
Ketika itu, tenaga besar mendorong tubuh Zahira untuk menghindar. Dengan cepat gadis itu tersungkur ketepi jalan sayangnya ia masih menutup mata meski mendengar bunyi tabrakan.
Brak....
Cittt......
Sopir mobil itu mengrem begitu menyadari bahwa ia telah salah menabrak orang yang menjadi sasarannya. Disisi lain Zahira merasa dirinya tak kenapa-napa, dengan berani ia coba membuka matanya. detik itu juga ia terkejutnya saat dirinya melihat yang terbaring ditengah jalan itu orang lain.
Zahira berdiri mendekat guna melihat wajah orang yang telah menolongnya, kali ini ia bukan hanya terkejut tapi juga lemas.
"AHHHH!!!!!!..." Zahira berteriak histeris ditengah jalan sambil menangis.
"AGRA!!" teriaknya tak percaya.
Gadis itu sungguh terkejut, orang yang baru saja menyelamatkan dirinya adalah Agra. Zahira jatuh terduduk disamping pemuda yang tergeletak tak sadarkan diri, dengan darah yang terus keluar dari kepalanya. Zahira memopang kepala Agra pada pangkuannya.
"Agra bangun" cicit Zahira lirih.
"Agra maafin aku, aku salah" lanjut Zahira dengan terus terisak.
Sementara jarak yang tak cukup jauh sekitar enam ratus meter dari tempat kecelakaan, Bianca nampak terguncang ketika ia menoleh ke spion belakang.
"Gak mungkin gue nabrak Agra. Gue itu nabrak Zahira bukan Agra" Bianca memejamkan matanya lalu menengok kembali pada spion belakang tapi ia masih melihat hal yang sama.
"Sadar Bianca, ini cuma ilusi lo aja" gadis itu menepuk pipinya guna menyadarkan diri, tapi yang dilihatnya masih sama. Rasa takut membuat gadis itu melajukan kembali mobilnya guna keluar dari area kecelakaan.
...~...
"Cepat minggir"
"Panggil dokter Hasan"
"Defibilator!"
Bangkar rumah sakit didorong oleh suster dan salah satunya Zahira, gadis itu masih saja menangis.
"Agra gue mohon buka mata lo. Gue udah maafin lo karena gak jujur perkara Aryan" cicit Zahira, merasa tak tega melihat tunangannya tak berdaya.
Saat itu juga Agra memasuki ruang operasi, suster perempuan mencegah Zahira untuk ikut masuk.
"Maaf, anda harus tunggu diluar. Tolong urus administrasi pasien" ujarnya lalu gadis itu mengangguk.
Zahira menghapus air matanya, ia mencoba tegar memberanikan diri menghubungi Paman Danang–Papa Agra. Gadis itu mengetik nomor yang dituju lalu menempelkan ponselnya pada telinga, dari sana ia mendengar nada sambung.
"Halo Zahira, ada apa?" kata beliau dari sebrang telphone.
"Maaf Om" Zahira kembali menangis.
"Maaf untuk apa?"
"Agra, dia ketabrak" lirihnya.
"Apa? Bagaimana bisa!" pria paruh baya itu begitu terkejut bingung.
"Ceritanya panjang, Om"
"Kamu dimana?"
"Rumah sakit Citra Medika" kemudian Tuan Danang menutup sambungan telphone sepihak.
****
Luhan meniup lilin yang diberikan pihak manager agensinya tersebut, suasana begitu ceria disamping pria itu ada Ragil menemaninya.
"Rasanya berat membawa semua ini" keluh asisten pribadi Luhan.
"Sebanyak ini untukku?" anak itu mendelik sambil menunjuk dirinya.
"Itu kado dari penggemarmu" Luhan tersenyum senang ia mendapat banyak cinta dari fans.
"Kak mari bantu aku buka kadonya" ajak Luhan tapi Ragil masih saja sibuk melihat keluar jendela rasanya ia tak tenang.
"Kau lihat apa kak?" lanjutnya membuat Ragil menoleh.
"Begini Luhan, aku menunggu kedatangan Zahira" jawabnya.
"Zahira mau kesini?" tolehnya dengan tatapan penasaran.
"Katanya begitu aku suruh dia datang jam delapan malam tapi sampai sekarang belum kesini"
"Kalau begitu akan aku lihat" Luhan berdiri tapi niatnya terurung oleh manajernya Rio.
"Kau mau kemana?" pria itu memakan kue sambil menyalakan televisi.
"Tidak usah Luhan, biar kakak yang cek" sahut Ragil, kini pemuda itu ganti berdiri.
Saat baru beberapa langkah, ia terpaksa berhenti begitu mendengar berita eksklusif dari channel investigasi.
"Berita hari ini, pada pukul delapan malam dijalan merdeka barat terjadi kecelakaan yang melibatkan pejalan kaki"
Ragil berbalik melihat berita ditelevisi, bersamaan itu matanya terbelalak begitu mendapati Zahira terekam dikamera wartawan.
"Kak itu Zahira" tunjuk Luhan dengan histeris.
Detik itu juga seseorang menyahut dengan nafas tak teratur "Dideket agensi kita ada kecelakaan, yang ketabrak–"
"Dibawa kemana pasien itu?" sahut Ragil menatap pemuda dengan tatanan rambut tak teratur.
"Katanya Rumah sakit Citra Medika" jawabnya, dengan segara Ragil berlari keluar dari agensi Luhan.
"Kak tunggu" Luhan beranjak tapi ditahan Rio.
"Minggir!" bentaknya pada Rio.
"Tapi Rio–"
"Cepat. Turuti!!" teriaknya pada Luhan membuat anak itu mengacak rambutnya frustasi.
