
Sesuai pertemuan kemarin Zahira dan Ragil akan menemui Megan-calon guru musik gadis itu, kini keduanya tengah berada dalam mobil.
"Luhan gak ikut?" tanya Zahira memulai percakapan.
"Dia ada fotoshot hari ini"
"Oh"
"Dulu guru musik kamu siapa?" tanya Ragil balik.
"Gue juga lupa namanya" jawabnya lalu keadaan menjadi kembali hening.
Beberapa menit perjalanan, keduanya sampai ditempat Megan melatih musik biasanya. Keduanya turun dan masuk mengamati dalam area itu, mata Ragil menoleh kearah resepsionis lalu berjalan kesana yang diikuti Zahira.
"Permisi, Megan ada?" ucapnya.
"Sudah buat janji" tanya Resepsionis itu.
"Belum, bisa kau telphone dia"
"Maaf tidak bisa, Nona Megan hanya melayani janji temu" jelas Resepsionis itu.
"Coba telphone saja, katakan bahwa Ragil ingin menemuinya" bujuk pria itu.
Lalu Resepsionis tersebut hanya bisa menurut akan tatapan tajam Ragil, tak lama setelah ganggang telphone diangkat Resepsionis dari sana Megan membalas panggilan itu.
"Selamat siang Nona Megan, maaf menganggu waktunya ada orang yang ingin bertemu anda" ucap Resepsionis dari balik telphone sedikit ketakutan jika Megan akan memarahinya.
"Kamu tau saya hanya menerima orang yang membuat janji temu" jawab Megan dari balik telphone.
"Tapi orang itu bernama Ragil" sahut Resepsionis.
"Ragil? Suruh dia masuk dan menemui saya" kata Megan lalu menutup sambungan telphone.
Kemudian Resepsionis itu, menaruh telphone pada tempat asalnya.
"Silakan temui Nona Megan diruangannya" ujar Resepsionis sambil menunjuk arah keruangan Megan.
Ragil pun mengangguk kemudian berjalan kesana yang diikuti Zahira dari belakang. Saat pintu ruangan itu dibuka, Megan dari depan menunggu kedatangan pemuda itu.
"Hai Ragil, bagaimana kabarmu?" ujar Megan senang, lalu detik berikutnya ia mengernyit ketika Zahira ikut masuk bersama Ragil.
"Siapa dia?" tanya wanita setengah berumur itu.
"Dia Zahira"
"Kalian silakan duduk" kata Megan mempersilakan sembari mengambil minuman untuk keduanya.
Saat sudah mengambil minuman lalu ditaruh dimeja kemudian wanita itu duduk berhadapan dengan mereka berdua.
"Jadi apa ada yang bisa dibantu Ragil?!" selidik Megan.
"Begini Zahira ingin belajar musik biola, aku meminta bantuan agar kau mau menjadi guru musiknya" tuturnya.
"Namamu Zahira? Kenalkan aku Megan Groves" gadis itu menyalami tangan Zahira.
"Zahira" ucapnya membalas uluran tangan Megan.
"Jadi Zahira sejak kapan kau suka musik?"
"Aku suka musik sejak disekolah dasar"
"Dan kau baru akan mempelajarinya sekarang"
"Begini Megan sebenarnya Zahira sudah pernah memenangkan piala kejuaran musik biola dan okestra, tapi suatu insiden terjadi dan dia harus hiatus cukup lama. Baru-baru ini dia ingin kembali bermain musik" sela Ragil menjelaskan panjang lebar.
Megan mengerti dengan mengedipkan kedua matanya "Apa insiden itu melukai dirimu sampai sekarang"
"Iya" jawab Zahira.
"Ini akan sangat sulit untuk melatihmu secepatnya" terang Megan.
"Tapi aku ingin ikut perlombaan musik dua bulan lagi" sambung Zahira.
