seperti angin, dengan perpaduan sepatu sihir dan belati yang ada pada kedua tangannya ia berusaha mencari celah.
Ia berusaha menyerang bagian tubuhnya yang lunak, walau terkadang terbentur batu yang ada di kulit salamander tersebut hingga bilah belatinya memercikkan api.
Walaupun bersentuhan langsung, ia tak terkena efek listrik statis karena gagang belati yang dipegangnya tidak terbuat dari logam dan lagi ia hanya mendarat beberapa detik setelah melancarkan serangan. Melihat kedua temannya yang seserius ini Audrey menjadi sedikit bersemangat.
Karena kalian seserius itu, kurasa aku harus juga. Ucap Audrey dalam hati, menunduk sejenak sambil memejamkan mata, sesaat kemudian ia mengangkat kepalanya dan menatap monster itu dengan tajam, dengan mata ungunya yang tampak bersinar di bawah bayang-bayang topi.
Ketiganya mulai menyerang Salamander besar itu secara bertubi-tubi. Perlahan memberi kerusakan namun dampaknya tak seberapa. Salamander batu itu masih dapat bertahan ditengah gempuran Goresan dan Ledakan yang ada. Ia bertahan dan menyerang secara bersamaan, hal yang sama juga terjadi pada mereka bertiga. Pertempuran berlangsung sengit dengan tidak adanya tanda-tanda kekalahan dari kedua belah pihak, membuat siapa saja yang menonton berpikir serupa.
Apa benar mereka ini pemula ?
Ketiganya menyerang dan terus menyerang, tapi monster itu masih bertahan hingga sekarang dan tak ada tanda-tanda berhenti. Ketiganya berfikir dan berusaha mencari celah, mencari kelemahan dari salamander raksasa itu.
Sebagai senior, mereka berempat tidak bisa hanya berdiam diri sembari menonton adik-adik mereka bersusah payah sendirian. Semuanya berusaha menyerang walau dampaknya tak seberapa, gerakannya lambat juga akurasinya kurang tepat. Walau begitu, secara tak sengaja kak Elisa menemukan celahnya..
“Itu kepalanya… Serang mata dan mulutnya!!!…” Teriak kak Elisa memberi instruksi kepada semua yang ada disini. Pikirnya, sekuat apapun makhluk hidup kalau kepalanya yang menjadi target, cepat atau lambat dia akan mati.
Lia mengerahkan segala kemampuannya, tanah dan batu disekitar mulai bergemuruh lalu perlahan terangkat. Serpihan-serpihan kecil mengapung di udara, hampir menyatu dan membentuk 2 buah batu besar lancip seperti pensil melayang di udara.
Audrey dan Eliana menyadari hal ini lalu membantu kak Lia. Ia mendekat, memancarkan sihir air hingga semua tanah dan batu di udara basah lalu membakarnya dengan sihir api. Tanah dan batu yang tadinya belum terlalu menyatu menjadi lunak terkena air dan mengeras terbakar api, hingga sekeras dinding bata.
Mereka semua yang menyerang jarak dekat berupaya membuat kepala Salamander itu berpaling. Monster itu menghadap ke arah batu besar lalu serangan utama dimulai…
Kak Lia melepaskan sihirnya, kedua batu itu terdorong ke depan. Eliana yang berada disini juga membantunya, dengan sihir angin sebagai pendorong kedua batu itu. Kedua batu raksasa melesat ke depan dengan kecepatan tinggi, menusuk tajam dan menyumbat kedua lubang hidung salamander itu.
Dia sedikit terjungkal ke belakang, namun akhirnya kembali ke posisi semula. Berusaha menggeleng-gelengkan kepala tapi batu yang menancap kuat di hidungnya tak mau terlepas. Karena tak ada pilihan lain akhirnya monster itu membuka mulut lebar-lebar dan berusaha bernafas.
Ketika mulut besarnya terbuka Audrey terbang di depannya, berdiri di atas sapu sihir dengan mengacungkan tongkatnya. Kristal sihir sudah berwarna merah dan hal yang diperkirakan akan terjadi.
Swoorhhhhhhhh……
Api menyembur dengan ganas, keluar dari kristal yang ada di tongkat sihir Audrey. Masuk kedalam mulut dan membakar semuanya. Api keluar dengan sangat banyak. Mulut, kerongkongan, tenggorokan bahkan isi perut salamander tersebut terbakar lalu ia terjatuh. Asap keluar dari sela-sela kulit dan punggung berbatu, Telinga atau bahkan kedua lubang di bagian belakang tubuhnya.
Salamander kecil yang masih hidup menghilang entah kemana sementara salamander raksasa sudah tergeletak. Kedua matanya sudah tertutup, tubuhnya masih terasa panas, dan sepertinya ia sudah benar-benar kalah kali ini. Audrey sudah kembali ke kondisi normal nya, sementara Eliana juga sudah menyimpan kedua belati yang dimilikinya.
Tugas mereka sudah hampir selesai, hanya perlu menyadarkan Hendry, Memilah mana yang akan dibawa pulang, berkemah lagi untuk malam ini lalu pulang ke kota di esok hari…