The Love Equations

The Love Equations
TLE 22



Zahira berpikir sejenak sebelum akhirnya berusara "Karena lo itu– udah bantu gue selama ini"


"Oke deh, kalau kamu maksa buat malam ini saya numpang dirumahmu" ujar Ragil lalu keduanya tak berdebat lagi.


Lama melakukan perjalanan, Zahira turun membuka gerbang, agar mobil Ragil dapat masuk kedalam bagasi, lanjut setelah itu keduanya masuk kedalam rumah Zahira.


"Rumahmu kok sepi?" tanya Ragil melirik setiap sudut rumah.


"Mungkin udah tidur, sekarang lo bisa tidur dikamar sana. Kalau perlu apa-apa gue ada dikamar atas" sahut Zahira lalu dia naik kelantai atas sedang Ragil mengangguk paham


****


Pagi yang cerah bagi seisi rumah untuk memulai aktivitas, Zareca keluar dari kamar berniat turun kedapur saat itu juga ia terkejut melihat Ragil berdiri disana sedang memasak makanan.


"Hah lo siapa?!" pekiknya.


"Tenang saya Ragil, saya disini karena-"


"Mama!!" teriak Zareca panik.


Seketika Tante Hilda dan Zahira keluar dari kamarnya masing-masing menonton dari atas tangga melihat kebisingan apa yang sedang terjadi. Dari atas sana Tante Hilda terkejut kemudian menuruni tangga begitu pun Zahira ia menyusul dari belakang.


"Ragil apa yang kau lakukan disini!" ucap Tante Hilda sembari memandangi pemuda itu tiba-tiba ada dirumahnya.


"Em begini, Ma. Aku yang membawa Ragil kesini kemarin malam" jawab Zahira.


"Tapi kenapa kamu membawa dia kemari" toleh Tante Hilda pada Zahira.


"Maaf sebelumnya Nyonya tadinya saya ingin menginap dihotel tapi karena sudah larut malam jadi saya izin tidur disini" sahut Ragil menjelaskan.


"Bukan itu kebenarannya Ma, aku yang suruh dia untuk menginap disini. Maaf karena tidak bilang terlebih dahulu" sambung Zahira dengan tertunduk penuh penyesalan.


"Ya sudah gak papa mari kita lupakan" ucap Tante Hilda.


"Saya sudah siapkan makanan untuk kalian semua" Ketiganya melihat masakan yang disiapkan Ragil dimeja makan.


"Wah sepertinya lezat" goda Tante Hilda.


Kemudian mereka bertiga kembali naik keatas untuk mandi lalu makan bersama.


...¤¤¤¤...


Kebetulan hari ini Zahira tidak ada kelas ia masuk kampus hanya untuk meminjam beberapa buku untuk keperluan tugas, seketika itu dari belakang matanya ditutupi oleh sebuah tangan besar dan halus.


"Siapa ini?" cicit Zahira meraba-raba telapak tangan orang tadi.


"Tebak" ucapnya.


"Agra?"


"Benar" lalu pemuda itu menoleh dihadapan Zahira.


"Mau apa kau?" nada bicara Zahira kembali cuek.


"Nanti malam kan ada makan malam sekeluarga, bagaimana kalau kita pergi belanja?" Agra mendekatkan tubuhnya menempel pada Zahira.


"Apa yang kamu lakukan? Ini kampus" lirih Zahira malu karena takut diperhatikan sekitar.


"Kalau begitu ikut aku belanja" bisik Agra mendekat.


"Baik ayo! Cepat pergi" Zahira mendorong tubuh bongsor Agra untuk melangkah sedang pemuda itu tersenyum penuh kemenangan.


Keduanya masuk dalam mobil milik Agra, tak ada sepatah katapun yang terucap diantara keduanya hingga pada akhirnya sampai disebuah toko butik terkenal dikota itu.


"Kita hanya belanja pakaian, kenapa harus pergi ketempat seperti ini" protes Zahira ketika sudah turun dari mobil.


"Sudah ayo masuk" ajak Agra mengandeng tangan Zahira masuk butik.


Saat masuk sang pemilik datang melayani Agra "Mau cari apa Tuan?"


"Keluarkan saja semua baju paling bagus untuk gadis ini" ujar Agra sambil menatap Zahira penuh cinta.


