
Hari baru telah dimulai, Hendry, Audrey dan Eliana sudah berkumpul pagi ini. Tidak masuk ke guild namun langsung menuju tempat mereka magang, ke tempat pak Yanto.
Tak berapa lama kemudian mereka bertiga sudah sampai di toko, masuk seperti kemarin dan langsung menuju bagiannya masing-masing. Eliana bisa sedikit santai mengurus bagian depan sementara Hendry dan Audrey harus bersiap menempa besi lagi bersama pak Yanto dibelakang.
Keduanya sudah masuk ke belakang, di sini pak Yanto sudah sedikit mulai dari awal. Mereka menyapa sudah datang dan pak Yanto mulai mendekati mereka, lalu mereka menanyakan apa yang harus dilakukan kali ini.
"Jadi paman apa yang dilakukan kali ini ?" Tanya Hendry dengan semangat.
"Baiklah… Kali ini kita akan menempa lagi…"
Hendry dan Audrey sedikit merosot kecewa, mereka kira kerja keras kemarin sudah selesai, dan lanjut ke tahap berikutnya tapi ternyata masih harus menempa lagi?
"Tapi paman bukankah kemarin, untuk setiap potongan sudah ditempa banyak sekali ?" Tanya Audrey
"Aku belum selesai bilang, Lebih tepatnya ini penempaan terakhir."
Hendry dan Audrey mulai bangkit dari kecewa setelah mendengar dari apa yang dikatakan paman. Lalu dengan semangat Hendry bertanya...
"Lalu sekarang kita harus gimana paman ?"
"Yosh… Semangat yang bagus. Ikut lah denganku akan kutunjukkan…"
Pak Yanto mengajak kedua orang itu ke Paron yang digunakannya, lalu menunjukkan bagaimana cara nya. Mulanya ia menyiapkan material kemarin, berupa campuran bijih besi dan batu sihir yang sekarang sudah membentuk logam besi yang keras, berbentuk balok yang cukup panjang dan tebal juga bisa digenggam dengan satu tangan.
Mulanya pak Yanto membakarnya sampai menyala, berwarna merah dan mudah ditempa. Besi panas itu dibentuk dan ditekuk seperti huruf ‘V’ yang ujungnya sedikit menyempit, tapi tidak menyatu sepenuhnya. Setelah itu potongan logam itu dimasukkan kedalam air agar cepat mendingin.
Uap keluar dengan cepat ketika besi itu diceburkan, namun secara perlahan nyala api pada besi mulai padam dan suhunya mulai mendingin hingga batas wajar setidaknya tidak membuat kulit terluka ketika menyentuhnya.
Pak Yanto mengambil potongan besi berbentuk ‘V’ itu dan kedua bahan lain yang dipersiapkan kemarin. Ia memasukan 2 lempeng baja dan sebuah tulang tipis kedalam batang besi tadi, membakarnya sampai kemerahan, lalu menempanya kembali hingga benar-benar tipis.
Palu yang tadi ditaruh mulai digunakan, besi yang tadinya keras sedikit lunak dan mulai membungkus dua jenis bahan yang disematkan di dalamnya. Percikan api menyembur keluar seperti biasa bersamaan dengan ritme palu yang dipukul, sebagian mengenai sekitarnya termasuk kulit dan kaos yang dipakai pak Yanto walau dampaknya tak seberapa.
Besi yang tadinya tumpul menjadi tajam, tipis dan kuat hingga terlihat tampak seperti bilah pedang pada umumnya. Namun hal itu belum selesai, sebilah pedang besi itu harus dibengkok-bengkokkan seperti ular selagi masih panas karena ini merupakan ciri dasarnya. Setelah selesai bilah itu sudah tampak seperti keris namun masih sedikit kasar.
“Jadi seperti ini, sekarang giliran kalian berdua yang melakukannya.”
“Baik paman…” jawab Hendry dan Audrey bersama-sama.
Keduanya mulai melakukan apa yang dicontohkan, semoga tidak ada kendala kali ini. Mereka bertiga bersiap di Paron masing-masing, membawa palu dan bahan seperti yang dicontohkan pak Yanto tadi.