"Itu waktu yang terlalu cepat sedang kau hiatus lama"
"Tapi Megan aku mohon padamu untuk usahakan Zahira bisa memulai musik dalam rentan waktu dua bulan" ucap Ragil menyela.
"Ah baiklah aku akan melihat seberapa besar upaya Zahira untuk mengejar ketertinggalan" jelas Megan.
"Terima kasih Megan" balas Zahira sambil tersenyum tipis.
"Aku akan mengajar besok untuk sekarang aku sudah banyak janji temu" lanjutnya.
"Bagaimana jika selesai kampus?" tambah Zahira.
"Iya boleh" kemudian Megan berdiri yang disusul Ragil dan Zahira.
Beberapa saat setelah itu keduanya keluar dari ruangan Megan dan kembali kedalam mobil mengantar Zahira pulang.
"Lo besok bisa anterin gue kan?" kata Zahira setelah beberapa menit keluar dari kantor Megan.
"Kayaknya gak bisa, besok saya gak kefakultas selain itu saya ada urusan pribadi. Mungkin dosen kamu yang ambil materi besok" jawab Ragil sambil fokus menyetir.
"Lo kemana?"
"Eh saya... harus pulang kerumah orang tua" toleh Ragil dengan nada terbata-bata.
"Saya tinggal diapartement Luhan"
Sejenak Zahira mengingat-ingat kejadian waktu lalu "Berarti orang yang ngintip Luhan turun dari mobil gue waktu itu lo"
"Iya"
Zahira ber-O ria paham dengan mulut terbuka "Terus besok yang anter gue siapa?"
"Maaf saya gak bisa, kalau Luhan kayaknya gak bisa juga soalnya ada makan malam keluarga" sahut Ragil.
"Terus gue sama siapa?"
"Agra" usul Ragil lalu Zahira seketika terdiam.
...¤¤¤¤...
Pergantian hari telah dimulai saat ini pertemuan rapat pemegang saham tahunan Perusahaan Hilden Group dimana dari sana kedua putri pemilik perusahaan itu tengah berkumpul didalam perusahaan.
"Putramu belum datang kak" sindir salah satu wanita berjaket kulit dengan pakaian styleist mengikuti trend.
"Putramu juga belum datang" balas wanita satunya yang telah setengah baya.
"Putraku itu sibuk, dia artis besar dinegara ini. Coba katakan siapa yang tidak kenal Luhan Arsenio Raymond-pemuda paling tampan dengan sejuta bakat. Yang terpenting—"
"Cukup, sudah cukup kau besar-besarkan nama anakmu itu! Aku muak mendengarnya" sela wanita satunya yang diketahui bernama Arsanti.
"Uhuk.. uhuk, dimana kedua cucuku apa tidak ada yang datang" tanya pria yang sekitar berumur tujuh puluh empat tahun itu.
"Tenang saja Ayah, Luhan akan datang lagian dia masih sering mengunjungi kita berbeda dengan putra kakak" liriknya kearah wanita satu disana.
"Aku juga akan pastikan Ayah bahwa Ragil datang diacara saham tahunan ini" sambungnya.
"Aku tidak mau saat rapat nanti kalian menonjolkan putra kalian masing-masing. Bagiku kedua cucuku itu, memiliki kemampuan dan bakatnya sendiri" ujar pria tua itu lalu dituntun sekertarisnya untuk masuk kedalam ruangan.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya kedua pewaris perusahaan itu datang dengan naik satu mobil yang sama. Lalu berjalam mendekat kearah orang tua mereka masing-masing.
"Putraku!" ucap Tante Erisa selaku Mama Luhan.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Tante Arsanti selaku Mama Ragil. Sementara Ragil tak menjawab hanya diam tak bergeming.
"Ayo Luhan" ajak Ragil.
"Iya Ma, rapatnya belum telat kan?"
"Belum sayang, Mama mau nunggu Papamu kamu masuk duluan" suruh Tante Erisa.
