The Love Equations

The Love Equations
TLE 18



Seperti hari-hari biasa setelah sarapan Zahira keluar dari rumahnya membuka gerbang saat itu juga pandangannya bertemu dengan Agra. Jika boleh jujur pria itu jarang sekali mengunjungi Zahira seperti saat ini, berusaha mengabaikan Agra dengan bermaksud mendahului pria yang dihadapannya itu tapi dengan cepat Agra mencekal pergelangan tangan Zahira.


"Berangkat kuliah bareng gue aja" interupsinya.


Zahira menatap selidik kearahnya "Gak perlu kamu pasti sibuk"


"Gue gak sibuk, Ayo" Agra membukakan pintu mobil agar Zahira mau masuk. Baiklah kalau begini mau tak mau ia harus ikut bersama Agra.


Selama perjalanan keduanya senyap tak ada yang memulai percakapan sampai pada akhirnya karena terlalu canggung Zahira membuka topik.


"Kalau paman yang nyuruh kamu gak usah jemput aku"


"Ngak kok ini kemauan gue sendiri" ucap Agra sambil terus fokus menyetir.


Zahira mengernyit "Terus kamu jemput aku, apa ada hal lain yang pengen dibicarain"


"Iya, gue pengen tanya sesuatu" jawabnya.


"Apa?"


"Bentar lagi akan ada lomba pemusik nasional lo gak pengen ikut apa?" tanya  Agra yang sukses membuat Zahira bertanya-tanya bahkan selama yang gadis itu tau Agra orang yang sangat anti mengurus masalah tentang dia.


"Apa Bianca yang suruh kamu tanya gini ke aku" terka Zahira.


"Bukan, dia gak ngomong apapun ke gue. Gue cuma pengen lo jadi pemain biola lagi kayak dulu. Perlombaan kali ini Bianca ikut gue berharap lo bisa lepas dari trauma ini dengan mencoba sekali lagi" terang Agra mencoba jelas agar tak kelihatan bersedih.


"Kamu gak benci aku karena Aryan meninggal? Aku udah kubur semua kenangan tentang biola" jawab Zahira.


"Udah setahun kemarin sejak Aryan pergi kalau dibilang benci sama lo, gue lebih benci sama hidup gue yang penuh drama ini gue pengen mengakhiri semuanya. Gue juga lelah sama kayak lo, alasan gue pengen lo jadi pemusik agar kita bisa kasih pelajaran ke Bianca, selama ini gue menjalani hidup dengan topeng dan gue pengen lepas dari itu semua dengan bales jasa Bianca ke gue"


Zahira mengernyit "Jasa? Apa jasa Bianca ke kamu?"


Agra memakirkan mobilnya ketepi dan berhenti mendadak.


"Kenapa mobilnya?" tanya Zahira panik.


Agra melepas sabuk pengaman dan buru-buru mendekat kearah Zahira begitu dekat sampai lekat hingga bibir Agra menempel pada bibir Zahira.


Deg...


Membuat Zahira terperanjat kaget selain itu jantungnya berdetak tak karuan seperti berlari dikejar sesuatu. Tak cukup mencium bibir Zahira, dengan perlahan Agra mengecap dan menjilat setiap inci bibir gadisnya cukup menahan lama Zahira berusaha memberontak tapi Agra malah mencekal kedua pergelangan tangannya dengan dipererat.


Setelah beberapa menit melakukannya Agra melepaskan ciumannya perlahan membuat suasana menjadi canggung diantara mereka.


"Gue sayang lo Zahira" ucapnya tiba-tiba membuat Zahira kaget akan deklarasi gila itu.


"Gue pengen jelasin semuanya tentang hubungan kita dan hal gila apa antara gue sama Bianca. Tolong hari ini luangin banyak waktu buat gue seorang" pinta Agra.


"Gue gak bisa, Agra. Hari ini gue ada janji" sahut Zahira.


"Tolong satu hari aja gue jelasin semuanya nanti"


"Oke deh" pada akhirnya Zahira mengiyakan.


...****...


"Zahira?" absen Ragil diruang fakultas.


"Zahira?" ucapnya lagi.


"Ngak masuk, Pak" jawab Anya.


"Baik kelas selesai hari ini, happy nice day" pamitnya sembari memopong buku.


"Nice day too Pak" sahut semua mahasiswa.


Saat keluar dari ruangan tidak sengaja di koridor Ragil bertabrakan dengan Bianca sontak semua buku yang dibawa pemuda itu berjatuhan ke lantai.