Mereka mulai memukul, memukul, dan memukul tak lupa membakar. Keringat deras keluar dari tubuh ketiga orang itu, namun karena kali ini proses penempaan lebih ringan dari hari sebelumnya.
Beberapa saat telah berlalu dan semua selesai tanpa kendala. Ketiganya beristirahat sebentar karena sudah tengah hari, bersamaan juga dengan melepas penat dan membuang keringat di halaman belakang toko pandai besi ini. Hendry dan Audrey keluar dan merasakan sesuatu yang sangat berbeda, walau bisa dibilang panas terik namun ini masih mending daripada di dalam, dengan pemandangan tumpukan logam meleleh dan bara api menyala. Sesaat ketika mereka santai sejenak di sebuah batu di halaman belakang Hendry sempat menanyakan sesuatu
“He Audrey…”
“Iya ?”
“Bisa sihir es kan ?”
“Iya… Bukannya kamu udah sering liat ?”
“Kenapa nggak dikeluarin ?”
…
…
“Ah sial… Kenapa baru kepikiran, padahal kalau tau gitu aku gak perlu panas-panasan, dan kringet kringetan” ucap Audrey yang kaget dan sedikit kesal hingga memegang keras kepalanya, karena baru saja menyadari sesuatu yang sangat dilalaikannya.
“Apa maksudmu ?”
“Ya kan aku bisa saja menggunakan sedikit sihir es pada tubuhku, untuk mencegah hawa panas, lagipula jubah yang aku pakai juga lumayan gerah walau sebenarnya tahan api…”
“Iya… lu mah mending lah gua…”
…
…
Sementara itu di depan…
Eiana dan Yanti melakukan pekerjaan nya yang damai seperti biasa, tidak seperti para lelaki kotor di belakang. Kali ini mereka melakukannya seperti biasa namun dengan beberapa tugas tambahan, selain melayani pelanggan dan membersihkan toko, mereka berdua juga membuat sarung pedang yang terbuat dari kulit atau kayu. Tidak seperti bilah yang pembuatannya cukup susah dibelakang, sarung pedang ini dibuat dengan relatif mudah, hanya perlu mempelajari, dan menyesuaikan desainnya, dan sisanya tidak perlu bekerja terlalu keras.
*****
Istirahat sudah selesai, Hendry dan Audrey kembali bersiap untuk melanjutkan pekerjaan, tidak seperti pertama ketika keluar istirahat, saat ini mereka keduanya kedinginan. Termasuk juga Audrey, namun tetap saja Hendry lebih parah. Ini semua karena permintaan iseng Hendry yang tadi menantang Audrey untuk adu ketahanan dengan es, padahal Audrey sendiri penyihir yang menciptakannya.
Tak beberapa lama kemudian mereka masuk, lalu bersiap untuk tugas berat dan penuh keringat lainnya namun yang didapat adalah sesuatu yang lain.
Semua tungku yang menyala sudah dimatikan, tersisa abu dan sedikit asap. Sebagian besar barang yang berserakan juga sudah dibereskan pak Yanto. Hendry dan Audrey sedikit bingung dan mulai bertanya pada pak Yanto yang kini tengah mengelap permukaan Paron.
“Paman, memangnya kali ini sudah selesai ?”
“Belum…”
“Tapi paman… kenapa semua tunggu sudah dimatikan ?”
“Ah… kita sudah tak membutuhkan nya lagi. Singkatnya langkah terakhir kali ini hanyalah mengamplas dengan air agar halus, dan memasangkannya dengan gagang yang sudah ada. Jadi kalian tidak perlu berpanas-panasan lagi…” Ucap pak Yanto yang melihat dan mengecek dengan teliti salah satu bilah kasar yang sudah dibuat tadi…
“APAAAA !!!...” Teriak Hendry dan Audrey bersamaan, karena tak menyangka akan seperti ini hasilnya. Keduanya mengira setelah ini akan melakukan hal keras, panas dan melelahkan seperti biasa, karena sewaktu istirahat tadi mereka terlalu puas bermain dengan es sehingga baju keduanya sedikit basah dan kedinginan.
