
Zahira terkejut ketika ia salah memperkirakan tamu yang ia panggil.
“Maaf, gue ngak tau kalo elo bukan Agra, gue kira tadi tuh Agra” Zahira menjadi malu tapi tak ia tunjukan.
“Santai aja, kamu Zahira kan?” tanya pria itu.
“Kok elo tau, lo siapa?” selidik Zahira.
Pria itu melangkah mendekat ke Zahira
“Perkenalkan nama saya Ragil Aksara Bagaskara, saya guru privat mu”ujar pria itu memperkenalkan.
“APA? GURU PRIVAT” Zahira terkejut, ia tak menyangka pria dihadapannya ini guru lesnya, sudah lama ia tak mengikuti bimbel.
Ahh,, bukan lama tapi baru saja selesai, bimbel terakhir ia lakukan ketika akan ujian nasional kelas 3 SMA dan sekali lagi ia akan mengikuti bimbel, maaf bukan bimbel kali ini, tapi Les Privat. Tapi apa ini? Bukankah ia sudah dewasa bahkan ia sudah kuliah tapi masih tetap saja ia harus mengikuti les.
Zahira mengaku memang otaknya cukup minimalis dalam menerima pelajaran tapi ayolah dirinya sudah besar ia telah kuliah. Berapa lama lagi ia harus mengikuti Les yang baginya membosankan.
Pria itu mengangguki ucapan Zahira yang spoiler tadi.“Tunggu, siapa yang suruh lo jadi guru privat gue?” tanya Zahira menyelidik.
“Menurut mu siapa?” tanya pria itu mengetes.
Zahira menerka-nerka pertanyaan Ragil
“Mama?” Ragil tersenyum manis meng-iyakan ucapan Zahira.
“Jadi kapan kita mulai bimbelnya?” tanya Ragil tak sabar.
“Gue ngak percaya kalau Mama nyuruh orang jadi guru privat gue!” elak Zahira.
“Kamu boleh gak percaya sama saya, tapi hubungi dulu Mama mu dan konfirmasi apa yang saya ucapkan tadi benar atau salah. Kamu punya ponsel kan?” tanya pria itu.
“Gue punya kok nih..” tunjuk Zahira memperlihatkan ponsel yang digengamnya.
“Bentar gue telphone dulu, elo diem!” lanjut Zahira ketus seraya menekan nomor telphone Mamanya.
Ketika dirasa sambungan tersambung dari sebrang sana, tanpa dikomando Zahira mencecar Mamanya
“Mama nyewa guru privat buat aku? Tapi buat apa, Ma? Aku kan udah besar bisa belajar sendiri. Ahh,, Mama malu-maluin aku aja. Aku capek diatur!” Zahira menjambak rambutnya gusar. Ragil yang melihat hal itu tersenyum kecil.
“Tenang okay, Mama bisa jelasin” ucap wanita paruh baya itu dari balik telphone.
“Mau jelasin apa lagi sih, Ma!” cibir Zahira
“Maafin mama ya, Ra. Bahkan sampai saat ini mama belum bisa jadi mama yang baik buat kamu, Cuma ini yang bisa mama lakuin”
“Elo keluar dari sini!” teriak Zahira pada Ragil.
“Saya akan keluar, kalau memang kamu marah jangan salahkan Mama mu. Mungkin baginya dengan memberikan bimbingan belajar pada putrinya adalah cara agar kamu tidak merasa kesepian dirumah ini tanpanya. Karena itu kamu disuruh sibuk sama kegiatan belajarmu” ujar Ragil, lalu melangkah keluar.
"Kok gue jadi bersalah ya ke Mama. gara-gara perkataan tuh guru!" Hati Zahira menjadi bimbang.
**
Hari ini tak ada kegiatan khusus yang dilakukan Zahira, kelas terasa membosankan tanpa seorang dosen jurusan. Apalagi kelasnya kali ini terus diberikan tugas yang mereka sendiri tak bisa mengerjakannya.
“Kalau tugas udah selesai kumpulin ke gue, sekarang gue mau keluar dulu. Nanti balik lagi” tegas Zahira yang langsung diangguki semua temannya.
Zahira menikmati makanan Kafetaria, harinya terasa membosankan tapi tak bosan lagi ketika ia pergi untuk mencari makan. Dengan ditemani ponsel, minuman dan beberapa makanan, menjadi pengantar dirinya diam tak berkutik di meja paling ujung hingga seseorang menepuk bahunya membuat dirinya terlonjak kaget.
“Zahira” Ia menoleh menatap kearah suara.
“Mau apa?” tanyanya sinis pada Luhan.
cowok itu menarik kursi dan duduk tepat disamping Zahira, ia menaruh tasnya di atas meja dan meraih sesuatu dari dalam sana lalu menatap wajah gadis itu.
“Thank’s karena tempo hari bantuin gue” Luhan menyodorkan Topi dan Kacamata hitam tersebut.
“Dan maaf karena perlakuan gue diparkiran kemarin, jujur gak ada maksut terselubung baperin lo waktu itu. Cuma pegen dapat perhatian lo sebentar, karena gue kesel lo kacangin dikafetaria. Gue serius kali ini gak bohong. Mengenai perkataan gue diparkiran lupain dan itu semua gak serius” lanjutnya
“gue maafin. Maaf juga karena kacangin lo, dan itu gak usah lo balikin ambil aja.” ucap Zahira, sekarang pertengkarannya dengan Luhan telah selesai.
“Gue gak pantes nerima ini, udah makasih banget lo bantuin” tolak Luhan.
Zahira mengambil Topi dan Kacamata hitam itu “Gue sempet lupa elo orang kaya” sindirnya, kemudian menikmati minumannya.
"Apa?” Luhan membulatkan matanya.
"Nada bicara gue kayak gitu. Elo terbiasa aja, gak usah bawa emosi. ujung-ujungnya kayak kemarin" jawab Zahira penuh santai.
Luhan tersenyum kecut " Elo tuh berbakat bahkan lo tuh hebat. Sayang lo udah berubah" ujar Luhan begitu saja.
Zahira terkejut, ia menatap Luhan dengan sorot mata mengintimidasi " Elo kenal gue, Luhan?"