
Ragil berkeliling kota sambil menyusuri setiap sudut gang sempit tapi hasilnya nihil, ia tak menemukan Zahira disana dirinya begitu frustasi dan lelah harus mencari kemana lagi, hingga dering ponsel menghentikan langkahnya. Ragil mengecek nomor telphone tersebut tapi sayangnya itu nomor tak dikenal, ia angkat mungkin saja penting.
"Halo" katanya.
"...."
"Iya benar"
"....."
"Dimana?"
"......."
"Baik, terima kasih saya kesana" tutupnya lalu Ragil bergegas masuk kedalam mobil.
Beberapa saat kemudian ia sampai pada tempat yang dituju yaitu Pukesmas Cempaka.
"Permisi dokter" ujarnya begitu melihat salah satu dokter keluar yang langsung ia hadang.
"Iya mas, ada apa?"
"Pasien atas nama Zahira dirawat dimana"
"Bangsal itu" tunjuk dokter tersebut. Kemudian Ragil bergegas menuju kesana begitu membuka tirai pria itu melihat Zahira diinfus tak berdaya.
Ragil menghadang salah satu perawat "Pemisi sus, keadaan dia bagaimana?'
"Pasien hanya syok selain itu keadaannya begitu lemah cuma memerlukan perawatan biasa, jadi kami hanya mencairnya. Sebentar lagi dia siuman" ujarnya saat akan melanjutkan langkahnya dihadang kembali oleh Ragil.
"Suster, menemukannya dimana?" tanyanya kemudian.
"Kami melihatnya ada didepan pukesmas pingsan, kami kira dia terluka setelah kami cek baik-baik saja" sambungnya lalu perawat tadi pergi.
"Terima kasih, sus" jawab Ragil.
Akhirnya Ragil hanya bisa diam menunggu, ia berdoa agar Zahira bisa segera siuman tak berlama kemudian gadis itu bereaksi netranya mulai bergerak dan akhirnya terbuka perlahan.
"Zah, gimana keadaan kamu?" ujar Ragil dengan nada khawatir.
"Aku dimana?" tanyanya berusaha duduk tegak.
"Dipuskesmas, awas hati-hati" Ragil membantu gadis itu duduk.
"Oh ya, bagaimana keadaan Agra?" Zahira membulatkan matanya begitu mengingat insiden tadi kini ia berusaha turun berjalan tapi dihentikan Ragil.
"Ra, keadaanmu lagi gak sehat!" cegah Ragil sambil menghadang dengan kedua tangan didepan gadis itu.
"Lo tau apa tentang gue" protesnya masih terus memaksa menapakkan kakinya dilantai.
"Zahira dengerin saya, disana gak ada yang peduli kamu yang mereka pikirkan hanya keadaan Agra, bahkan Mamamu sendiri tidak mencarimu dan Zareca dia malah asik-asikan melihat—"
Plak...
Zahira menampar wajah Ragil, dirinya sudah kesal akan masalah hidup yang rumit kini ganti pria itu menceramahinya.
"Berhenti urusin hidup orang lain! Elo bukan siapa-siapa gue, terserah mereka gak peduli intinya sekarang gue mau tau keadaan Agra" protesnya sambil menunjuk wajah Ragil dengan jari telunjuknya.
Detik itu juga ia menarik infus yang terpasang ditangan kirinya dengan kuat, membuat tangan itu berdarah tapi tak dihiraukannya.
"Satu lagi, kalau gue berusaha bunuh diri lagi. Jangan cegah gue dengan bawa gue kesini" ancam Zahira kemudian pergi dengan langkah tertatih.
Kemudian Ragil menyahut tangan Zahira mengandenya"Kalau gitu saya antar" ucapnya lalu mereka berdua melangkah keluar.
*****
Saat pintu lift sudah terbuka, Zahira mencegah Ragil yang akan membawanya keruang tunggu operasi.
"Ada apa?" toleh pria itu.
"Lo aja yang tanya keadaan dia, gue nunggu disini" katanya.
"Kenapa gak ikut?"
"Gue merasa gak bisa hadapi orang tua Agra sampai pelakunya belum ketangkap, gue gak akan bisa temui mereka. Lo mau kan tanya keadaan Agra demi gue?" tatap Zahira pada wajah Ragil.
Ragil pun mengangguki kemudian berlalu pergi menuju pasangan paruh baya disana, untungnya sudah tak ada Tante Hilda dan Zareca disana.
"Permisi Om, Tante" sapa Ragil sambil memberikan minuman isotonik pada mereka.
"Silakan diminum" keduanya menerima pemberian Ragil.
"Terima kasih" kata pria tua alias Tuan Danang.
"Bagaimana keadaan pasien" tanyanya.
"Kata dokter operasi berjalan lancar tapi kerusakan pada saraf motorik membuat putra kami sedikit lama dalam hal mengingat, kakinya patah harus memakai tongkat dan tangannya harus digips" jelas Tante Jasmine dengan nada sedih.
"Tante dan Om bisa datang kesini, jika kalian memelukan bantuan saya" Ragil memberikan kartu namanya.
"Selain itu saya berdoa untuk kesembuhan putra kalian" lanjutnya.
"Terima kasih, Nak" ucap Tuan Danang.
"Iya" kemudian Ragil pergi dari sana.
"Operasi berjalan lancar" jawab Ragil membuat Zahira menghela nafas lega.
Setelah itu Zahira pergi yang langsung tangannya disahut pria itu "Kamu mau kemana?" cicit Ragil.
