The Love Equations

The Love Equations
TLE 27



Hari telah berganti, tapi tampak dari luar jika esok masih terlihat petang. Zahira menarik ganggang pintu berjalan mengendap-endap perlahan keluar dari kamarnya, begitu melewati ruang tamu ia melihat Ragil yang tertidur pulas disofa. Gadis itu mengalihkan fokusnya dari lelaki disana mencoba untuk tak terintimidasi atas adanya Ragil, saat sudah mendekati arah pintu keluar Apartement, suara berat menginterupsinya.


"Kamu mau kemana?" itu Ragil yang bicara.


Zahira menoleh dengan cengirannya sambil mengaruk tengkuknya yang gatal "Hm itu— gue laper" pikirnya lama baru menjelaskan.


"Kamu gak berusaha kabur kan?" selidik Ragil dengan mata memincing.


"Enggak kok" Zahira menggeleng keras sembari mengibas-ibaskan kedua tangannya.


Ragil berusaha percaya dengan melangkah menuju dapur yang diekori gadis itu dari belakang.


"Kok lo udah bangun, ini baru jam empat pagi" tatap Zahira pada lelaki yang tengah minum tersebut.


"Saya mau sholat, kamu mau kan jadi makmum saya?" Zahira melotot menaikkan sebelah alisnya.


"Maksut saya, kamu mau gak bersedia sholat berjamaah sama saya" terangnya.


Lalu Zahira berO-ria, gadis itu paham dan mulai mengikuti gerak Ragil guna mengambil air wudhu.


Setelah selesai keduanya masuk ke kamar untuk menunaikkan sholat. Zahira tersadar ketika ada yang kurang.


"Gue gak bawa mukena" jelas Zahira.


Ragil menunjuk dengan dagu sambil memakai peci diatas kepala "Di laci itu ada mukena"


Gadis itu menurut dan membuka laci yang dimaksut, ternyata yang dikatakan Ragil benar. Buru-buru ia memakai mukena itu dengan rapi, setelah dirasa selesai Ragil menghadap kiblat lalu membaca niat.


"Allahuakbar"


*****


Ragil menyetel lagu everything suck dalam mobilnya, dengan suara sedang memenuhi seluruh ruang mobil.


"Ragil kita salah arah" ucap Zahira menyadari bahwa salah jalan.


"Bener kok" jawab lelaki itu.


"Rumah gue belok kanan" tatapnya pada wajah Ragil yang masih terus fokus mengemudi.


"Siapa bilang kalau saya bakal kerumah kamu?"


"Tapi kata lo—" Zahira mengantung ucapannya lalu terbelalak.


"Jangan bilang kalau lo gak anter gue pulang" Ragil memberi tatapan tajam pada anak itu.


"Emang orang rumah ada yang khawatir sama kamu? Ngak kan! Kenapa sih kamu kekeh pengen pulang bahkan Mama sama adikmu gak telphone kamu" cecar Ragil kemudian beralih fokus.


"Terus kalau lo gak bawa gue pulang, gue mau kemana? Gue juga belum ganti baju" seketika itu mobil mengerem mendadak, membuat Zahira terpental kedepan lalu terhempas kembali kebelakang.


Ragil menoleh ke belakang mencoba meraih tas pada bangku penumpang yang akhirnya didapatkannya.


"Ini, kamu ganti baju setelah kita sampai" tuturnya lalu menancapkan gas kembali menjelajah kota.


"Tapi kita mau kemana?"


"Ke tempat Megan"


...~...


"Permisi tolong minggir" teriak perawat laki-laki atau perempuan kembali memasuki ruang ICU.


"Bagaimana keadaan putraku?" tangis Jasmine kembali pecah ketika melihat perawat silih berganti memasuki ruangan putranya.


Sembari bunyi pemberitahuan sound rumah sakit yang terus bergema.


...‘Pasien 302, ruang ICU darurat’...


Begitulah suaranya, hingga terdengar jelas berputar berulang kali. disisi lain Danang mendampingi istrinya dengan memegang bahu wanita itu agar mampu tegar dan bertahan dalam keadaan sulit ini. Ketika melihat salah satu perawat pria keluar, Danang menghadangnya.


"Bagaimana keadaan dia?" tanyanya yang begitu jelas bahwa sedang cemas.


"Apa sesuatu akan terjadi padanya?" tanyanya lebih mendetail.


"Hm, kemungkinan besar koma" mendengar itu tubuh Jasmine luruh kelantai pingsan tak sadarkan diri.


"Istriku" teriak Danang histeris.


*****


Keduanya masuk pada ruang latihan Megan, yang kebetulan disana wanita satu anak itu tengah berbincang dengan seorang tamu pria.


"Hai Megan" sapa Ragil.


"Hai Ragil" wanita itu melirik sambil melambaikan tangan.


Bersamaan itu tamu tadi menoleh sambil meraung "Kak Ragil" panggilnya.


"Luhan kau disini?" kata Ragil dengan nada terkejut.


"Hm, Oh Zahira kau disini?" pemuda itu memiringkan kepalanya melihat wajah gadis yang tertutup punggung sepepunya sambil mendekat pada gadis itu dan mengamati setiap detail dari ujung rambut sampai ujung kaki Zahira.


"Kau tidak apa-apa?" lanjutnya kali ini cemas.


"Lo juga tau?"


"Hm" angguk Luhan.


Zahira menarik nafas lalu dihembuskan dengan keras "Maaf gak bisa datang ke ulang tahun lo, sekali lagi selamat ulang tahun"


"Eh, ngak papa" jawab Luhan.


Megan memandangi percakapan keduanya yang akhirnya disela "Kalian lanjutkan pembicaraannya, saya mau keluar"


"Tunggu Megan" cegah Zahira.


Megan berbalik menatap gadis muda itu "Apa?"


"Boleh aku pakai toiletnya, aku harus ganti baju dari ke–"


"Jangan dilanjutkan! Kau bisa pakai jika mau" sahutnya.


"Terima kasih, Megan" senyum Zahira begitu tipis.


Begitu Megan sudah keluar dari ruangannya dari belakang Ragil menyusul


meninggalkan Zahira dan Luhan didalam berbincang.


"Megan" panggilnya.


"Ya, ada apa?"


"Aku mau bicara" Megan mengangguk lalu keduanya duduk pada kursi lobi.


"Katakan"


"Bagaimana dengan perkembangan musik Zahira" Megan berpikir sebelum akhirnya bersuara.


"Untuk saat ini kemauan belajarnya tinggi, tangannya juga memerlukan latihan. Gesekan dan pergerkan jarinya dalam memetik senar biola tak sebaik dulu"


"Jadi sebelumnya kau tau teknik Zahira dalam permainan musiknya" sambung Ragil.


"Tentu itu terlihat jelas, selain itu aku juga tau kenapa ia harus vakum dari dunia musik" jawab Megan.


"Jika kau tau dari awal kau harus beri dia perhatian lebih, perlombannya dua bulan lagi" lanjutnya.


"Teknik ku bukan seperti itu, aku tidak mau mengajar seorang pemusik hanya berlandaskan ambisi. Aku sudah pernah kehilangan satu muridku hanya karena ambisinya tersebut" ingat Megan begitu kenangan memori memutar diotaknya.


"Siapa murid itu?"


"Bianca"