The Love Equations

The Love Equations
TLE 23



Beberapa menit mencari dokter, akhirnya Agra berhasil menemui salah satu dokter. kini mereka berdua berjalan menyusuri lorong, saat sudah sampai ditempat dia meninggalkan Zahira matanya melotot begitu melihat gadisnya itu berpelukan dengan pria lain.


"Zahira" panggilnya membuat gadis itu tersadar melepas pelukannya pada Ragil. Membuat Ragil menoleh kearah belakang menyingkir agar keduanya bisa berbicara.


"Zah, ayo ikut aku" Agra menarik tangan Zahira dimana gadis itu tengah duduk tapi seketika itu juga Ragil mencegah.


"Dia biar disini" ucapnya membuat Agra semakin melotot dengan amarah terbaca.


"Lo siapa berani ikut campur!" kelakarnya.


"Itu hal yang tepat untuk saat ini. Zahira tidak butuh dokter" sambung Ragil.


"Udah ayo, Zah"  tapi Agra tetap memaksa tak mau mengalah ia semakin menarik paksa tangan Zahira.


Sedang Zahira nampak linglung dan belum mau berdiri "Kamu liat kan dia gak mau kedokter" tambah Ragil.


"Pasti lo tadi ngomong sesuatu kedia makanya dia gak mau nurut. Ayo Zahira dokter udah nunggu!"


"Kamu jangan paksa dia"


"Dia tunangan gue, terserah gue mau lakuin apa kedia" ucap Agra masih terus memaksa tapi nyatanya tak ada respon oleh Zahira. Dia tampak dengan tatapan kosong.


"Dia gak sakit" cicit Ragil.


"Jelas-jelas gue liat dia ngerintih kesakitan dikepalanya"


"Itu karena–"


"Karena apa!!" sarkas Agra dengan nada bicara ditinggikan.


"Kalau kalian masih berdebat, saya kembali keruangan nanti kalian bawa dia" sela Dokter itu kemudian berlalu pergi.


Agra berdecak pinggang "Ck, sialan. Ini gara-gara lo" tunjuknya pada Ragil.


Tak mau mengubris pemuda itu, Ragil duduk berjongkok memandangi Zahira. Ia menepuk pundak Zahira memberi perhatian penuh.


"Zahira, hei Zahira" panggilnya.


Sedang Agra mengamati apa yang dilakukan pria yang terlihat sepantaran dengannya mungkin hanya selisih umur sedikit.


"Lo mau ngapain?" tanya Agra dengan nada tak suka.


"Bisa diam!" jawabnya, sekali lagi Agra menghela nafas pasrah.


"Zahira, liat saya" tunjuk Ragil pada dirinya.


Lalu mata Zahira menatap pemuda itu "Kamu bisa liat saya?"


Zahira mengangguk "Tebak siapa saya?" lanjutnya.


"Hm, Ragil?" ucapnya tanpa ekspresi.


"Pintar kamu" Ragil mengusap rambut Zahira dengan lembut, dan hal itu tentunya membuat Agra semakin tak suka.


"Sekarang coba ingat kenangan paling bahagia menurutmu" sambungnya.


Sedang mata Zahira beberapa kali melirik kearah kanan dan kiri "Kamu ingat?"


Gadis itu mengendikkan bahunya "Tidak"


Kini ganti Ragil yang nampak berpikir sebelum akhirnya kembali bersuara "Kalau gitu coba ingat kenangan paling bahagia kamu dengan Aryan"


"Aryan? Lo kenal dia?" sahut Agra terkejut.


"Bisa diam!" tatap Ragil tajam pada pemuda yang tengah berdiri memperhatikan.


"Setelah ini lo harus jelasin ke gue siapa diri lo yang sebenarnya" ucap Agra yang tak dapat respon jawaban dari Ragil.


Beberapa menit setelah itu air mata Zahira menetes membasahi pipinya ia menangis terisak-isak yang disaksikan kedua pria itu, Agra yang melihatnya tertegun mengikuti arah gadis itu duduk.


"Zah kamu kenapa?" kata Agra ikut berjongkok menatap gadisnya, tapi nyatanya Zahira masih terus menangis.


"Seharusnya lo gak sebut nama Aryan. Nama itu berpengaruh banget sama Zahira" cecar Agra menatap Ragil.


Sementara pemuda itu mengusap pelan air mata yang membasahi pipi Zahira tunangannya.