"Baik" lalu semua pegawai berpencar mencari baju yang sesuai dengan kriteria Agra.


Beberapa menit kemudian mereka mengeluarkan satu set pakaian bagus yang digantung rapi.


"Silakan dipilih"


Lalu Agra mulai memilah pakaian yang menurutnya sesuai dengan Zahira, beberapa menit memilih ia mendapati drees selutut berwarna biru tau yang tampak glamour jika dipakai Zahira-tunangannya.


"Gimana kalau yang ini?" Agra mengeluarkan satu pakaian yang ditunjukkannya pada Zahira.


"Hm emang perlu ya" bisik Zahira.


"Perlu nanti malem kamu harus jadi yang paling cantik" kata Agra memberikan pakaian tadi ketangan Zahira.


Dengan wajah ditekuk raut terpaksa, Zahira mengiyakan permintaan Agra ia masuk kedalam ruang ganti hingga beberapa menit kemudian, tirai ruang ganti ditarik memperlihatkan Zahira yang tampak anggun dengan drees biru selutut yang dipilih olehnya.


Agra terpanah akan kecantikan Zahira sampai setelah lamunan itu dibuyarkan oleh suara sang pemilik.


"Bagaimana Tuan?"


"Hm" Agra terperanjat kaget menatap pemilik itu.


"Dia bilang bagaimana penampilanku?" sahut Zahira dari ruang ganti.


"Ya kau tampak cantik dengan pakaian itu, aku suka" jawabnya.


Kemudian tirai ditutup kembali, beberapa saat setelah itu Zahira keluar dengan pakaiannya tadi, keduanya berjalan ke meja kasir.


"Aku bayar dengan ini" ucap Agra mengeluarkan Atm.


"Lo gak beli baju juga?"


"Gue?" toleh Agra pada gadis itu.


"Iya" Zahira mengangguk.


"Udah kemarin nanti malem gue pakai" jawabnya, lalu Zahira mangut-mangut paham.


...¤¤¤¤...


Ketiga wanita itu turum dari mobil, mereka adalah Zahira, Zareca dan Tante Hilda memasuki restoran western tersebut. Bahkan sampai sekarang Zahira masih tak mengerti tentang adanya pertemuan ini, disana dapat dilihat Agra dan kedua orang tuanya berdiri menyambut kedatangan keluarganya, mereka duduk saling berhadapan sampai sesaat kemudian minuman datang.


"Saya sudah ingin mengatakan hal penting ini sejak dulu" ucap Tuan Danang mengiring percakapan.


"Katakan saja Tuan, apa yang ingin anda katakan?" tanya Tante Hilda penasaran.


Sementara Tuan Danang tersenyum "Saya terlalu malu untuk memulai ini terlalu awal, mari kita makan dahulu" ajaknya sesaat kemudian menu makanan telah datang tersedia ditata atas meja.


Kami semua pun makan, disisi lain Agra tak melepaskan pandangannya pada Zahira sedetik pun, ia terlalu asik memandangi gadisnya itu. Setelah selesai makan kami disuguhi makanan penutup tapi sebelum itu Tuan Danang sudah menyela terlebih dahulu.


"Saya akan lanjutkan perkataan saya tadi"


"Silakan" sahut Mama Zahira.


"Begini setelah saya pikir Zahira dan Agra sudah bertunangan cukup lama, apa tidak sebaiknya kita segera memikirkan rencana pernikahan keduanya?" kata Tuan Danang yang langsung membuat Zahira tersedak dibuatnya.


Uhuk.. Uhuk....


"Sayang kamu tidak apa-apa?" tanya Tante Hilda karena panik.


"Ngak papa Ma" buru-buru Zahira mengambil jus lalu diminumnya dalam sekali teguk.


"Maafkan Om, Zahira. kalau sekiranya terburu-buru, kamu bisa menolaknya. Om hanya mengatakan pendapat saja" jelas Tuan Danang.


"Kami mengerti Zahira kamu sebagai perempuan pasti akan banyak beban yang dipikul nantinya, apalagi kita perempuan akan mengurus keperluan rumah tangga dan suami" sambung Tante Jasmine– ibunda Agra.


"Ngak kok Tante, Om. Zahira gak bermaksut nolak" jawabnya sambil melirik kearah kedua pasangan lanjut usia itu.


