
Bianca berjalan menyusuri koridor dengan membawa alat musik biola kesayangannya meski pada dasarnya anak itu mengambil jurusan kedokteran yang semua itu keinginan dari sang Papa. Bentakan Mamanya tadi terus saja berputar diotak Bianca.
"Sekarang pergi kuliah dan jangan risau dengan urusan tabrak lari, aku akan mengurusnya meski belasan sidang harus dijalani akan kubuat semua bukti memberatkan Faris" kata Vera pada gadis itu.
Membuat setiap ingatan kelam pada malam itu kembali terlintas lagi bukannya hanya ingatan itu saja tapi juga memori dari satu tahun lalu sampai Bianca mensurai rambutnya frustasi saat itu juga langkahnya ditarik seseorang dari belakang.
"Hah?" gadis itu melotot saat tersadar kepalanya hampir akan membentur pohon.
"Kau tidak apa-apa?" itu Ragil yang bicara.
Gadis itu menoleh kebelakang "Terima kasih"
"Kita pernah bertemu" ucap Ragil mengingatkan.
Bianca mengangguk mantap "I-iya"
"Kuliah disini?"
"Iya" lagi-lagi gadis itu mengangguk sedang Ragil terus saja menyusul langkah Bianca dari samping.
"Mau kemana?" selidiknya.
"Kafetaria"
"Wah, kebetulan aku juga pengen kesana. Barengan yuk" ajak Ragil sok akrab.
"Iya" keduanya berjalan bersamaan menuju kantin kampus.
Tak lantas sesampainya disana, banyak pasang mata menyorot pada keduanya. Apalagi Bianca juga terbilang famous dikalangan pelajar karena bakatnya bermain biola meski mereka tau saja jika Zahira lebih mahir dalam memainkan alat musik satu itu. Keduanya duduk saling berhadapan pada meja depan kaca besar menampakkan taman bunga milik kampus yang bersih dan asri.
Bianca menaruh alat musiknya dibawaheja dengan tas slempang dipundaknya "Kamu mau pesen apa?" katanya.
"Ehm,.. nasi goreng sama americano" jawab Ragil setelah menimang-nimang.
"Biar aku yang pesen, kamu tunggu sini" balas Bianca.
"Sebenarnya gak mau ngerepotin tapi makasih banyak loh. Gimana kalau tas kamu taruh aja disini biar aku yang jaga" setelah itu Ragil merogoh saku celananya membuka dompet kemudian menyerahkan blackcard (Atm tanpa limit artinya meski kita menarik banyak uang, uang dalam kartu itu tidak akan habis penarikan tanpa batas)
"Gak usah, aku ada kok" Bianca mengibas-ibaskan kedua tangannya menolak.
"Ngak papa ambil aja anggap aku yang traktir" Ragil masih terus memaksa menaruhnya pada telapak tangan gadis itu.
Bianca melepas tas slempangnya lalu ia taruh pada kursi depan Ragil "Yaudah aku terima" gadis itu tak berkutik menurut lalu pergi memesan.
Sesaat setelah Bianca telah benar-benar pergi untuk memesan makanan, Ragil menyalakan speaker bluetooth nyatanya dari tadi ia sedang melakukan panggilan telphone dengan Luhan sepupunya.
"Dengerkan? Dia peka banget" ujar Ragil pada Luhan.
"Iya, sekarang cepet misi pertama cari ponsel Bianca ditasnya" suruh Luhan dari sebrang.
"Oke bentar" Ragil mulai maju mengambil tas anak itu yang namanya perempuan tasnya penuh alat kosmetik bukannya buku.
"Udah dapet" Ragil mengambil barang yang dibutuhkannya lalu mengembalikan tas Bianca pada posisi semula.
"Sekarang tempelin alat yang aku kasih ke kakak dicharger cas ponsel dia" lanjut Luhan dari sana anak itu mulai membuka laptopnya.
Ragil mempraktikkan apa yang dikatakan sepupunya itu, ia menancapkan kabel seperti usb pada telphone Bianca terlihat setelah itu layar ponselnya seperti memuat ulang.
"Udah lanjut, Han"
"Disandi gak ponselnya?"
Sekali lagi Ragil mulai mengecek "Aduh ribet amat mending lo kesini"gerutu Ragil kesal.
"Kalau gue yang kesana malah ketahuan apalagi Bianca tau gue waktu itu, kalau lo kan dia gak kenal lo kak" balasnya dari sebrang telphone.
"Iya disandi pola"
"Oke bentar, pertama gue bakal buka kunci keamanan ponselnya terus dibackup datanya salin paste selesai, berdoa moga kita dapat bukti kalau kecelakaan itu rencana Bianca" lirih Luhan mulai fokus.
Tak berselang lama kunci pola ponsel Bianca berhasil dibobol Luhan dari jarak jauh, perlu kalian ingat juga Luhan bukan hanya seorang Dj tapi ia anak informatika dan teknologi jadi biasa untuk menjadi seperti hacker, pakar coding maupun UI dan UX.
"Berapa lama nih?"
"Bentaran kak lo yang sabar"
Ragil terus saja mengamati ponsel Bianca yang dibobol Luhan kadang tiba-tiba saja terbuka menu galeri, video, ataupun dokumen dan beberapa kontak panggilan terakhir.
"Kak lo tau gak?" ujar Luhan sembari fokus memandangi layar laptopnya.
"Tau apa?"
"Pola kunci telphonenya Bianca"
"Emang apa polanya?" Ragil mengernyit sambil sesekali melihat sekitarnya.
"A"
"Maksutnya?"
