The Love Equations

The Love Equations
TLE 19



Ragil memasuki apartement dengan kepala tertunduk lesu, rasanya ia tak bersemangat hari ini.


"Kau dari mana saja kak?"


"Aku?" tunjuknya pada dirinya saat itu.


"Ya" jawab Luhan sambil memandangi sepupunya.


"Kerja"


"Beberapa hari ini yang lo lakuin aneh, bahkan lo gak hadir dirapat perusahaan" cibir Luhan.


"Kapan-kapan gue jelasin sekarang gue mau mandi" ucap Ragil menurunkan tas selempangnya dari pundak dan melepas jaketnya kemudian masuk kedalam kamar mandi.


Beberapa menit setelah Ragil masuk kedalam kamar mandi ponselnya berbunyi.


Tring...


Tring.....


"Kak ada yang telphone!" teriak Luhan.


Tapi tak didengar oleh Ragil karena suara kran air yang begitu berisik.


"Gue angkat kak" izinnya lalu mengecek nomor telphone tersebut.


"Zahira?!" Luhan menautkan alisnya. Kemudian menjawab nomor tersebut untuk memastikan apakah itu Zahira yang ia kenal.


"Ragil, gue mau ketemu lo sekarang" ucapnya dari sebrang telphone.


Sementara Luhan kaget, yang menelphone Ragil adalah Zahira yang dia kenal sama seperti dugaanya.


"Ragil"


"Ragil, Ragil. Lo disana kan?"


Panggil Zahira berulang kali yang tak kunjung mendapat respon sampai pada akhirnya Luhan bersuara.


"Ini gue sepupunya Ragil yang angkat"


Zahira yang menyadari suara familiar tersebut berusaha menerka.


"Ini suara Luhan kan?!"


Luhan terdiam sejenak sebelum melanjutkan "Iya, kok lo kenal sepupu gue sih?"


Sampai detik selanjutnya Ragil keluar dari dalam kamar mandi dan menyahut ponselnya dari genggaman Luhan pada arah belakang.


"Halo Ra. Ini Ragil" selanya.


"Gak jadi besok aja" lalu Zahira memutuskan panggilan sepihak.


Saat itu Ragil menyimpan ponselnya sementara Luhan menatapnya penuh mengimintidasi.


"Sejak kapan lo kenal Zahira"


"Bukan urusan lo" jawab Ragil dengan berpura-pura menyibukkan diri.


"Gue pernah cerita dua bulan lalu kalau gue suka cewek"


"Iya gue tau"


"Cewek itu Zahira" tunjuk Luhan dengan nada bicara dinaikkan.


"Itu bagus berarti lo udah dewasa" sahut Ragil.


"Lo suka Zahira?!"


"Ngak"


"Jangan bohong kak, gue gak mau kejadiannya kayak waktu lalu" Luhan mengigatkan.


"Kalau lo suka Zahira gue bakal dukung"


"Terus kenapa lo bisa kenal Zahira dan simpen nomor dia" tanya Luhan.


"Ceritanya panjang, besok dikampus gue jelasin" ucap Ragil lalu merebahkan tubuhnya tertidur pulas.


...¤¤¤¤...


Setelah memakirkan mobilnya diparkiran fakultas, kini Ragil turun sambil ditemani Luhan pemuda itu tampak terkejut setengah mati.


"Lo diem-diem kerja disini?"


"Iya gue asdos disini"


Luhan membulatkan matanya tak percaya "Jurusan apa?"


"Fisika"


Kini Luhan paham kenapa Ragil mengenal Zahira. Keduanya masuk kedalam cafetaria kampus begitu melihat Zahira yang tengah duduk menunggu disana mata Luhan berbinar-binar kentara bahwa pemuda itu menyukai Zahira.


"Udah nunggu lama?" kata Ragil lalu duduk berhadapan dengan Zahira kemudian disusul Luhan.


"Ngak barusan" kini ganti mata Zahira menatap kearah Luhan menyelidik.


"Gue sepupunya Ragil" sela Luhan.


"Jadi kalian sengaja deketin gue selama ini" sarkas Zahira sedikit berprasangka.


"Ngak! gue bahkan gak tau kalau Kak Ragil jadi asdos disini" sahut Luhan sembari mengibaskan kedua tangannya didepan dada.


"Jadi kemarin kamu mau ngomong apa?" sambung Ragil yang memperhatikan sedari tadi.


"Gue bakal mulai main biola lagi" ujar Zahira membuat kedua pemuda itu saling terkejut.


"Setelah gue pikir ini waktu yang tepat gue bangkit setelah hiatus lama. Gue ngomong ini karena gue percaya sama Ragil"


"Maksutnya gue gak dianggep disini" cibir Luhan.


"Gue gak tau kalau lo sepupu dia, sejujurnya gue juga punya banyak pertimbangan tapi Ragil—"


"Pertama kita liat seberapa kamu masih ingat tentang musik" sela Ragil sembari menyilangkan kedua tangannya.


"Gue gak punya waktu buat pelajaran itu, gue pengen ikut perlombaan musik nasional dua bulan lagi" terang Zahira.