"Jadi kamu setuju?" sahut Tuan Danang.


Lalu tiba-tiba secara mengejutkan seseorang menyela "Kami setuju"


"Zareca" pekik Tante Hilda. Memang yang mejawab Zareca–adik dari Zahira.


Sementara kedua pasangan tua itu tersenyum geli "Sepertinya kamu tidak sabar memiliki kakak ipar" ucap Tante Jasmine dengan menutupi senyumannya tersebut.


"Saya setuju kok, Om" kemudian Zahira menyahut. tapi dalam hatinya ada perasaan ganjal tak bahagia padahal dulu ini adalah harapannya.


"Bagaimana dengan Nyonya Hilda? " lanjut Tuan Danang.


"Saya setuju jika anak-anak juga setuju" katanya.


"Kalau begitu secepatnya kami akan mencari tanggal yang baik untuk pernikahan"


"Mari kita makan hidangan penutup untuk merayakan persatuan dua keluarga" lanjut Tuan Danang.


Kemudian semuanya membuka tudung makanan, saat melihat makanan itu secara tiba-tiba Zahira merasa kepalanya berputar-putar membuat anak itu memegangi kepalanya karena sakit yang tak tertahankan. Hingga detik berikutnya semua orang merasa ada yang aneh pada Zahira, Agra mengoyang-goyangkan bahu gadis itu.


"Zah kamu kenapa?" ucapnya.


Begitu pula semuanya mengatakan hal yang sama, saat ia sedikit dapat mengendalikan rasa sakitnya Zahira berucap.


"Bisa bawa aku kerumah sakit" cicitnya parau karena rasa sakit yang menjalar.


Kemudian Agra berdiri, mendekat kearah gadis itu lalu mengendongnya didepan ala bridal.


"Biar aku bawa Zahira kerumah sakit sementara kalian urus tagihan restoran" usul Agra lalu semuanya paham dan mengangguk.


"Agra hati-hati" teriak Tante Jasmine saat putranya sudah berlari menjauh.


...¤¤¤¤...


Sesampainya pada halaman rumah sakit, Agra memakirkan mobilnya sembarangan, masuk dengan mengendong Zahira layaknya tadi ketika masuk lobi rumah sakit anak itu berteriak.


"Zah gue mohon lo bertahan" ujarnya serak seperti akan menangis.


"Dokter suster tolong!!" teriaknya pasrah dengan melihat sekeliling tapi tak ada respon mereka semua sibuk melayani sedang bagian resepsionis harus mengantri karena antrian yang panjang.


Hingga akhirnya ia pun pasrah dan menurunkan Zahira agar duduk dikursi tunggu "Zah lo tunggu sini gue bakal balik, gue mau cari dokter dulu" pamitnya lalu pergi meminta pertolongan.


Sedangkan gadis itu tak bisa berkata-kata, kepalanya sakit bayangan masa lalu menghantuinya beberapa detik setelah itu ia mencoba memejamkan matanya siapa tau rasa sakit itu akan hilang sendirinya. Saat membuka mata niatnya ingin merasakan apa rasa sakit itu masih ada atau tidak. Tapi demi mantra tebaik manapun netranya melihat sosok Ragil dihadapannya, pria itu tengah tersenyum kearahnya.


Apa itu halusinasi atau bukan, tapi dengan cepat Zahira memeluk pria yang menurutnya adalah ilusi yang ada dipikirannya. Tapi anehnya aroma parfum pria itu dapat dicium jelas oleh Zahira. Padahal sebenarnya itu adalah Ragil yang sedang membungkuk mengamati wajah Zahira.


"Ragil apa ini kamu?" ujar Zahira tak sadar.


"Iya" jawabnya.


Sedang gadis itu semakin nyaman berada dalam pelukan Ragil sambil mengusap-usap punggung pria itu layaknya guling.


"Kenapa kau selalu memeluk-ku" tanyanya saat Zahira semakin mempererat pelukannya.


"Karena kau begitu hangat, dadamu sangat lebar aku senang saat menangis disitu dan kau orang yang baik"


Ragil tersenyum tipis mendengar jawaban Zahira sedang ia juga merasa pegal harus berjongkok terus-terusan.


"Kali ini berapa lama kau akan memeluk-ku?"


"Dua puluh empat jam"