The Story Of Jammetaria

The Story Of Jammetaria
BAB 38 - Kembali



Mereka semua tertidur seharian termasuk Hendry, Audrey dan Eliana sendiri. Tidur dengan nyenyak karena masalah ini sudah selesai. Diantara tirai jendela yang terbuka, di kamar tamu ini suasananya damai. Angin sejuk berhembus masuk diantara panasnya sinar matahari, suara dedaunan terdengar gemerisik.


Sementara itu di desa sudah damai seperti sedia kala.  Warganya sibuk mengurus tanaman padi yang ada, sedikit terburu buru mengejar ketertinggalan dari musim tanam yang sebentar lagi. Mereka semua bersemangat dan tidak lagi berniat mengecewakan kebaikan tuannya, semua bersyukur masih diberi kesempatan untuk menjadi lebih baik. Mereka akan menunjukkan kesetiaannya pada desa ini seperti biasanya, dengan kerja keras.


Hujan mulai rintik, percikan air perlahan turun dari langit dan membasahi kembali semua sawah yang ada. Mereka semua selesai tepat waktu, guliran padi sudah terlepas dari batangnya, dan kini tinggal menggiling nya menjadi beras.


Hujan semakin deras, beberapa tumpuk jerami tertinggal di luar dan dibasahi air hujan. Setelah kerja keras di hari ini beberapa warga berkumpul di suatu rumah. Seperti biasa berbincang bersama sembari makan dan minum minuman hangat.


Saat sore hari tiba hujan semakin mereda, awan hitam mulai memudar dan perlahan sinar matahari muncul kembali, suasana masih sangat dingin tetapi ketiganya mulai terbangun. Sedikit bermalas malasan di kasur namun akhirnya mereka memutuskan untuk mandi secara bergantian.


Setelah itu ketiganya bermalas-malasan lagi, memandangi sejenak dari balkon rumah, menatap langsung ke desa dengan suasana yang sangat berbeda dari sebelumnya. Berhektar-hektar sawah kosong yang tergenang air terlihat seperti cermin yang memantulkan awan. Suasana tenang dan sedikit dingin masih terasa, beberapa tetes air masih berhamburan terbawa angin, suasana pegunungan yang sangat jarang mereka rasakan. Tak beberapa lama kemudian suara ketukan dari pintu kamar terdengar.


Tok Tok Tok


“Permisi… Nona Eliana, Tuan Audrey, Tuan Hendry…”


“Iyaa… Masuk.” Jawab Eliana lalu ketiganya menghampiri Amelia di pintu kamar.


“Maaf sebelumnya, tapi tuan dan nyonya besar sudah menunggu anda, jadi ijinkan saya mengantar anda ke tempat beliau sekarang…” Ucap Amelia dengan sopan seperti biasa dan diakhiri dengan sedikit menundukkan kepala.


Ketiganya diajak Amelia menuju lantai 3 kediaman ini, suasana nya hampir sama dengan ruang tamu lantai satu. Banyak perabotan dari kayu yang bersih dan tersusun rapi juga beberapa jendela besar yang terbuka.


Mereka dibawa menuju salah satu sudut ruangan yang cukup luas, pintu besar terbuka dengan balkon yang lebih luas dari yang ada di kamar mereka. Beberapa meja dan kursi ada di balkon tersebut dengan sedikit atap dan ornamen kayu yang terbuka sebagai beberapa dindingnya.


Disalah satu tempat, tuan Arganaya dan istrinya sudah menunggu. Meja dan kursi yang dipakai telah tersusun rapi. Sebuah teko dan beberapa gelas sudah siap di meja, tak lupa pula dengan kue juga makanan ringan.


“Silahkan duduk… Terimakasih sudah datang, maaf memanggil kalian yang sedang lelah begini, tapi ada suatu hal yang harus segera kubicarakan.”


“Tidak, kami bertiga sudah cukup beristirahat tuan… jadi silahkan, tidak perlu sungkan…”


“Baik terimakasih…”


Ketiganya duduk dan memulai acara minum teh ini seperti biasa sembari membicarakan sesuatu, terkadang mereka menyeruput teh juga terkadang memakan kue. Pembicaraan ini diawali oleh tuan Argaraya sendiri dengan tak terlalu formal seperti biasanya, selaku kepala keluarga, bangsawan penguasa daerah, juga seorang klien yang mempekerjakan mereka.


