The Love Equations

The Love Equations
TLE14



Kini keduanya duduk saling berhadapan. Ragil terus menatap gadis dihadapannya, tapi Zahira selalu memalingkan wajahnya dari Ragil.


"Jadi kamu terima tawaran saya?" Ragil mengerutkan alisnya.


"Gue gak mau jadi pemain Biola. Gue mau fokus sama kuliah!" tekannya


"Sebenernya lo tuh siapa? jangan-jangan lo jadi guru privat sama asdos biar bisa ngawasin gue, dan ingetin gue sama masa lalu itu. Elo tuh lawan atau kawan sih disini!" Zahira memberi tatapan sengit pada Ragil.


"Saya penggemarmu sungguh, saya sering melihat pertunjukanmu. untuk provesi saya ada yang tidak kebetulan dan ada yang kebetulan berhubungan denganmu. Mengenai saya lawan atau kawan, saya itu kawanmu" jelas Ragil.


"Maksutnya kebetulan dan tidak itu gimana? apa lo dari awal sengaja dan lo punya niat dan tujuan dekat sama gue selama ini!" selidik gadis itu.


"Kamu salah mengartikan, saya tidak seperti itu..." Zahira menyela perkataan Ragil.


"Ssuuuttt.. stop!! semua udah jelas. Gue kasih pertanyaan kalau lo bener penggemar gue" gertak gadis itu.


"Iya silakan" ucap Ragil.


"Dalam setiap pertunjukan biola lagu apa yang sering gue bawa?" tanya Zahira membuat Ragil berpikir keras.


"Kalau lo bisa jawab gue yakin lo penggemar gue, kalau lo gak bisa jawab berarti niat lo buruk sama gue. Liat aja sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan kena. seperti itu juga sepintar apapun lo menutupinya semua akan kebongkar" gumam Zahira dalam hati.


Tiba-tiba Ragil menyentikkan jarinya " The love of Destiny lagu dari akademi mu Meloysia"


Zahira menghela nafas "Iya elo bener" Ragil tersenyum penuh kemenangan.


"Kenapa lo senyum itu belum berarti gue terima tawaran lo! Lagian gue udah gak ada felling sama musik" jelas Zahira menyandarkan tubuhnya pada sofa.


"Seharusnya kamu coba saja sekali" seketika raut muka Ragil berubah.


"Emang keuntungannya kalau gue jadi pemain biola apa? Diluar sana masih banyak rumor bertebaran tentang gue. Kalau tiba-tiba gue deklarasi pengen comeback, sekali lagi orang-orang diluar sana bakal berguncing" jelas Zahira dengan nada lesu.


"Guna saya disini kalau gak buat bantu kamu terus ngapain? saya tau terlalu banyak rumor diluar sana. setidaknya setelah kamu kembali kamu bisa cari tahu tentang insiden itu jika rumor itu salah kamu bisa bersihkan namamu. Saya selalu dukung kamu sebagai penggemar! Jadi Lakukan!" timpal Ragil membuat Zahira mengerutkan dahinya.


"Sebenernya lo siapa sih? Tadinya gue curiga sama lo kalau lo tuh jahat. setelah denger omongan lo gue pikir lo tuh tulus bantu gue. Oke,,, fiks kalau gue mau tau siapa dia? Gue harus ikutin permainannya. Gue hanya akan pura-pura, setelah identitas lo terbongkar. Semua bakal kembali lagi!!" gumam Zahira meyakinkan dirinya.


"Gue bakal pikir lagi tawaran lo. Tapi gue punya pertanyaan sekali lagi. Ketika insiden itu hal apa yang buat gue kehilangan sampai saat ini?" tanya Zahira lagi.


"Seorang pemian Biola gak bisa berdiri dipanggung besar tanpa Biolanya seperti itulah gue. Biola gue rusak, tapi kalau lo mau lo bisa perbaiki Biola gue" tawar Zahira yang langsung disetujui Ragil.


"Saya mau, Mana Biola mu? tapi kamu harus jadi pemain biola lagi" tawar Ragil.


Zahira berpikir nanar sejenak "Oke, tapi gue kasih waktu perbaiki cuma 1 minggu kalau biola itu belum selesai dalam tenggang waktu 1 minggu. jangan paksa gue jadi pemain Biola lagi!" tantangnya.


"Setuju, saya pegang omongan kamu" sahut Ragil.


"Gue juga ada satu permintaan buat lo" ucap Zahira.


Ragil mendelik "Apa?"


"Gue masih belum punya permintaan saat ini. Tapi gue pengen lo janji, kalau gue nagih permintaan itu maka elo harus kabulin" ujarnya.


"Iya tapi permintaan hanya akan berlaku jika kamu sungguh mau jadi pemain biola lagi" tawar Ragil tak kalah cerdik.


"Itu hanya tergantung sama elo, kalau biola cepat selesai maka gue bisa cepet kembali jadi pemain biola" Zahira berdiri dari tempatnya.


"Elo tunggu sini, Gue ambil dulu biolanya" ucap Zahira lalu melenggang pergi.


Zahira memasuki kamar, ia meneteskan liquid bening dari netranya. mengambil obat dari dalam tas lalu meminumnya. ia melangkah mendekati lemari kaca dimana didalamnya tedapat begitu banyak foto dan piala kemenangannya. Zahira mengambil biola yang tak terawat itu, meski biola itu terlihat jelek karena rusak tapi biola ini adalah simbol keberhasilannya dalam dunia musik.


Zahira menuruni tangga memberikan biola itu pada Ragil "meski biola ini udah usang, jangan sampai lo kehilangan biola ini. karena banyak kenangan disini. Harus perlu ingat waktunya satu minggu" tutur Zahira.


"Iya saya paham, hari ini gak ada bimbel besok kelas kosong. saya ada keperluan jadi dosen mu itu yang ngajar paling hanya sebentar, karena dia repot" ujar Ragil.


"Gak ada kelas? tapi dosen tetep hadir sama aja. pasti tuh orang nanti kasih tugas numpuk lagi!" sungutnya.


"Nanti kalau ada tugas saya bimbel kamu lagi kok, sementara saya lagi sibuk. Iya udah saya pergi. Semoga besok menyenangkan" pamit Ragil berlalu pergi.


"sebenernya dia sibuk apa sih!" gumam gadis itu.


"Gue gak mau masalah ini pengaruhin belajar gue. elo juga harus tetep professional jadi guru privat!" interupsi Zahira dari kejahuan, dibalas Ragil dengan centikan jari oke👌