"Minggir" dorong Ragil agar tubuh Agra tak menghalanginya.


Alhasil Agra tak berkutik atas apa yang dilakukan terlihat Zahira sudah tak merasakan sakit dikepalanya itu jauh lebih baik meski gadisnya kini harus menangis tak jelas.


"Zah sekarang dengarkan saya. Hapus semua kenangan burukmu itu dan ingat semua kenangan baik, kemudian tarik nafas dan hembuskan, coba liat sekitar lalu hilangkan semua beban. Saya hitung"


"Satu"


"Dua..."


"Tiigga...."  pada hitungan terakhir gadis itu mempraktikkan seperti yang dikatakan Ragil, kemudian pria itu berdiri lalu berucap.


"Kamu bisa bawa dia pulang" suruhnya pada Agra.


"Tapi dia harus diperiksa dokter" jawab pemuda itu.


"Sekarang udah gak perlu" kata Ragil dengan nada dingin kemudian pergi dari sana.


"Apa Zahira sudah tidak merasa sakit dikepalanya?" teriak Agra mendapati Ragil yang semakin jauh darinya.


Sementara pria itu mengibaskan tangan, pertanda bahwa Zahira tidak sakit lagi dikepalanya.


Setelah kepergian pria itu, Zahira mulai sedikit sadar ia memanggil pria dihadapannya itu.


"Agra"


"Zah, apa ada yang sakit?" ucapnya khawatir.


"Emang gue kenapa?" tanya Zahira balik yang didapati tatapan melotot oleh Agra.


"Lo gak inget, apa yang terjadi?"


"Yang gue inget tadi kita semua ada direstoran" jawabnya.


"Serius lo gak inget? Tadi itu kepala lo kesakitan–"


"Zahira!" teriak seluruh keluarga yang sudah sampai dirumah sakit tapi nyatanya gadis itu masih menunggu diruang tunggu.


"Kenapa dokter belum mengurusnya!" ujar Tuan Danang tampak marah sambil mendekati keduanya.


"Saya baik-baik saja Om" jawab Zahira.


"Tapi Zah tadi kamu nampak tidak baik" sela Tante Hilda-Mama Zahira.


Kemudian semua keluarga setuju akan perkataan Agra dan membawa Zahira kembali pulang, mereka saling berpisah diperjalanan.


...~~...


Kelas Zahira sudah selesai, saat keluar bersama Anya. Ragil menginterupsi.


"Zah, bisa tolong saya?" pinta Ragil lalu Anya mulai melirik.


"Pak kalau saya yang bantuin boleh gak?" sahut Anya sambil tersenyum simpul.


"Sebenernya saya pingin begitu tapi Zahira adalah ketua yang ditunjuk Pak Samsul" jelasnya membuat bibir Anya berkerut diam.


Lalu setelah itu keduanya pergi meninggalkan Anya. Keduanya berjalan menyusuri koridor saat itu juga Zahira membeo.


"Lo mau suruh gue apa?" toleh Zahira yang langsung mendapati setumpuk buku dari Ragil.


"Kamu bawa ya" ucapnya lalu meregangkan kedua tangannya seperti terlihat pegal.


"Elo kok seenaknya?"


"Selama ini saya kan gak pernah nyuruh kamu jadi anggep aja itu sebagai ucapan makasih kamu untuk saya" ujar Ragil lalu tersenyum sambil masuk kedalam mobil.


"Ucapan makasih apa? Emang lo nolong gue beberapa hari ini!" selidiknya mengekor dibelakang pemuda itu tapi tak ada jawaban.


Dengan terpaksa Zahira mengikut, kemudian Ragil menyalakan mesin dan mobil menyusuri jalan sepanjang kota.


Keduanya sampai disebuah toko kue dan coffe kemudian masuk bersamaan, dengan Zahira yang membawa keperluan Ragil.


"Mau pesen apa?" ucap pramuniaga saat keduanya berada didepan meja tempat memesan.


"Americano dingin, kamu apa Zah?" tanya Ragil menatap gadis itu.


"Hm strawbeery shake"  pesannya setelah melihat papan menu yang terpapang jelas diatas gadis itu.


"Saya juga mau pesen kue" sahut Ragil.


"Kue yang mana?" kemudian Ragil sibuk melihat aneka kue yang ada dietalase.


"Menurut kamu bagus yang mana, Zah" sambungnya.


