
Semua mahasiswa fisika berada di Laboratorium lengkap dengan baju khasnya kini dosen tersebut masuk kedalam ruangan yang penuh dengan alat penelitian.
"Pagi anak-anak" sapanya.
"Pagi pak" jawab mereka serempak.
"Ragil sudah beritahukan kalian, kalau saya yang mengajar?" tanya pria cukup berumur itu.
"Sudah pak" serempak.
Aland mengangkat tangannya tinggi-tinggi "Ada apa yang dibelakang?" tanya dosen fisika.
"Saya mau tanya pak. Apa next time bapak terus yang ngajar?" tanya Aland membuat teman-temannya ikut bertanya-tanya.
"Bapak disini sementara, mau jelasin kalian materi penting karena itu kalian bapak suruh ke Lab. Bapak juga lagi sibuk, next time kalau Ragil gak sibuk dia yang ngambil ahli materi karena dia lagi sibuk Bapak yang ganti dia" jelas Dosen tersebut membuat semua siswa mangut-mangut.
"Peralatan baru untuk anak fisika juga sudah datang, sepertinya semua peralatannya ditaruh digedung olaraga renang. Karena waktu itu bersamaan dengan anak olaraga yang pesan keperluannya. Jadi mungkin ditaruh sana sama kurir. Jadi saya minta perwakilan kalian yang ambil peralatannya!" ujar dosen itu.
"Iya udah pak saya aja" tawar Kiky.
"Eits.. kamu disini saja. Biar dia yang ambil" tunjuknya.
"Saya pak?" Zahira mendelik.
"Iya kamu kan perwakilan saya, kalau gak ada Ragil kamu yang saya suruh" tekannya.
Zahira berdiri dari tempatnya "Iya pak saya ambil" nada lesu.
"Tapi pak Zahira kan cewek, kalau alatnya berat gimana?" sergah Anya menatap Zahira, sedangkan Zahira memberikan jempol pada sikap Anya.
"Kan ada anak-anak jurusan Olaraga. minta aja bantuan mereka? mulut itu kalau gak dipake terus buat apa?" cibir dosen itu.
Seketika nyali Anya menciut, ia memberikan kode pada Zahira tidak bisa membantu dirinya. Zahira pun melenggang pergi. Tapi sempat ditahan dosen itu.
"Ngambilnya ditempat latihan Renang. bisanya barang taruh situ. Ingat peralatannya didalam kotak" ucapnya yang langsung diangguki Zahira lalu keluar.
Selama berjalan menuju gedung Olaraga, ia berharap tidak bertemu Agra nantinya. Karena gedung itu besar dan luas cukup lama ia mencari ruangan renang. setelah tanda menunjukkan simbol yang benar ia menarik pintu. Ternyata dirinya tak salah masuk, saat masuk saja sudah terlihat Kolam renang yang memiliki kisaran meter kedalaman.
"Iya gue gak salah lagi, ini ruangan olaraga renang. Tapi kok sepi. Mana kotaknya katanya tuh dosen ada disini" batinnya.
"Teman cari apa" seorang pemuda memanggilnya dari belakang.
Zahira memutar tubuhnya "Itu kotak disini mana ya? didalamnya ada peralatan anak fisika"
"Jadi kau dari jurusan Fisika? kemarin aku liat. Sebentar boleh aku minta nomor telphonemu" ucap pria yang memakai baju renang.
"Ahh.. untuk apa?" tanya Zahira.
"Mau aku tanyakan ke tukang bersih-bersih. Biasanya semua barang disimpan olehnya. Nanti kalau dia tau akan aku hubungi, sementara ini aku cari orangnya dulu" jelas Pemuda itu seraya menyodorkan ponsel miliknya. sebelum Zahira mengambilnya tangan lain menyahut ponsel itu dari si pemiliknya.
"Apa yang kau lakukan teman!" pemuda itu berkacak pinggang menatap Agra.
"Berikan ponselku!" lanjutnya. sedangkan Zahira menatap Agra tak mengerti.
