The Love Equations

The Love Equations
TLE 28



Ragil melotot hingga hening sekejap, pikirannya menerawang kearah lain Kemudian Megan kembali bersuara lagi.


"Beberapa waktu lalu aku bertemu Bianca" kata Megan melanjutkan.


"Kenapa dia kemari?" baiklah meski Ragil hanya sekali bertemu gadis bernama Bianca, tapi sebelumnya ia sempat menyelidiki latar belakang Zahira yang pada akhirnya ia menjadi guru les gadis tersebut.


Jadi intinya ia tau bahwa Bianca selalu menjadi lawan Zahira dalam setiap pertandingan musik.


"Kami bertemu tidak sengaja, selain itu aku memberitahunya bahwa Zahira ikut serta dalam perlombaan musik tahun ini" mendengar itu Ragil semakin tak mengerti jalan pikiran Megan.


"Untuk apa kau memberitahunya?" pekiknya jelas.


"Bukannya adil dalam pertandingan untuk tau siapa lawan kita, aku melakukan hal yang benar" sarkas Megan dengan tatapan mata tajam.


"Jadi apa reaksinya?"


"Dia menyuruhku meninggalkan Zahira, anak itu melarangku menjadi guru musiknya. Paham sekarang!" tutur Megan dengan nada menekan.


"Apa keputusanmu?"


"Aku menolaknya tapi aku kenal Bianca dia tidak akan tinggal diam"


"Aku jadi curiga tentang kecelakaan ini, apa mungkin Bianca dalangnya" batin Ragil dalam hati.


Hingga sesaat kemudian pintu ditarik, dari sana keluar Zahira dan Luhan  dengan langkah tergopoh-gopoh melihat itu Ragil berdiri menyela langkah keduanya.


"Kalian mau kemana?"


"Pelaku kecelakaan udah ketangkep kak" sahut Luhan.


"Aku akan kesana melihatnya" lanjut Zahira.


"Tidak, kau disini saja aku akan pergi melihatnya. Kau harus latihan dengan Megan" cegah lelaki itu.


"Tapi Ragil aku—"


"Jangan menyalak" sela Ragil dengan nada tinggi, kemudian ia pergi tak menurut omongan Zahira.


Detik setelah itu Luhan menoleh pada gadis tersebut "Yang dikatakan Kak Ragil benar, aku akan pergi menemaninya jika ada informasi aku akan beritahu padamu. Kau tenang saja" pungkas Luhan lalu menyusul langkah sepupunya.


*****


"Dimana pelaku itu? Siapa yang berani menabrak putraku" teriak Danang pada seisi kantor polisi.


Nampak dua petugas berusaha menghentikan pergerakan Danang untuk memasuki ruang intograsi.


"Biarkan aku masuk, aku akan menghukum pelaku itu sendiri" ucapnya dengan amarah meluap sambil mata memerah terbakar.


"Maaf Pak, anda dilarang masuk ruang intograsi jika perlakuan anda seperti ini. Tolong kendalikan emosi anda" pesan satu petugas dengan nada melembut.


Tapi semakin kuat dicegah Danang semakin penasaran dan terus mendorong tubuhnya untuk menyela dua tubuh yang menghadangnya.


"Tuan mohon berhenti" saat tangannya dicekal seseorang, Danang mengibaskan kedua tangannya keudara dan itu mengenai hidung orang tersebut lalu pada akhirnya mimisan.


"Owh, kau baik-baik saja" teriak kedua petugas itu bersamaan membuat Danang menoleh melihat pria yang dilukainya.


Beberapa saat..


Ragil duduk pada kursi kantor polisi dengan tisu yang menyumbal hidungnya.


"Minumlah" Luhan menyodorkan minuman yang diambilnya dari mobil.


"Ish kau ini kak, sudah kukatakan jangan ikut campur masalah orang sekarang liat akibatnya kau mimisan begitu" omel Luhan panjang.


Ragil yang kepalanya mendongak menatap langit-langit kantor polisi kini menatap lurus pada wajah sepupunya.


"Hm, hari ini cuma sial"


"Saya minta maaf" kata Danang mendekat pada Ragil memohon setulus-tulusnya.


