
Hari ini cuaca terlihat sangat cerah, matahari tak begitu sadis menampakkan sinarnya, angin juga berhembus sangat lembut membuat siapa saja betah berlama lama berada di luar ruangan.
Sarah sedang menikmati cuaca pagi ini dengan berbaring beralaskan padang rumput di halaman kampus, dengan wajah yang ditutupi oleh sebuah buku tebal. Dia memejamkan matanya memikirkan tentang kejadian semalam, merasa sangat lelah selalu dihantui oleh masalalunya. Ingin sekali dia terbebas dari trauma sialan itu, dia juga ingin seperti gadis-gadis lain yang bebas berhubungan dengan laki laki manapun tanpa diikuti rasa takut itu.
Jangan dikira Sarah tidak pernah berpacaran, tentu saja dia pernah bahkan bisa dikatakan cukup sering. Biasanya Sarah selalu menjalin hubungan dengan para pengusaha muda yang pasti hanya menginginkan tubuhnya, dan Sarah tentu saja hanya memanfaatkan semua fasilitas atau barang-barang mewah yang diberikan kepadanya. Tapi tidak satu pria pun yang bisa membawanya ke tempat tidur.
Sarah berjingkat kaget oleh dering telponnya, dia segera merogoh tas disampingnya dan mengangkat panggilan telepon tanpa melihat nama si penelpon.
"Hallo" jawab sarah masih dengan posisi berbaring.
"Ingat ya Babe, nanti jam 8 kita ada undangan pesta ulang tahun dari Christinna The Lux," jawab si penelpon yang tak lain adalah Mark.
"Ya aku ingat," ucap Sarah yang menyingkirkan buku dari wajahnya.
"Ok dan jangan lupa pakai gaun dari The Lux, untuk mengambil hati Christinna, oh kau sangat tau kan setiap model pasti ingin menjadi muse dari The Lux," cerocos Mark dan Sarah hanya memutar bola matanya malas.
Untung saja pria gemulai itu sangat pandai mencarikan dia pekerjaan dan sangat teliti dalam mengatur jadwalnya, kalau tidak pasti Sarah sudah sejak lama mendepaknya karna tak tahan dengan mulut besarnya itu.
"Oke, aku mengerti, sudah aku tutup dulu," jawab Sarah yang langsung menutup teleponnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas.
\=\=*\=\=
Emily berjalan dengan anggun menyurusi lorong kampus dengan dua badut setia, Cathy dan Sharon yang mengawalnya di belakang.
Emily mengerutkan kening merasa penasaran dengan keramaian yang terjadi di papan pengumuman kampus.
"Ada apa ini?" tanya Emily kepada seorang gadis pirang yang berada di dekat papan pengumuman.
"Ah itu beberapa foto Michael dan Sarah telah dipasang di papan pengumuman dan mereka dinobatkan sebagai Romantic couple of the year," jawab gadis itu
Seketika Emily merasakan darahnya mendidih dan hampir meluap. Dengan sangat emosi, segera disingkirkan semua orang yang menghalangi jalannya. Dia menarik semua foto-foto Michael dan Sarah saat berciuman kemarin dan langsung merobek dibantu oleh dua temanya tadi.
"Stop!" teriak Emily tiba-tiba yang membuat semua yang ada di sana menoleh kearahnya.
Emily merebut selembar foto dari tangan Cathy, di sana terlihat Sarah yang duduk di dalam mobil Michael dan entah siapa yang mengambil foto tersebut.
Emily tampak menegang dengan rahang yang mengeras, dia *** foto itu dan langsung pergi menjauh dari papan pengumuman tersebut.
"Aku akan membuat perhitungan dengan si jalang itu," kata Emily dengan mata berapi-api dan terus berjalan tergesa-gesa mencari keberadaan Sarah.
"Tunggu Em, aku ada ide," pekik Sharon yang mensejajarkan langkahnya dengan Emily.
"Apa?" bentak Emily yang tiba-tiba berhenti dan membuat Sharon menabraknya sedangkan Cathy menabrak Sharon.
"Aw" pekik mereka bersamaan.
Emily melotot menatap mereka berdua.
"Sorry Em," jawab mereka serempak.
"Ih c'mon girls, berhentilah bersikap seperti orang bodoh dan berikan ide untuk ku," gerutu Emily sambil mengibas ibaskan tangannya.
"Aku ada ide Em, coba lihat kesana " kata Sharon sambil mengarahkan dagunya ke arah kelompok mahasiswa berkacamata.
Emily tampak memicingkan matanya dan sedetik kemudian wajahnya berubah berbinar seperti mendapatkan tas Hermes model terbaru.
"Lets go to have fun girls," pekik Emily sambil menghampiri segerombolan mahasiswa berkaca mata tersebut.
"Hai guys," sapa Emily ke arah gerombolan tersebut dengan tangan melambai.
Sharon dan Cathy hanya berdiri di sampingnya dengan senyum jijik melihat kearah kelompok nerd kampus ini.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya seorang pemuda berkaca mata dengan rambut klimis yang nampak sangat ketinggalan jaman.
Boby tampak canggung dan hanya mengangguk cepat dengan senyum lebarnya.
Emily mendorong Boby dengan gaya jijik dan langsung menyemprotkan cairan antiseptic kearah tangannya, seakan tubuh pemuda itu mengandung virus mematikan.