"Lain kali jangan mengangunya. Kalau kau memang ingin membantu, Kenapa harus meminta nomornya?" cecar Agra memberikan ponsel itu ke pemiliknya.
"Aku tunangannya. Mau apa kau?" tantang Agra, membuat pemuda itu kesal lalu pergi.
Kemudian Zahira melenggang pergi tapi dengan cepat Agra menarik tangannya "Mau kemana kau?"
"Cari orang, mau tanya dimana kotaknya disimpen" ucap Zahira sinis tiba-tiba saja Agra menariknya dan membawa Zahira kegudang.
"Ah,,, kau mau apa!" Zahira berteriak, benar saja Gudang itu sangat gelap ditambah ruangannya begitu kedap.
Agra menyalakan saklar lampu disampingnya "Memang apa yang lo pikirin, pintu gak gue tutup kok! Gih cepet ambil kotaknya!" Agra mendongak menunjuk dengan dagunya.
"Diatas?" Zahira menautkan alisnya.
"Kemarin dilihat tuh kotak sama anak-anak. terus kotaknya isinya gak penting jadi taruh atas sendiri sama anak-anank" jelas Agra, rasanya Zahira ingin mengumpat seketika.
Buru-buru ia mencari kursi, Ia tak mau mengharapkan bantuan Agra. Zahira cukup terluka pada banyak perkataan Agra. Ia mengambil kursi itu, menaruhnya pada depan lemari. Ia pijakan kakinya dikursi, sialnya belum dapat ia gapai.
Sedangkan Agra hanya menonton diam. Zahira berjinjit agar dapat mengapai kotak itu, sedikit lagi rasanya. Tapi keseimbangannya goyah, Kakinya terpeleset dari tempatnya berpijak. untungnya Agra siap dan berlari kearah Zahira, ia menangkap tubuh gadis itu layaknya Agra membopong Zahira yang terluka. Bahkan pandangan keduanya terpaut beberapa senti, keduanya masih diam suasana menjadi canggung. Agra menurunkan Zahira dari dekapannya.
"Biar gue yang ambil" ucap Agra lalu menginjakan kakinya pada kursi. ia menurunkan kotak itu perlahan, memberikannya pada Zahira.
Zahira mengangkat kotak itu dengan meringis "Sial berat lagi!" batinnya, Agra yang melihatnya tersenyum tipis.
"Bisa gak?" tanya Agra.
"Bisa, bisa" jawab Zahira melangkah keluar perlahan.
Agra menutup pintu Gudang, melihat Zahira yang tampak kesusahan membuatnya menghampiri gadis itu lalu mengambil kotak yang dibawanya.
"Ahh,, sini gue aja" tolak Zahira.
"Lama tau! nanti dosen lo lumuten nungguinnya" jawab Agra, membuat gadis itu berpikir.
"Biarin lah dia yang bawa lagian gue gak minta bantuannya" gumamnya dalam hati.
Akhirnya mereka berjalan beriringan menuju Lab. suasana hening membuat Agra bicara pada Zahira.
"Elo tuh polos atau lo tuh **** sih!" cibir Agra.
"Lha gue kenapa?" Zahira tak paham.
"Elo tuh tadi lagi dimodusin sama Gilang" sungutnya
"Gilang yang mana?" lagi-lagi Zahira tak mengerti.
"yang nawarin lo bantuan pertama buat nyari kotak!" tambah Agra.
"Ohh.. itu" Kini Zahira telah ingat.
"Pacar dia banyak, kalau lo jadi kasih nomor lo. Gak tau deh lo jadi pacarnya yang nomor berapa? Lagian lo tuh ***** amat" Agra menatap Zahira penuh amarah
"Terus masalah lo apa? Apa peduli lo sama gue! selama ini gue sama lo cuma pura-pura tunangan didepan keluarga. Gak hanya itu, setiap gue sama cowok lo baru akuin gue tunangan lo, waktu itu juga sama Luhan" cibir Zahira.
"Jadi lo masih berhubungan sama tuh cowok!" Agra mendelik.