"Tidak apa-apa Om, saya mengerti kok" jawab Ragil.


"Kau yang waktu itu kan?" tunjuk Danang sambil mengingat-ingat.


"Iya Om"


"Itu—"


"Kami ingin menemui pelaku kecelakaan beberapa waktu lalu" sahut Luhan yang seketika langsung disikut Ragil membuat pemuda itu menaikkan sebelah alisnya tak paham.


"Kecelakaan dijalan merdeka barat?"


"Iy-"


"Tidak!!" Ragil menyela dengan mengibas-ibaskan kedua tangannya.


"Baiklah, saya pergi dulu kamu jangan lupa mampir temui saya. kapan-kapan saya traktir" pamit Danang lalu keluar dari kantor polisi.


"Baik Om"


Setelah itu Luhan mulai bersuara lagi sambil mengernyit "Kenapa bohong kak?"


"Dia itu Papanya Agra"


"Benarkah?" Luhan melotot yang diangguki Ragil kemudian ia berdiri menemui detektif yang baru keluar dari ruangannya Luhan mengikut arah gerak saudaranya tersebut.


"Permisi pak"


"Ya"


"Apa pelakunya terbukti bersalah?" tanya Ragil.


"Iya, semua bukti tertuju pada tersangka"


"Bagaimana kronologi kecelakaanya?"


"Maaf tuan, anda siapa? Kami tidak bisa menceritakan ini kesembarang orang" tutur sang petugas.


"Saya dari keluarga korban yang bersangkutan" detektif itu mangut-mangut paham.


"Kemari" tunjuk detektif polisi tersebut mempersilahkan Luhan dan Ragil duduk berhadapan dengannya.


Setelah keduanya duduk, petugas itu pergi dan mengambil kotak bukti.


"Ini semua bukti yang kami temukan di TKP, dari rekaman kamera dashboard mobil terbukti bahwa terakhir kali yang mengendarai mobil tersebut tersangka G dan fakta bahwa itu adalah mobil milik putri majikannya" terang petugas tadi dengan rinci.


Sedang Ragil dan Luhan membolak-balik bukti yang terbungkus plastik sterilisasi.


"Kalau boleh tau siapa nama putri majikannya?"


"Bianca Calresva Febiola" jawab petugas itu.


"Bianca? Kak aku mengenalnya!" sahut Luhan mengingat nama depan tersebut.


"Apa akan ada sesi intorgrasi untuk putri majikan itu?" cicit Ragil.


"Tentu, kepolisian akan meminta keterangannya besok" Ragil menaruh semua bukti itu kembali pada kotak tadi.


Yang kemudian diangkat oleh detektif kepolisian "Kalau gitu saya permisi"


"Terima kasih pak atas waktunya" ucap keduanya serempak.


Ragil berjalan duluan yang diekori Luhan dari belakang.


"Kak itu tidak salah lagi, dia adalah Bianca yang pernah kutemui" terang Luhan sambil terus mengikuti langkah sepupunya, sedang Ragil sama sekali tak menggubris.


"Kak ini pasti ulahnya!" simpulnya membuat lelaki itu menoleh pada Luhan dengan sorot matan sedikit samar.


"Apa kau yakin itu nama lengkapnya?"


"Tentu saja" jawab Luhan percaya diri.


"Jangan tarik kesimpulan dulu, kita tidak punya bukti yang memberatkannya" Ragil berpikir nalar dengan alis mengerut.


"Untuk saat ini ceritakan apa yang menjadi kesimpulan polisi, Zahira tidak boleh tau. Sampai waktunya tiba baru kita ceritakan pertama buat dia fokus pada latihan musiknya" lanjut Ragil menerangkan.


"Baiklah aku turuti, tapi kali ini feelingku itu sangat benar bahwa Bianca adalah orang jahat, aku melihat tatapannya pada Zahira seperti ia ingin membunuh gadis itu saja, kali ini aku bersungguh-sungguh ingin melindunginya" sarkas Luhan dengan senyum simrik.


"Yang kakak takutkan adalah ada orang lain yang mengancam keselamatan Zahira selain Bianca" gumam Ragil dalam hati.