“Pertama-tama, aku secara pribadi mewakili semua yang ada disini mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya terhadap kalian bertiga. Karena kalianlah masalah yang melanda desa ini bisa terselesaikan…”


“Hahahaa… Memang benar aku yang merencanakan. Tapi tetap saja… rencana itu tidak akan berhasil tanpa bantuan kalian. Apalagi kau nona, kau lah yang telah menyelamatkan nyawaku…”


“Te… Terima kasih.” Ucap Eliana dengan malu-malu sementara kedua rekannya hanya bisa tersenyum


“Baiklah tanpa berbasa basi lagi kita langsung ke poin utamanya. Amelia…”


“Baik segera tuan…” Amelia menaruh sekantong uang di hadapan mereka bertiga, tidak jelas jumlahnya memang tapi diperkirakan jumlahnya banyak karena dari yang terlihat sebagian besar adalah koin emas.


“Seperti yang kujanjikan, ini adalah bayaran kalian karena berhasil menyelesaikan misi ini, Memang jumlahnya tidak seberapa tapi aku mohon terimalah…”


Karena misi ini merupakan suatu permintaan pribadi maka bayaran atas keberhasilannya diserahkan langsung kepada kepada klien yang meminta dan tidak melalui campur tangan pihak guild, meski begitu petualang tetap wajib melapor setelah misi ini selesai entah itu gagal atau berhasil.


“Baik… kalau begitu kami terima tuan… Terima kasih banyak.” Ketiganya menunduk dan mengucapkan terimakasih…


“Sama-sama.”


Setelah itu obrolan terjadi seperti biasa. Semakin lama satu teko teh semakin habis, begitu pula dengan berpiring piring kue yang tersedia. Suasana berganti tanpa disadari, Awan kembali cerah begitu pula dengan sinar matahari yang semakin pudar, kegelapan telah datang dan cahaya bulan segera muncul. Angin dingin masuk hingga beberapa pelayan memutuskan untuk menutup pintu dan jendela. Penerangan dinyalakan dan ruangan ini terang benderang dari beberapa sumber cahaya.


Obrolan masih tetap berlangsung, karena bagaimanapun misi sudah selesai dan ini hari terakhir mereka bertiga di kediaman ini, Tuan Arganaya pun juga jarang kedatangan tamu jadi ini merupakan kesempatan yang cukup langka baginya.


Tak terasa waktu makan malam tiba, mereka semua berpindah ke ruang makan lalu makan malam seperti biasa. Setelah obrolan dan percakapan ini selesai mereka bertiga kembali ke kamar lalu mempersiapkan kepulangan mereka di pagi berikutnya. Sebenarnya tidak banyak barang yang mereka masukkan kedalam tas, berhubung 2 orang diantaranya bisa menggunakan sihir penyimpanan, persiapan ini bisa selesai dengan waktu singkat. Mereka semua tidur dan tak terasa satu malam telah berlalu.


Pagi hari telah dimulai, didepan rumah kediaman ini ketiganya siap berangkat, mereka sudah sarapan dan beberapa orang mengantar kepergian mereka di depan pintu. Diantaranya adalah Amelia, tuan Arganaya dan bahkan istrinya sendiri.


“Berhati hatilah, semoga kalian semua selamat sampai tujuan, dan lagi kalau kalian berada didekat sini, jangan sungkan untuk mampir.” Ucap tuan Arganaya sebelum melepas kepergian mereka.


“Baik… Terimakasih banyak atas kesempatannya, semoga kita bisa bertemu lagi…”


Angin sejuk berhembus ditambah dengan hangatnya sinar matahari pagi. Beberapa bunga liar bermekaran dan hewan hutan mulai terbangun, embun pagi masih menetes membuat rerumputan di sekitar basah seperti baru saja terguyur hujan.


Ketiganya segera berangkat dan terbang menjauh dari kediaman ini, Tidak seperti saat mereka berangkat, mereka semua terbang rendah di antara desa, melihat masyarakatnya yang sudah kembali bekerja. Saat ini masih pagi namun mereka semua sudah berlarian kesana kemari, mengurus sawah dan ladang yang selama ini terbengkalai karena ketertinggalan mereka.


Karena tak mau mengganggu ketiganya terus melaju dan terbang semakin menjauh, untuk kembali ketempat saat ini mereka tinggal, di ibu kota Felisia…