Emily menggerakkan bola matanya kearah Cathy dan Sharon sebagai isyarat untuk segera menyeret Paula dari sana.
Paula berusaha meronta saat tangannya ditarik oleh Cathy dan Sharon menuju toilet wanita, sedangkan Emily hanya melenggang santai di depan mereka.
Mereka segera mengunci pintu toilet dari dalam dan mendorong Paula sampai tersungkur di bawah kaki Emily.
"Apa yang akan kalian lakukan?" tanya Paula dengan suara bergetar.
"We will having fun baby," jawab Emily dengan seringai liciknya.
\=\=*\=\=
Sarah berjalan dengan santai menyusuri halaman menuju gedung kampus. Dia tidak lagi merasa risih dengan siulan atau tatapan penuh nafsu dari semua pemuda di kampus ini, dia sudah sangat terbiasa.
Sarah menghentikan langkahnya dan menatap penasaran kearah keramaian di depannya. Dia menggelengkan kepalanya berniat langsung menuju kelasnya saat tiba-tiba ujung matanya melihat Paula dari sela sela kerumunan tersebut.
Sarah mempercepat langkahnya untuk menembus kerumunan itu, dan betapa terkejutnya dia saat melihat kondisi Paula yang sangat mengenaskan. Gadis berkaca mata itu terlihat hanya menggunakan bra dengan rambut di kuncir dua dan muka penuh coretan lipstik. Tidak hanya itu, bahkan rok panjangnya telah disobek menjadi rok mini yang hanya sampai setengah pahanya. Paula terduduk ditengah kerumunan dengan berurai air mata dan terdengar ejekan serta hujatan dari semua orang yang melihatnya.
Sarah sontak menutup mulutnya dengan mata melebar saking terkejutnya. Dan di depannya tampak Emily serta kedua badutnya sedang tersenyum licik melihat kearahnya.
Sarah langsung menghampiri Paula dan memeluknya. "Siapa yang melakukan ini Paul?" tanyanya sambil membelai kepala Paula yang masih terus terisak.
Terderak tepuk tangan dari Emily yang membuat Sarah langsung menatapnya tajam.
"Well well well, para jalang sedang berkumpul," sindir Emily sambil mendekat ke arah mereka.
"Lihatlah bitch, sepertinya temanmu ini sedang berlatih menjadi seorang jalang seperti mu," ucap Emily lagi sambil melipat tangan di dada.
"Apakah dia yang melakukan ini semua?"tanya Sarah sambil menatap mata Paula.
Paula hanya mengangguk dan terus menundukkan kepalanya.
Sarah merasa kepalanya akan meledak karna amarah. Selama ini dia tidak pernah mempermasalahkan jika dirinya yang dihina atau dipermalukan di depan umum tapi dia tidak bisa terima apabila mereka menyakiti orang yang disayangi hanya untuk membalas dendam kepadanya.
Sarah bangkit dan langsung menarik rambut Emily, membuat gadis itu terjungkal karena tak siap dengan serangan yang tiba-tiba. Sarah **** tubuh Emily yang terlentang dan terus menarik rambut gadis itu.
"Kau sialan Watson, aku akan membunuhmu!" teriak Sarah seperti kesetanan.
Emily menjerit dan berusaha untuk menggapai rambut Sarah di depannya, dengan sekuat tenaga dia mengangkat sedikit badannya sampai akhirnya dia bisa menggulingkan tubuh Sarah. Sekarang dia berada diatas tubuh sarah dan mencekik leher gadis itu. "Aku yang akan membunuhmu bitch!"
Tidak ada satu pun dari mahasiswa di sana yang berani memisahkan mereka, bahkan Cathy dan Sharon hanya menjerit-jerit tanpa melakukan apapun.
Sarah mencoba melepaskan tangan Emily di lehernya tapi dia nampak kesusahan, dengan tenaga dan kemarahan yang tersisa dia meninju wajah Emily sampai terjungkal ke belakang.
Sarah terduduk sambil terbatuk batuk dan mencoba meraup udara sebanyak-banyaknya. Akibat cekikan dari Emily, dia merasa hampir kehilangan nafas. Sarah berniat menyerang lagi saat tiba-tiba lengannya di tarik oleh Michael yang langsung membuatnya berdiri.
"Hentikan Sarah," kata Michael dengan nada dingin.
"Dont fucking touch me, Smith!" bentak Sarah sambil menyentakkan tangan pemuda itu. "Gadis sialanmu ini yang melakukan perbuatan menjijikkan pada Paula dan sekarang kau mau membelanya, di mana hatimu Smith?" teriak Sarah dengan mata berkaca kaca.
"Sarah, ayo kita pulang," kata Paula lirih sambil menarik tangan Sarah tapi dia tetap bergeming.
Sarah menatap kedalam mata Michael dan di sana dia merasakan adanya amarah, kesedihan, penyesalan dan entahlah, sungguh tidak dimengerti sampai akhirnya dia mengikuti tarikan Paula.
Sarah melirik kearah Paula yang berjalan di sampingnya, dia menatap penasaran pada jaket yang sekarang di kenakan oleh gadis itu. Ya setidaknya masih ada orang baik hati yang mau meminjamkan jaketnya untuk gadis menyedihkan itu.
#To be continue...