The Love Equations

The Love Equations
TLE09



Zahira menyusuri sepanjang koridor. saat itu seseorang menepuk pundaknya kemudian memanggil namanya.


“Luhan?” Zahira terkejut.


“Kangen gak sama gue?” godanya.


“Apaan? Gak ya!”


“Kalau gue kangen sama lo gimana?” celetuk Luhan. Zahira berdehem memberi raut muka datar dengan tangan yang dikepalkan.


“Canda ciss” Luhan membentuk huruf V dijarinya seraya tersenyum manis.


“Emang lo serius gak kangen sama gue, udah 3 hari elo gak ketemu gue. Masa gak ada kata-kata manis buat nyapa cogan listrik kayak gue ini” cibir Luhan.


“Emang lo siapa gue?” Zahira berkacak pinggang menatap Luhan.


“Kita temen!” jawab Luhan kikuk


“Udah mending lo jauh-jauh sama gue!! kalau anak fakultas sama fans fanatik lo liat gue bisa diserang, kan lo artis. Jadi menurut gue lo ngejauh aja lagian nih ya.. gue gak ngerti tiba-tiba aja lo jadi deket sama gue karena kejadian waktu itu” cecar Zahira.


“Ohh.. apa lo mau Modusin gue Ya?” lanjutnya.


Sontak Luhan terbatuk mendengar ucapan Zahira “Eh.. siapa juga mau modusin lo”


“Terus maksut omongan lo dikafetria waktu itu apa?” tanya Zahira.


“Kapan” jawab luhan berpura-pura tak mengigat.


Zahira tersenyum menyeringai “Udah lah lagian kalo lo masih inget lo pasti bakal pura –pura gak inget persis sama kayak tingkah lo saat ini. Mending elo cabut sana ini bukan fakultasnya anak IT tapi anak fisika!” cibirnya.


“Gue cabut kok. Lagian tadinya gue mau ketemu temen gue bukan sama lo!” ucap Luhan berlalu pergi yang dibalas Zahira dengan cegiran khasnya dengan raut tak paham.


**


Zahira memasuki kelas, tak berselang lama Ragil pun melangkah memasuki kelas tersebut. Semua mahasiswa berdiri dan menyapa Asdos mereka.


“Pagi pak” ucap Anya kemudian diikuti seisi kelas.


Disebelah sana Zahira memasang wajah masamnya dan tak ikut menyapa.


“Langsung aja buka buku kalian” titah Ragil yang langsung dilaksanakan semua siswa.


KBM berjalan kondusif terlihat mereka semua memperhatikan Ragil yang menjelaskan materi hingga tak terasa kegiatan KBM telah selesai.


Semua mahasiswa dikelas itu bergantian keluar hingga menyisahkan Zahira dan Ragil dikelas tersebut.


Zahira menghampiri Ragil yang duduk dimeja dosen, ia memukul meja tersebut sampai-sampai suaranya terdengar keras, Ragil mendongak menatap Zahira yang nampak kesal.


“Ada apa?” tanya Ragil


“Kemarin ngapain gak dateng? Kan gue suruh lo buat dateng!” selidik Zahira dengan nada bicara naik satu stansa.


“Gak! Lo marah kan!! Karena gue gak jujur karena tugas yang waktu itu” ucap Zahira menerka.


“Lagian buat apa saya marah? Terserah kamu mau ngelakuin apa saya gak peduli. Kalau dipikir perkataan kamu bener saya hanya Guru Privatmu seharusnya tugas saya bantuin kamu ngerjain tugas, bukan ngarahin ke materinya” jawabnya seraya memasukan buku kedalam tas.


“Tuh kan bener lo masih marah. Karena kemarin Oke maafin gue. Gue tau gue salah gak seharusnya gue ngomelin elo, seandainya aja gue dengerin omongan lo. Elo mau kan balik ngajar gue? Tau sendiri gue lemah di fisika. Ya udah lain kali gak bakal bohong”ucap Zahira seraya menarik kedua telinganya.


“Lah,,, baru sadar kamu lemah di fisika!” goda Ragil seraya tersenyum tipis lalu dibalas Zahira dengan raut cemberut.


“Saya bercanda, saya udah maafin kamu kok. Lagian kemarin saya bener-bener sibuk bukannya marah sama kamu. Nanti saya dateng” lanjut Ragil.


“Jadi perlu dikirimin jadwal kegiatan gue ngak? Kan lo waktu itu minta” tanya Zahira


“Ngak usah” tolak Ragil.


“Kenapa? Nanti kalau nungguin lama gimana?” selidik Zahira.


“kan saya nungguin nya pakai perasaan. Nanti saya ramal sama ikatan kita, emang dilan aja pinter ngeramal?” goda Ragil


Zahira bergidik “Modus! Gue kan gak punya ikatan sama lo”


“Emang kamu kira kita ada ikatan apa? Maksut saya itu ikatan guru dan murid. Kamu aja yang salah mengartikan” jelas Ragil seraya meringis kearah zahira membuatnya merah merona karena malu.


“siapa tau? Emang lo ngomongnya kayak gitu!” decak Zahira berlalu keluar kelas meninggalkan Ragil sendirian.


“Yah ngambek :(” gumam Ragil dalam hati.


**


Getaran ponsel mengalihkan kegiatan Zahira yang asik makan. Ia mencari ponsel yang ada dalam tas berwarna biru itu.


"Halo?" ucapnya.


"....."


"Beneran, kapan?" Zahira nampak bersemangat, sembari memasukkan sesuap nasi goreng ke mulutnya.


"....."


"Oke, gue gas!" Zahira berlari meninggalkan aktivitas makannya. segera ia mengambil kunci mobil dari laci.


"Eca, gue keluar. Jangan lupa tutup pintu!" teriak Zahira pada Zareca yang ada dikamar.


Setelah beberapa menit perjalanan, ia sampai pada tempat yang dituju. Zahira buru-buru keluar dan berlari masuk kedalam Bandara.


Ia menuju tempat kedatangan (Arrival), Zahira mengedarkan arah pandangnya mencari sosok yang sangat ingin ia temui.


Zahira membulatkan matanya nampak dari kejahuan orang yang ia cari ketemu. Zahira menatap pria jakung itu, pria itu bersama rekannya tengah mengobrol. Pria itu nampak apik dengan postur tubuh yang bagus, tangan yang memegang ponsel, kulit putih dan kacamata yang melekat pada matanya.