"Jangan cegah gue!" Zahira mengibaskan tangan Ragil keudara, otomatis pegangan pria itu terlepas.
"Kalau kamu mau menempatkan dirimu dalam bahaya maka saya—"
"Apa? Lo mau ngapain!" sela Zahira dengan nada meninggi.
"Mau buat gue dirawat dipukesmas lagi?" sambungnya sambil menaikkan dagu.
"Bukan saya yang buat kamu dirawat disana, saya bahkan gak tau dimana keberadaan kamu, saya juga gak tau kalau kamu berencana bunuh diri" balas Ragil dengan deretan fakta.
"Terus yang dekap gue pake obat bius siapa?" lirihnya, yang didengar Ragil meski itu dengan nada rendah.
"Obat bius? Kamu hampir diculik!" pekik pemuda itu.
...~~...
Bianca memasuki rumah dengan keringat dingin bercucuran dirinya sungguh cemas, tangannya tidak henti-hentinya bergetar sedari tadi, ia sudah mengotori tangan ini hingga panggilan dari Mamanya membuat gadis itu terperanjat.
"Bianca dari mana kamu!" bentaknya menatap putri semata wayangnya itu dengan tajam.
"Hm, hm" gadis itu terus saja bergumam tak jelas.
"Apa yang terjadi? Sadarlah kau!" Vera–Mama Bianca mendekat sambil mengoyang-goyangkan bahu putrinya.
Nampak dari gelagat anak itu bahwa ada yang disembunyikannya "Kau kenapa!!" teriak Vera mulai emosi melihat tingkah putrinya.
Bianca menatap kedua tangannya sambil mengosoknya dengan kasar, Vera yang sedari tadi berbicara menghentikan pergerakan tangan putrinya.
"Kau sadar apa yang kau lakukan!" pekik Vera.
Bianca menatap mata Mamanya dengan tatapan samar sambil berkaca-kaca dan pada akhirnya bersuara "Aku membunuh seseorang"
Hening hingga beberapa saat, Vera merasa ia seperti sedang dihunus pedang tepat pada jantungnya sangat sakit mendengar penuturan putrinya tersebut.
"Apa yang kau lakukan? Bagaimana ini bisa terjadi!" Bianca menatap Mamanya dengan tajam.
"Itu karena Mama" ujarnya.
"Apa maksudmu? Kau gila!"
"Ya aku gila" teriak Bianca kencang.
Vera mengernyitkan dahinya, ia sungguh tak paham.
"Jika saja Mama tidak pernah membeda-bedakan aku dengan Zahira, maka ini tidak akan terjadi. Mama sudah berjanji bahwa akan membuat aku menjadi bintang top melebihi gadis itu!" cecarnya dengan nada tinggi.
"Apa yang kau katakan, Zahira sudah tidak bisa menganggu kita"
"Itu dulu sekarang tidak lagi, Zahira akan ikut perlombaan musik tahunan karena itu aku menabraknya. Mama tau bagian terbaiknya apa?" sambungnya.
"Apa yang kau katakan" desis wanita paruh baya itu dengan tangan mencengkram.
"Aku tidak menabrak gadis itu melainkan tunangannya–Agra. Bukankah itu menarik?"
"Kau benar-benar gila?!" Vera menampar wajah putrinya itu hingga memutar.
Bianca menegakkan pandangannya semakin menatap tajam Mamanya itu.
"Aku gila? Mama yang gila. Jika polisi sampai kesini maka itu kesalahan Mama karena itu bersiap saja atau tutupi saja kelakuanku ini seperti yang pernah Mama lakukan sebelumnya" Bianca melotot kemudian pergi kekamarnya begitu saja.
Sedang Vera nampak panik, tangannya gemetar tak terkendali kemudian ia mengeluarkan ponselnya nampak menghubungi seseorang.
"Halo sekertaris Jo, bisa bantu saya?" katanya dengan nada cemas.
"...."
"Aku ingin kau tutupi sebuah kasus kecelakaam di jalan merdeka barat yang terjadi hari ini, singkirkan semua bukti dan mobilnya jika perlu" suruh Vera lalu mematikan telphonenya.
Ragil menghentikan mobilnya didepan lobi apartement, ia turun lalu membukakan pintu untuk gadis itu.
"Turun" suruhnya.
Zahira turun dengan alis saling tertautkan "Kok lo ajak gue kesini?"
"Untuk sementara waktu kamu tinggal sama saya, sambil ingat-ingat siapa yang udah bius kamu"
"Tapi gue bisa jaga diri, gue punya uang gue bisa tidur dihotel"
"Anggap aja ini balasan karena kamu bantu saya" kemudian Ragil menarik paksa Zahira untuk masuk sedang gadis itu berusaha memberontak hingga keduanya sampai pada apartement nomor tiga ratus sembilang puluh satu.
Mata Zahira menelisik setiap sudut ruang apartement meski tak besar hanya minimalis tapi ia mengerti kalau Ragil begitu nyaman tinggal didalamnya.
Beberapa menit kemudian pemuda itu keluar dengan membawa bantal, guling dan juga selimut "Kamu tidur dikamar"
"Lo mau tidur dimana?" Zahira membulatkan mata.
"Saya tidur sofa, setelah pikiranmu jernih saya akan mengantarmu pulang" lanjutnya.
Sementara Zahira cuma mengangguk dan mengiyakan ucapan pria itu.