
Zahira berdiri dari tempatnya duduk "Ngapain Lo disini?" selidiknya.
"Elo sendiri ngapai hujan-hujan ditaman. Gak neduh lagi!" cibir Luhan.
"Elo sendiri? Ngapain payungin gue?" tanya Zahira menaikkan sebelah alisnya.
"Apa? liatnya gitu banget" Luhan menelan silvulanya gugup.
"Ya udah nih, gak gue payungin lo. Puas!" lanjutnya menarik payung dari arah Zahira.
"**** banget sih. Elo mau liat cewek kehujanan" gerutu Zahira sinis.
"Iya udah, lo mau apa?" tanya Luhan memutar bola matanya. lalu kembali memayungi tubuh gadis itu.
"Gue tadi tanya lo ngapain disini?" Zahira mengigatkan pada pertanyaan awal tadi.
"Mobil gue kehabisan bensin. Terus kesini mau cari orang buat bantuin" tutur Luhan.
"Ya udah, ayok." Zahira mencekal pergelangan tangan Luhan lalu menariknya pergi dari taman.
"Hah? Kemana?" tanya Luhan.
"Mobil lo dimana?"
"Disana" tunjuknya kearah kanan.
Setelah berjalan cukup lama, Zahira sampai pada mobil Luhan "Ini mobil lo!"
Luhan mengangguki ucapan Zahira.
"Ya udah, ambil barang lo dari mobil" suruh Zahira.
"Gue ngak bawa barang apa-apa. tadi itu gue dari studio. ini cuma bawa ponsel" Luhan mengangkat ponselnya.
"Kalau gitu tunggu apalagi telphone manajer lo. biar nih mobil dia yang urus" saran gadis itu.
"Emm... masalahnya Manajer gak angkat telphone gue. Kayaknya dia sibuk, kalau nunggu dia lama" Luhan mengigit bibir bawahnya.
"Ya udah pesen taksi aja. suruh anterin beli bensin, nanti lo balik sini lagi. Masalah mobil biar gue jaga" ujarnya.
"Hujan gini mana ada taksi yang mau nerima order" Luhan memberikan payungnya pada Zahira lalu duduk pada tepi trotoar, ia memasang wajah murung.
"Gak elo, Gak gue sama-sama apes" gerutu Zahira lalu duduk disamping Luhan.
"Elo gak ada temen atau keluarga yang elo percaya gitu. biar lo bisa pulang" lanjutnya.
"Mereka semua sibuk" Luhan tersenyum masam menatap Zahira.
"Gue jadi pengen pulang nih,, Elo sama gue aja gimana. Urusan mobil gue yang urus" tawar Zahira.
"Ngak usah mobilnya disini aja. Nanti gue suruh keamanan yang urus. gak enak sama lo bolak-balik. nanti kalau pulang gue bisa segera suruh tuh keamanan" usul Luhan.
Zahira berpikir nanar "Iya udah tunggu apalagi, mobil gue disana. Ehh.... tapi lo yang bawa mobilnya" Zahira melempar kunci mobil kearah Luhan lalu melenggang pergi terlebih dahulu.
Luhan mengangukinya dan tersenyum penuh kemenangan. buru-buru ia mengirim chat pada manajer.
**im.Luhanarsray**
Cepet dateng kejalan Cempaka
Mobil gue ada disana
**22:58 PM READ**
MANAJER
**22:59 PM READ
**im.Luhanarsray****
Gak usah banyak tanya
Dateng cepet
Besok gue jelasin
**23:00 PM READ**
"Luhan cepet" Zahira menginterupsi dari kejahuan.
"Oke gue kesana" Luhan berlari kearah Zahira.
Kini keduanya berada dalam mobil. Luhan mulai menacampakan gasnya lalu menyusuri jalan kota. keduanya tidak saling bicara, mungkin karena Zahira terlalu sibuk mendengarkan talkshow di ponselnya sampai-sampai ketawa gak jelas gitu. Luhan sibuk memperhatikan jalan beberapa kali ia melirik kearah gadis berambut lurus itu.
Luhan tak mengira gadis yang waktu pertama ia temui begitu kasar padanya. Ternyata bisa tertawa segila ini. Luhan memberhentikan mobil berwarna biru didepan Apartementnya. Ia melihat kearah Zahira yang masih belum sadar, jika kini Luhan telah sampai.
"Zahira" panggil Luhan. ia melepas earphone yang melekat pada telinga gadis itu.
"Apa sih!" omel Zahira. Luhan menunjuk kearah kanan, mobil itu tepat terparkir didepan pintu lobi Apaertemen.
Zahira membelangakkan matanya tak percaya "Woah.. kau benar-benar selebriti, bisa dilihat dari luar ini Apartement yang mewah"
"Apa tempatmu tinggal itu seperti Penthouse?" lanjutnya.
"Ahh.. tidak sih hanya kelas biasa. Apa lo mau masuk?" tawar Luhan.
"Gak usah, udah malem gue pulang aja" Luhan turun dari mobil, keduanya bertukar posisi.
Tak disangka dari atas Apartement tersebut, seorang pria memperhatikan keduanya "Pantes chat saya gak kamu bales. Ternyata kamu sama sepupu saya" gumam pria itu.
"Iya udah jalan gih.." suruh Luhan
"Duluan ya?" pamit Zahira yang langsung dapat jempol dan senyum manis dari Luhan.
Gadis itu tersenyum samar dan langsung menacampkan gas keluar dari Apartement mewah tersebut.
Luhan menekan kode nomor pintu Apartementnya kemudian menarik ganggang pintu. Baru menutup pintunya dan masuk beberapa langkah, Ia terkejut akan sosok orang yang tengah membaca buku dengan hanya diterangi cahaya lampu ponsel diatasnya seperti hantu saja.
"Ahh,,, Kenapa kau selalu membuatku senam jantung. Disini kan ada lampu harusnya nyalakan. Kalau kau seperti itu membuatku takut saja" Luhan mengeluarkan ponsel dari saku celananya, membuka senter ponsel lalu menyalakan saklar listrik. Akhirnya listrik pun menyala.
"Begini kan terang, Lagian kau aneh-aneh saja kak!" Luhan pergi kedapur untuk mengambil minum.
"Dari mana?" tanya Ragil.
Memang pria tadi itu adalah Ragil. Ragil adalah sepupu Luhan. mereka berdua tinggal bersama dalam satu Apartement.
"Studio" jawab Luhan gugup.
"Pulang tadi dianterin cewe. Aku liat!" jelas Ragil sembari membaca buku.
Luhan yang tengah minum tersedak air, buru-buru ia berlari kearah Ragil"Aku mohon kak, jangan katakan ke ibu. kalau ibu tau dia akan marah, dia menyuruhku untuk fokus ke pekerjaan dan kuliah" Luhan memohon disamping Ragil yang tengah membaca buku.
"Sana, sana kau basah. Tapi aku boleh tinggal disini dan kau juga harus merahasikan pada ibuku kalau aku tinggal bersamamu. Paham tidak!" usul Ragil.
"Iya paham" Luhan mengangukkan kepalanya. kemudian berlalu pergi ke kamar mengganti baju.
"Tunggu. Masalah gadis tadi, Apa kau menyukainya?" tanya Ragil penasaran. sontak Luhan memberhentikan langkahnya lalu menoleh kearah Ragil.
"Mungkin akan. Dia juga tampak manis ketika tertawa" Luhan tersenyum menagapi perkataan Ragil. Tapi Ragil tampak murung dengan jawaban Luhan.