The Love Equations

The Love Equations
TLE 17



"Semuanya berubah ketika gue, Agra dan Aryan kelas tiga SMA" ucap Zahira dengan liquid yang terus menetes dari pelupuk matanya.


"Gue dulu pemain biola, pernah ada perlombaan Aryan sama Agra ikut buat nemani gue, sedangkan Bianca dia saingan gue diperlombaan. Waktu gue mau tampil lampu panggung yang ditengah jatuh dan hamir kena gue sayangnya waktu itu Aryan nolong gue pada akhirnya dia kejatuhan pas dirumah sakit dia meninggal waktu operasi. Sebelum gue dijodohin sama Agra, Aryan seseorang yang selalu denger cerita gue dia teman terbaik gue selamanya dia bakal ada dihati gue tapi semua orang menyalahkan gue karena Aryan meninggal waktu itu sampai sekarangpun gue menyesali pertemuan gue sama Aryan seandainya Aryan gak dateng dia pasti masih hidup" Zahira bercerita dengan tangisan yang tiada hentinya beberapa kali anak itu terisak.


Luhan perlahan maju mendekat sembari menepuk pundak Zahira memberi isyarat bahwa gadis itu harus tetap tegar "Maafin gue harus buka luka lama lo, sebenarnya waktu pertunjukan itu gue ada disana"


Zahira menghapus air matanya "Apa selama ini lo sengaja deketin gue?"


"Nggak gitu Zah, alasan gue deketin lo karena lo penyemangat dan inspirasi gue permainan biola lo buat gue luluh" katanya.


"Lo bakal menyesali jadiin gue inspirasi lo" ujar Zahira lalu pergi dari sana.


****


Zahira pulang saat memasuki gerbang ia melihat Ragil menunggunya diteras rumah. Saat melihat Zahira pemuda itu berdiri sambil tersenyum kemudian menghampirinya.


"Saya ada sesuatu buat kamu"


"Apa?" Zahira mengernyit.


"Sebentar" Ragil mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya membuat Zahira kaget.


"Ini—"


"Kamu suka?"


"Gue benci sama biola ini!" Zahira nampak naik pitam.


"Tapi Ra kamu bilang bakal main biola lagi kalau biolanya gak rusak" kata Ragil mengingatkan.


"Itu karena gue kira lo bakal nyerah, sekarang pergi dari sini dan stop ganggu gue. Sampai kapanpun gue gak bakal main biola lagi" tegasnya, saat akan masuk kedalam rumah tiba-tiba Ragil berucap.


"Kamu kenal Aryan? Apa kamu tau apa impian dia? Kamu mengerti apa keinginannya?" tanyanya kemudian.


Zahira berhenti dari langkahnya lalu menoleh kearah Ragil "Dari mana lo kenal Aryan?"


"Kamu gak perlu tau, besok hari peringatan satu tahun dia meninggal kamu datang kepemakaman akan saya jelaskan semuanya" jelasnya lalu pergi dari kediaman Zahira hingga pemuda itu tak terlihat sama sekali.


"Aryan gue rindu lo" cicitnya.


Pagi ini satu tahun peringatan kematian Aryan seperti apa yang dikatakan Ragil kemarin, Zahira tampak rapi dan sopan dengan balutan blus biru dan rok hitam ia menuruni tangga terlihat dibawa ada Zareca dan Mamanya yang tengah sarapan.


"Kok rapi sayang?" tanya Mama Zahira saat gadis itu duduk membaur dimeja makan.


"Hari ini satu tahun kematian Aryan" liriknya.


Zareca dan Tante Hilda-Mama Zahira bersamaan menghentikan aktifitas makannya mereka berdua terdiam.


"Kamu mau kunjungi makam dia?" tanya Mamanya sekali lagi.


"Iya Ma, Aryan-dia yatim piatu pasti gak ada yang ziarah ke makamnya" jawabnya.


"Gue gak ngerti kak apa emang nasib lo atau lo nya aja yang pembawa sial. tapi setiap orang yang dekat sama lo mereka pasti meninggal" cecar Zareca kemudian pergi.


Sementara Tante Hilda menghela nafas "Gak usah dengerin perkataan Eca"


"Tapi yang dia omongin bener kok Ma" lanjut Zahira meninggalkan meja makan kemudian.


"Pemakaman cempaka pak, tapi sebelum itu kita ketoko bunga dulu" pesannya.


"Baik mbak" ujar supir taksi itu.