Beberapa jam menunggu para pemegang saham berkumpul, akhirnya acara rapat tahunan dimulai kali ini tujuannya adalah memilih pewaris Perusahaan Hilden Group.
"Baiklah saya selaku pimpinan Perusahaan Hilden Group, mengumpulkan kalian semua disini guna memilih penerus perusahaan ini" ucap Tuan Hanun selaku pemilik perusahaan.
Semua orang mengamati dan saling berbisik "Tapi Tuan, apakah anda punya kandidat yang akan diajukan?" tanya salah satu investor pria disana.
"Kedua cucu saya akan mengantikan posisi saya disini, umur saya sudah tua saya rasa tidak pantas jika membiarkan orang tua ini terus memimpin perusahaan" ujarnya.
"Kami akan perkenalkan calon pewarisnya" ujar sekertaris kepercayaan pemimpin tadi.
"Pertama Ragil Aksara Bagaskara dia adalah cucu pertama dari Tuan Hanun usianya baru dua puluh empat tahun" tuturnya lalu Ragil berdiri memberi salam sambil membungkuk.
"Kedua Luhan Arsenio Raymond dia adalah cucu kedua Tuan Hanun usianya dua puluh tahun" lanjutnya kemudian berganti Luhan berdiri memberi salam sambil membungkuk. Lalu semua investor mulai paham dan saling berbisik lagi.
"Jika kalian ingin memilih salah satu dari mereka silakan tulis nama mereka dikertas yang disediakan dihadapan masing-masing. Jika kalian masih penasaran kalian bisa mengajukan pertanyaan pada kedua calon" terang sekertaris pria yang bertag nama Rehan.
"Saya ingin mengajukan pertanyaan!" salah satu investor mengangkat tangannya.
"Silakan"
"Kami semua mengenal Luhan, dia seorang Dj dan model baru-baru ini kami mendengar isu dia akan melakukan debut solo dengan albumnya sendiri. Pertanyaannya, apakah kami dapat meyakini dia untuk memimpin perusahaan?" jelas investor wanita itu.
"Memang apa salahnya menjadi artis dengan memimpin perusahaan, putraku it—" cibir Tante Erisa yang langsung disela oleh Pimpinan Hanun.
"Erisa!!" bentaknya, yang langsung membuat nyali Mama Luhan menciut.
"Silakan dijawab Tuan Luhan"
"Baik, saya mengerti kalian pasti berpikir kalau akan sangat sulit jika seorang publik figur mengelolah perusahaan apalagi kadang kita juga memiliki banyak job dan hal lainnya. Tapi jika kalian memilih saya, saya akan berusaha belajar, menerima saran dan kritik kalian demi perusahaan saya berjanji akan bekerja keras sampai akhir. Terkadang manusia butuh kesempatan kedua dan saya ingin mencoba jika kalian mau memberi saya kesempatan kedua itu" terang Luhan panjang lebar sambil menekan setiap kata-katanya.
"Dari resume yang saya baca sepetinya lebih layak Tuan Ragil untuk memimpin perusahaan apalagi dia lulusan management bisnis dari fakultas di Amerika" tambah salah satu investor.
"Apa?!!" Tante Erisa memukul meja karena kesal.
"Erisa!" pekik pimpinan Hanun.
"Tidak ayah! Tolong jangan cegah aku! Kalian ingin menunjuk Ragil sebagai pemimpin baru perusahaan sedang dia di Amerika bukan untuk kuliah tapi pengobatan dirinya padahal dia itu sakit-sakitan" cemooh Tante Erisa sambil menunjuk Ragil.
"Sakit apa?" sambung investor yang lain.
"Dia punya penyakit—"
"Mama berhenti!!" bentak Luhan sambil berdiri memukul meja saat itu juga semuanya kembali senyap.
......¤¤¤¤......
Pesan;
Jangan lupa vote, like, dan kasih hadiah untuk cerita ini agar semangat update.