The Secret

The Secret
Bab 4



Mereka sudah sampai di basemant apartemen tapi sepertinya tidak ada tanda tanda Sarah untuk bangun.


Michael hanya tersenyum melihatnya.


Michael menggendong gadis itu menuju lift khusus yang langsung terhubung ke penthousenya. Sarah tampak sangat nyaman berada di gendongannya.


Dia menidurkan Sarah ke kasurnya dengan perlahan, namun gadis itu malah meracau tak jelas seakan tidak ingin terlepas dari gendongannya. Untuk sejenak Michael seakan tak ingin lepas dari wajah menggoda yang kini tampak tenang di hadapannya, masih teringat jelas bagaimana sikap berani Sarah yg dulu membuatnya jatuh cinta.


Ah ... perasaan cinta masa kecil yang tentu saja tak berpengaruh pada dirinya saat ini. Karena baginya, cinta hanya akan membuat seorang pria menjadi konyol.


Michael memilih segera menuju ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya, sebelum ketidakwarasannya mengambil alih.


\=\=*\=\=


Sarah menggeliat merasa masih ingin bergelung dikasur yang nyaman ini, tapi dia merasa sedikit aneh karena hidungnya mencium wangi yang berbeda dengan kamarnya.


"Wangi maskulin yang menenangkan," batinya sambil tersenyum dengan mata masih terpejam.


Tiba-tiba seperti ada alarm tanda bahaya di otaknya yang membuatnya langsung terduduk. Dia mengedarkan pandangan ke seisi ruang, sangat terkejut karna dia tertidur bukan di kamarnya sendiri. Dengan geram ia mengacak rambutnya, mencoba mengingat apa yang terjadi sampai terdengar suara bariton dari sang pemilik kamar.


"Sudah bangun putri tidur?" tanya Michael yang duduk di sofa pojok dengan laptop di pangkuannya.


"Kau? Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa disini?" teriak Sarah dengan menaikkan selimut untuk menutupi tubuhnya yang bahkan masih berpakaian lengkap.


Michael hanya tertawa melihat kekonyolan di hadapannya. "Turunlah ... Aku yakin kau butuh makan," kata Michael sambil berjalan kearah pintu tanpa menjawab pertanyaan gadis itu.


Sarah melihat kearah cendela besar di sebelahnya tampak hari mulai gelap. Dia segera beranjak menyusul Michael, karna jelas ada banyak pertanyaan untuk pemuda itu.


Sarah menuruni tangga dan langsung bisa melihat Michael yang sedang asik di dapur, tapi dia lebih memilih membelokkan langkahnya menuju ruang depan. Matanya meneliti setiap sudut ruangan yang terlihat sangat mewah yang jauh berbeda dengan aparteme miliknya. Ah ... siapa yang tidak tahu kalau ini adalah sebuah penthouse di area apartemenya.


Sarah segera menuju dapur karna tak ingin Michael memergokinya seperti orang bodoh yang mengagumi penthouse lelaki itu.


"Apa yang kau masak?" tanyanya yang sudah duduk di kursi makan.


Michael menengoknya sebentar sebelum kembali terfokus pada masakannya. "Sebentar lagi selesei," jawab Michael sambil menata makanannya diatas piring.


"Makanlah," kata Michael sambil meletakkan piring kedepan Sarah.


Gadis itu merasa air liurnya akan menetes menatap makanan yang terlihat sangat lezat di hadapannya. Terdapat daging panggang dengan saus coklat dan kentang tumbuk yang terlihat sangat menggiurkan.


Sarah langsung memakan makanan tersebut dengan sangat lahap, membuat pemuda di hadapannya tersenyum geli.


"Kenapa kau tiba tiba ada disini?" tanya Sarah, menghilangkan keheningan di antara mereka.


Michael hanya nengerutkan keningnya.


"Maksutku di kota ini, bukanya kau tinggal di Inggris?" tanya Sarah lagi.


"Aku sudah tinggal di New York sejak SMA bersama bibiku dan pada saat awal masuk perkuliahan, aku diminta ayahku untuk membantunya di perusahaan yang ada di London, karena urusan sudah selesei jadi aku kembali ke sini," kata Michael sambil menikmati makanannya.


"Dan apakah Emily adalah kekasihmu? Kau tahu dia sudah seperti ulat bulu yang selalu menempel padamu," kata Sarah dengan ekspresi jijik.


Michael kembali tertawa melihat tingkah Sarah. Rasanya Michael jadi lebih sering tertawa saat bersama gadis itu.


"Calvin, Eddie dan Emily adalah temen ku sejak SMA," jawab Michael.


Terdengar ponsel Michael berbunyi dan dia langsung mengangkatnya. "Bagaimana?"


"Ok, aku tunggu kabar selanjutnya," kata Michael yang langsung menutup teleponnya.


"Baiklah Nona, sepertinya kau sudah menghabiskan makanan mu, dan aku masih ada pekerjaan jadi kau bisa kembali ke apartementmu," kata Michael yang sontak membuat Sarah melongo tak percaya.


"Kau mengusirku Smith?" pekik Sarah yang langsung berdiri dari kursinya.


Michael hanya mengangkat bahunya acuh.


