The Love Equations

The Love Equations
TLE07



Zahira memasuki kelas yang sudah sangat ribut akan keluhan teman-temannya.


“Gue ngak bisa yang ini? Au Ah.. pusing gua!” keluh kiky.


“Susah banget lagi” timpal Kesya


“Aduh temen-temen kalian pada pusing aja sih. Liat nih gua santuy” ucap Alan menengahi.


“Kalau lo tuh emang kelewat santuy, bukannya santuy” cecar Anya, lalu melihat Zahira yang tengah duduk damai, aman dan tentram.


“Ra, udah selesai apa tugas lo?” tanya Anya.


“Udah, mau lihat” tanya Zahira balik.


“Gue tanya aja yang nomor 31, itu gimana sih?” ujar Anya menghapiri Zahira di tempat duduknya.


“Mending lo liat sendiri. Kalau gue jelasin bingung dari mana jelasinnya” jelas Zahira.


“Oke” jawab Anya spontan yang membuat semua teman kelasnya mengerubung disekitar tempatnya.


“Kok lo bisa, Ra” Kesya mengaruk tengkuknya yang tak gatal “Gue aja kesulitan” lanjutnya.


“Kalau masalah itu gak usah dipikir, yang penting kalian selesai aja dulu” ujar Zahira.


“Setuju tuh gue” jawab Alan, Kiky dan dicky serempak.


“Fel, lo udah selesai” toleh Anya kearah Felicia.


Felicia melepas earphone yang melekat di telinganya “Udah kok!” ucapnya sinis, yang langsung mendapat respon tak suka dari Natalia.


“Elo ngapain sih tanya dia, tau sendiri kan responnya kayak gimana. Dasar orang gak pernah bersosialisasi!” cibir Natalia.


Ketika itu suara pintu kelas fisika diketuk seseorang dari luar, membuat semuanya berhamburan kembali ketempatnya. Orang itu memasuki kelas lalu berdiri didepan papan sembari memperkenalkan dirinya.


“Selamat Pagi” ucap pria jakung itu.


Zahira menautkan alisnya melihat pria itu “Ragil?”


Ragil pun terkejut saat menyapu sorot pandang mahasiswa yang menatapnya, mendapati Zahira yang duduk pada bangku tengah di pojok kanan membuat ia menelan silvulanya agar tak kentara gugup.


“Baik saya lanjutkan, Perkenalkan nama saya Ragil Aksara Bagaskara. Bisa dipanggil Pak Ragil saya Asdos baru kalian” ucapnya yang membuat semua mahasiswa terkejut, mungkin karena wajah dan penampilan yang terlihat seumuran.


“Gak ada sesi QnA nih, Pak” tanya Alan mengacungkan tangan.


“Ada kok, kalian mau tanya pelajaran apa?” tanyanya ulang.


“Buru-buru banget pak, masa bapak gak mau tawarin anak-anak tanya sesuatu ke bapak. Contohnya Bapak nih orang nya kayak gimana?” timpal Kiky.


“Terus tadi kenapa gak nawarin” tambah Dicky.


“Tapi sekarang saya tawarin kan?” singkat Ragil yang membuat semuanya mendengus tak termasuk dengan Zahira yang diam tak berkutik.


“Pak saya tanya” ucap Anya mengacungkan tangannya.


“Iya, Apa?”


“Bapak umurnya sekarang berapa?” tanya Anya penasaran.


“Menurut kamu, saya pantasnya umur berapa?” tanya Ragil balik.


“51, Pak” kelakar Dicky membuat geng dkknya tertawa tak kecuali dengan mahasiswa perempuan dikelas itu, mereka semua tersenyum kecut kearah para laki-laki.


“Kebiasaan kalau gak Dicky yang bacot, ya Alan. masih syukur diantara kalian masih ada yang waras contohnya Kiky” cecar Natalia.


“Udah, udah. Umur saya 20 tahun” ucap Ragil menengah.


“Berarti sama kita cuman jarak 2 tahun dong, Pak” ujar Kesya tak percaya.


“True” ucap Ragil spontan “Oke langsung aja kemateri” lanjut Ragil lalu mulai membahas beberapa soal untuk digunakan sebagai nilai pertama bahan ajar.


**


Zahira memakan sepotong roti sembari membaca buku tebal yang menjelaskan tentang Fotografi. Ragil yang tampak dari kejahuan tersenyum, memutuskan menghampiri Zahira ke mejanya. ia menarik kursi dari tempatnya membuat gadis itu mengalihkan netranya dari buku yang dibaca.


“Ngapain lo disini” tanya Zahira ketus.


“Saya Asdos disini” jawabnya sembari meletakan mangkuk yang berisi bubur lalu duduk dihadapan Zahira.


“Maksut gue ngapain harus duduk disini” pikir Zahira nanar “Dan kenapa harus jadi Asdos disini juga” lanjutnya sembari mengigit roti bakarnya.


“Pertama setiap orang punya hak duduk dimana saja. Kedua kamu tanyakan sama dirimu sendiri kenapa bohong sama saya mengenai soal-soal itu” jelas Ragil dengan nada naik satu stansa.


“Kok lo yang marah sih!” ucap Zahira ketus.


“Marah? Kamu sendiri yang kenapa bohong sama saya mengenai soal-soal itu, kemarin kamu bilang soalnya cuman latihan bukan tugas dari dosen maka itu saya mau bantu kamu” jawab Ragil mengebu-gebu.


“Oh gue ngerti! lo jadi Asdos disini mau ngawasin gue. Disuruh siapa? Nyokap gue. Dibayar berapa sih?” cibir Zahira tak kalah, yang mulai diperhatikan beberapa mahasiswa dikafetaria.


“Saya mau kamu berusaha sendiri ngerjain soal-soal itu karena itu tugas dari dosen mu, nanti saya juga bantu rumusnya sama teorinya. Kemarin aja saya juga ikutan ngitung, saya mau itu murni kerja keras kamu tanpa ada campur tangan orang lain. Saya tau posisi saya cuma guru privat. Tapi gak seharusnya saya ikut campur sama tugas kamu disini." Ragil menghela nafas kasar.


"tugas saya kasih arahan ke kamu menjelaskan hal yang belum kamu paham dari materi yang diajarkan difalkutas. singkatnya saya merupakan guru kamu kalau dirumah bukannya bantuin kamu ngerjain soal dari dosen. Saya bisa kok balikin uang yang mama mu kasih dan provesi saya saat ini gak ada hubungannya sama kamu. Memang selama ini saya pernah tanya fakultas kamu dimana, dan emang selama ini kamu pernah ngirimin jadwal materi sama kegiatan mu kesaya. Waktu itu saya minta saja kamu gak kasih. Apalagi sekarang!” cecar Ragil panjang lebar dengan amarah yang membeludak kemudian pergi meninggalkan Zahira sendirian menerka perkataannya.


Zahira mengacak rambutnya gusar, menggerutuki dirinya “Bego, ****, Bego”