Setelah membeli bunga ditoko tadi, kini Zahira melanjutkan perjalanan menuju pemakaman cempaka saat keluar dari taksi ia sudah melihat Ragil berdiri didepan pintu masuk makam.


"Ayo" ajak Zahira sembari menenteng bunga.


Setelah lama berjalan diarea pemakaman keduanya sampai pada petilasan makam Aryan Danendra. Zahira berjongkok mengusap nisan yang berdebu itu sambil tangan satunya mencabuti rumput.


"Aryan apa kabar?" lirihnya.


"Usah setahun sejak lo meninggal, maafin gue yang gak hadir diacara pemakaman lo. Gue bawa bunga peony arti dari bunga ini gue berharap jika suatu saat nanti lo berinkarnasi lo bakal selalu beruntung, memiliki kehormatan dan kebahagiaan melebihi kehidupan lo yang sekarang selain itu gue berharap kita gak ketemu dikehidupan selanjutnya. semoga lo bahagia disurga Aryan gue sayang lo" Zahira menangis sembari terus mengusap makam itu.


Ragil pria itu juga ikut berjongkok "Ini buku harian Aryan"


Zahira menautkan alisnya ketika Ragil menyodorkan buku tersebut "Kok lo yang bawa?"


"Hubungan saya sama Aryan sangat rumit sebaiknya kamu tidak perlu tau. Sekarang baca saja bagian tengah buku itu" jelas Ragil.


Lalu Zahira membuka lipatan tengah buku tersebut, dibaca dalam hati.


*Teruntuk Zahira-wanita yang sangat kucintai.


Apa kabar? Aku baik Zah. mungkin saat kamu baca surat ini kita udah gak ada didunia yang sama lagi. Kabar kamu harus baik disana, Aku baik disini aku senang, aku bahagia bisa dipanggil secepat ini. Jangan salahkan dirimu karena aku menyelamatkan kamu, itu jalan yang kupilih, aku tau siapa yang memberikan surat ini? pasti Ragil. Zahira baca ini dengan benar jangan menangis*!!


^^^Zahira mengusap air matanya yang tiada henti keluar "Gue gak kuat bacanya" rengek gadis itu. ^^^


"Kamu harus baca sampai selesai setelah itu kamu tau alasan operasi Aryan gagal" tandasnya.


"Maksud lo?" tatap gadis itu penuh selidik.


"Baca!" perintah Ragil dengan nada naik. lalu Zahira mengusap lagi dan lagi air matanya.


Zahira aku pengin kamu tetap main biola untuk seterusnya jangan takut hanya karena tragedi ini, Aku tau menjadi pemusik biola bukan hanya hobimu semata tapi profesi yang kamu inginkan. maka dari itu jangan pernah berhenti, apapun keadaannya aku selalu bersama mu mungkin tidak hari ini tapi aku selalu menemani mu. Disana ada Ragil dia akan menjagamu, dia berjanji kepadaku sekarang berjanjilah kepadaku bahwa kamu juga akan melakukan hal seperti apa yang aku katakan disini. Berjanji!


Zahira lagi-lagi berhenti membacanya dadanya terlalu sesak "Gue gak bisa janji sama lo Aryan, gue terlalu takut"


"Ada saya yang dukung kamu Zahira" sahut Ragil.


"Lo siapa sampai mau ngorbanin segalanya buat gue padahal kita baru satu bulan kenal. Terus kenapa Aryan selalu nyebut nama lo? Apa lo satu panti asuhan sama Aryan?" kelakar Zahira kesal sambil menatap Ragil dengan amarah.


"Saya bakal cerita kalau kamu mau jadi pemusik lagi" balasnya.


"Lo cerita dulu baru gue ngerti?"


Ragil mengusap wajahnya frustasi, sangat susah membujuk Zahira "Oke saya bakal cerita tapi kalau sekarang kamu gak akan percaya. Besok setelah kelas kuliah selesai temui saya"


"Gue gak mau besok harus sekarang" gadis itu berdiri meremas surat yang ditulis Aryan.


Ragil berdiri mengikuti arah gerak anak itu "Saya gak bisa sekarang saya harus ketemu dosen buat nyusun matkul"


"Oke besok tapi harus tepatin gak bakal ada kebohongan lagi tentang Aryan" pesan Zahira dengan sorot mata tajam.


"Iya saya berjanji" lalu keduanya keluar dari area pemakaman cempaka.