"Si A, kemungkinan itu inisial Agra dia buat sandi dengan pola A. Kayaknya Bianca bener-bener suka kak sama Agra deh" simpul Luhan.
"Jangan sok tau!" tekan Ragil ketika netranya menatap kedepan saat itu juga bola matanya melotot.
"Gawat Han!!" Ragil mulai panik.
"Bianca kesini, udah selesai belum? atau gue cabut nih" lirih Ragil sambil menutup mulutnya saat berbicara takutnya Bianca curiga.
Buru-buru lelaki itu menyembunyikan ponsel Bianca dibawah samping ia duduk sambil meneguk salivanya akan tengorokannya yang kering.
"Eh jangan dicabut kak udah delapan puluh tiga persen salinnya" protes Luhan.
"Makanya cepetan" Ragil mengigit bibir bawahnya geram.
"Maaf ya lama" ucap Bianca setelah sampai sambil menyerahkan pesanan Ragil didepan pemuda itu.
"Lebih lama lagi gak papa kok" Ragil membalas dengan senyum kecut.
Bianca pun duduk menyurut minumannya "Kamu cuma pesen jus?"
"Hm, iya"
"Jus apa?" tanyanya.
"Ini jus jeruk nipis bagus buat jaga suara aku tetep bagus" jawab Bianca.
Sedang Ragil berO ria sambil mangut-mangut paham selang detik berikutnya Bianca nampak mengambil tasnya, alisnya berkerut ketika tangannya mengobrak-abrik isi tas namun barang yang dicari tak ada. Ragil yang mengertu akan situasi tersebut tampak tak mempedulikan dan sibuk menyantap nasi gorengnya.
"Kamu liat handphone ku gak?" Mata Ragil melotot ia hampir saja tersedak akan pertanyaan frontal Bianca yang nyatanya 'iya ia tau'.
"Enggak!"
Tatapan Bianca beralih lesu kantung matanya menurun ia bingung "Apa ketinggalan?"
Lain halnya dengan Ragil ia tampak cemas mengigit bibir bawahnya berharap sebuah ide terlintas diotaknya.
"Hm kamu pake aja telphone aku kalau emang perlu banget sekalian coba ditelphone nomor kamu mungkin aja ada yang angkat" usul lelaki itu.
"Emang boleh?"
"Iya gak papa pake aja" Pemuda itu mengeluarkan ponsel dari saku kemejanya.
"Ini"
Bianca menerimanya dengan cukup menimang usul lelaki itu "Bentar ya"
Lantas Bianca berdiri membawa ponsel Ragil keluar untuk menghubungi nomor yang ia tuju. Luhan yang mendengar semua percakapan itu bersuara dari sebrang sana.
"Kak, lo kan lagi telphone sama gue. Kalau Bianca tau gimana?" ucap Luhan panik.
"Itu ponsel kedua gue tenang aja"
"Huh! Untung deh" Luhan menghela nafas lega.
"Udah selesai belum?"
"Bentar kak sembilan puluh tujuh persen nyalinnya"
Dringg... Dringg...
Netra Ragil menoleh ke bawah saat ponsel Bianca yang ia sembunyikan berdering ia tak tega melihat raut putus asa diwajah gadis itu lantas mau bagaimana lagi ini semua ide Luhan untuk mencari bukti tersebut, awas saja jika satu bukti tak ditemukan selepas kejadian ini cebik Ragil dalam hatinya. Ia biarkan panggilan itu tanpa mematikan hanya saja ia kecilkan volumenya.
"Aduh ini Bianca udah telphone pake nomor gue, lelet amat si lo Han" cibir Ragil mulai frustasi.
"Bentar kak. Ohh-oke udah selesai, mohon dicabut" dengan reflek Ragil menarik kabel yang terpasang lalu meletakkan semula ponsel Bianca kedalam tasnya.
Beberapa menit setelahnya gadis itu masuk kembali dalam Kafetaria wajahnya pasrah sambil menyerahkan ponsel tadi pada empunya.
"Makasih" Ragil menerimanya dengan senyum tipis.
"Gimana udah ketemu?"
"Belum, kayaknya aku harus balik ke lab deh buat cari ponselku" balas Bianca mulai memanggul kembali alat musik biolanya bersama juga dengan tas dan minumannya.
"Aku anter"
"Gak usah" tolaknya.
"Pertama kamu cek lagi deh ditas soalnya tadi aku denger ada bunyi dering ponsel dari dalem tasmu tapi aku gak berani buka takutnya lancang" tutur Ragil mulai berdrama lagi.
"Ah, masa? Tadi ku cari gak ada"
"Pastiin aja dulu mungkin aku yang salah denger"
Sontak saja Bianca menaruh tasnya kembali dimeja gadis itu mulai mencari kedalam tas.
Ia pegang benda berbentuk persegi panjang gepeng itu dihadapan Ragil "Oh iya, makasih banyak" ucapnya girang.
"Mungkin tadi kamu itu gak teliti atau banyak masalah" sambung Ragil.
"Beberapa hari ini emang stuck buat aku, yaudah aku mau pergi soalnya ada urusan. Maaf gak bisa nemani kamu sampai makannya habis gak papa kan?"
"Iya gak papa, kamu hati-hati"
Bianca menyelempangkan silang tasnya lalu tersenyum "Iya makasih"
Kemudian ia pun pergi dari sana melewati pintu keluar kafetaria hingga tak terlihat semakin samar.
"Oke kak misi kita berhasil" kata Luhan girang yang langsung ditutup panggilan sepihak oleh Ragil.