
Zahira menggerutuki nasib sialnya yang harus menjadi perwakilan dosen yang disebutnya killer, ia meracau pada kaleng soda di hadapannya. Hingga sebuah suara membuyarkan omelannya itu.
“Hai, Rara!” Sapa Azura. Ia melambaikan tangan, seraya mengambil tempat duduk di hadapan gadis itu.
“Apa?” tanya Zahira sinis.
“Kok ngegas sih, masih pagi juga. Santai dong!” Cecar Azura.
“Maaf” Zahira menghela nafas.
“Kenapa? ada masalah?” tanya Azura.
“Gue jadi perwakilan dosen fisika” celetuk Zahira dengan muka tertekuk.
“Bagus dong!” ucap Azura bahagia mendengarnya.
“masalahnya gue gak pernah ikut organisasi dan gue gak punya pengalaman bimbing teman sekelas. Elo tau kan, hidup gue aja banyak masalah mana sempet ngurusin tuh hidup rakyat sekelas” balas Zahira seraya menopang dagu dengan sebelah tangannya.
“Di syukurin aja, dinikmatin prosesnya. Kita sebagai manusia hanya ikut kehendak sang kuasa.” Ujar Azura memberi nasihat.
“Iya, sudah Nyai Kanjeng Azura, masih pagi udah siraman rohani aja.” Jawab Zahira dengan senyum masam, sedangkan Azura tertawa kecil melihat tingkah temannya itu. Ketika itu suara gaduh mengiringi sekitar kafetaria tempat Zahira dan Azura duduk.
“Suara apaan tuh?” tanya Azura penasaran yang sangat ia yakini suara itu disekitar Kafetaria tempatnya saat ini.
“Gak tau, gak penting. biasa para MABA kan kayak gitu, belum bisa nyesuai-in lingkungan di Univ ini kalee” balas Zahira tak peduli.
“Bukan, kayaknya ada hal lain gitu” Azura menoleh kearah timbulnya suara, ia terkejut ketika menatap pria jakung yang membawa nampan berisi makanan, yang dirasa pria itu bejalan kearah dirinya.
“Ra, itu si-” ucapannya terhenti saat pria itu melempar senyum malaikat kearah Azura saat ini.
“Sa si, Sa si, siapa sih? Ngomong tuh dibenerin dulu” omel Zahira yang ia sendiri tak sadar bila temannya saat ini terhipnotis oleh ketampanan seorang pria. Bagaimana ia mau menyadarinya bila saat ini ia sibuk memikirkan jabatan barunya sebagai Ketua kelas.
Seorang pria duduk disamping Azura,yang posisinya saat ini tepat didepan Zahira. Pria itu menatap Zahira menyelidik. Zahira tak menyadari kehadiran seseorang yang tengah menatapnya, dirinya terlalu sibuk dengan via chat grup kelas, sedangkan Azura memopa nafasnya lebih cepat karena kehadiran pria itu. Disisi lain semua MABA berbisik membicarakan kehadiran sosok pria tampan tersebut.
“Hai” Pria jakung itu melambaikan tangan kearah Zahira.
Zahira menorehkan pandangannya dari ponsel saat ini, ia terkejut tapi tak ditampakkan. Ia sedang berusaha menjaga image-nya saat ini.
“Hai” balas Azura yang sapaan tadi tak direspon Zahira.
Pria itu tertawa kecil kearah Azura mungkin karena Azura telah meresponnya.
“Kamu itu DJ plus model yang terkenal itu kan?”tanya Azura membuka topik agar tak terlihat kaku, yang sontak membuat Zahira menyelidik kearah pria itu. Yang sekali lagi membuat zahira mengalihkan fokus dari ponselnya.
“Wahh,, sebuah kejutan. Apa kau kuliah disini?” tanya Azura penasaran.
“Iya, dan kau sendiri?” tanyanya balik
“Aku kuliah disini, aku ambil jurusan psikolog. Mengenai mu apa jurusan yang kau ambil?” tanya Azura mulai akrab, yang tanpa ia sadari beberapa pasang mata melirik kearah keduanya.
“Aku jurusan Information Technology (IT)dia temanmu?” tanyanya menunjuk kearah Zahira.
“Iya” jawab Azura tersenyum tipis.
“Sepertinya dia tak mengenal ku” ucap Pria itu, tersenyum kearah Zahira. Sedangkan Azura mengaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Zahira, apa yang kau lakukan! Coba lihat dia, bukankah sangat tampan? Apa ini! kau dari tadi hanya melihat grup chat kelasmu, sesekali pandanglah dia. Dia itu selebriti terkenal” bisik Azura, Zahira melirik kearah pria itu sekilas, lalu kembali pada posisi awal.
“Aku sudah tau!” jawabnya sinis, berbisik ketelinga Azura.
“Kalau boleh tau, siapa nama teman mu ini?” tanya pria tersebut ke Azura.
Azura tersentak “Dia Zahira” jawab Azura kikuk, karena sikap temannya yang begitu dinggin dan tak memedulikan pria terkenal ini.
“Hai Zahira, biar ku perkenalkan namaku Luhan Arsenio Raymond, provesi Model plus Dj. Aku MABA disini. jurusan ku IT, kemarin kita bertemu karena itu aku menyapamu. Aku ingin kita berteman lebih dekat dan terima kasih atas bantuanmu kemarin!” ujar pria itu cepat dan menekan perkataan dikalimat terakhir. Pria itu kesal karena sikap Zahira yang sedari tadi mengabaikan dirinya.
Padahal ia ingin Zahira yang memperhatikan dirinya tapi disini malah Azura yang terus menjawab setiap pertanyaan yang ia lontarkan. Azura membelangakkan matanya karena pria ini sudah emosi atas perlakuan temannya yang keteraluan bisa jadi kelewat batas, bahkan seorang wanita pun tidak akan mau jika mengabaikan seorang Luhan.
“Kau mendengar perkataanku, hello!” ujar pria itu seraya melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Zahira yang terlalu sibuk dengan ponselnya.
“Aku denger, kok!” jawab Zahira sinis dan beralih menatap Azura “Gue mau balik ke kelas” ucapnya lalu melenggang pergi meninggalkan Luhan dan Azura.
Luhan membulatkan matanya tak percaya, baru kali ini ada wanita yang tak mempedulikannya apalagi ia mempunyai notabe sebagai seorang selebriti.
“Maafin Zahira ya, dia emang gitu orangnya” ucap Azura lalu ikut pergi menyusul Zahira, yang kemudian meninggalkan Luhan sendirian.
☜☆☞
MAKASIH UDAH BACA CERITA PERTAMA AKU
Minta vote, komen dan likenya dong🤗.
Buat jadi bahan koreksi bagi Author❤