
Hari belum terlalu siang tapi suasananya lumayan panas. Didalam ruangan luas pun terasa lebih panas daripada di luar, bongkahan material dan bijih besi menumpuk di pinggiran dengan beberapa paron dan tungku besar yang beberapa masih di tengah ruangan.
Ditemani hawa panas seperti ini pekerjaan mereka baru saja dimulai. Hendry mulai bertanya dan pak Yanto mulai menjelaskan.
“Jadi kami berdua harus apa paman ?”
“Hemm… seperti yang pada kertas permintaan yang ku kirim minggu ini kita sedang banyak pesanan.”
“Singkatnya dalam beberapa hari ini kita harus membuat 50 pedang sihir.”
“Li..LIMA PULUH ?” Teriak Hendry dan Audrey bersamaan.
“Yaa…”
“Tapi paman… kami berdua masih pemula… Kami bahkan belum pernah berurusan dengan pekerjaan ini sebelum nya.”
“Apa kami mampu ?” Jawab Audrey.
“Wahahahha… omong kosong. Kau bisa sihir api dan temanmu sudah terbiasa dengan pedang kan ?”
Hendry dan Audrey mengangguk.
“Kalau begitu serahkan saja padaku, kalian hanya harus mengikuti instruksi ku dan dengan begitu semua pekerjaan akan beres, dan lagi pula kita akan mulai setengahnya dulu.“
“Baik…” Keduanya menjawab, Hendry tambah semangat ibarat terbakar oleh api yang membara.
“Lagipula aku dalam sehari bisa membuat 4-5 pedang sekaligus Wahahahha…” Jawabnya dengan bangga dan sedikit menyombongkan diri. Setelah itu pak Yanto mulai menjelaskan dengan singkat.
Dalam beberapa hari ini mereka harus membuat 50 pedang sihir yang disebut keris. Keris sendiri merupakan sebuah pedang yang sekaligus bisa digunakan sebagai tongkat sihir karena kandungan material di dalamnya, sebuah pedang kecil berbentuk asimetris dengan ciri khas bilah pedangnya berbentuk melengkung-lengkung seperti ular. Bahan-bahan yang digunakan antara lain : Bijih besi, Lempengan baja, batu sihir, kristal sihir dan juga lempengan tulang tipis dari monster atau bahan lain (optional).
Alasan mengapa banyak peralatan menggunakan batu sihir atau kristal sihir adalah untuk menarik energi sihir dari tubuh seseorang. Setiap orang memiliki energi sihir, banyak sedikitnya tergantung bawaan dari lahir, namun untuk menyalurkan kekuatan itu keluar, membutuhkan perantara.
Kebanyakan orang tidak mampu menggunakan sihir serangan kuat dengan tangan kosong, untuk itulah peralatan sihir dibuat. Jika tanpa peralatan sihir mungkin seseorang hanya mampu melakukan sihir sederhana seperti membuat percikan api atau mengeluarkan segelas air.
Bahkan Audrey dan Eliana sendiri memilih untuk membuka sihir penyimpanan dan mengambil alat sihir lain untuk menyerang daripada bersusah payah dengan tangan kosong, walau lemah setidaknya bisa mengambil satu atau 2 barang penting. Namun hal ini tidak berlaku dalam beberapa kondisi misal waktu kekuatan Audrey tak terkendali dulu.
Setelah penjelasan dari pak Yanto selesai mereka bersiap memulai pembuatan. Mereka akan memuat secara masall, membuat bagian-perbagian secara banyak sekaligus, jadi tidak membuat satu-persatu pedang, agar lebih cepat dan efisien.
Langkah pertama dimulai, pak Yanto dan keduanya mulai mempersiapkan bahan baku seperti yang dijelaskan tadi. Ia membawa 2 karung besar bijih besi di pundak nya. Dia mengangkatnya dengan mudah sebagai bukti otot yang dimilikinya benar-benar kuat.
Hendry dan Audrey mengikutinya di belakang, ia membawa 2 ember pecahan batu sihir yang mirip kerikil, sementara Audrey membawa lempengan baja tipis, tulang monster tipis juga sekantung Kristal sihir berukuran kecil seperti kelereng.
Barang-barang itu dibawa dari gudang dan diletakkan diletakan di tengah ruangan ini, berdekatan dengan tungku batu yang berukuran cukup besar. Pak Yanto memasukkan bijih besi yang dibawanya ke dalam tungku itu juga menyuruh hal yang sama kepada Hendry. Audrey meletakkan beberapa barang yang dibawanya kemudian selang beberapa saat pak Yanto memanggilnya.
“Oii.. Nak Audrey kemari…”
Audrey berjalan mendekat, Pak Yanto dan Hendry menatapnya dengan tatapan mencurigakan, dan benar saja saat pak Yanto melanjutkan kata-katanya.
“Buktikanlah kalau kamu memang beneran laki-laki…”
“Bakarlah tungku di depan ini dengan segenap sihir mu, walau wajahmu imut dan suaramu sedikit mirip perempuan wahahaha…”
Mendengar perkataan pak Yanto tentu saja Audrey kesal, yang berarti dia belum sepenuhnya percaya kalau dia ini laki-laki. Namun dalam hati Audrey bergumam sendiri dan mempersiapkan sesuatu yang mungkin akan mengejutkan mereka berdua.
