
Ketiganya keluar dari dalam kafe, padahal tugas Ragil belum selesai sayangnya waktu itu ada Agra jadi tak enak melanjutkan jika ada pemuda itu.
"Kamu pulang sama aku aja ya?" Agra menarik pergelangan tangan Zahira agar mejauh dari pria itu.
"Aku pulang sama dia" tunjuk Zahira kearah Ragil.
"Dia? Tapi kenapa harus dia?" Agra tampak kentara sekali kalau sedang cemburu.
"Dia asdosku kamu jangan salah paham, soalnya kemarin itu–"
"Saya harus ambil barang saya yang ketinggalan dirumah Zahira" sela Ragil.
"Lo pernah kerumah Zahira?!" Agra melotot.
"Itu cuma tugas kampus aja" jawab gadis itu memberi pengertian.
Sebelum Zahira pergi kemobil Ragil, Agra membisikkan sesuatu pada telinga gadisnya.
"Lo harus hati-hati sama dia, kayaknya dia tau banyak tentang lo. Apalagi dia kenal sama Aryan" ucapnya lalu Zahira mengangguk.
Sesaat kemudian Zahira masuk bersama Ragil kedalam mobil, sedang Agra memandangi kepergian keduanya sampai benar-benar tak terlihat sejujurnya pemuda itu merasa khawatir ketika melepas Zahira pergi dengan Ragil.
Beberapa menit mobil berjalan, akhirnya salah satu dari mereka ada yang membuka percakapan.
"Saya sudah dapat tempat tinggal baru, terima kasih atas bantuannya" ujar Ragil yang masih terus fokus menyetir menghadap depan.
"Jadi lo bakal berkemas hari ini?" tanya Zahira.
"Iya, karena besok Luhan ulang tahun, dia pasti banyak bertanya; apa saya sudah dapat tempat tinggal atau belum. Saya tidak mau membuat dia khawatir" tolehnya kearah Zahira.
"Besok waktu ulang tahun Luhan gue boleh dateng kan?"
Ragil tersenyum mendengar pertanyaan Zahira "Tentu saja boleh, besok pukul delapan malam distudio rekaman tempat Luhan berlatih, kita bertemu" kemudian Zahira mengangguk membalas senyum pria itu.
"Kemarin lo bener nolong gue?" selidik Zahira kemudian.
"Sebenarnya bukan nolong saya hanya bantu delirium kamu"
Zahira langsung tampak pucat ternyata dugaannya benar "Tolong jangan beritahu siapapun, kalau gue punya Delirium"
"Tapi Mama kamu harus tau" usul Ragil sambil menatap Zahira lekat-lekat.
"Gue gak mau nyusahin orang sekitar, gue cuma mau ngelihat mereka bahagia. Terakhir kali gue nyusahin Mama saat dia tau gue punya depresi satu tahun lalu, gue gak mau bilang kalau sekarang gue punya Delirium setelah depresi gue hilang. Dan makasih udah hentiin Agra untuk gak bawa dokter periksa gue" kata Zahira dengan senyum tipis.
Rasanya Ragil ingin menangis mendengar penuturan gadis itu "Kenapa kamu gak mulai terapi psikis aja mungkin Delirium-"
"Gue gak pengen nentang takdir tuhan, mungkin ini udah keinginan yang diatas" lirih Zahira lalu liquid bening menetes dari netranya.
Kemudian Ragil mengentikan mobilnya, ia menghela nafas kasar "Kenapa suasananya jadi sedih gini sih" cibirnya sambil tertawa yang nyatanya hatinya juga ikut menangis didalam.
Zahira menghapus air matanya "Lo harus janji kalau lo gak bakal ingkar" gadis itu menegakkan jari kelingkingnya, sesaat kemudian dibalas Ragil dengan tautan jarinya. Mereka telah bersepakat bahwa akan menyimpan rahasia ini rapat-rapat.
****
Ragil memasuki kamar tamu membereskan pakaiannya sesaat kemudian ia keluar dengan pakaian yang sudah dimasukkan kedalam koper besar.
"Ragil, ini Tante kasih tanaman. Jangan lupa kamu rawat dirumah barumu" Mama Zahira menyerahkan pot berisi bunga matahari yang masih kecil tersebut.
"Makasih tante" ucapnya.
"Kalau butuh bantuan, jangan sungkan kesini lagi, kamu sudah seperti keluarga kami sekarang" tutur Tante Hilda.
"Baik, Tan. Ini saya juga punya makanan anggap aja ucapan terima kasih dari saya untuk Tante karena udah tolong saya" balas Ragil lalu memberikan sekotak kue yang dibelinya tadi.
"Bukannya mau buat ulang tahun Luhan?" selidik Zahira.
"Itu kue lain, yang ini untuk kalian" jawabnya.
"Luhan itu siapa, Kak Ragil?" timpal Zareca.
"Dia sepupuku"
"Itu lo dek, Luhan si Dj sama model yang sering wara wiri di iklan televisi" sela Zahira.
Membuat mulut Zareca menganga terkejut "Luhan si bintang top yang mau debut itu?"
"Ya bener" Ragil menjentikkan jarinya.
"Kakak sepupunya Luhan?" ulang Zareca memastikan.
"Iya"
"Kak Ragil aku fans Kak Luhan, tolong biar aku ketemu dia" ujar Zareca, dan Ragil tertawa.
"Iya makasih kak" lalu Zareca memeluk Ragil karena terlalu senang.
Kemudian Zareca melepas pelukannya "Kalau begitu saya permisi" pamitnya lalu pergi keluar.
