The Love Equations

The Love Equations
TLE 21



Luhan kesal lalu keluar dari dalam ruang rapat tanpa permisi membuat semua orang menoleh kearah anak itu.


"Luhan tunggu" interupsi Tante Erisa tapi tak dituruti oleh anak itu lalu dengan buru-buru Tante Erisa menyusul kepergian putranya.


Sementara pimpinan Hanun malu akan rapat yang kacau beliau menunduk dan berdiri.


"Maaf atas kekacauan ini tapi rapat sampai disini kami akan menghubungi lagi nanti. Dan terima kasih untuk yang sudah datang" ujar pimpinan Hanun lalu para investor keluar dengan raut muka kecewa.


Setelah semua tamu dirasa telah keluar dari ruangan, dan para investor dipandu oleh karyawan perusahaan Hilden untuk menuju halaman depan detik setelah itu Pimpinan Hanun marah besar.


"Cepat cari Erisa dan Luhan sekarang" titahnya yang langsung diangguki ajudan itu.


"Kalian semua hanya mempermalukan Ayah" omelnya berganti pada putri tertua yaitu Mama Ragil.


Dengan raut lesu Ragil melangkah keluar yang saat itu juga dicegah kakeknya "Kau mau kemana?"


"Menemui Luhan" sahut Ragil lalu melanjutkan langkahnya.


Disisi lain pimpinan Hanun hanya bisa membiarkan sifat dingin cucunya itu.


"Dan kalian urus media jangan sampai ada yang meliput berita ini" ucapnya setelah Ragil keluar.


"Ayah aku permisi dulu, ada yang perlu kubicarakan dengan putraku" pamit Tente Arsanti lalu ganti keluar dari sana.


Luhan berjalan dengan kesal hingga tanpa sadar langkah kakinya membawa ia kerooftop gedung saat itu dari belakang Tante Erisa menginterupsi.


"Luhan berhenti sayang" panggilnya.


Luhan menoleh dengan raut kesal "Apa Mama harus menjelek-jelekkan Kak Ragil hanya agar aku menjadi pewaris?!" pekiknya dengan nada tinggi.


"Bukan begitu Luhan"


"Mama sudah janji kalau Mama gak bakal ikut campur waktu sesi tanya jawab kenapa Mama harus ikut campur, aku udah bilang kalau bisa sendiri" cecar Luhan.


"Baik Mama, minta maaf tapi tolong jangan marah lagi" ucap Tante Erisa.


"Setelah Mama mengolok-olok Kak Ragil aku tidak bisa memaafkan Mama, sebelum Mama sendiri minta maaf padanya"


"Apa kamu gila?!" sarkas Mama Luhan dengan nada tinggi.


"Aku menghargai Kak Ragil dari siapapun disini saat semua orang sibuk mencari kekayaannya dia datang memberiku penyemangat" cecar Luhan.


"Dia adalah ancaman bagi kita, coba pikirkan jika dia sampai menjadi pemimpin Perusahaan ini?"


"Aku tidak mau berpikir lagian aku tidak tertarik menjadi direktur aku bisa berdiri sendiri sekarang tanpa semua kekayaan itu" protes Luhan lalu detik itu juga ia melihat Ragil berdiri diambang pintu rooftop.


Luhan berjalan kearah Ragil yang diikuti arah gerak mata Tante Erisa, detik itu juga matanya bertemu dengan mata Ragil-pemuda yang ia rasa telah menjadi musuh anaknya dan musuhnya.


"Ayo kak!" tarik Luhan agar Ragil pergi dari sana.


Tapi sebelum itu Ragil mengibaskan tangannya keudara "Sudah minta maaf?"


"Jangan tanya kak, aku sangat malas menjawab. Mari pergi aku lelah!"


Dengan terpaksa Ragil pergi dan mengikut langkah Luhan dari belakang, saat mencapai lantai dasar ia bertemu dengan Mamanya sontak Tante Arsanti menginterupsi.


"Ragil bisa bicara?" ucap wanita sekitar usia lima puluhan.


Pemuda itu mengangguk "Kau duluan saja Luhan"


Kemudian anak itu mengerti, dan pergi menunggu Ragil didalam mobil. Beberapa saat kemudian pria itu dan Mamanya duduk ditempat terdekat.


"Katakan! Bunda mau bilang apa?" kata Ragil.


"Kembalilah kerumah rasanya begitu suram tanpa adanya kau" Tante Arsanti mulai berkaca-kaca.


"Setelah apa yang Bunda lakukan pada pendonorku" selanya.


"Bunda tidak sengaja, tapi waktu itu dia juga setuju-"


"Meski begitu Bunda seharusnya cegah dia, yang hanya Bunda pikirkan adalah kebahagiaan mu sendiri" cecar Ragil lalu melangkah keluar semakin jauh hingga punggungnya lenyap dikejahuan.


...¤¤¤¤...