"Aakkkhhhh... " serunya.
Ragil menyetir mobil dengan kecepatan diatas rata-rata, tangan kanan digunakan untuk mengemudi dan tangan satunya digunakan untuk menghubungi nomor Zahira.
"Angkat telphone saya, Zahira" desisnya khawatir.
****
Zahira terus terisak didepan ruang operasi satu jam berlalu tapi satu pun dokter atau perawat belum juga keluar, hingga keluarga Agra dan keluarganya datang.
"Zahira, bagaimana keadaan Agra?" ucap Tante Jasmine dengan tangisan tersedu-sedu.
"Agra lagi dioperasi"
"Bagaimana dengan kronologinya? Pelakunya sudah tertangkap?" selidik Tuan Danang.
"Polisi sedang menyelidiki" kemudian Tante Hilda mendekat memeluk putrinya itu.
"Kamu yang sabar Zahira" Tante Hilda mengelus pucuk kepala gadis itu.
"Zahira, kamu bisa bersihin bajumu itu. Tante dan mereka semua ada disini menunggu Agra, kamu bisa pergi ketoilet" sambung Tante Jasmine begitu melihat baju Zahira berceceran darah Agra.
Gadis itu mengangguk, kemudian berselang detik pergi dari sana. Sesaat sudah menjauh tangannya ditarik Zareca–sang adik, membuat gadis itu berbalik menoleh.
"Ada apa?"
Pllaaakkkk....
Zareca menampar kakaknya tersebut, membuat Zahira memegangi rahangnya karena sakit.
"Kamu kenapa, Eca?" tatap Zahira dengan tak paham.
"Jangan panggil namaku, kau bukan kakak-ku. Dirimu ini hanya wanita jalang yang selalu merebut setiap orang yang ada dihidupku. Nasib yang kau bawa ini sangatlah sial, kenapa kau tidak pergi saja setelah membunuh Papa dan sahabatmu Aryan!!" tegas Zareca sambil menjambak rambut Zahira
Gadis itu menangis penuh emosi lalu melepas cengkramannya pada Zahira "Lebih baik kau mati, aku membencimu. Pergi kau!!" kemudian ia mendorong Zahira agar meninggalkan rumah sakit.
Zahira tak berani memberontak, kalau dipikir-pikir yang dikatakan Zareca memang benar, jika ia tetap disini ia adalah pertanda nasib sial. Dengan perasaan merelakan, Zahira pergi dari sana ia tak tau langkahnya membawa dirinya kemana.
Setengah jam melakukan perjalanan, Ragil turun dari mobil ia berlari menuju meja resepsionis.
"Korban kecelakaan dipersimpangan tadi dibawa kemana?" tanya Ragil risau.
"Ruang operasi?"
"Dimana itu?"
"Disana ada lift silakan pergi kelantai tiga belok kanan ruangan paling sudut, itu tempatnya" jelasnya kemudian Ragil mengangguk.
"Terima kasih"
Selanjutnya Ragil mengikuti setiap denah aba-aba yang diberikan suster. Ketika pintu lift lantai tiga terbuka detik itu juga ia mendapati Zareca berdiri disudut dinding rumah sakit. Pria itu berlari mendekat pada anak berusia enam belas tahun tersebut.
"Zareca, bagaimana keadaan Zahira?" ucapnya dengan nafas tak beraturan.
"Dia baik-baik saja"
"Lalu yang kecelakaan siapa?" balas Ragil penasaran.
"Kak Agra, puas sekarang?" jawabnya dengan nada kecut lalu bermain dengan ponselnya.
"Dia dioperasi?"
"Hm"
"Zahira kemana?"
Gadis kecil itu, menghela nafas menghentikan aktifitasnya "Mungkin sekarang ia sedang bunuh diri"
"Apa yang kau katakan? Dia kakakmu" cecarnya.
"Dia itu nasib sial bahkan dia tak pantas disebut manusia" tatap Zareca penuh emosi.
Ragil menatap wajah gadis itu kecewa "Bahkan sampai saat ini pun tidak ada yang khawatir kepadanya, kalian semua terlalu sibuk melihat pada satu sudut pandang" cibir Ragil lalu bergegas pergi guna mencari Zahira.
*****
Zahira berjalan berkeliling pusat kota, pikirannya begitu kalut ia menyebarangi jalanan sembarangan tak mempedulikan mobil, bus dan truk. Jika dilihat delirium gadis itu sedang kambuh, satu pikiran yang terlintas bagaimana cara agar ia bisa meninggalkan dunia ini.
Disisi lain Ragil terus mencari gadis itu menyusuri jalanan kota sambil berteriak.
"Zahira!" katanya diulang berkali-kali.
Bersamaan Ragil yang khawatir, Zahira memilih menabrakkan diri begitu melihat truk angkutan beton lewat. Dengan cepat seseorang menghentikan dari belakang, menarik pergelangan tangan gadis itu agar langkahnya mundur. Zahira berusaha memberontak, naas detik itu juga tangan besar mendekapnya dengan sapu tangan memberi obat bius padanya.
Satu dari orang-orang itu, tersenyum simrik. apalagi jalanan kota sepi dan tidak ada cctv diarea tersebut, mudah bagi seseorang menculik gadis.
"Cepat angkat, bawa dia kemobil" suruhnya.
Lalu bergumam pada dirinya sendiri "Dengan mudahnya lo pingin mati, sementara permainan gue baru mulai"
......~......
Pesan;
Terima kasih banyak bagi yang sudah baca dan like. selalu beri penyemangat seperti itu agar author semangat update (emot senyum)