The Love Equations

The Love Equations
TLE 13



Luhan menyodorkan coffe pada Zahira yang tengah termenung.


"Minum dulu, Zah" ucap Luhan lalu duduk dihadapan gadis itu.


"Gue gak nyangka Zahira yang suka marah, diluar yang keliatan kuat. Bisa serapuh ini gara-gara tuh cowok br*ngs*k" cibir Luhan.


"Semua orang juga pernah rapuh kali, Elo aja yang gak pernah liat gue kayak gini" jawab Zahira sembari meminum coffe.


"Kenapa tunangan lo kasar banget. Emang kesalahan apa yang pernah lo buat?" tanya Luhan membuat Zahira memberi tatapan kosong.


"Gue juga bingung kenapa dia marah terus? Padahal gue percaya sama dia. Dia ngelihat semuanya, Kejadian itu. Dia liat!! Tapi dia salahin gue" Zahira menangis


"Gue berharap banget. Dia adalah orang yang bakal jelasin kalau gue tuh ngak salah. Gue tau waktu itu ada satu hal yang paling buat gue nyesel sampai sekarang, yang semuanya gak bisa gue putar lagi. Seharusnya dia belain gue. Agra sama gue temen dari kecil" jelas Zahira lalu menarik nafasnya.


"Gue mau izin ke toilet sebentar" pamit Zahira yang langsung diangguki Luhan.


Luhan menyandarkan tubuhnya, ia menghela nafas kasar "Kenapa lo ga cerita yang sebenernya sih, Zah. Mana tau gue bisa bantu. Gue tuh sayang sama lo"


Zahira berlari kedalam Toilet. Traumanya kembali. nafas mulai tak terkontrol, dadanya sesak, tubuhnya gemetar. Zahira telah lama mengidap Depresi setelah kejadian kala itu. hidupnya seperti tak berwarna semua orang menjauhinya.


"Obat,,, obat mana?" Zahira mencari obat escitalopram, paroxetine dan sentraline (obat-obatan itu dipakai untuk penderita Depresi berkala artinya orang itu akan meminum obat itu bersamaan apabila kenangan dari masa lalunya kembali, intinya hanya memberikan efek tenang bagi si penderita)


Tubuhnya mulai merasa baikan, Zahira mencuci wajahnya lalu keluar dari Toilet. Ia merasa tidak enak dengan Luhan.


"Maaf lama" ucapnya kembali duduk.


"Elo gak papa kan?" tanya Luhan.


"Emm.. gak papa kok" Zahira sedikit gugup.


"Gue ada pemotretan jadi gak bisa lama nemenin lo. Gimana kalau gue antar pulang. itung-itung balas jasa lo waktu itu" ajak Luhan.


"Gue bawa mobil. Gue pulang sendiri aja" tolaknya.


"Ya udah, hati-hati kalau gitu. Gue duluan" pamit Luhan lalu melangkah keluar.


Zahira menarik nafas lega karena Luhan telah pergi. ia juga ingin segera pulang lalu tidur untuk melupakan kejadian hari ini.


Luhan mengepak peralatan pemotretan dengan wajah melamun. tanpa disadari, ia juga ikut mengepak buku-buku fisika Ragil kedalam tasnya.


Ragil yang melihat melengos memberi tatapan jengah "Emang kayak gini ya rasanya jatuh cinta. sampe ngelamun kayak orang sinting" gumam Ragil dalam hati.


Ragil memukul tangan Luhan, membuat pemuda itu meringis kesakitan.


"Kak apa kau gila!" decak Luhan kesal.


"Kau itu yang gila. Kenapa buku ku, kau masukan kedalam tasmu" ucap Ragil penuh amarah.


Sontak saja Luhan melihat ketasnya "Ya ampun, maaf kak" Luhan memegangi kepalanya.


Ragil menarik nafas "Kenapa kau melamun?" tanya Ragil.


Ragil pura-pura berpikir menerawang "Ehmm.. apa ini ada hubungannya dengan gadis yang kemarin" selidiknya.


Luhan memasang raut cemberut "Iya"


"Memang apa yang terjadi dengannya?" tanya Ragil penasaran.


"Dia dimarahi tunangannya. Pria yang memarahinya begitu kasar" Luhan terlihat masih kesal dengan kejadian tadi.


"Kenapa tunangannya memarahi dia?" tanya Ragil.


Luhan menceritakan kejadian secara urut mulai dari kejadian di Parkiran sampai waktu ketika ia berbincang dengan Zahira di CoffeBay.


Ragil menautkan alisnya "Siapa nama tunangannya?"


"Kalau gak salah. Agra Mahardika dari jurusan Management. Tapi kak aku juga dengar kalau dia Atlit Renang. Baru-baru ini dia menang tournament di Beijing" jelas Luhan membuat Ragil menerka-nerka.


"Ternyata dia sudah kembali" gumam Ragil dalam hati.


Ragil segera mengganti baju "Aku mau keluar, jangan lupa buku-buku itu keluarkan dari tasmu" pamit Ragil melangkah meningalkan Apartement.


"He... Kak, kau mau kemana? bukannya waktu kau kerja nanti, ini masih pukul 6 malam" teriak Luhan yang tidak mendapat respon dari Ragil.


Zahira dengan raut muka lesunya memasuki rumah, ia terkejut melihat Ragil yang telah ada dirumahnya. padahal ini belum jamnya bimbel.


"Ngapain lo disini?" panggil Zahira membuat Ragil menoleh kearah gadis itu.


"Ngajar kamu" jawabnya.


"Terus ngapain liat etalase gue?" selidik Zahira menautkan alisnya.


Ragil mendekat kearah gadis itu "Udah lama saya pengen liat etalase kamu. Ternyata dulu kamu itu Pemain Biola. Terbukti penghargaan kamu banyak"


"Jangan lancang ya,,, liat privasi gue. elo disini itu cuma ngajar ngak lebih!" ujar Zahira dengan nada bicara naik satu stansa.


"Saya tau, sebenarnya impian kamu itu apa?" tanya Ragil sembari menatap gadis dihadapannya lekat-lekat.


"Kepo banget jadi orang!. Gue mau keatas, mandi terus kesini" ucap Zahira sedikit gugup lalu melenggang pergi.


"Tunggu Zahira" interupsi Ragil membuat gadis itu menghentikan langkahnya. ia menoleh kearah Ragil dari kejahuan.


"Kalau kamu masih mau jadi pemain biola, saya bisa bantu" tawar Ragil membuat Zahira terkejut.


"Maksut lo apa? udah gak mau jadi guru privat fisika gue lagi!" tanya Zahira penasaran.


"Kamu salah, justru saya pengen buktikan kalau kamu bukan orang yang menyebabkan insiden 6 bulan yang lalu" jelas Ragil membuat Zahira tambah terkejut.


"E... elo siapa? Kok kenal gue!" ucap Zahira terbata-bata.


"Saya udah kenal kamu cukup lama. Kamu saja yang gak tau saya. Saya bahkan melihat insiden itu secara keseluruhan" jawab Ragil membuat Zahira termenung.