"Kalau aku sih, yang itu" tunjuk Zahira.


"Ya udah mbak yang itu, tolong dibungkus. Sama saya pesen kue sweet orange dua dimakan disini" katanya lalu diangguki oleh sang pramuniaga.


"Buat acara apa yang kue yang dibungkus?"


"Ulang tahun" lalu si pramuniaga mengangguk.


Kemudian ganti Zahira melirik kearah Ragil "Buat ulang tahun siapa?"


"Luhan" jawab pria itu.


"Kapan?"


"Besok"


Keduanya memilih meja nomor tiga belas lalu duduk disana saling berhadapan. Ragil mengeluarkan laptop dan beberapa buku.


"Oh ya Zah tolong kamu ulas buku ini, terus kamu ketik dilaptop saya" terang Ragil lalu menyodorkan laptop pada gadis itu membuat Zahira berdecak.


"Kok gue sih! Kan lo asdosnya"


"Kan kamu ketua kelasnya"


Saat Zahira akan mulai membeo, kemudian langsung disela Ragil.


"Udah jangan protes, Zahira" beberapa menit kemudian pesanan datang saat itu Zahira telah sibuk mengetik dilaptop.


Sementara Ragil sibuk membaca buku, tak ada sepatah kata hanya keheningan yang ada tapi tak berangsur lama saat kue yang dimakan Zahira jatuh mengotori pakaiannya. Ragil yang melihat tertawa pelan sambil merutuki sikap makan Zahira yang masih blepotan seperti anak kecil apalagi kini kue itu jatuh mengenai bajunya.


"Sialan!" umpat gadis itu. Kemudian Zahira menatap Ragil yang menertawakannya.


"Seneng banget ya lo liat gue kesusahan" cecar Zahira lalu membanting buku-buku itu.


"Gue gak mau lagi tolongin lo!" Zahira berkacak pinggang memalingkan wajah.


Dengan penuh perhatian Ragil mendekatkan tubuhnya mengulurkan tangan panjangnya guna mengusap bibir Zahira yang belepotan karena kue yang dimakannya kejadian itu adalah hal terlucu bagi Ragil. Bersamaan itu ntah kenapa timbul dalam benak Zahira perasaan yang dulu pernah ia taruh untuk Aryan.


"Iya udah dong marahnya, nih belepotan" Ragil menunjukkan tangan kanannya yang digunakan untuk mengusap bibir Zahira.


Sementara Zahira nampak malu, lalu mengusap kembali bibirnya kemudian Ragil mengeluarkan sapu tangan dari saku.


"Ini pakek" pria itu menyodorkan sapu tangan pada Zahira yang langsung diterima gadis itu.


Detik itu juga Zahira berdiri "Gue mau ketoilet" pamitnya lalu pergi dari sana.


Setengah jam menunggu gadis itu, membuat Ragil merasa jenuh bersamaan itu sebuah suara menginterupsinya.


"Lo yang kemarin kan?!" itu Agra datang dari depan sambil menunjuk kearah Ragil.


Kemudian anak itu duduk berhadapan dengan Ragil "Gue belum tau siapa lo, kenalin gue Agra" ia mengulurkan tangan berniat menyalami yang dibalas uluran tangan olehnya.


"Gue Ragil"


"Lo kesini sendirian?"


"Ngak, tadi—"


"Zahira?" Agra berdiri begitu melihat tunangannya ada disana.


"Kamu disini?" selidiknya.


"Iya aku datang sama dia" gadis itu menunjuk pada Ragil yang duduk diam disana.


"Dia? Apa kamu kenal dia! Asal kamu tau kemarin yang nolongin kamu" ujar Agra frontal.


"Ragil nolongin aku?" Zahira menunjuk dirinya tak percaya.


Agra berkedip dengan mengangguk Iya.


"Apa kemarin gue bener-bener gak sadar? Kalau yang dibilang Agra bener berarti Ragil tau kalau gue kemarin bukan depresi tapi delirium" batin Zahira.


Ps:


Delirium adalah gangguan mental serius yang menyebabkan penderita mengalami kebingungan parah dan berkurangnya kesadaran terhadap lingkungan sekitar.


Buat yang tak tau apa itu Delirium sudah ada diatas sana pengertiannya 👆👆Jangan lupa vote, like dan kasih hadiah buat cerita ini agar author semangat update. Terima kasih