…
…
“Paman kami ijin keluar sebentar…“ Ucap Hendry dan Audrey dengan kompak.
“Baiklah memangnya ada ap…”
Keduanya langsung keluar ke halaman belakang tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Mereka berdiri di tengah halaman, berdiri berhadapan sambil menjaga jarak aman lalu sambil merentangkan kedua tangan.
Worrzhhhh..
Di Tengah panas terik tengah hari, api berukuran lumayan besar muncul di tengah mereka berdua. Menyembur ke atas seperti tornado dan menghilang seketika bersamaan dengan uap air yang ada di serat baju keduanya. Suhu tubuh kembali normal, sedikit berkeringat lalu Hendry dan Audrey masuk kembali menemui paman seperti tadi.
“Baiklah kami sudah siap paman…” ucap Hendry, dan dilanjutkan oleh Audrey.
“Jadi apa yang akan kita lakukan paman ?”
Pak Yanto masih sedikit bingung namun ia mulai memberi contoh dan menjelaskan detailnya seperti tadi lalu mereka semua melakukan seperti yang diperintahkan. Hal ini cukup mudah, hanya perlu membuatnya halus dan tajam saja, meski begitu kesabaran tinggi juga diperlukan. Hendry, Audrey dan pak Yanto melakukannya di tempat berbeda, namun seringkali Hendry dan Audrey menengok ke arahnya.
Audrey mulai mengasah sebuah bilah yang dipegangnya, baik bentuk dan ukuran sudah sesuai sehingga hanya perlu menghaluskannya saja. Ia mengambil, membasuhnya dengan air lalu menggosok-gosokkan ke batu asahan sehingga motif aslinya jelas terlihat. Sebuah bilah hitam kekuningan mengkilap yang mulus tapi tidak polos, bermotif abstrak dengan campuran kedua warna itu.
Ia terus mengasahnya, terkadang menyiramnya dengan air lalu mengasahnya lagi. Perlahan namun pasti bilah itu semakin tipis dan tajam, namun masih juga kokoh. Bentuknya semakin indah, bentuk runcing yang mengular panjang dan memantulkan bayangan.
Audrey menatapnya dengan bangga, ia tak menyangka bisa membuat senjata keren seperti ini, namun tentu saja hal itu tak berlangsung lama. Ia meletakkan bilah keris yang sudah selesai itu lalu memandang tumpukan bilah kasar lain yang berada di dekatnya, dengan kata lain itu juga termasuk bagian yang harus dikerjakannya.
Segera Audrey tak mempedulikan keindahan nya lagi dan mulai mengasah bilah kasar lain disekitarnya. Hal yang sama juga terjadi pada Hendry terkecuali pak Yanto, karena dia sudah terbiasa.
Tak terasa proses ini lebih cepat dari apa yang mereka berdua kira, tak sampai sore hari tugas ini sudah selesai dan siap menuju tahap selanjutnya. Selagi mereka berdua mengerjakan bilah terakhir, Pak yanto pergi ke gudang dan kembali dengan membawa sekotak kayu penuh gagang pedang yang terbuat dari kayu dan kelihatannya sudah ia persiapkan sejak lama.
Setelah semua selesai mereka, mulai memberi gagang kepada bilah yang sudah diamplas dan dihaluskan tersebut. Caranya cukup mudah, tinggal dimasukkan dan dikencangkan saja. Sesaat kemudian, Yanti dan Eliana ke belakang untuk mengantar sarung pedang yang sudah selesai mereka buat.
Semua pedang sihir atau Keris sudah yang ada sudah selesai dibuat dan dimasukkan ke dalam sarungnya masing-masing. Dengan total keseluruhannya 25 termasuk yang sudah dibuat pak Yanto sebelum mereka ketiga ke sini.
Misi party ini belum berakhir, masih ada 3 hari di sini dengan setengah pesanan yang belum mereka buat. Sekarang ketiganya bisa pulang dan beristirahat, mempersiapkan diri bekerja sangat keras di esok hari layaknya hari pertama kemarin…
Khusus untuk Hendry dan Audrey…