
Ketika Zahira memutar tubuhnya memasuki rumah suara gesekan gerbang yang terbuka membuatnya memutar tubuhnya kembali.
Zahira terkejut “Ragil”
Ragil mengaruk tengkuknya yang tak gatal “Emm.. saya mau ngambil ponsel yang ketinggalan” tujuknya pada meja samping Zahira berdiri.
“Oh ini” Zahira mengambil ponsel tersebut dan memberikannya ke Ragil yang ada didepan gerbang rumahnya.
“Terima Kasih” ucapnya lalu memutar tubuh akan melangkah keluar.
“Sama-sama. Tapi tunggu!” cegah Zahira membuat Ragil menghentikan langkah dan kembali memutar tubuh menghadap gadis tersebut.
“Iya. Apa?”
“Gue mau lo privat. Bisa sekarangkan ngajarnya?” tanya Zahira ragu-ragu.
Ragil tersenyum tipis “Tentu” ia begitu semangat mendengar Zahira benar-benar mau ia privat rasanya seperti tak menyangka tapi disisi lain ia tersenyum penuh kemenangan.
**
Sekarang ia dan Zahira sudah berada di ruang tengah, terlihat Zahira yang fokus mengerjakan soal-soal latihan. Sedangkan Ragil sibuk membaca buku tentang teori Fisika Albert Einstein.
“Gue ngak ngerti cara ngerjain yang ini” tunjuknya mendekat pada Ragil dengan meja sebagai batas keduanya.
“ini teori tentang molekul, disini cari ukuran dari masanya. Coba lihat ini perhatiakan rumusnya kita cukup membaliknya antara muatan, volume dan masa. Pelajari dulu coba pahami nanti jika masih belum mengerti akan saya jelaskan” ucap Ragil lalu melanjutkan membaca bukunya.
Sedangkan disisi lain terlihat pembantu Zahira-Bi laras tengah memperhatikan keduanya kemudian mendekat kearah mereka. “Non ada yang bisa bibi bantu?” tanya bi laras yang sontak menghentikan aktivitas Zahira lalu mendongak.
“gak kok bi, makanan juga masih banyak” dilihatnya pada meja samping ia belajar
“isi aja minumanya Ragil bi, itu juga udah abis” lanjutnya yang langsung diangguki Bi Iaras.
“air putih saja jangan jus” sergah Ragil sebelum bi ijah melengang pergi. Sekali lagi bi laras hanya menganggukinya lalu pergi.
4 jam berlalu, Ragil yang yang sekitar 30 menit lalu menjambarkan banyak teori fisika dan rumus hanya mendapat jawaban hening dari Zahira, ia menundukan kepalanya melihat gadis itu yang sedari tadi menegelamkan wajah ditumpukan tangannya.
Ragil tak merasa ada yang aneh karena wajar bagi seorang siswa melakukan hal tersebut. mungkin karena kecapekan dan stres berkepanjangan akibat belajar, karena itu ia tak melarang Zahira melakukan hal apapun asalkan itu tak membuatnya bosan.
Tapi tak wajar juga apabila siswi yang diberi kebebasan malah kelewatan, alis tertidur ketika dosen/guru menjelaskan.
Ragil membuka apitan tangan Zahira perlahan ia mendegus ketika orang yang sedari tadi dijelaskannya tertidur, matanya terarah ke jarum jam ia terkejut
“Pukul satu dini hari?, pantas dia tertidur” ragil memijat pelipisnya. ia lelah, tak terasa ia mengajar begitu lama. Lagi pula hal apa yang membuat gadis dihadapannya begitu mendesak dirinya untuk segera meyelesaikan soal sebanyak ini,untungnya semua telah terselesaikan.
Ragil benar-benar pusing ia tak sempat pulang dan merapikan kebutuhannya. Tapi disisi lain tak mungkin membiarkan Zahira tertidur dengan posisi duduk seperti ini hal ini tak baik bagi tubuhnya. Dengan sedikit ragu ia mengangkat tubuh gadis itu kepelukannya tak bermaksut macam-macam, ia merebahkan tubuh Zahira pada sofa panjang ia tak mau gadis itu terkena penyakit tulang belakang yang bengkok akibat tidur yang duduk.
Ragil menatap wajah gadis dihadapannya lekat-lekat dirasa terlalu lama menatap segera ia mengedarkan pandangannya kearah lain lalu berdiri mengemas buku-buku ke dalam tasnya. Secara bersamaan tangan zahira tertaut pada pergelangan Ragil
“Jangan pergi! Sebentar saja temani aku” racau Zahira yang tengah mengigau.
Ragil terseyum dalam racauan gadis itu. Saat akan melepaskan tautan tangan Zahira yang melingkar dipergelangannya sebuah tangan melayang dan mencekal satu pergelangannya lagi dengan kuat, membuat Ragil jatuh terduduk ditepi sofa tepat didepan wajah gadis itu.
Ragil tersenyum tak mungkin ia pulang dengan membangunkan Zahira agar melepas cekalannya. Terpaksa ia menyandarkan kepalanya ditepi sofa tersebut tepat berada disamping tubuh Zahira.
**
Zahira membuka matanya dengan sedikit samar, akibat cahaya silau yang masuk ke netranya. Ia mengerak-gerakan tubuhnya memberi reaksi untuk segera bangkit. Ia menoleh ketika tangannya tertaut pada tangan seseorang. Ia membungkan mulutnya terkejut saat mendapati Ragil terlelap disampingnya dengan kepala yang disandarkan pada tepi sofa. Ia menarik tangannya perlahan dari pergelangan tangan Ragil. ketika itu Ragil merasakan adanya reaksi, matanya terbuka dan terbangun dari posisinya.
“Emm.. sorry” ucap Zahira kikuk membenarkan posisinya untuk duduk.
Ragil mengusap-usap matanya “Saya pergi ini udah siang” ucapnya lalu merapikan buku-buku di meja lalu memasukannya kedalam tas.
“Gak mau sarapan dulu disini?” tawar Zahira.
“Lain kali saja” ujarnya lalu melangkah keluar. Zahira menatap kepergian Ragil nanar yang semakin hilang hingga tak terlihat.