Ah sial, Pak yanto bahkan ikut campur, pasti ini gara-gara Hendry. Tapi lihat saja hehehe…
Setelah semua bijih besi dan batu sihir ke dalam tungku, Audrey segera mengambil tongkat sihir dan memulai sihirnya.
Wahai Api yang menyala-nyala dan panas yang membara, Perlihatkan dirimu dan bakarlah sesuatu yang tepat dihadapanku, buatlah api besar yang meledak dan meleleh kan semua ini lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang lain… Terbakarlah!!!
Worrzhhh……
Api merah kehitaman menyala-nyala, membakar semua material di dalamnya. Mengepulkan asap hitam tebal dan suhunya ribuan derajat celcius. Meledak-ledak dan dalam seketika bijih besi dan batu sihir meleleh lalu menyatu menjadi lava, membuat Hendry dan pak Yanto terkejut. Sebuah sihir api yang belum pernah Audrey perlihatkatkan, Ruangan disini menjadi lebih panas, Tunggu batu semakin menghitam dan hampir saja retak namun…
“Audrey berhenti… Itu berlebihan…” Ucap Hendry dengan panik.
“Sudah… Sudah nak… Hentikan sudah cukup…” Pak Yanto mencoba menghentikan Audrey karena ditakutkan bahwa tungku akan pecah dan membahayakan semua orang. Selang beberapa detik kemudian Audrey berhenti, Suhu udara di sini menjadi normal seperti tadi (Walau masih bisa disebut panas) dan Mereka berdua bernafas lega.
“Yaaa… Itu tadi mengejutkan Nak Wahahahahahaa…”
“Maaf nak atas perkataanku tadi…” Pak Yanto menepuk pundak Audrey dengan tangannya sambil tersenyum menghibur seraya berkata…
“Baiklah sekarang kita istirahat dan menuju ke langkah selanjutnya.”
Mereka bertiga beristirahat sebentar sambil menunggu lelehan material tadi dingin dan mengeras, Selama beristirahat ketiganya berbincang-bincang seperti biasa dan terkadang kedepan untuk menengok Eliana dan Yanti.
Didepan Eliana hanya membantu Yanti seperti biasa, seperti halnya perempuan kebanyakan. Mereka berdua hanya melayani pelanggan dan terkadang hanya merapikan dan membersihkan rak-rak dan etalase toko, tidak seperti kedua orang rekannya yang bekerja keras di tempat panas seperti gunung berapi di belakang.
Selang beberapa saat kemudian, material yang meleleh tersebut sudah keras dan dingin. Berarti ini saatnya bagi pak Yanto dan mereka berdua untuk melakukan tugas paling berat di hari ini… Yaitu menempa besi.
Bongkahan material tadi sudah diangkat dari tungku, bentuknya terlihat seperti bongkahan-bongkahan hitam mirip batu obsidian namun lebih kasar. Setelah itu dipecah oleh pak Yanto menjadi 20-an bagian sama besar.
Hendry, Audrey dan pak Yanto sendiri sudah siap kali ini, masing masing dari mereka sudah membawa Palu dan tongkat besi penjepit. Mulanya pak Yanto memberikan contoh, Ia mulai mengambil salah satu potongan material itu, menjepitnya dengan tongkat besi yang gagangnya dibalut kain dan membakarnya lagi di salah satu tungku kecil yang masih menyala hingga campuran itu berwarna merah.
Baru setelah itu, Pak Yanto membawanya ke sebuah paron lalu mulai memukulnya dengan palu. Percikan Api menyembur keluar melalui bijih besi yang dipukul, beberapa lapisan tipisnya terkelupas menjadi abu, namun pak Yanto tetap saja memukulnya.
Campuran bijih besi dan batu sihir itu dipukul-pukul dan dibentuk seperti sebuah balok persegi panjang, ketika mulai mendingin maka harus dipanaskan lagi agar bisa sedikit lunak ketika dipukul. Ketika bentuk baloknya sudah panjang, Pak Yanto menekuknya menjadi 2 dan dipukul-pukul lagi seperti tadi dan dia bilang…
“Kalian harus menempanya berulang seperti ini setidaknya sekitar 20 kali.”
“20 KALIII ??” Jawab Hendry dan Audrey bersama-sama dengan kaget.
“Tapi paman bukankah 20 kali untuk setiap pedang itu banyak ?” Tanya Hendry.
“Apa… Ada masalah ?” Jawab Pak Yanto dengan santainya sambil meregangkan otot besarnya itu.
“Tidak Ada !!!” Jawab Hendry dengan semangat sebab ia merasa ini latihan yang cocok untuknya. Audrey setuju-setuju saja namun ia masih saja penasaran, sehingga menanyakan lebih lanjut.
Ternyata setelah diberi penjelasan pak Yanto, alasan sebenarnya ialah agar bijih besi bisa lebih tercampur merata dengan batu sihir, selain itu juga untuk memadatkan campuran material itu agar lebih kuat.