Saat sudah keluar dan masuk ke mobil, Ragil mengerutu sambil tersenyum "Kakak dan adik sama aja, sukanya main peluk"
...~...
Bianca memainkan biolanya, ia mendalami setiap sajak bait nada yang dimainkannya. Alunan lagu membuatnya terhanyut, sesekali ia memejamkan matanya hingga fokusnya hilang saat tepukan tangan seseorang.
"Hebat, bravo!" puji Megan sambil tersenyum senang.
"Bu Megan, anda disini?" toleh Bianca mendapati guru musik masa kecilnya itu.
"Iya, sudah lama sekali Bianca, dulu saat aku mengajarimu musik kau masih sangat kecil sekarang kau sudah besar" katanya.
"Aku juga sudah lama tidak bertemu dengan Bu Megan. Oh ya! Bu. jangan lupa datang ya, satu bulan lagi ada perlombaan musik aku ikut sebagai peserta. Jangan lupa dukung aku" pinta Bianca dengan tatapan samar.
"Iya, aku akan datang untukmu"
"Terima kasih, Bu Megan" Bianca tersenyum senang.
"Apa kau kenal Zahira?" ucap Megan tiba-tiba.
"Aku kenal, memang kenapa?"
"Gadis itu ikut dalam perlombaan pemusik tahun ini, aku dengar kau dan dirinya selalu menjadi kandidat terkuat setiap tahun" terang Megan.
"Zahira? dia ikut pelombaan tahun ini? Tapi dia—"
"Aku menjadi guru musiknya" selanya.
"Kenapa kau menjadi guru musiknya? Aku mohon jangan menjadi guru musik untuk Zahira, kau jadi guru muskiku saja Bu Megan" bujuk Bianca dengan lembut.
"Kau jangan seperti ini, Bianca. Ini tidak benar, kalian harus berlomba dengan cara yang sehat. Jangan memprovokasi diriku agar membenci Zahira" cibir Megan lalu pergi dari sana dengan kecewa akan perkataan murid didiknya itu.
*****
Agra duduk berhadapan dengannya, beberapa minggu lalu ia mengakhiri hubungan dengan Bianca. Kini gadis itu sudah ingin mengajak bertemu kembali, entah hal apa lagi yang akan dibahasnya. Semua pertanyaan dalam diri Agra hilang saat gadis itu menyiramnya wajahnya dengan air putih.
"Apa yang kau lakukan?" Agra memekik tak terima.
"Kau pikir bisa lepas setelah menantang diriku. Dan sekarang kau bekerja sama dengan Zahira, aku mengerti sejak awal ini tujuanmu mendekatiku untuk ini" terka Bianca dengan mata penuh emosi.
"Maksutmu apa!"
Bianca memalingkan wajahnya sambil berdecih "Cih, tidak usah pura-pura. Aku tau Zahira ikut perlombaan pemusik tahunan"
Agra mengepalkan tangannya kesal "Siapa yang memberitahumu?"
"Guru musik Zahira–Megan" jawab Bianca.
"Kau jangan berusaha menghalagi Zahira, jika itu terjadi aku–"
"Kau mau apa?!" sahut Bianca menantang.
"Ck, aku bahkan kasihan kepada Zahira karena dia harus dijodohkan dengan pengecut sepertimu. Kau tidak pernah bisa melindungi gadis itu, kau selalu bersembunyi dibelakangnya. Kau tidak seperti Aryan" lanjutnya mencibir setiap sikap Agra.
"Aku tidak seperti itu" bantah Agra balik.
Kemudian Bianca berdiri dari tempatnya "Baiklah, jika kau bukan pria seperti itu maka buktikan. Aku pasti akan mencegah Zahira mengikuti perlombaan itu, aku akan mengulang kembali kejadian satu tahun lalu karena ia merebut semua yang kumiliki dariku" pesan Bianca lalu pergi dengan tangan terkepal dan amarah yang meluap.
"Bianca tunggu! Maksut dari kejadian satu tahun lalu apa? Bianca apa kau yang membuat insiden itu terjadi! Bianca! Hei bianca!!" teriak Agra tak mendapat respon jawaban dari gadis itu.
Lalu pria itu kembali berpikir "Kira-kira apa yang akan dilakukan Bianca pada Zahira? Cepat berpikir Agra, kau harus menemukan jawabannya untuk mencegah bahaya terulang" pikirnya sembari memukul kepalanya guna mendapat jawaban.
...~~...
Zahira berjalan disekitar trotoar, sesekali ia tersenyum bahagia melihat bingkisan yang ia bawa.
"Semoga Luhan suka sama kadonya" Zahira melirik jam tangan yang ia pakai pukul tujuh lebih empat puluh lima menit.
Jalanan tampak lengang, tak ada orang wara wiri disepanjang kota lampu pejalan kaki masih berwarna merah. Gadis itu menunggu sampai lampu berubah warna hijau, detik setelah itu lampunya berwarna hijau. Zahira menyebrangi jalan dengan langkah santai, tapi tak semuda itu dewi fortuna berpihak padanya. Mobil berwarna putih melaju kencang kearahnya tampak berniat menabrak dirinya.
Sopir dari mobil itu tak lain, adalah Bianca "Lo harus mati, Zahira" teriaknya keras dari dalam mobil sembari terus menginjak gas agar bertambah kecepatan.
Saat itu juga Zahira menoleh, akan cahaya lampu mobil yang memantul kearahnya. ia tak bisa menghindar rasanya terlalu dekat jarak mobil itu dan dirinya, ia menutup matanya.
"Baiklah jika ini akhir dari hidupku, tolong jangan ambil nyawaku dengan rasa sakit" pintanya pada tuhan pemilik alam semesta.