The Secret

The Secret
Bab 2



Michael melepaskan ciumannya saat dirasa mereka telah kehabisan nafas. Dia melihat bibir gadis itu yang sedikit membengkak dan membelainya.


"Aku juga tinggal disini Nona, jadi kita akan lebih sering bertemu," kata Michael dengan senyum miring.


Sarah membuka mata dan mendorong dada Michael yang membuat pria itu sedikit mundur. "Asshole!" bentaknya sebelum berlari saat pintu lift terbuka.


Michael tersenyum miring sambil nembelai bibirnya sendiri. "Kau benar-benar tidak berubah Sarah, kau terasa sangat manis dan menantang," bisiknya pada dirinya sendiri.


Michael masuk ke dalam penthouse di gedung itu, bersamaan dengan ponselnya yang berdering.


"Hallo mom," jawabnya sambil membuka kulkas dan mengambil kaleng cola kemudian meneguknya.


"How are u boy? Apakah suhu di sana sangat dingin sekarang?"


Michael melirik jam tangannya. Benar saja sekarang di London pasti sudah jam delapan pagi. Tiba tiba suara di sebrang sana sudah berteriak panik sebelum dia menjawab.


"Ow astaga Micky, maafkan mommy mu ini, pasti disana masih jam tiga pagi ya? Apakah mommy mengganggu tidurmu sayang?"


Micahel hanya memutar matanya kesal dengan sikap ibunya yang terlampau overprotective.


"Mom listen me, the first Im verry good, the second Im a man not a boy, and the last dont call me micky, okey?" jawab Michael sambil menaiki tangga menuju kamarnya.


"Hahahaha ... baiklah ... baiklah sayang, kapan kau akan mulai masuk kuliah?" tanya ibunya.


"Tomorrow, and now I need a sleep," kata Michael sambil melempar tubuhnya ke kasur.


"Ok baby ... Have a nice day," jawab ibunya yang langsung mematikan telpone nya.


Michael hanya tersenyum geli mengingat tingkah ibunya. Ibunya adalah seorang dokter sekaligus psikolog dan juga wanita yang luar biasa sempurna untuk keluarganya. Beliau sangat cantik, berhati malaikat, berprilaku lembut tapi juga tegas walaupun sangat keras kepala di saat-saat tertentu, tidak heran sang ayahnya bisa bertekuk lutut pada wanita itu.


\=\=*\=\=


Sarah gelisah di kasurnya dia ingin tidur sebentar sebelum berangkat ke kampus tapi apa daya otaknya masih tidak bisa menghilangkan bayangan pria sialan itu.


Dia merasa heran dengan dirinya, kenapa dia bisa menerima sentuhan dari pria itu, sedangkan dia begitu ketakutan dengan sentuhan pria lain. Apa yang salah dengan dirinya? Sarah menggeleng gelengkan kepalanya.


"Ah mungkin aku sudah sembuh dari traumaku," batinnya menenangkan diri.


Jam weker nya telah berbunyi dan membuatnya terperanjat kaget.


Oh shit ... akhirnya sarah benar benar tidak tidur.


Dia bergegas melangkah ke kamar mandi karna tidak ingin terlambat di kelas Mrs. Grey yang terkenal sangat disiplin dalam penilaian. Dia bisa tidak lulus kalau mengabaikan profesor yang satu ini.


Sarah memang remaja yang suka berpesta dan bersenang senang tapi dia tidak pernah mengabaikan pendidikannya. Selain cantik dan seksi, dia juga di anugrahi otak yang cemerlang. Mungkin dia adalah gadis yang sempurna tapi tidak dengan masalalunya.


Sarah menatap pantulan dirinya di cermin, dia memoles bedak tipis tipis ke wajahnya, tidak lupa lipglos pink yang membuat bibirnya selalu tampak basah menggairahkan dan satu ritual yang selalu dilakukannya yaitu menepuk nepuk kedua pipinya untuk membuatnya merah alami tanpa blush on, konyol memang.


Sarah bergegas keluar dari apartemennya menuju baseman dan menaiki mobil mini cooper merahnya. Dia melaju membelah jalan kota New York menuju universitasnya.


Apartemen sarah memang tidak jauh dari kampus dan hanya memakan waktu kurang dari satu jam. Dia mampu membeli sebuah apartemen di kawasan elit pusat kota New York dari penghasilannya menjadi seorang top model majalah dewasa.


Sarah melangkah memasuki gedung universitasnya dengan gaya seperti model catwalk yang membuat semua pria seakan meneteskan air liur.