"Kita bakal liat apa kamu bisa ikutin waktu perlombaan yang singkat itu dengan liat rekap ulasannya nanti. Soalnya dua bulan waktu yang mepet sementara kamu resign udah satu tahun" sambung Ragil menjelaskan.


"Udah kak kita turutin ucapan Zahira aja" paksa Luhan bersamaan.


"Sekarang kita cuma perlu cari guru musik" Zahira mulai berpikir menerawang.


"Gue kenal satu orang yang bisa ajarin lo, Zah" ucap Luhan kemudian.


Ragil dan Zahira sama-sama menoleh bersamaan kearah Luhan.


"Megan dia bisa bantu kita kak"


Setelah perbincangan tadi Zahira keluar dari dalam cafetaria melewati lapangan futsal saat itu juga ia melihat Agra dan Bianca bermesraan ditribun. Agra yang menyadari Zahira melewatinya berdiri menghampiri gadis itu, Bianca yang melihat perlakuan tak sopan Agra padanya mengepalkan tangannya erat-erat menahan emosi.


"Zah tunggu" Agra mencekal tangan gadisnya itu.


"Lepasin!" bersamaan itu Bianca menghampiri keduanya.


"Udah Agra lagian Zahira gak mau diganggu. Yuk kita pergi" sela Bianca sembari memegangi tangan pria itu.


Sementara Agra menepisnya kasar "Kita sampe disini aja Bi. Gue gak mau berhubungan lagi sama lo" ucap Agra dihadapan Zahira sementara gadis itu menyaksikan dengan tatapan tak percaya.


"Maksut lo apa? Lo mau gue bongkar—"


"Gue udah bilang semua rahasia kita ke Zahira, sekarangpun lo ungkap gue gak bakal takut sama ancaman lo" tantang Agra dengan nada tinggi.


"Dasar brengsek!!" caci Bianca lalu pergi karena kesal.


Setelah kepergian Bianca, Zahira menepis tangannya dari Agra ia membuang muka lalu melanjutkan langkahnya.


"Zah tunggu!" teriak Agra mengikuti langkah Zahira.


Saat berhasil menselaraskan langkah gadisnya kini ganti Agra yang terus membeo sepanjang koridor.


"Lo gak lupa kan nanti malem, ada dinner sama keluarga gue"


Sementara Zahira tak menjawab dan hanya diam.


"Terus lo mau nonton bioskop gak sama gue? Kalau ada waktu.  Terus kita nanti pergi—"


"Gue berencana main biola lagi" sela gadis itu.


Agra melototkan matanya tak percaya "Jadi lo udah pertimbangin lagi!"


"Iya tapi jangan anggep itu karena perkataan kamu kemarin, tapi ini atas pertimbangan aku sendiri" ujar Zahira mengigatkan Agra.


Dalam hati Agra tersenyum bahagia "Apapun itu makasih, Zah" gumamnya.


Lalu keduanya berjalan berdampingan menuju parkiran kampus, bersamaan itu Agra membukakan pintu mobil milik Zahira sambil menawarkan diri.


"Lo pulang gue supirin ya" tawar pemuda itu.


"Ngak usah Agra, gue pulang sendiri" tolaknya.


"Ngak papa ya plis"


"Ngak usah"


Disisi lain Luhan yang sudah mengeluarkan mobilnya dari parkiran mengernyit begitu mendapati Zahira tengah berdebat serius dengan Agra menurut prasangkanya, ia takut bahwa pemuda itu akan menyakiti perasaan Zahira lagi saat itu juga ia turun dari mobil menghapiri mereka berdua.


"Zah lo gak papa kan?" sela Luhan memutus perdebatan keduanya dengan raut khawatir.


Kini Luhan berganti menatap sinis Agra, sementara pemuda itu tak kalah menatap mengintimidasi pada Luhan.


"Liat ap—"


Bruk...


"Brengsek!!!" Luhan meninju wajah Agra hingga pria itu memutar tubuhnya.


"Maksut lo apaan?!!!!" teriak Agra sambil memegangi rahangnya.


"Lo kenapa maksa Zahira, lo itu cuma buat dia sedih ngerti kan lo?!" tunjuknya pada wajah Agra sambil berdecak.


"Cih"


"Luhan kayaknya lo salah paham sama Agra" ujar Zahira menengahi.


"Salah paham gimana sih Zah" jawab Luhan sedikit kesal.


"Agra tadi punya maksut baik anterin gue pulang tapi gue nolak dia, pasti lo mikirnya kita lagi debat padahal aslinya enggak" terangnya.


Luhan menghela nafas kasar "Paham kan lo sekarang kalau gue berusaha berubah buat Zahira" sahut Agra dengan nada kesal.


"Ya gue gak tau" kat Luhan terbata-bata.


"Andai aja ada wartawan disini, pasti dia tau sifat seorang Luhan yang terkenal sok kalem didepan kamera" sindir Agra kesal.


Sementara disisi lain secara diam-diam, ada yang merekam apa yang terjadi diantara ketiganya.


"Gue bakal pake video ini disaat yang tepat nanti"