Wajah sarah tampak seperti udang rebus karna menahan malu dan marah. Seumur hidup tidak pernah ada pria yang mengusirnya, biasanya setiap pria rela menjadi anjing bodoh untuknya.


Sarah menghentakkan kakinya meninggalkan Michael menuju pintu depan tapi belum sampai setengah perjalanan di berbalik kembali menuju ke arah tangga. Saat kakinya menapaki satu anak tangga, dia menengok ke arah Michael yang masih belum beranjak dari tempatnya dan juga sedang menatapnya.


"Tas ku diatas!" bentak Sarah dengan tatapan tajam.


Setelah mengambil tasnya, Sarah segera berlari turun dan keluar dari penthouse pemuda itu.


Michael benar benar terhibur dengan tingkah Sarah yang terlihat menggemaskan, membuatnya tak bisa menahan tawa.


Setelah kepergian Sarah, Michael langsung menuju kamarnya dan membuka laptopnya. Dia mulai nampak serius membaca email yang di kirimkan oleh Willy, asisten pribadinya.


Disana tertulis, Jonathan Wilson yang tak lain adalah ayah Sarah meninggal dunia sekitar 9 tahun yang lalu, dari hasil penyelidikan mengatakan bahwa kecelakaan tersebut adalah hasil sabotase tapi sampai sekarang belum ada bukti kuat yang menunjukkan siapa pelakunya, dan tak lama kemudian ibu Sarah menikah lagi dengan Billy Wilson yaitu sepupu dari Jonathan Wilson itu sendiri. Kenyataan bahwa Billy ada seorang penjudi dan suka berganti-ganti wanita membuat perusahaan Wilson bangkrut ditangannya.


Michael mendesah sambil menutup matanya dan bersandar pada sandaran sofa. Apa ini yang membuat sarah menjadi model majalah dewasa? Lalu bagaimana kehidupan keluarganya sekarang?


Berbagai pertanyaan berputar di kepalanya, dia pun tidak tahu kenapa begitu penasaran pada Sarah mengingat mereka tidak memiliki kenangan yang terlalu spesial. Gadis itu hanyalah teman di masa kanak-kanaknya yang dulu sangat disukainya tapi baginya itu hanya ketertarikan anak-anak semata.


\=\=*\=\=


Setelah keluar dari penthouse Michael, Sarah memutuskan untuk bersenang senang di club langganannya. Dia duduk di depan bartender dan menikmati cocktail dengan kadar alkohol rendah.


"Sudah lama aku tidak melihat mu, Sar," kata bartender yang bernama Ricky.


"Ah ya ... Aku sedikit sibuk akhir-akhir ini," jawab Sarah sambil mencoba menikmati hingar-bingar di sekitarnya.


"Kau tahu Sar, dari tadi laki-laki di seberang sana terus saja menatapimu. Apa kau tidak ingin bersenang-senang dengannya?" tanya Ricky sambil mengarahkan pandangan kearah lelaki tersebut.


Sarah mengikuti arah pandang Ricky dan disana duduk seorang pria berumur sekitar tiga puluh tahunan yang menatapinya dengan senyum penuh nafsu. Dia memberikan senyum sensualnya untuk lelaki itu, dia pikir tak ada salah nya sedikit bermain-main malam ini.


Terlihat pria berjambang itu mendekat ke arahnya. Sarah yang masih mengenakan baju tadi pagi sudah melepas semua kancing bajunya menambah kesan seksi dan nakal.


"Dance floor cantik?" tanya laki laki itu sambil mengulurkan tangannya.


Sarah langsung menerima tangan lelaki itu dan mereka menuju ke lantai dansa. Musik berdetum sangat keras, tampak semua orang menggoyangkan tubuhnya seakan lupa dengan segala masalah dunia. Dia mulai menggoyangkan tubuhnya mengikuti irama musik, tangannya memegang kedua pundak lelaki itu dan semakin menggoyangkan pinggulnya.


Lelaki itu sesekali membisikkan sesuatu ke telinga Sarah yang membuatnya tertawa. Sarah benar benar telah lupa dengan kemarahannya pada Michael. Semakin lama lelaki itu semakin berani membelai tubuh Sarah, menarik pinggang gadis itu dan langsung melumat bibir di hadapannya.


Sarah terlihat membalas ciuman itu, dia memang ingin menikmati malam ini dengan sedikit liar. Tiba-tiba matanya terbuka, bayangan menakutkan itu datang saat lelaki tadi mulai *** pantatnya. Refleks dia melepaskan ciumannya tapi lelaki itu malah menyerang lehernya dan mulai meremasi dadanya, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya dengan tubuhnya sedikit bergetar.


Sarah merasa tidak mampu melawan ketakutannya, dia mendorong tubuh lelaki yang sudah mulai semakin liar. Lelaki itu tampak menggeram marah tapi Sarah tidak peduli, dia berlari meninggalkan laki-laki itu dan pergi keluar dari club.


Dengan nafas terengeh dan tubuh yang masih bergetar, Sarah masuk ke dalam mobilnya. Dia berteriak dan menangis histeris sambil memukul-mukul setir mobilnya karena merasa sangat marah pada dirinya sendiri yang masih belum bisa menghilangkan bayangan perkosaan di masa lalunya.


#To be continue....