Setelah keduanya paham kini mereka sudah terlihat di depan paron masing masing dan mulai menempa. Ketiganya berada di masing masing sudut ruangan dan saling bertolak belakang, dengan salah satu tungku pembakaran yang masih menyala.
Pak Yanto melakukan hal ini seperti biasa, karena memang ini pekerjaanya sehari-hari. Hendry menempanya dengan penuh semangat, ia berharap setelah misi ini selesai otot-otot miliknya sedikit berkembang seperti Pak Yanto karena baginya ini merupakan tujuan utama dalam misi ini sejak mereka pertama kali bertemu. Sekarang masalahnya hanya pada Audrey.
Tidak masalah baginya untuk mengangkat palu itu, namun yang menjadi masalah adalah ketika palu dihentakkan, energi yang dihasilkan kurang kuat untuk membengkokkan campuran bijih besi di hadapannya. Tidak seperti pak Yanto yang berpengalaman dalam hal ini selama bertahun-tahun atau Hendry yang terbiasa menggunakan pedang besar selama bertarung, Audrey tidak memiliki hal itu dan sekarang ia hanya bisa terdiam dan mencari ide agar masalah ini bisa terselesaikan.
Audrey terdiam, melipat tangan didada dan memandangi campuran bijih besi yang ada di depannya. Beberapa saat kemudian ia kepikiran ide yang sedikit gila hanya karena melihat nyala api berwarna merah di ujung bongkahan material itu. Tak mau berlama-lama ia langsung saja mengeksekusi ide ini.
Ia membuka sihir penyimpanannya, Lingkaran sihir muncul di lantai dengan cepat lalu menutup 2 detik kemudian. Saat kemunculannya sebuah cincin terlempar ke udara dan ditangkap cepat oleh salah satu tangan Audrey.
Ia memakai di tangan kanannya, sebuah cincin perak dengan kristal sihir yang mirip batu akik. Cincin itu adalah alat sihir yang mereka rampas dari pemimpin penjahat “Tikus Got” di kota Anggresia waktu itu. Alasan audrey memakainya karena tidak mungkin ia menggunakan tongkat sihirnya dalam rencana ini.
Setelah cincin selesai dipasang, Audrey mengambil palu, mengangkatnya, dan bersiap menempa sekali lagi. Kali ini ia tidak langsung menghentakkan palunya melainkan berhenti di udara sesaat sembari ia membaca mantra yang cukup pendek.
Woorzzhhh… Ding…
Klontang….
Meeeonngg…
Sesaat kemudian Audrey mulai memukul, kobaran api mulai muncul di belakang palu lalu mendorong cepat seperti mesin jet. Palu itu melesat cepat dan menghantam bijih besi di hadapannya sepersekian detik. Karena menghantam terlalu keras, paron dan lantai di sekelilingnya ikut bergetar, hembusan angin kuat membuat beberapa bilah logam yang tergantung di dinding jatuh hingga kucing tetangga kaget.
Hendry dan Pak Yanto terkejut. Mereka berdua menghampiri Audrey dan bertanya apa yang sedang terjadi. Sebelum Audrey menjawab, ia mengangkat palu yang dipegangnya dan hasilnya mengejutkan.
Material yang ditempa Audrey bukan hanya bengkok namun terbelah menjadi dua, Audrey mengangkat kepala dan berbalik kebelakang, ia melihat Hendry dan pak Yanto memperhatikannya.
Raut muka heran dan senyum tampak dari kedua orang itu, mereka berada tepat sisi kanan dan kiri bahu Audrey, sehingga melihat semuanya dengan jelas.
"Wahahahhaaa… belum pernah aku melihat orang menggunakan sihir seperti itu."
"Teruskan nak, tapi jangan berlebihan wahhahaaha…"
"Ba… baik…"
Pak Yanto dan Hendry kembali ke posisi masing-masing. Audrey segera membakar ulang kedua potongan bijih besi itu agar menyatu, lalu menempa seperti tadi namun tidak dengan kekuatan yang berlebihan.
Mereka bertiga menempa dan terus menempa, hingga tak terasa satu persatu-bagian lain mulai diambil, dan bagian yang selesai mulai dipisahkan.
Sepanjang hari suara dentuman besi terus ada dan berulang. Ketiganya memukul besi dengan semangat, tidak ada satupun dari mereka yang menyerah, walau keringat bercucuran dan membasahi badan.
Tak terasa waktu terus berputar, segalanya menjadi cepat berlalu, semua potongan bijih besi yang ada selesai satu-persatu. Matahari yang lelah semakin menguning dan mulai turun dari singgasana siang, menandakan hari semakin sore.
Ketiganya sudah selesai kali ini, setidaknya untuk bagian ini, mereka berkemas dan berberes-beres untuk segera pulang dan beristirahat.
Hendry, Audrey dan Eliana sudah berada di pintu depan, berpamitan dengan pak Yanto dan putrinya. Selepas itu mereka langsung pulang, beristirahat seperti biasa dan mempersiapkan besok, hari kedua di tempat ini lagi.