"Maaf" cicit gadis itu lalu segera berjongkok membantu Ragil mengambili buku tadi.


"Gak papa" ucap Ragil kemudian berdiri setelah merapikan bukunya.


"Hm itu—"


"Kamu dosen?"


"Bukan saya asdos"


Bianca mangut-mangut paham "Saya kira tadi kamu mahasiswa disini taunya asdos"


"Kenapa memang kalau saya asdos?" tanya Ragil balik.


"Terlalu muda aja soalnya. Oh ya kenalin saya Bianca dari prodi kedokteran" Bianca mengulurkan tangan lalu Ragil membalas uluran tangan tersebut.


"Saya Ragil asdos univ Fisika, senang bertemu kamu. Saya duluan karena banyak yang perlu dikerjakan" pamit Ragil lalu pergi meninggalkan Bianca.


Setelah kepergian Ragil yang tak tampak, Bianca bergumam "Ganteng juga itu Asdos"


...****...


Agra menghentikan mobilnya ditaman kota, pria itu turun dari mobil lalu membukakan pintu mobil dimana Zahira duduk setelah keduanya turun mereka berjalan-jalan disekitar taman.


"Inget gak waktu pertama kali kita bolos sekolah dulu?" ucap Agra sembari mengandeng tangan Zahira.


Gadis itu sedikit terperanjat tapi tak dikentarakan "Kaget ya liat aku sebucin ini?"


"Eng-enggak kok" jawab Zahira terbata-bata.


"Dulu Aryan, gue dan lo waktu bolos pasti kesini dan gak lupa jajan batagor kesukaan lo. Oh ya lo mau batagor?"


"Ngak usah Agra. Kita duduk disini aja" tunjuk Zahira lalu keduanya duduk.


"Sekarang kamu cerita tentang apa yang kamu maksut didalam mobil tadi" lanjutnya.


"Lo penasaran banget?"


"Hm"


"Pertama jangan benci gue sebelum gue jelasin semuanya dengan detail" terang Agra menatap mata Zahira.


"Iya tapi cerita dulu"


"Janji" Agra menaikkan jari kelingkingnya yang langsung diiyakan oleh Zahira.


"Jadi satu tahun lalu pada perlombaan pemusik tahunan, lo bilang bahwa tata lampu harus diurus sama klub musik yang lo pilih tapi waktu itu semua orang pada sibuk dan gue takut kalau perfomance lo jelek jadi gue serahin itu ke kru penyelenggara acara–"


"Apa?!" Zahira terkejut.


"Zah sebenernya gue gak bermaksud hancurin acara musik lo tapi gue bener-bener gak tau kalau lampu panggung bakal jatuh pas acara gue serahin ke kru. Jadi peristiwa waktu itu semua pure kesalahan gue, maafin gue Zahira" lanjut Agra dengan kepala tertunduk malu.


"Kenapa lo baru cerita sekarang, gue udah keluar klub musik gue kira karena gue emang bodoh waktu itu" sahutnya.


"Gue juga minta maaf karena gue salahin lo padahal gue juga salah waktu itu" Agra menelakupkan kedua tangannya memohon.


"Apa Bianca tau ini semua?"


"Iya dari awal dia tau"


"Dia tau dari awal sedangkan kamu gak kasih tau aku. Jahat kamu Agra" cecar Zahira dengan nada tinggi.


"Karena itu Zah, lo harus jadi pemusik agar Bianca tau kalau lo gak semudah itu buat dikalahin"


"Agra kamu cuma pentingin diri kamu sendiri selama satu tahun ini aku udah kubur semua kenangan itu. Tolong jangan buka luka lama ini"


"Setidaknya lakuin untuk Aryan" cicit Agra sembari memegangi tangan anak itu.


"Kamu nyuruh aku supaya kamu bisa bebas dari Bianca kan? Aku ngerti pasti dia ngancam kamu kalau dia bakal bongkar rahasia yang kacauin acara! Sebenernya kamu juga gak salah, kita coba menerima ini ikhlas mungkin ini pilihan takdir dan aku udah gak mau ngelawan takdir" tekan Zahira lalu berdiri dari bangku.


"Zahira lo harus denger gue jangan pergi gue ngomong yang sebenernya Zah" teriak Agra melihat gadisnya itu semakin berjalan menjauh meninggalkan jarak diantara keduanya.


......¤¤¤¤......


Pesan;


Terima kasih yang sudah dukung cerita ini, semoga author bisa up setiap hari