Setelah lama menempuh perjalanan setengah jam keduanya sampai diapartement Luhan. Mereka berdua masuk kedalam apartement bernomor dua puluh tiga itu. Setelah masuk Luhan merebahkan tubuhnya disofa, sementara Ragil mengeluarkan pakaiannya dari dalam lemari membuat Luhan mendelik.


"Aku rasa ini waktunya aku pergi sekarang" ujarnya.


"Tapi kak kau mau pergi kemana? Sekarang sudah malam besok saja. Kalau kau marah atas kejadian tadi aku minta maaf atas nama Mamaku" terang Luhan sambil menelakupkan kedua tangannya memohon.


"Bukan itu" Ragil memegang tangan Luhan agar mau turun.


"Cepat atau lambat Bunda akan tau kalau aku disini. Aku tidak ingin pulang, aku kesal karena suatu hal. Jangan cegah aku, aku pasti akan mengunjungimu" kata Ragil lalu menutup korsleting koper dan mendorong koper itu keluar.


"Tapi kak—"


"Aku bisa jaga diriku, jangan khawatir" pamitnya lalu menutup pintu Apartement Luhan.


Saat baru turun dari lift, Ragil mengecek ponselnya mungkin saja ada sesuatu yang penting saat itu juga matanya melotot begitu mendapati banyak panggilan dari Zahira saat menekan tombol ia juga mendapat notif pesan suara.


"kau bisa datang kesini, aku ada ditaman kota" ucap Zahira dengan tangisan dari balik telphone.


Ragil pun panik dan berlari kedalam mobil, menyalakan mesin lalu mobil menjelajah seluruh kota. Begitu sampai ditaman kota Ragil menelisik seluruh taman mencari Zahira sambil berlari-lari kecil.


"Zahira!" teriaknya mencari gadis itu.


"Zah—" saat akan kembali berteriak netranya bertemu dengan netra gadis itu.


Zahira benar-benar dalam keadaan kacau, ia menangis sesegukan dengan cepat ia menghampiri Ragil dan memeluk pria itu begitu erat, pelukan hangat yang mungkin bisa menyembuhkan lukanya sambil mensandarkan kepalanya pada dada bidang pria itu, begitu juga dengan Ragil pria itu membalas pelukan Zahira.


"Kau kenapa?" lirih Ragil.


"Biarkan seperti ini hingga lima belas detik" pinta Zahira tak mau melepaskan.


Tapi nyatanya gadis itu tak melakukannya selama lima belas detik, melainkan tiga menit keduanya berpelukan speerti tadi hingga akhirnya mereka duduk dikedai nasi goreng pinggir jalan.


"Kau sudah makan?" selidik Ragil.


"Belum" Zahira mengangguk.


"Pak pesan nasi goreng dan teh manis dua"  katanya memesan.


"Tapi dua itu terlalu banyak" tatap Zahira pada Ragil.


"Untuk saya yang satu. Jadi kamu tadi kenapa?" sambungnya.


"Megan bilang akan sangat sulit memulai bermusik dalam waktu dekat, hasil evaluasiku sangat jelek karena itu aku menangis" jelas Zahira sambil menunduk penuh penyesalan.


"Jangan sedih, kau teruslah berusaha agar kita bisa menyusul waktu singkat ini untuk mempersiapkan perlombaanmu" ujar Ragil lalu saat itu juga pesanan datang.


"Mari makan lalu setelah ini saya akan mengantarmu pulang"


Kemudian mereka bedua menyantap makanan itu setelah puas dan Zahira merasa kenyang. Ragil membayar tagihan sedang Zahira sudah masuk kedalam mobil. Saat membuka pintu, gadis itu memekik.


"Lo mau pergi kemana kok ada koper?" Ragil menutup pintu dan memutar kunci lalu menyalakan mobil.


"Ehm kemana aja?" jawabnya kebingungan.


"Lo marahan sama Luhan ya?" tanya Zahira lagi.


"Ngak kok"


"Terus kenapa gak tinggal sama dia?"


Ragil melirik kearah gadis itu "Karena ada suatu hal tapi bukan artinya saya marah sama dia, intinya saya gak bisa cerita ke kamu"


Zahira melihat tangan kirinya dimana arloji melingkar disana.


"Sekarang udah jam setengah sebelas malam. Gimana kalau lo tingga dirumah gue?" tawarnya membuat Ragil menaikkan alisnya.


"Rumah kamu? Kayaknya enggak deh"


"Buat sementara doang ini udah malem lagian lo mau tidur dimana?" cibir Zahira.


"Yang penting itu saya bawa uang nanti bisa tidur dihotel lagian disini banyak hotel" sarkasnya.


"Iya tapi kan beda"


"Lagian kamu kok khawatir. Memang saya siapa kamu?" toleh Ragil membuat Zahira diam seribu bahasa tak bisa berkata-kata.