Masih ada waktu 30 menit sebelum kelas utama di mulai, dia berniat untuk sarapan di Starbuck yang ada di dalam area kampus.


Sarah tampak mencari tempat duduk dengan nampan ditangannya saat tiba tiba ada sekelompok pemuda yang memanggil namanya dan mengajaknya bergabung.


Sebenarnya dia sangat muak dengan pria-pria seperti mereka yang hanya bisa hidup di bawah ketek orang tuanya yang kaya. Tapi ada satu yang membuat nya tertarik, disana juga duduk seorang gadis blonde yang sangat membencinya, siapa lagi kalau bukan Emily Watson.


"Ah mungkin akan mengasikkan menggoda si ular betina itu di pagi seperti ini," batinya dan memutuskan bergabung di kursi mereka.


"Good morning guys...." sapa Sarah dan langsung duduk diantara mereka tapi tatapannya terkunci pada sepasang mata hijau pucat di depannya.


Sarah langsung menoleh kearah Emily dengan senyum mengejek.


"Siapa yang jalang disini? setidaknya aku tidak pernah membuka kaki ku pada setiap pria yang berlabel kaya, tidak sepertimu Watson," kata sarah sambil memakan sandwichnya.


"Bahkan aku memiliki videomu dengan producerku," kata Sarah yang sudah pasti bohong, tapi cukup membuat wajah Emily merah padam.


Terdengar siulan dari semua yang ada di meja itu selain Michael tentunya. Michael hanya tersenyum nenikmati tontonan yang menyenangkan ini.


"Jaga ucapanmu bitch!" bentak Emily yang memilih berlari meninggalkan mereka, mungkin dia berharap Michael akan mengejarnya, tunggu saja sampai benua atlantik menjadi pantai yang indah.


"Apa benar kau memiliki videonya?" tanya Calvin yang duduk tepat disamping sarah.


"Tentu saja tidak, bodoh," jawab Sarah asal.


"Ah ya sarah, apa kau tidak ingin berkenalan dengan teman kami ini? Biasanya semua wanita akan berteriak histeris saat melihatnya," kata Eddie yang duduk di sebelah Michael.


Sarah hanya memutar matanya malas.


Michael hanya terus menatap Sarah dengan pandangan tak terbaca. Sarah yang menyadarinya hanya mengangkat bahunya acuh.


"Dia adalah Michael Alexander Smith, dia pindahan dari London...." jelas Calvin tapi hanya nama Michael yang berputar di otak Sarah.


"Micky," ucapnya lirih lebih kepada dirinya sendiri.


"Hai Sarah ... We meets again," kata Michael dengan senyum miring.


\=\=*\=\=


Sarah berjalan menuju kelasnya dengan pikiran tak menentu. Dia adalah Micky teman masa kecilnya yang juga pernah menciumnya dulu.


'dia memang si bajingan kecil itu' batin Sarah tersenyum sendiri.


Sarah masuk kedalam kelas tanpa mengetuk, masih dengan lamunannya, dia berjalan menuju kursinya tapi tiba tiba terdengar suara yang menghentikan langkahnya.


"Miss Wilson, kau pikir kemana kau akan pergi?" teriakan Mrs. Grey menggema kedalam ruang kelas.


'what the hell?' batin sarah sambil melirik sebelah tempat duduk nya yang terdapat gadis berkaca mata yang hanya mengangkat bahunya.


"Kau sudah telat 30 menit di kelas ku dan artinya kau tidak bisa mengikuti kelas ku lagi miss Wilson!" teriak Mrs. Grey dengan nada marah.


"Maafkan aku Mrs. Grey, aku benar benar tidak tahu kalau kelas anda dimajukan 30 menit yang lalu," jawab Sarah sambil menghadap Mrs. Grey dengan memasang puppy eyes nya.


"Ow ... demi Tuhan Yesus ... cepat pakai bajumu Sarah!" pekik Mrs. Grey di susul tawa seluruh kelas.


"Aku sudah memakai bajuku Mrs. Grey, " jawab sarah sambil melipat tangan didada.


"Maksutku kancingkan bajumu itu," pekik Mrs. Grey lagi.


Sarah memang memakai t-shirt lengan panjang warna putih yang hampir membuka seluruh kancing depannya yang menampilkan sebagian payudaranya.


Sarah sengaja mengancingkan bajunya dengan gerakan sensual di depan kelas tak heran membuat kelas jadi kacau. Semua pria di sana bersiul dan tak sedikit yang melongo melihatnya.


"Get out from my class Sarah!" teriak Mrs. Grey marah.


Sarah nyengir dan berlalu meninggalkan kelas.


#To be continue...


Please vote, comment ya....