
Kelas fisika telah usai, meski Zahira sadar jika Ragil terus menatapnya karena kemarin dirinya tak datang, bukan hanya itu Ragil juga marah karena Zahira mengabaikan pesannya.
"Kamu mau kemana?" tunjuknya kearah Zahira, yang sontak membuat Anya mendelik. Ragil menanyainya ketika masih ada beberapa siswa dikelas. pantas mereka menatap dengan tatapan aneh.
"Keluar pak, istirahat" Zahira berusaha menjaga sikapnya.
"Kamu perwakilan dosennya Pak Samsul kan? Sini duduk bantuin saya!" titah Ragil.
Bersamaan itu beberapa siswa pamit keluar kelas, sekarang tinggal Ragil dan Zahira yang berada dikelas.
Zahira duduk disamping Ragil.
"Ini kamu rekap nilai, sama ini juga" Ragil memberikan tumpukan buka tebal pada Zahira.
"Banyak banget"Zahira menggaruk tengkuknya.
"Elo kenapa sih? Biasanya gak pernah nyuruh gue. lo marah ya karna kemarin?" terka Zahira.
"Udah kamu selesain aja. Saya mau ngerjain yang ini" jawab Ragil memalingkan wajah dari Zahira. Zahira menghentak-hentakkan kakinya kesal.
Setelah semua selesai keduanya membawa tumpukan buku tersebut kedalam ruangan pak samsul (Dosen Fisika).
"Gue mau ngomong sama lo" ucap Zahira membuat Ragil menghentikan aktivitas menata buku diruangan tersebut.
"Apa" tatap Ragil.
"Kemarin itu gue gak bermaksud ninggal bimbel. Temen gue balik dari Cina jadi gue nunggu dibandara. Gue maaf banget sama lo" Zahira menelakupkan kedua tangan didepan dada.
"Terus yang kamu gak balas pesan kedua saya, itu gimana?" selidik Ragil.
"Tapi pesan pertama udah gue bales, yang kedua itu gue sibuk lagi perjalanan pulang sama dia. jadi gak liat ponsel" tutur Zahira.
"Zahira kamu kira, kamu bisa bodohin saya. Luhan itu tinggal sama saya, pake alasan Luhan dari Cina" gumam Ragil dalam hati.
"Tapi kemarin saya liat kamu sama anak IT Luhan?" gertak Ragil.
"Kok lo tau! Ohhh.. lo buntutin gue ya?" Zahira membelangakkan matanya.
"Enak aja kamu ngomong. saya liat kalian diApartement. kamu anterin dia?" jawab Ragil.
"Jadi lo tinggal di Apartement mewah itu. Gak nyangka lo orang kaya. terus ngapain pake jadi Guru privat sama Asdos disini?" Zahira memicingkan matanya.
"Udah gak usah, alihin pembicaraan. Kamu jelasin ada hubungan apa kamu sama dia?" ujar Ragil.
"Emang kenapa? urusan sama lo apa?" cibir Zahira mendekat pada Ragil.
"Jelas-jelas kamu bohong sama saya. Luhan itu ada disini. kenapa juga kamu bilang dia dari Cina" sekarang ganti Ragil mendekat kearah Zahira.
"Emang tadi gue nyebut dia dari Cina. Emang gue keluar cuma mau ketemu dia. Elo salah, percuma lo gak bakal ngerti!" Zahira melangkah keluar seketika tangannya ditarik kembali oleh Ragil. Tubuhnya memutar cepat, arah pandangnya terpaut beberapa senti dari wajah Ragil.
Bahkan deruan nafas keduanya dapat dirasakan "Saya belum selesai bicara. Intinya saya khawatir sama kamu dan kamu harus ceritain yang sebenernya sama saya. Apa yang terjadi sama kamu kemarin?" Ragil melepaskan pegangannya pada tangan Zahira.
"Disini lo percaya apa ngak gue gak bohong sama lo. Gue sama Luhan gak ada hubungan apa-apa. kita cuma temen" ucap Zahira lalu melangkah keluar. Ragil tersenyum tipis menatap kepergian gadis itu.
**
Ketika akan membuka pintu mobil, Zahira melihat Agra yang tengah asyik berbincang dengan Bianca diparkiran.
"Agra" panggil Zahira lalu mendekat kearah pria jakung tersebut. Zahira menatap kearah Agra dan Bianca.
"Hai Zahira lama gak temu" sapa Bianca dengan senyum tipis.
"Bianca elo kuliah disini?" tanya Zahira mengerutkan dahinya.
"Iya, gue kuliah disini. Gue ada dijurusan kedokteran. Ohh ya,, gue pinjem Agra sebentar ya gak papa kan?" ucap Bianca seraya menggandeng tangan Agra.
"Elo gak berubah ya? masih mau sama bekas gue!" cibir Zahira menatap kearah Bianca.
Ketika Bianca akan bicara, Agra mencekal kedua tangannya. kemudian menatap Zahira.
"Elo bilang gue bekas lo. Asal lo tau, gue selama ini gak pernah suka sama lo. Bahkan gue merasa jijik kenal sama lo. Apalagi kalau inget pertemanan kita dulu. Impian gue selama ini nyingkirin lo dari hidup gue. Zahira Nadavine Putri adalah Mimpik buruk bagi Agra Mahardika!!. Inget itu!!!" cecar Agra panjang lebar.
Zahira menetesakan air matanya, disisi lain Bianca tersenyum penuh kemenangan.
"Ya udah yuk kita masuk mobil" ajak Bianca ke Agra.
Ketika itu, suara menginterupsi "Tunggu"
Agra dan Bianca menoleh kearah sumber suara. Zahira yang merasa kenal dengan suara tersebut menoleh kearah sumber suara.
"Maksut lo ngomong gitu ke Zahira apa?" ucap Luhan mengebu-gebu lalu mensejajarkan posisinya disamping Zahira.
"Ohh.. lo temennya ya?" Agra memajukan langkah menatap Zahira.
"Pinter juga lo cari perisai, Ra. Gak nyangka lo masih kayak dulu. Cari pengikut terus nanti lo buang" Agra tertawa sinis.
"Gue kasih saran sama lo, Mending lo tinggalin nih cewek. Elo tuh cuma diperalat sama dia" lanjutnya.
"Gue gak bakal ninggalin Zahira. Gue percaya sama dia. Gak kayak lo yang ada cuma hina dia" cibir Luhan.
"Diem lo! Elo gak tau apa-apa" ujar Agra dengan nada bicara naik satu stansa.
"Zah, lo kok diem. Dia lagi hina lo" ucap Luhan menyadarkan Zahira.
"Mending lo pegi. Dia bener lo gak tau apa-apa" jawab Zahira lalu menatap Luhan dengan mata sayupnya.
"Maksut lo?" tanya Luhan penasaran.
"Gue pantes bicara kayak tadi ke Zahira. Karena gue Tunangannya" jelas Agra tersenyum penuh kemenangan.
"Zah, lo kok diem. Dia bohongkan?" Luhan menatap Zahira dengan raut cemas.
"Dia bener, itu fakta hubungan gue sama Agra" ujar Zahira dengan wajah sedih.
Sedangkan Luhan terkejut mendengar penjelasan Zahira. Mungkin ia telah menyukai gadis disampingnya itu. Hatinya benar-benar patah.